WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Dot Id, untuk Marwah Bangsa


Sentana Bung Karno hari ini masih hidup, niscaya ia akan gelorakan dunia maya. Ia akan marah besar kalau kita masih saja doyan beramerika-amerika atau bereropa-eropa. Mungkin, karena internet lebih duluan diperkenalkan di Amerika, Bung Karno akan legowo mengakui hal itu. Tapi kemudian dalam dunia tak berbatas itu sesungguhnya egoetnik maupun egopatria senantiasa terlihat. Pastilah Bung Karno juga hendak menegakkan panji-panji Indonesia sejajar dengan yang orang lain punya.

Jika untuk menegakkan marwah bangsa ini, Bung Karno berani mengatakan go to hell with your aid. Bahkan kemudian berani keluar dari PBB, berani membikin Olimpiade tandingan seperti Ganefo dan sebagainya.

Ketika saya lagi doyan-doyannya chatting, saya ketemu di dunia maya dengan teman baru. Tadinya saya kira ia seorang dewasa, karena dari obrolan kami, lewat tulisan-tulisannya sepertinya ia sudah dewasa. Maklum ketika saya bicara banyak tentang perang di Irak (ketika itu Saddam Husein masih hidup) ia memahami apa yang sedang terjadi.

Tapi ketika kami berjanji sama-sama mengirimkan gambar, saya kaget. Ia ternyata masih amat belia. Ia tinggal di kota Oripaa, Finlandia sebelah Barat. Ia masih SMA.

Ngalor-ngidul mengasyikkan. Hingga saya jadi terpurangah ketika ia bertanya saya dari mana dan saya jawab singkat saja, Indonesia, ia balik bertanya, “Indonesia itu dimana?”

Mak! Saya tersinggung juga. Negara yang jadi lima besar jumlah penduduknya di dunia ini, sampai tak diketahui oleh bocah Finlandia ini. Usut punya, usut, omong punya omong, ia melakukan pendekatan geografis untuk melihat peta. Eh, si bocah kutub ini justru bikin saya tambah jengkel pula: “Binggo! Saya tahu kini, Indonesia itu dekat Bali ya?”

Belum sempat saya mengetik di papan ketik apa yang harus saya jawab, ia sudah menambahkan dengan pertanyaan berikut: “Kalau begitu kenapa kamu tidak gunakan domain Indonesia pada email yahoo kamu?”
Itu lima tahun silam, ketika itu saya belum tahu apakah yahoo sudah membuka acount email untuk dot.id. Saya masih menggunakan account dot.sg (Singapura) untuk email saya (hingga hari ini)

Si bocah kutub itu ternyata lebih kenal dengan Singapura yang keciiiiiil itu dibanding Republik Indonesia yang bapak saya ikut serta memperjuangkan kemerdekaannya.. Dan dia kira Indonesia tetangganya Bali.

Hari-hari ini sangat boleh jadi jati diri bangsa sudah dikenal orang di seluruh dunia. Tapi coba saja kita urutkan, terkenal dalam soal apa?
Indonesia, negeri dengan kerusuhan dan teror terus menerus?
Indonesia, negeri dengan bencana alam terbanyak?
Indonesia, negeri dengan kecelakaan transportasi tersering?
Indonesia, negeri dengan angka korupsi paling wahid di jagat?
Indonesia, negeri yang tiap kali ada pertandingan olahraga beregu senantiasa kalah?
Indonesia, negeri yang senantiasa dilihat sebagai pasar banyak produk asing?

Dalam ‘republik internet’ Indonesia hanya dikenal ketika ke dalam search engine kita ketikkan kata ‘indonesia’ maka muncullah berbagai hal tentang negeri kita. Lima atau sepuluh tahun lalu, ketika internet mulai merasuki bangsa ini banyak perusahaan, institusi, lembaga, kelompok, bahkan instansi pemerintah belum mencitrakan rasa nasionalismenya. Semua begitu bangga ketika mendaftarkan domainnya di lembaga-lembaga registry dengan ekstensi com, org. gov atau net. Soal conten mungkin sudah menunjukkan ia adalah domain yang bukan milik bangsa berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, Cina atau Jepang. Tapi ketika halaman per halaman dari situs milik orang Indonesia tadi dibuat dalam bahasa Inggris, maka orang mengerutkan keningnya. Ini situs berbasis di Amerika atau dimana?

Berbeda dengan sistus-situs di Singapura misalnya. Dot Com Dot Sg sudah sangat dikenal sebagai domain yang diregister di Singapura. Atau Malaysia dengan dot com dot my. Di Inggris kita kenal dot co dot uk dan sebagainya. Semua jelas menunjukkan jati diri sebuah bangsa.

Indonesia?
Alhamdulillah, meskipun sempat heboh memperebutkan siapa yang mesti ‘memperdagangkan’ toh akhirnya dot id mulai dapat membuat kita banggakan. Situs-situs milik pemerintah kini sudah rame-rame pake dot go dot id. Satu dua memang masih ada yang menggunakan dot com, tetapi itu kita kira lantaran adminnya tidak mengerti saja atau ketidaktahuan saja.

Ketidaktahuan ini adalah lantaran sosialisasi dan kampanye dot id baru sebatas kampanye untuk memakai dot id. Belum kampanye untuk terciptanya awareness publik terhadap Indonesia. Depkominfo, mestinya dari sekarang sudah mengampanyekan itu. Bahwa dot id adalah pembawa bendera bangsa. Ibarat barisan kapal perang, dot id seyogianya menyandang fungsi sebagai flag ship.

Ketika dua tahun silam ID-TLD dan APJII saling klaim sebagai pihak yang berhak mengelola domain Indonesia itu, kita menjadi bertanya-tanya. Yang terpenting siapa yang mengelolanya atau untuk apa dikelola? Untunglah kemudian jalan tengah diambil, Pandi akhirnya dipercayakan mengelola yang merupakan representasi dari pihak-pihak yang memperebutkan hak.
Hingga pertengahan tahun ini pihak Pandi mengklaim sudah terdaftar sebanyak 30ribu nama domain dot id. Jika dibanding dengan pengguna internet yang kira-kira 20an juta saja itu masih amat jauh untuk dikatakan bahwa dot id sudah mengindonesia.
Maka kampanye Pandi jangan hanya sekedar kampanye ‘jualan’ dot id. Tapi bagaimana mencitrakan dot id sebagai nama domain yang memberikan marwah bangsa ini. Saatnya mengepalkan tinju ke dunia luas! ..ueko yanche edrie

Iklan

Juli 31, 2007 Posted by | TI | 1 Komentar

Selingkuh itu Enaaak


BAHASA paling sederhana untuk menggambarkan sebuah konvergensi adalah ‘kadai kumango’. Ini adalah toko yang dikelola oleh pedagang asal Minangkabau Sumatra Barat atau persisnya dari nagari Kumango –sebuah kampung di Kabupaten Tanah Datar.Entah karena orang Kumango yang merintis pola berdagang ‘rupa-rupa’ hingga kemudian setiap kios atau toko yang menjual segala macam hal di Sumatra Barat disebut ‘kadai kumango’.Di kedai itu ada pakaian, sabun mandi, sisir, sepatu. Kadang ada minyak goreng, tepung, mentega dan keperluan harian. Pokoknya sekali masuk kedai itu, tak perlu lagi mampir ke kedai lain. One stop shopping, gitu..loh!Kata konvergensi yang tadinya masih aneh di kuping, kini sudah jadi kata harian yang meluncur tiap sebentar dari mulut para pakar TI, praktisi sampai ke sales ponsel di outlet-outlet.Kalau boleh dianalogikan lagi, maka syahdan tersebutlah ‘perselingkuhan besar’ antara komputer dan telekomunikasi beberapa tahun silam. Lalu buah perselingkuhan itu melahirkan ‘perselingkuhan baru’ antara perangkat elektronika dengan telekomunikasi, antara data dan suara, antara suara dan video, lalu terjadi pula kawin silang antara kamera dan telekomunikasi, antara dunia hiburan dengan pengguna ponsel dan sebagainya. Kini perkawinan-perkawinan tersebut makin rumit dan pelik namun sepertinya menjanjikan keuantungan-keuntungan secara finansial. Baik oleh pengguna maupun oleh  operator. Inilah konvergensi. Perkawinan berbagai fungsi menjadi satu ‘stuff’ saja. Tren konvergensi sesungguhnya sedang dan akan terus bergerak ke depan. Pada pertelekomunikasian, bisa jadi kelak yang jadi induknya bukan telekomunikasi lagi melainkan fungsi-fungsi yang paling dominan menentukan. Untuk tahap sekarang memang telekomunikasi jadi tulang punggung konvergensi lantaran salah satu ciri konvergensi sekarang adalah adanya data, suara dan video yang tersalur melalaui satu jaringan telekomunikasi, baik lewat kabel maupun lewat gelombang elektromagnetik.Secara nyata sebagian besar perkembangan dari satu konvergensi ke konvergensi telah melahirkan banyak kemudahan bagi ummat manusia. Tadinya dalam era konvensional telepon fixed yang di
Indonesia dimiliki Telkom hanya diterjemahkan sebagai satu saluran untuk bercakap-cakap dan atau paling tidak untuk melalulintaskan ketukan-ketukan analog saat mengirimkan telegram.
Tapi perkembangan berikut menunjukkan kepada kita ternyata konvergensi suara dan data analog itu membuat orang bisa menyalurkan suara sekaligus gambar. Siaran televisi yang pada awalnya disalurkan tersendiri akhirnya bisa menggunakan saluran telepon juga. Rentangan kabel analog mulai didigitalisasi (menjadi optik) seiring terjadinya perkembangan pengiriman suara analog ke digital.Perkembangan berikutnya orang mulai bisa berinteraksi secara face to face dalam kanal telekomunikasi tertentu. Helaan nafas lawan bicara bisa terdengar dan sekaligus terlihat oleh masing-masing pihak saat sedang melakukan video teleconference. Ketika itu masih mahal, tapi kemudian mulai menurun biayanya. Orang-orang tak perlu berlalu lalang menuju satu titik untuk melakukan konferensi, rapat atau rapat bisnis. Cukup duduk di depan meja masing-masing yang terpisahkan oleh jarak puluhan ribu mil.
Para insinyur dan programer tidak puas hanya begitu-begitu saja. Memasuki tahun 80an datanglah era telekomunikasi bergerak. Tadinyanya komunikasi bergerak hanya didominasi oleh pengguna radio komunikasi yang sulit dikomersialisasikan. Tapi kemudian dengan teknologi AMPS, GSM, CDMA dan sebagainya pertelekomunikasian mulai memasuki era revolusinya. Dunia berubah bahkan ada yang mencoba menulis mimpi bahwa satu hari telekomunikasi kabel akan punah dan masuk museum. Ini lantaran gegap gempitanya pergerakan teknologi telekomunikasi tanpa kabel (nirkabel) di dunia. Berbagai perusahaan jasa telekomunikasi akhirnya mengambil keputusan untuk ikut main dalam dunia tanpa kabel ini. Bagi raksasa-raksasa seperti AT&T dan korporasi besar lain misalnya, ini adalah satu hal yang to be or not to be, kalau tidak ingin digilas konvergensi telekomunikasi. Termasuk para operator di
Indonesia. Selain reformasi, maka desakan konvergensilah yang membuat penguasaan jasa telekomonukasi dari duopoli oleh Indosat dan Telkom menjadi persaingan bebas dengan lebih dari dua operator. Ini antara lain ditandai dengan masuknya era selular dan nirkabel telekomunikasi. Lahirlah Telkomsel, Satelindo, Excelcom dan seterusnya.
Pada tingkat hilir, dengan ditandai merebaknya penggunaan internet. Ini rupanya merangsang revolusi-revolusi baru pada tingkat hulu. Operator, mau tidak mau harus masuk dalam pusaran konvergensi itu. Ibaratnya, menelepon saja tidak cukup kalau tidak bisa mengakses internet.Konvergensi itu juga yang membuat wartel harus memberikan layanan plus plus dengan bermetamorfosis jadi warnet. Bahkan beberapa warnet ikut ambil bagian pula menjadi ISP (internet Content Provider) yang membukakan akses pengguna ke jalur utama internet.Selasaikan revolusi? Inilah revolusi sekaligus juga evolusi. Perlahan namun dapat dirasakan perubahannya. Konvergensi komputer, telekomunikasi, suara, data, video bahkan entertainment seperti musik dan game turut pula memperkaya pusaran konvergensi ini. Dengan hanya satu tombol, maka berubahlah ponsel jadi berbagai fungsi. Videophone, browsing, konferensi jarak jauh, tukar menukar data berukuran besar mulai dari rekaman video perkawinan hingga neraca keuangan sebuah korporasi besar hanya dipertukarkan lewat ponsel.Persaingan dalam lahan ini kian keras. Kalau tadinya operator telekomunikasi masih mematok untuk main di jaringan dan layanan koneksi, kini tidak bisa lagi. Operator yang tak menyediakan layanan content data akan ketinggalan. Produsen ponsel juga tak kalah serunya memanfaatkan konvergensi. Mula-mula ponsel berkemampuan layanan MMS dan GPRS sudah dianggap canggih. Tapi kemudian harus rela diungguli oleh ponsel yang dikonvergensikan oleh fitur-fitur kamera digital, kamera video. Dan, sekarang giliran 3G (the third generation) yang masuk pasar.
Ada humor di dunia ponsel, bahwa musuh bebuyutan sebuah produk ponsel adalah pabriknya sendiri. Hari ini satu ponsel berfitur A boleh unjuk gigi, tapi besok oleh pabrikan yang sama sudah dibuat ponsel berfitur AA.
Sodokan untuk meramaikan konvergensi ini datang pula dari VoIP (voice over internet protocol) Tadinya sempat memusingkan operator dunia lantaran kebolehannya melayani publik bertelepon murah ke seluruh dunia. Tapi kemudian para operator terpaksa harus menyesuaikan diri dengan teknologi ini, lalu mengadopsinya untuk berjaga-jaga.Kadang-kadang konvergensinya sendiri lebih duluan bergerak dibanding daya serap pasar dan konsumen. Ambil contoh dua tahun silam 3G sudah dilekatkan pada ponsel tertentu, padahal publik belum tahu benar apa manfaatnya. Apalagi kemudian, para operator juga belum menyediakan layanan apa-apa untuk 3G. Justru di Indonesia baru tahun ini mulai dibuka keran untuk 3G bagi operator-operator yang dinyatakan lulus uji layak operasi.Sangat masuk akal kalau dari sekarang ada yang haqul yaqin kalau para operator telekomunikasi dunia pada akhirnya tidak lagi akan mengandalkan revenue dari layanan jasa percakapan (voice) melainkan akan semakin deras uang mengalir ke kocek operator lewat layanan data dan gambar.Menilik dari tren yang terus berkembang ini, konvergensi telekomunikasi modern tentulah akan semakin membuat kehidupan jadi mudah dan murah, bukan sebaliknya. Hingga saat ini di
Indonesia, dapat dirasakan bahwa belum seluruhnya dari hasil konvergensi telekomunikasi itu termanfaatkan secara maksimal. Orang masih memandang GPRS, MMS, Wi-Fi, atau chatting di internet sebagai bagian dari kedekatan dunia hiburan ke dalam kehidupan pribadi. Untuk kepentingan publik yang lebih besar, misalnya layanan pemerintah masih belum terasakan benar.

Para birokrat menggunakan ponsel sebatas untuk bicara atau SMS. Internet, di kantor-kantor pemerintah setahap memang sudah melangkah ke penggunaan secara teratur bagi transformasi dokumen antarbagian. Tapi baru itu. Sama saja dengan beberapa tahun silam terjadi booming mendirikan situs pemerintah di internet, tetapi selalu kandas pada sisi content. Situs itu sejak didirikan banyak yang isinya itu ke itu saja alias tidak pernah di up-date.
Bahwa sistem pelayanan umum semisal KTP, paspor, izin investasi, tender dan sebagainya bisa dilakukan dengan memanfaatkan konvergensi dalam telekomunikasi ternyata baru seujung kuku saja yang sudah disentuh oleh birokrasi kita.Padahal jika birokrasi kita sama kecepatan geraknya dengan dengan perkembangan konvergensi telekomunikasi ini, bukan mustahil apa yang diimpikan sebagai good governance akan tercipta lebih cepat.Kolusi saat tender proyek tidak perlu terjadi jika dilakukan lewat e-tender. Pembayaran-pembayaran uang proyek cukup dilakukan dari jarak jauh tanpa harus bertatapan muka antara yang membayar dengan yang menerima pembayaran. Dengan demikian kesempatan untuk ‘main mata’ makin berkurang.Maka sesungguhnya, konvergensi dalam telekomunikasi baru akan mencapai tujuan idealnya bila sosialisasinya juga amat cepat pada lingkungan pengambil keputusan birokrasi. Dari hari ke hari, birokrat kita hendaknya makin terberantas ‘kegagapteknologian’nya. Tunjuk tangan sajalah, masih ada
kan pejabat yang tak bisa membuka dan membalas SMS? Alaamaak!.
Nah apalagi kalau harus main Wi-Fi atau ponselnya sudah menggunakan fitur-fitur untuk 3G,  entah apa yang akan terjadi. Tapi para insinyur telekomunikasi pastilah tidak akan menunggu para pejabat pintar dulu membalas SMS, baru mengembangkan fitur baru sebuah ponsel. Yang senantiasa telat berpikir dan masa bodoh dengan tekenologi, tentu akan terlindas sendiri oleh pusaran konvergensi ini.(eko yanche edrie)

Oktober 15, 2006 Posted by | TI | 1 Komentar

Speedy, Cepat Saja tak CUkup


“Pokoknya semua dokumen harus dikirim ke redaksi”“Tapi dokumennya besar, pasti postingnya lambat”“Yang penting bisa dikirimkan”“Tapi
kan deadlinenya nanti malam?”
“Kalau begitu pakai kurir saja, kirim lewat kargo udara”“Tapi…”“Tidak ada tapinya…kirimkan, kami tunggu di Bandara”***  Itu adalah dialog antara seorang redaktur suratkabar di
Padang dengan seorang wartawannya di
Jakarta. Yang mereka perbincangkan adalah sebuah dokumen untuk melengkapi penulisan berita yang hendak diturunkan pada malam harinya. Tanpa dokumen itu berita tersebut menjadi tidak layak muat, padahal beritanya adalah sangat ekslusif.
Yang jadi soal bagi wartawan di
kota itu adalah akses internet yang lambat merambat bak seekor ulat. Proses up-load yang dilakukannya dengan mengambil sebuah layanan akses internet bisa memakan waktu yang lama. Selama proses itu, jelas hitungan pulsanya berjalan juga. Saat itu matahari sedang terik di titik kulminasi, saat jaringan sedang sibuk-sebuknya. Traffic telekomunikasi baik voice maupun data sedang dalam puncak bebannya.  Bisa-bisa itu harus keluarkan biaya besar dari koceknya untuk biaya internetnya.
Sementara sang redaktur juga mengalami hal yang sama ketika ia harus mengunduh (mendownload) file besar dari dokumen yang dikirimkan oleh korespondennya itu. Kesimpulan yang dapat ditarik dari situ adalah bahwa bisa saja terjadi biaya pengiriman lewat kargo udara jauh lebih irit dibanding dengan pengiriman lewat proses digitalisasi.Dulu
lima belas tahun silam ada harapan terjadinya percepatan pengembangan pasar media cetak dengan apa yang diperkenalkan oleh Departemen Penerangan sebagai Sistem Cetak Jarak Jauh.
Gagasan yang kunjung terujud itu antara lain mempresentasikan sebuah koran yang terbit di
Padang lalu setelah proses digitalisasi, dikirimkan ke satu
kota tujuan untuk diterima oleh perce takan di
sana, lalu dicetak.
Sederhana saja, tetapi kemudian ternyata  bahwa cost yang ditimbulkan cukup mahal. Pihak PT Telkom waktu itu hanya punya satu cara untuk membantu: menyediakan kanal sewa (lease line) yang hanya digunakan untuk keperluan CJJ itu saja. Walhasil, hingga sekarang cetak jarak jauh cara Deppen itu memang tak jadi-jadi. Lalu gagasan berikut (ini yang kemudian diaplikasikan sejumlah media) CJJ dilakukan dengan menggunakan pengiriman file berbasis internet. Layout halaman-halaman koran dikompresi, lalu hasil kompresinya dikirimkan dengan email atau dengan fasilitas FTP (file transfer protocol) bahkan ada yang hanya dengan email belaka ke
kota tujuan untuk diurai kembali guna proses cetak. Harian Pikiran Rakyat di
Bandung sudah mencobanya untuk cetak jarak jauh antara
Bandung dan
Cirebon, dan berhasil. Harian Riau Pos sudah mencoba juga untuk CJJ dari Pekan Baru ke Tanjung Pinang.
Hingga di sini sebenarnya industri media sudah terbantu. Jika keserempakan terbit antara satu
kota dengan
kota lain yang dianggap bisa memenangkan persaingan bisnis media, maka cetak jarak jauh sebenarnya sudah memberikan jawaban.
Masalahnya sekarang adalah ketika di tiap
kota, layanan yang diberikan oleh para Internet Service Provider (ISP) dengan port yang terbatas, maka saat traffic pengguna internet sedang tinggi, seperti digambarkan di atas koneksi berjalan seperti keong. Jika sudah seperti itu, maka dampaknya kembali lagi ke biaya. Koneksi yang sangat lambat mungkin oleh sementara orang bisa dimaafkan kalau cara perhitungannya tidak berdasarkankan waktu, melainkan berdasarkan kilobite data yang tertransmisikan. Tapi, lihat sajalah di warnet-warnet, begitu komputer dinyalakan tanda penghitung waktu juga mulai aktif. Artinya mau lambat atau cepat koneksinya, yang terang waktunya tetap dihitung.
Saat era duopoli (Indosat-Telkom) pertelekomunikasian nasional akan berakhir, Telkom mulai berpikir untuk memberi layanan yang dapat diandalkan oleh pengguna internet. Dengan membuka layanan premium, jadilah apa yang kemudian kita kenal dengan Telkomnet Instan. Ini dimaksudkan agar masyarakat dapat memperoleh akses internet yang cepat dalam rangka memenangkan kompetisi di era globalisasi.Kehadiran Telkomnet Instan beberapa tahun ini dirasakan cukup membantu dibanding kalau orang gunakan ISP lain. Tapi lagi-lagi nasib yang sama terjadi, dunia internet yang merasuki prilaku masyarakat urban membuat requesting ke ISP juga meningkat. Jika kanal yang tersedia misalnya 10 lalu permintaan 12, bukankah akhirnya kembali lagi ke soal pertama tadi. Seperti keong lagi.Kata kuncinya sekarang adalah: perlu layanan akses internet kecepatan tinggi, jika kita tidak mau tertinggal dalam memenangkan kompetisi. Akses internet yang lambat selain menimbulkan biaya tinggi, juga tidak membuat kompetisi antarbisnis dan antarservis jadi membaik. Sebaliknya ketika misalnya pelaku bisnis di
Indonesia harus bersaing dengan kompetiter asing dimana di negaranya akses internet bukan menjadi halangan, pebisnis kita tetap berada di belakang kompetiter.
Telkom sebagai salah satu operator telekomunikasi yang di
Indonesia paling besar memiliki infrastrukturnya juga tidak mau kalah bersaing dengan para kompetiternya. Era Telkomnet segera akan digantikan dengan era Speedy. Sebuah layanan akses supercepat di atas 128 Kbps.
 

Tidak Sekedar Cepat Layanan seperti Speedy hakikatnya adalah layanan lalulintas data, video dan suara berpita lebar (broadband). Analoginya, kalau perjalanan dari
Padang ke
Medan lewat jalan darat selama ini ditempuh dalam waktu 12 jam karena jalannya kecil. Sekarang jalan yang hanya 16 meter diperlebar menjadi 32 atau 48 bahkan 64 meter. Dengan demikian traffic menjadi lancar.
Pada lalulintas telekomunikasi analogi seperti itu sudah sejak lama diimpikan. Internet adalah kampung maya yang kaya. Tetapi belum benyak kekayaan itu diraih orang kita. Masalahnya kita masih dibenturkan pada infrastruktur yang kecil tadi. Komunikasi di jalur berpita lebar itu akan memungkinkan kita sekaligus menelepon, sekaligus nonton TV kabel, sekaligus mendengar musik online Wi-Fi gratis dari Google. Speedy kurang lebih dirancang untuk bisa seperti itu. Dan tentu saja salah satunya adalah untuk mengantisipasi ancaman VoIP (Voice over Internet Protocol) Dengan VoIP operatur bisa gulung tikar ketika lalulintas telepon internasional hanya dilakukan dengan sambungan lokal saja. Sederhananya, seorang pengguna Telkomnet di Pariaman lalu mengakses VoIP (di Indonesia ada VoIP Merdeka rancangan pakar internet Onno W Poerbo). Anda boleh ngomong dengan saudara yang ada Montreal Kanada dengan biaya lokal saja.Inilah konvergensi teknologi telekomunikasi, kian hari kian dukung mendukung. Kalangan operator telekomunikasi mau tidak mau, to be or not to be harus mengantisipasinya agar tak terlindas. VoIP hanyalah sebuah contoh dimana para insinyur mencoba meng akali tarif yang ditetapkan oleh para operator telekomunikasi dunia.Tapi VoIP harus berjalan di atas infrastruktur yang baik yang dipunyai oleh setiap operator. Infrastruktur itu dipunyai Telkom. Speedy disiapkan untuk bisa membuat pelayanan jasa telekomunikasi secara one stop service.Negara-negara maju sangat percaya infrastruktur internet berkecepatan tinggi selain bisa bikin rakyat tambah cerdas, juga membuat arus informasi makin cepat masuk dan keluarnya. Nisbit sudah mengisyaratkan bahwa pemilik informasi tercepat  akan memenangkan persaingan.Pertanyaan yang mengusik saat ini adalah apa reaksi pemerintah di daerah? Atau bagaimana seharusnya pemerintah di daerah melihat apa yang sedang berkembang di masyarakat pertelekomunikasian?Sebagaimana diisyaratkan oleh Pemerintah Presiden Yudhoyono, era birokrasi saat ini adalah era dimana harus tercipta tata pemerintahan yang baik (good governance –GG). Salah satu yang jadi indikator GG itu adalah terda patnya layanan prima dari birokrasi.Investasi yang diharapkan masuk tidak boleh dihambat oleh pelayanan yang berbelit-belit dan serba manual. One gateway service alias pelayanan satu pintu dijadikan jargon baru di mana-mana. Kalau saja semangat GG itu juga dibarengi dengan apresiasi yang baik dari birokrasi untuk menguasai TI (telematika dan informasi) maka apa yang kini berkembang -katakanlah Speedy-di masyarakat pertelekomunikasian maka layanan prima berbasis internet akan sangat membantu.Adanya infrastruktur yang bisa melayani akses internet secara cepat akan membuat layanan juga semakin ringkas dan cepat. Kalau skim perizinan bisa di gital kenapa harus dibikin manual? Akses internet sudah tidak terbatas, tetapi kenapa belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah terutama di daerah-dae rah?Kita impikan satu hari, urusan Kartu Tanda Penduduk di wilayah
Sumatra  bisa dilayani via internet. Bentuk fisik KTPnya bisa diprint di mana saja. Begitu juga dengan berbagai layanan publik yang disediakan pemerintah daerah akan terhindar dari kemungkinan adanya kolusi dan korupsi antara penyedia jasa dengan pengguna jasa.
Pada dunia perbankan nasional sebenarnya sejak satu dasawarsa lalu sudah mulai memanfaatkan cara-cara ini. Meskipun belum di era Speedy, tetapi apa yang dikenal dengan EDI (Electronic Data Interchange) sudah dimanfaatkan kalangan perbankan. Tiap hari bank-bank berikut kantor cabangnya di seluruh
Indonesia harus bikin laporan ke Bank
Indonesia. Dulu laporan itu dibuat dengan manual hingga terpaksa tiap tiga bulan. Dengan cara elektronis pelaporan itu bisa menjadi lebih praktis dan cepat. Mungkin di era beikutnya dengan memanfaatkan jaringan akses internet berpita lebar, sistem pelaporan itu juga bisa makin praktis dan makin murah biayanya.
Video conference tidak harus mahal lagi. Bukankah VC tak lebih dari pengembangan kemampuan yang ada di Yahoo Massenger saja? Kalau pada akses kecepatan lama, gambar video lawan bicara kita di Yahoo Massenger kadang pata-patah, dengan Speedy hal-hal itu bisa diatasi (mudah-mudahan)
Para wartawan televisi tidak usah repot lagi mengirimkan rekaman gambarnya sambil berkejaran dengan jadwal penerbangan. Mereka cukup simpan gambar di format video, lalu kompres dan kirim via email. Jika selama ini masalahnya adalah pada kecepatan akses, maka Speedy memungkinkan untuk itu.
Soalnya sekarang, akses cepat saja belum cukup untuk memenangkan persaingan. Tetapi bagaimana publik terutama pemerintah di daerah berapresiasi dengan teknologi informasi ini. Hingga mereka segera menangkap peluang di dalamnya. (eko yanche edrie)

Oktober 15, 2006 Posted by | TI | 4 Komentar

KOMUNIKASI BERGERAK DI INDONESIA


  • MASA DEPAN TEKNOLOGI
    KOMUNIKASI BERGERAK DI INDONESIA

    Tidak Lagi Sekedar Bening, tapi Content!Kalau mahapatih Gajah Mada hari ini masih hidup, ia akan tercengang-cengang melihat nusantara yang luas ini ternyata tak memerlukan ‘pangkal lengan’ yang besar dan banyak guna mempersatukannya.

    Jarak dari Jakarta ke Jayapura atau dari Sorong ke Tapak Tuan hanya seujung jempol tangan. Orang-orang saling terhubung dengan telekomunikasi bergerak. Bahkan sambil duduk di atas closet pun! Semuanya dikendalikan dengan jempol tangan belaka.
    Inilah babakan berikutnya dari cerita pertelekomunikasian. Setelah bergerak dari komunikasi kabel analog ke digital, lalu dari kabel ke nirkabel, lalu dari radio biasa ke seluler dan kini dari GSM ke generasi ketiga. Kecepatan laju pergerakannya sangat tak terduga dan terperkirakan. Dari segala hal, mulai dari infrastrukturnya sampai ke perangkat yang digunakan. Kemarin kita masih bangga-bangganya menggunakan ponsel yang mampu mengirim gambar hidup, besok teknologi itu bisa jadi akan ketinggalan.
    Penggunaan teknologi bergerak benar-benar mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Baik dari sisi pengguna maupun dari sisi produsen yang terus menerus meyakinkan pengguna dengan inovasi-inovasinya. Sementara para operator yang menjadi pemain utama dalam bisnis teknologi bergerak ini juga sama gilanya dengan para operator yang terus menerus pula meningkatkan kemampuan layanannya.
    Kolaborasi produsen perangkat dengan operator kian hari kian erat. Keduanya bak aur dengan tebing saling menghidup dan saling dukung mendukung. Sementara para pengguna dari hari ke hari terus menerus menerima kemanjaan.
    Operator bersaing untuk memberikan segala kemudahan. ProXL memberikan janji ‘bening sepanjang nusantara’ Telkomsel menggaransi bebas roaming nasional, Indosat menjual ‘sinyal kuat’. Belum lagi antaroperator juga saling memberikan janji tarif murah. Pokoknya semuanya ditujukan untuk kenyamanan berkomunikasi bagi semua pengguna.
    Teknologi yang mengantarkan pesan, data dan gambar juga kian hari kian berkejaran sesamanya. Tadinya teknologi komunikasi bergerak hanya pada batas generasi kedua. Misalnya GSM hanya mampu mengantar komunikasi terbatas pada suara. Setelah itu bergerak menuju pengantaran pesan pendek yang dikenal dengan SMS. Dan fakta kemudian menunjukkan bahwa inovasi belum selesai sampai di situ, giliran pesan dengan gambar (MMS) berkembang.
    Suduh cukup puasa? Belum! Generasi terakhir layanan komunikasi bergerak makin meluas perkembangannya. Dari hanya suara, data dan gambar kini sudah menjadi layanan e-mail, akses internet, videofon bahkan menjadi video streaming.
    Para pengguna juga mengiringi kemajuan teknologi yang dibuat vendor dan layanan baru operator. Orang rame-rame melakukan migrasi ponselnya dari yang tidak bisa menerima layanan baru menjadi ponsel yang bisa menerima layanan baru.
    Sebuah pertanyaan yang bisa dianggap pertanyaan usil: “apakah masa depan teknologi bergerak akan cerah, atau bisnis teknologi komunikasi bergerak hanya akan semusim saja?”
    Pertanyaan itu disebut pertanyaan usil, lantaran jawabannya sudah di depan mata. Bahwa teknologi komunikasi bergerak dan bisnis ikutannya tiada akan berhenti begitu saja. Bahkan akan semakin menggila dan semakin membuktikan ramalaran futurulog Alfin Toffler, bahwa pemegang kendali dunia saat ini dan di masa datang adalah tekonologi informasi. Dan itu dapat dilihat dari ujud nyata konvergensi demo konvergensi yang terjadi di dunia teknologi informasi itu sendiri.
    Budaya padang dengar makin praktis, hanya seujung jempol. Puluhan layanan dapat dihandle hanya dalam satu perangkat. Seorang CEO cukup memimpin rapat sambil tiduran di kamarnya sementara peserta rapat yang lain mungkin sedang asyik menyantap sate madura di sebuah rumah mewah di Puncak Pass.
    Bukti bahwa masa depan teknologi dan bisnis komunikasi bergerak amat cerah dapat dilihat dari berbagai persaingan makin menggila antarvendor ponsel. Tiap vendor berusaha keras memenangkan pasar dengan menyuguhkan ponsel yang kian mendekati ‘selera’ pengguna.
    Di kawasan Asia Pasifik, oleh para vendor ponsel sudah dipatok sebagai wilayah pasar yang amat besar.
    Dalam setahun misalnya di China, diproduksi 40 juta ponsel oleh negeri tirai bambu itu. Artinya, para operator seluler diuntungkan dengan ikut menikmati pasar yang sedemikian besar.
    Belum lagi Korea dan Jepang, kedua negara itu juga berupaya keras menjadikan kawasan yang terbentang luas sepanjang samudera Pasifik hingg ke batas Samudra Hindia sebagai basis pasar potensial.
    Alasan lain untuk mengatakan bahwa teknolgi komunikasi bergerak akan menjadi tumpuan bisnis telekomunikasi masa depan adalah makin tingginya mobilitas orang. Kantor-kantor seperti akan dibuat mobile. Para eksekutif senantiasa bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Dan selama 24 jam mereka tidak pernah lepas dari jalinan komunikasi dengan induk bisnisnya.
    Telekomunikasi dengan kabel hanya akan menjadi infrastruktur kedua kalau tidak bisa dikatakan sebentar lagi ia akan ditinggalkan.
    Langkah luar biasa yang diambil oleh PT Telkom misalnya dengan masuk ke teknologi bergerak lewat Flexi adalah satu bukti mereka tidak mau kelak disebut sebagai operator yang ketinggalan sepur.
    Lalu apa yang masih jadi obsesi peminat teknologi informasi terutama untuk layanan teknologi komunikasi bergerak?
    Seperti satu dasawarsa terakhir di Indonesia, booming internet. Orang tiba-tiba menjadi amat doyan mengakses internet. Para pebisnis meliriknya sebagai sebuah peluang. Bisnis online menjamur. Sementara jara pertelekomunikasian yang menyediakan infrastruktur berusaha membentangkan ‘jalan raya’ paling mulus untuk lalulintas data internet.
    Maka ketika itu sudah sampai ke titik dimana kepuasan mulai dipertanyakan, publik mengambil kesimpulan, bahwa infrastruktur saja belumlah cukup bagi perkembangan TI di Indonesia. Diperlukan penyedia content yang dapat memberikan kepuasan pada birahi dunia maya. Situs online boleh berdiri di berbagai kota, tapi orang butuh sajian isi yang paling lengkap, paling baru, paling dalam, paling cepat dan paling indah.
    Dunia teknologi komunikasi bergerak kurang lebih seperti itu. Pada saat sekedar bercakap, ber –SMS- ria, bertukar foto dan video sudah dirasakan, publik juga kian menuntut lebih. Operator seluler yang menyediakan banyak fitur online yang bisa diakses dari ponsel kian mendapat tempat di hati pengguna. Yang hanya sekedar melayani halo-halo dan SMSan mulai ditinggal.
    Bagi oeprator di Indonesia, inilah yang mestinya jadi pusat perhatian disamping terus memperbaiki kualitas layanan. Kemajemukan layanan sekaligus kelengkapannya amatlah menjadi dambaan banyak orang.
    Perhitungan-perhitungan tarif yang makin longgar dan berpihak kepada pengguna akan menjadi senjata ampuh memenangkan persaingan antaroperator. Fitur yang makin banyak dan harga yang juga kian masuk akal akan menjadikan vendor ponsel menggungguli pesaingnya. Sementara topografi Indonesia yang bergunung-gung dan berpulau-pulau makin menjauhkan impian kita bahwa sesama rumah terhubung oleh kabel telepon. Jalan keluarnya, teknologi komunikasi nirkabel dari bentuk apapun sangatlah tepat.
    Bos PT Ericsson Indonesia, Mats Bosrup belum lama ini menyebutkan bahwa Indonesia di mata dia betul-betul dijadikan sebagai pasar yang potensial. Ia menyebutkan bahwa membidik 80 persen penduduk yang masih belum tersentuh layanan komunikasi bergerak adalah sebuah kesia-siaan kalau tidak digarap serius.
    Ia mengatakan selama 2004 saja pertumbuhan pelanggan komunikasi bergerak meningkat lebih 80 persen.
    Dengan fakta-fakta tersebut tidak ada satu alasanpun untuk mengatakan bahwa masa depan teknologi bergerak bukan sebuah teknologi sekaligus bisnis yang berpeluang besa. Kondisi-kondisi Indonesia yang tidak terbentang pada satu benua yang luas seperti Amerika atau China semakin menguatkan alasan bahwa hanya teknologi komunikasi bergeraklah yang akan dapat menghubungkan masing-masing penduduk.
    Bisnis, informasi, arus uang, komunikasi pemerintahan, birokrasi, pendidikan, pertahanan keamanan, semuanya kelak akan menyisihkan banyak anggaran untuk keperluan teknologi komunikasi bergeraknya. (eko yanche edrie)

Mei 5, 2006 Posted by | TI | Tinggalkan komentar