WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Selingkuh itu Enaaak


BAHASA paling sederhana untuk menggambarkan sebuah konvergensi adalah ‘kadai kumango’. Ini adalah toko yang dikelola oleh pedagang asal Minangkabau Sumatra Barat atau persisnya dari nagari Kumango –sebuah kampung di Kabupaten Tanah Datar.Entah karena orang Kumango yang merintis pola berdagang ‘rupa-rupa’ hingga kemudian setiap kios atau toko yang menjual segala macam hal di Sumatra Barat disebut ‘kadai kumango’.Di kedai itu ada pakaian, sabun mandi, sisir, sepatu. Kadang ada minyak goreng, tepung, mentega dan keperluan harian. Pokoknya sekali masuk kedai itu, tak perlu lagi mampir ke kedai lain. One stop shopping, gitu..loh!Kata konvergensi yang tadinya masih aneh di kuping, kini sudah jadi kata harian yang meluncur tiap sebentar dari mulut para pakar TI, praktisi sampai ke sales ponsel di outlet-outlet.Kalau boleh dianalogikan lagi, maka syahdan tersebutlah ‘perselingkuhan besar’ antara komputer dan telekomunikasi beberapa tahun silam. Lalu buah perselingkuhan itu melahirkan ‘perselingkuhan baru’ antara perangkat elektronika dengan telekomunikasi, antara data dan suara, antara suara dan video, lalu terjadi pula kawin silang antara kamera dan telekomunikasi, antara dunia hiburan dengan pengguna ponsel dan sebagainya. Kini perkawinan-perkawinan tersebut makin rumit dan pelik namun sepertinya menjanjikan keuantungan-keuntungan secara finansial. Baik oleh pengguna maupun oleh  operator. Inilah konvergensi. Perkawinan berbagai fungsi menjadi satu ‘stuff’ saja. Tren konvergensi sesungguhnya sedang dan akan terus bergerak ke depan. Pada pertelekomunikasian, bisa jadi kelak yang jadi induknya bukan telekomunikasi lagi melainkan fungsi-fungsi yang paling dominan menentukan. Untuk tahap sekarang memang telekomunikasi jadi tulang punggung konvergensi lantaran salah satu ciri konvergensi sekarang adalah adanya data, suara dan video yang tersalur melalaui satu jaringan telekomunikasi, baik lewat kabel maupun lewat gelombang elektromagnetik.Secara nyata sebagian besar perkembangan dari satu konvergensi ke konvergensi telah melahirkan banyak kemudahan bagi ummat manusia. Tadinya dalam era konvensional telepon fixed yang di
Indonesia dimiliki Telkom hanya diterjemahkan sebagai satu saluran untuk bercakap-cakap dan atau paling tidak untuk melalulintaskan ketukan-ketukan analog saat mengirimkan telegram.
Tapi perkembangan berikut menunjukkan kepada kita ternyata konvergensi suara dan data analog itu membuat orang bisa menyalurkan suara sekaligus gambar. Siaran televisi yang pada awalnya disalurkan tersendiri akhirnya bisa menggunakan saluran telepon juga. Rentangan kabel analog mulai didigitalisasi (menjadi optik) seiring terjadinya perkembangan pengiriman suara analog ke digital.Perkembangan berikutnya orang mulai bisa berinteraksi secara face to face dalam kanal telekomunikasi tertentu. Helaan nafas lawan bicara bisa terdengar dan sekaligus terlihat oleh masing-masing pihak saat sedang melakukan video teleconference. Ketika itu masih mahal, tapi kemudian mulai menurun biayanya. Orang-orang tak perlu berlalu lalang menuju satu titik untuk melakukan konferensi, rapat atau rapat bisnis. Cukup duduk di depan meja masing-masing yang terpisahkan oleh jarak puluhan ribu mil.
Para insinyur dan programer tidak puas hanya begitu-begitu saja. Memasuki tahun 80an datanglah era telekomunikasi bergerak. Tadinyanya komunikasi bergerak hanya didominasi oleh pengguna radio komunikasi yang sulit dikomersialisasikan. Tapi kemudian dengan teknologi AMPS, GSM, CDMA dan sebagainya pertelekomunikasian mulai memasuki era revolusinya. Dunia berubah bahkan ada yang mencoba menulis mimpi bahwa satu hari telekomunikasi kabel akan punah dan masuk museum. Ini lantaran gegap gempitanya pergerakan teknologi telekomunikasi tanpa kabel (nirkabel) di dunia. Berbagai perusahaan jasa telekomunikasi akhirnya mengambil keputusan untuk ikut main dalam dunia tanpa kabel ini. Bagi raksasa-raksasa seperti AT&T dan korporasi besar lain misalnya, ini adalah satu hal yang to be or not to be, kalau tidak ingin digilas konvergensi telekomunikasi. Termasuk para operator di
Indonesia. Selain reformasi, maka desakan konvergensilah yang membuat penguasaan jasa telekomonukasi dari duopoli oleh Indosat dan Telkom menjadi persaingan bebas dengan lebih dari dua operator. Ini antara lain ditandai dengan masuknya era selular dan nirkabel telekomunikasi. Lahirlah Telkomsel, Satelindo, Excelcom dan seterusnya.
Pada tingkat hilir, dengan ditandai merebaknya penggunaan internet. Ini rupanya merangsang revolusi-revolusi baru pada tingkat hulu. Operator, mau tidak mau harus masuk dalam pusaran konvergensi itu. Ibaratnya, menelepon saja tidak cukup kalau tidak bisa mengakses internet.Konvergensi itu juga yang membuat wartel harus memberikan layanan plus plus dengan bermetamorfosis jadi warnet. Bahkan beberapa warnet ikut ambil bagian pula menjadi ISP (internet Content Provider) yang membukakan akses pengguna ke jalur utama internet.Selasaikan revolusi? Inilah revolusi sekaligus juga evolusi. Perlahan namun dapat dirasakan perubahannya. Konvergensi komputer, telekomunikasi, suara, data, video bahkan entertainment seperti musik dan game turut pula memperkaya pusaran konvergensi ini. Dengan hanya satu tombol, maka berubahlah ponsel jadi berbagai fungsi. Videophone, browsing, konferensi jarak jauh, tukar menukar data berukuran besar mulai dari rekaman video perkawinan hingga neraca keuangan sebuah korporasi besar hanya dipertukarkan lewat ponsel.Persaingan dalam lahan ini kian keras. Kalau tadinya operator telekomunikasi masih mematok untuk main di jaringan dan layanan koneksi, kini tidak bisa lagi. Operator yang tak menyediakan layanan content data akan ketinggalan. Produsen ponsel juga tak kalah serunya memanfaatkan konvergensi. Mula-mula ponsel berkemampuan layanan MMS dan GPRS sudah dianggap canggih. Tapi kemudian harus rela diungguli oleh ponsel yang dikonvergensikan oleh fitur-fitur kamera digital, kamera video. Dan, sekarang giliran 3G (the third generation) yang masuk pasar.
Ada humor di dunia ponsel, bahwa musuh bebuyutan sebuah produk ponsel adalah pabriknya sendiri. Hari ini satu ponsel berfitur A boleh unjuk gigi, tapi besok oleh pabrikan yang sama sudah dibuat ponsel berfitur AA.
Sodokan untuk meramaikan konvergensi ini datang pula dari VoIP (voice over internet protocol) Tadinya sempat memusingkan operator dunia lantaran kebolehannya melayani publik bertelepon murah ke seluruh dunia. Tapi kemudian para operator terpaksa harus menyesuaikan diri dengan teknologi ini, lalu mengadopsinya untuk berjaga-jaga.Kadang-kadang konvergensinya sendiri lebih duluan bergerak dibanding daya serap pasar dan konsumen. Ambil contoh dua tahun silam 3G sudah dilekatkan pada ponsel tertentu, padahal publik belum tahu benar apa manfaatnya. Apalagi kemudian, para operator juga belum menyediakan layanan apa-apa untuk 3G. Justru di Indonesia baru tahun ini mulai dibuka keran untuk 3G bagi operator-operator yang dinyatakan lulus uji layak operasi.Sangat masuk akal kalau dari sekarang ada yang haqul yaqin kalau para operator telekomunikasi dunia pada akhirnya tidak lagi akan mengandalkan revenue dari layanan jasa percakapan (voice) melainkan akan semakin deras uang mengalir ke kocek operator lewat layanan data dan gambar.Menilik dari tren yang terus berkembang ini, konvergensi telekomunikasi modern tentulah akan semakin membuat kehidupan jadi mudah dan murah, bukan sebaliknya. Hingga saat ini di
Indonesia, dapat dirasakan bahwa belum seluruhnya dari hasil konvergensi telekomunikasi itu termanfaatkan secara maksimal. Orang masih memandang GPRS, MMS, Wi-Fi, atau chatting di internet sebagai bagian dari kedekatan dunia hiburan ke dalam kehidupan pribadi. Untuk kepentingan publik yang lebih besar, misalnya layanan pemerintah masih belum terasakan benar.

Para birokrat menggunakan ponsel sebatas untuk bicara atau SMS. Internet, di kantor-kantor pemerintah setahap memang sudah melangkah ke penggunaan secara teratur bagi transformasi dokumen antarbagian. Tapi baru itu. Sama saja dengan beberapa tahun silam terjadi booming mendirikan situs pemerintah di internet, tetapi selalu kandas pada sisi content. Situs itu sejak didirikan banyak yang isinya itu ke itu saja alias tidak pernah di up-date.
Bahwa sistem pelayanan umum semisal KTP, paspor, izin investasi, tender dan sebagainya bisa dilakukan dengan memanfaatkan konvergensi dalam telekomunikasi ternyata baru seujung kuku saja yang sudah disentuh oleh birokrasi kita.Padahal jika birokrasi kita sama kecepatan geraknya dengan dengan perkembangan konvergensi telekomunikasi ini, bukan mustahil apa yang diimpikan sebagai good governance akan tercipta lebih cepat.Kolusi saat tender proyek tidak perlu terjadi jika dilakukan lewat e-tender. Pembayaran-pembayaran uang proyek cukup dilakukan dari jarak jauh tanpa harus bertatapan muka antara yang membayar dengan yang menerima pembayaran. Dengan demikian kesempatan untuk ‘main mata’ makin berkurang.Maka sesungguhnya, konvergensi dalam telekomunikasi baru akan mencapai tujuan idealnya bila sosialisasinya juga amat cepat pada lingkungan pengambil keputusan birokrasi. Dari hari ke hari, birokrat kita hendaknya makin terberantas ‘kegagapteknologian’nya. Tunjuk tangan sajalah, masih ada
kan pejabat yang tak bisa membuka dan membalas SMS? Alaamaak!.
Nah apalagi kalau harus main Wi-Fi atau ponselnya sudah menggunakan fitur-fitur untuk 3G,  entah apa yang akan terjadi. Tapi para insinyur telekomunikasi pastilah tidak akan menunggu para pejabat pintar dulu membalas SMS, baru mengembangkan fitur baru sebuah ponsel. Yang senantiasa telat berpikir dan masa bodoh dengan tekenologi, tentu akan terlindas sendiri oleh pusaran konvergensi ini.(eko yanche edrie)

Iklan

Oktober 15, 2006 - Posted by | TI

1 Komentar »

  1. mantab kali, memang perkembangan teknologi sudah mengarah ke konvergensitas, kedepan, akan muncul teknologi NGN, Next Generation Network, konvergensi SS7 dan IP, TDM dan IP Multimedia….
    kita nantikan saja.. btw judul ma isi kok ga nyambung, tapi malah jadi bikin penasaran

    met kenal ya bozz

    Komentar oleh hendra | Desember 24, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: