WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

LKMA DARI SUMBAR: Dari Budidaya ke Agriobisnis


Agribisnis adalah jalan lain menuju perbaikan nasib petani. Ini berarti mencoba mengintervensi prilaku tradisi bertani kita dari hanya budi daya menuju usaha tani. Masyarakat tani tak lagi sekedar perlu cangkul atau handtractor tapi juga perlu kalkulator dan handphone agar mereka bisa ‘membaca pasar’.

Gubernur Sumatera barat Gamawan Fauzi mensinyalir besarnya akumulasi kaum miskin pada sektor pertanian di Sumatera Barat, karena hanya bertumpu pada ikhtiar budi daya semata. Akibatnya bagian terbesar masyarakat miskin itu memang membuat akumulasi beban sektor pertanian juga menjadi sangat berat untuk mengubah nasib rakyat miskin menjadi terbebas dari kemiskinan.

“Karena begitu besar jumlah KK yang bergantung kepada sektor pertanian, maka nyaris sektor pertanian adalah sektor yang amat berat tugasnya. Ini perlu kita intervensi dengan berbagai skim. Secara perlahan kita mencoba mengarahkan mereka yang berada di sektor ini meningkatkan kualitasnya dengan cara mengekstensifkan usaha tani ke agribisnis,” kata Gubernur Gamawan Fauzi seperti dikutip media Sumatera Barat.

Agribisnis tentu saja harus dengan konsekwensi kerelaan meninggalkan semangat egosektoral. Bahwa untuk mengubah ikhtiar berbudidaya menjadi berusahatani jangan hanya menjadi urusan Departemen (Dinas di daerah) Pertanian saja. Ia harus ‘dikeroyok’ secara lintas-sektoral.

Mengambil contoh kepada apa yang saat ini dilakukan di Sumatera Barat, maka masing-masing SKPD diminta pula membuat berbagai inovasi di masing-masing lingkup tugasnya tetapi sasarannya adalah sebagian besar petani di nagari-nagari (nama spesifik untuk ‘desa’ di Sumatera Barat) itu.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat sebagai pihak yang berada di lini terdepan dalam hal mengurus petani sudah memikirkan itu sejak 2006. “Persoalan yang kita hadapi di nagari-nagari hampir sama. Selain keminimalan lahan (kurang dari 0,4 hektar/KK) kekurangan modal adalah masalah yang sangat klasik. Meskipun ada banyak perbankan yang sudah sampai ke nagari-nagari, tetapi petani kecil hanya butuh kredit sekitar Rp1-sampai 2 juta saja dengan masa pengembalian paling lama enam bulan. Mana ada bank yang bisa dan mau melayani mereka yang seperti itu? Maka perlu ada lembaga yang bisa menjadi ‘pemeran bank’ dengan kredit supermikro seperti Grameen Bank di Bangladesh itu,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat Ir. Djoni.

Djoni merasa tertantang untuk mewujudkan munculnya Grameen Bank ala Sumbar yang bisa membantu petani tradisional berkembang menjadi petani yang menekuni agribisnis itu. Maka awal akhir 2006 ia merumuskan pola Lembaga Kredit Mikro Agribisnis (LKMA) dan memplot masyarakat pertanian Baso dan sekitarnya sebagai tempat inkubasinya. “Karena ini harus dari petani untuk petani, maka saya mau pendirian LKMA yang pertama ini memang dimulai dari modal yang ada pada masyarakat. Tidak ada bantuan dari pemerintah kecuali hanya fasilitator dan software. Kita ingin lihat seberapa besar hasrat masyarakat dan seberapa besar peluang mereka bisa mandiri,” kata Djoni.

Karena yang dibutuhkan kaum tani di nagari-nagari itu hanya sekedar membeli bibit, membeli peralatan, membeli pupuk serta membayar upah tanam, meningkatkan ‘nilai’ produksi pertanian dari sekedar singkong menjadi kripik, membiayai proses mengubah pisang menjadi pisang sale maka sebuah LKMA sebenarnya tidak memerlukan modal besar.

Di Kototinggi Baso Kabupaten Agam, akhirnya para petani berhasil diyakinkan untuk mendirikan LKMA. Pola yang ditempuh adalah dengan ‘menjual saham’ Rp100 ribu per lembar kepada para petani yang sudah mampu. Hasil ‘right issue’ ala nagari ini menghasilkan Rp23 juta sebagai modal awal. Sejak itu LKMA Prima Tani mulai bergerak memberi pinjaman kepada para anggotanya. Pinjaman itu hanya berkisar dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta saja. Itupun dengan jangka waktu sampai enam bulan. Bagaimana aturan pemberian kredit, pembagian sisa hasil usaha dan sebagainya tidak diintervensi oleh pemerintah. Semuanya diserahkan kepada masyarakat mana yang paling pas untuk mereka.

LKMA di Koto Tinggi itu diikuti dengan pendirian LKMA untuk masyarakat yang berbasis sawit di Pasaman Barat. Di Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat berdiri pula LKMA Sukma Karsa. Pola sama dengan yang di Koto Tinggi. Awalnya didirikan dengan modal ‘rembugan’ masyarakat sebesar Rp30 juta.

Kedua LKMA itu untuk beberapa waktu lamanya senantiasa dipantau pergerakannya oleh Dipertahor Sumatera Barat. “Kita ingin melihat apa dampaknya terhadap perkembangan kualitas hidup petani di kedua daerah itu,” kata Djoni.

Para petani yang sudah tertolong oleh skim-skim antikemiskinan seperti BLT, P2KP, PNPM Mandiri dan sebagainya belum tentu bisa bertahan untuk tidak kembali ke bawah garis kesmikinan. Ukuran kemiskinan versi BPS yang menjadi patokan dari skim-skim tersebut adalah hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Itu artinya seperti disentil oleh ekonom Faisal Basri (Kompas/6 Juli 2009) mereka yang berada di atas garis kemiskinan sudah hidup layak. Mayoritas, mereka hanya sedikit berada di atas garis kemiskinan. Kata Faisal, hampir dua pertiga penduduk miskin berada di pedesaan dimana bagian terbesarnya adalah mereka yang hidup dengan menggantungkan pada sektor pertanian. Jika masalah kemiskinan terasa terlalu ‘lambat’ jalannya menuju ke arah perbaikan, maka semakin kuat alasan untuk melihat bahwa secara struktural adalah karena lambatnya jalan menuju perbaikan nasib kaum tani. Bahkan kegagalan para petani di nagari-nagari memancing arus urbanisasi ke kota. Di kota para ‘mantan petani’ ini tidak menjadi lebih baik bahkan ikut memperberat pula sektor yang lain.

Pemberdayaan petani dengan cara mengintervensi modal usaha bagi mereka adalah salah satu gagasan dalam LKMA yang dilahirkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura di Sumatera Barat. Lagi pula dengan maksud untuk memandirikan kaum tani yang dapat berdiri di atas kakinya sendiri, maka LKMA menjadi hal yang ‘on the track’ untuk digulirkan di daerah ini.

Kembali kepada kedua LKMA Sumbar yang didirikan tahun 2006 tadi. Secara perlahan ia mulai tumbuh. Dari hanya sebagai penyedia kredit lunak dengan bunga jauh di bawah bunga bank konvensional, secara perlahan mulai pula dibuka unit simpanan dan deposito.

Beberapa LKMA secara mandiri juga tumbuh di Kabupaten Dharmasraya.

Di Baso, LKMA Prima Tani sampai awal 2007 saja sudah berhasil menggelembungkan modal yang Rp23 juta itu menjadi hampir Rp100 juta dengan kemacetan pengembalian kredit yang tidak berarti. Di Pasaman Barat sudah meningkat pula menjadi Rp400 juta.

Perkembangan yang terjadi kemudian itu menarik perhatian Menteri Pertanian Anton Apriyantono. Mentan meninjau langsung LKMA itu sambil meresmikannya pada awal 2007. Departemen Pertanian RI melihat apa yang sudah dilahirkan di Sumatera Barat ini adalah sebuah terobosan untuk pola penanggulangan pertanian berbasis pertanian. Menteri langsung saja secara spontan menyatakan bahwa ini akan dijadikan sebagai percontohan nasional dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar diminta menyampaikan konsep dan presentasi yang lebih rinci lagi ke Departemen Pertanian untuk diberikan dukungan anggaran.

Akhirnya Menteri Pertanian menawarkan pendirian 204 unit LKMA di 204 nagari lain. Syarat yang diperlukan adalah bahwa tiap nagari harus membuat komitmen untuk mendirikan LKMA dan akan ‘memelihara’ dana bantuan sebesar Rp100 juta untuk tiap LKMA.

Maka pada tahun 2008 dimulailah usaha besar-besaran mendirikan LKMA pada 204 nagari yang tersebar di 19 Kabupaten/Kota. Ini adalalah proyek percontohan nasional. Jika ini sukses maka ini akan terus dilanjutkan ke provinsi lain di Indonesia.

Tahun 2009 kembali Departemen Pertanian RI mengalokasikan paket pendirian LKMA untuk 214 nagari masing-masing Rp100 juta. Maka jika ditotal sebanyak 418 nagari sudah memiliki LKMA. Setidak-tidaknya tiap nagari kini sudah punya ‘bank sendiri’ yang mampu mengayomi petani. Karena ini prinsipnya adalah dari petani untuk petani, maka penyaluran kreditnya hanya untuk usaha pertanian, tidak boleh untuk usaha lain.

Sumber daya manusia yang akan mengelola LKMA ini direkrut langsung dari anak nagari bersangkutan. Agar terdapat pola pengelolaan yang standar, maka Dipertahor Sumbar mendirikan Lembaga Pendidikan LKMA di LKMA Koto Tinggi Baso. Di situ para pengurus LKMA yang baru didirikan dilatih selama beberapa hari secara bergilir. Yang melatih adalah para pengelola LKMA yang sudah berhasil. Mereka berbagai pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola LKMA.

Pada hakikatnya inilah bank tani. LKMA adalah lembaga yang sangat mengerti apa yang diinginkan petani anggotanya ketimbang bank konvensional yang lebih mengedepankan semangat prudensial dan berorientasi laba.

Jika masalah petani adalah masalah tidak punya akses ke perbankan, lalu sudah ada LKMA apakah masalah kemiskinan di sektor pertanian bisa selesai?

Dengan tegas Kepala Dipertahor Sumbar menjawab: belum!

Karena itu jawaban paling patut adalah mengembangankan semangat agribisnis dari para petani. Bagaimana petani yang hanya bertanam kacang misalnya tidak lagi berpikir kacang dalam rentang waktu hingga panen empat bulan itu, tetapi bagaimana kacang kemudian bisa mereka olah menjadi penganan ringan, cemilan dan sebagainya. Atau setidak-tidaknya mereka bisa mendapatkan modal untuk mengolah setengah jadi guna memasok industri-industri makanan yang lebih besar.

Petani pisang di Agam misalnya merasa sangat terbantu dengan LKMA. Jika modal bertanam dan memanen pisang sudah tidak ada masalah, maka katakanlah setandan pisang bisa berharga Rp25ribu. Dengan ‘menyuntik’ mereka lewat kredit LKMA sebesar Rp50ribu, pisang dijadikan keripik pisang maka nilai akhirnya bisa mencapai Rp150 ribu. Bandingkan kalau hanya sekedar menjual setandan pisang yang hanya berharga Rp25ribu. Apalagi kalau kemudian ada tambahan suntikan yang bisa membantu mereka membuat packaging yang rapi, nilai akhir produk pisang menjadi jauh lebih tinggi lagi.

Dinas Pertahor Sumbar mulai memikirkan untuk peningkatan pendapatan petani pascapanen. Tanpa bermaksud mencampuri urusan sektor lain (perindustrian dan perdagangan) maka didirikan pula apa yang disebut dengan Unit Pengolahan dan Peningkatan Produksi (UP3). Selain ‘mematangkan’ semangat agribisnis petani, Unit ini juga menjembatani para petani dengan usaha-usaha yang sudah besar. Misalnya menjembatani petani singkong dengan pengusaha kripik balado yang sudah besar. Bentuk penjembatanan itu adalah dengan menandatangani kontrak antara kelompok usaha petani dengan pengusaha kripik balado dalam penyaluran singkong. Atau diantaranya ada dari petani yang ikut membuat kripik balado dengan standar tertentu lalu disalurkan ke perusahaan kripik balado.

Usaha-usaha memberi nilai tambah kepada hasil pertanian itu (dengan dukungan LKMA) juga bisa dilihat di di  Nagari   Kajai, Kecamatan Talamau,  Kabupaten Pasaman Barat. Di sini benar-benar dilakukan apa yang dikenal dengan istilah membangun pertanian dari hulu ke hilir. Petani menanam pisang lalu diolah menjadi pisang sale dengan dukungan LKMA.

Semua usaha pemberdayaan  tersebut  betul-betul dilaksanakan berbasiskan petani. Artinya, semua kegiatan  pembangunan  pertanian    bertumpu pada  pemberdayaan petani, baik  dalam peningkatkan kemampuan petani  dalam berbudidaya, melakukan pengolahan, maupun  pemberdayaan kelembagaan tani, seperti  kelompok, gapoktan,   dan  lembaga keuangan.

Di Kajai dilakukan pengembangan dan perluasan areal pisang seluas 80 Ha dengan perincian 55 Ha  dari jenis pisang Cavendish dan  30 ha dari jenis  pisang lokal. 30 Ha dari pisang yang tertanam  telah berproduksi yakni  15 Ha untuk pisang Cavendish dan   15 ha  pisang lokal.

Dorongan permodalan LKMA menghasilkan produksi pisang yang sudah dipasarkan sampai ke Medan, sedang petani yang lainnya mengolah menjadi pisang sale.Produksi mereka sudah bisa menghasilkan  80 -100 kg pisang sale perminggu.

Kini, sampai Juni 2009 separuh dari semua LKMA yang didirikan itu sudah berhasil menjalankan fungsinya sebagai penyangga permodalan petani di nagari-nagari. Dengan usaha dan pengawasan yang ketat, seluruh LKMA itu akan memainkan peranan yang besar untuk penanggulangan kemiskinan berbasis nagari di Sumatera Barat sekaligus mengembangkan agribisnis. (eko yanche edrie/www.padangmedia.com)

Iklan

Desember 3, 2009 Posted by | Pertanian | 2 Komentar

Joehari Bangga Jadi Petani Organik


Sebuah irama yang kontras sekali, ketika pagi saat mentari mulai naik di semak belukar lereng gunung Merapi suara pekikan Klaus Meine dari kelompok musik cadas masa lalu Scorpions mengalahkan suara cericit burung kecil. Always Somewhere menyeruak diantara semak-semak perdu dan cuaca dingin.

 

“Biar di dalam ladang yang jauh dari keramaian, petani harus tetap bergembira. Musik salah satu yang menambah semangat,” kata Joehari Yusuf (40) petani dari Aie Angek Kecamatan X Koto Tanah Datar. Pilihan lagu yang ditebarkan dengan loudspeaker aktif berdaya tinggi memang kontras dengan alam sekitar. Musik cadas seperti itu asing bagi kultur di Aie Angek. Tapi Joehari yang bergelar St. Rajo Intan ini memang menyukai musik-musik rock seperti itu.

Walhasil dengan pilihan musiknya yang seperti itu saja sudah membuatnya berbeda dengan kehidupan sekeliling apalagi caranya bertani. Ia memilih bertani dengan pendekatan organik daripada pertanian konvensional yang sangat dependensi terhadap pestisida dan pupuk kimia.

Sejak memantapkan diri menjadi petani pada 10 tahun yang silam, ia sudah menyadari bahwa secara konvensional hasilnya mungkin bisa sangat besar, tetapi dampaknya terhadap lahan sungguh besar pula. Ia memilih bertani tidak menurut naluri dan kebiasaan-kebiasaan penduduk setempat, melainkan terlebih dulu memahami teori-teori pertanian. Pria yang hanya tamat SMP itu gemar membaca. Majalah Trubus menjadi santapannya setiap terbit. Dari situ secara otodidak ia belajar bertani, khususnya pola organik.

“Saya lihat kondisi lahan di daerah ini (kecamatan X Koto) sudah sedemikian parahnya ‘dijajah’ pestisida dan pupuk anorganik. Saya tentu saja tak berdaya mengajak para petani meninggalkan pola konvensional dan beralik ke pola organik. Maka biarlah saya coba memberikan bukti dulu bahwa pola yang saya yakini baik ini benar-benar bermanfaat,” katanya.

St. Rajo Intan bersama Fitri sang istri akhirnya menggunakan lahan milik keluarga Fitri untuk dipakai sebagai lahan bertani secara organik. Awalnya memang amat berat, karena dari segi produksi hasil tanaman buncis, kol, sawi, bawang daun, seledri dan cabai tak sebanyak yang dihasilkan oleh petani konvensional. Lagi pula ketika itu banyak daun-daun lobaknya yang yang hancur digerayangi ulat.

“Pada awalnya saya harus berjuang dan mencari cara untuk membuat lahan ini menjadi alamiah kembali. Saya masih menggunakan kombinasi kompos dan pupuk kimia. Tapi secara berangsur-angsur prosentasi pupuk organiknya saya perbesar dan pupuk kimianya saya perkecil. Bersamaan dengan itu saya mulai mencari literatur-literatur untuk mengetahui kandungan zat apa saja yang ada dalam berbagai pestisida yang digunakan masyarakat daerah ini,” ujar pria yang pintar memetik gitar ini.

Ketekunannya untuk mencari rahasia-rahasia pestisida itu akhirnya berbuah. Ia mendapatkan berbagai tanaman yang berguna menggantikan pestisida. Ia mulai tertarik dengan kencing sapi, kencing kambing untuk dijadikan pupuk. Ia juga meramu sendiri pestisida yang menurutnya mudah terureai hingga tidak membahayakan tanaman dan tanah.

“Coba bayangkan, ulat saja sudah tidak doyan memakan kol yang disemprot dengan pestisida tertentu. Nah kol itu pula yang dimakan oleh manusia, artinya ulat jauh lebih pintar ketimbang manusia. Apakah kita akan meracuni orang banyak dengan produk pertanian yang penuh dengan racun dan bahan kimia pupuk?” katanya.

Tahun-tahun pertama pergulatan Joehari dengan hama dan pemurnian kembali lahan sempat mendapat tudingan miring dari orang-orang di kampung itu. Tapi Ia tak pedulu. Apalagi beberapa waktu kemudian di Aie Angek justru didirikan kawasan sayur organik dan oleh Dinas Pertanian Provinsi dibuatlah di situ apa yang dinamakan Institut Pertanian Organik (IPO)

IPO yang diharapkan jadi contoh dan ditularkan kepada masyarakat ternyata tidak serta merta diterima dan dipahami masyarakat. Tapi Joehari diam-diam menimba ilmu dari situ. Dengan hanya mendengar, bertanya-tanya ditambah kebiasaannya membaca akhirnya ia dapat memahami bahwa pertanian organik adalah pertanian masa depan yang hasilnya diharapkan oleh pasar. Orang di luar negeri lebih mencari produk pertanian organik dibanding yang anorganik.

Perkembangan berikutnya dari pengelolaan lahan yang dilakukan Joehari, menunjukkan perubahan dahsyat. Dengan caranya sendiri, Joehari dikenal sebagai produsen buncis super yang ditunggu para toke. Buncis produksi Joehari dikenal dengan ukuran dan bentuknya sama dan rasanya jauh lebih manis dibanding buncis kebanyakan yang beredar di pasar.

Dengan perlakuan organik itu pula, Joehari berhasil memperpanjang masa hidup buncisnya. “Orang bisa memanen sampai maksimal 10 kali, tapi buncis kami bisa dipanen sampai 20 kali dengan produksi hanya turun sekitar 10 persen saja pada panen ke 11 hingga paneh ke 20,” katanya mengisahkan.

Pola yang sama juga diterapkan pada tanaman cabai. Jika cabai dengan perlakuan konvensional hanya bisa bertahan hidup 7 bulan dengan 10 kali panen, Joehari dan istrinya bisa melipatkandaka menjadi 1,5 tahun dengan 15 kali panen.

“Khusus pada cabai, kita ‘memaksa’ tumbuh ceruk baru yang menghasilkan bunga baru dari cabai. Ini dilakukan pada saat panen ke 8. Jika diperkirakan harga masih akan membaik, maka kita ‘paksa’ tumbuh ceruk baru, itu sekaligus memperpanjang usia cabai,” ceritanya. Praktis dengan pendekatan yang disebut Joehari sebagai semi organik itu, ia bisa melipatkan produksi menjadi 3 kali lipat.

Lalu bagaimana buncis yang bisa jadi berbentuk dan berkuruan sama itu? Buncis yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Buncis si Intan’ di pasar hortikultura Koto Baru dan Padang Luar adalah hasil kerja keras Joehari dan Fitri selama berbulan-bulan. “Buncis yang akan saya jadikan bibit unggul dikarantina sampai 12 kali keturunan, sampai akhirnya saya temukan bibit terakhir yang sudah unggul tadi,” katanya. Ia mengaku tak segan membagi bibitnya kepada orang lain. Sayangnya belum banyak yang ‘tergoda’ mengikuti langkahnya.

Petani muda yang amat energik ini amat mengagumkan visinya. Kelak ia akan menyatakan ‘perang’ dengan pupuk urea, NPK, pestisida dan semua racun tanaman. “Lahan saya harus bebas kimia anorganik. Saat ini ketergantungan saya pada bahan kimia yang tak terurai itu tinggal 15 persen saja, saya harus akhiri kegiatan merusak tanah dan merusak sayuran dengan racun,” katanya.

Ia menemukan sendiri cara mendapatkan unsur-unsur Nitrogen, Phospat dan Kalium pengganti pupuk NPK. Sejumlah daun yang selama ini tak bernilai, tiba-tiba menjadi berguna. Dedaunan itu dia fragmentasikan untuk jadi cairan-cairan pengganti unsur-unsur kimia tadi.

Ia juga melakukan kerjasama dengan para peternak di nagar-nagari sekeliling Aie Angek untuk mendapatkan urin sapi gratis. Tiap dua hari sekali ia mendapatkan 8 sampai 10 liter urin sapi, maka seluruh unusur nitrogen dari pupuk NPK praktis tak dia perlukan lagi.

Ia tak sekedar sesumbar. Menurutnya semua hama tanaman termasuk babi, tupai, landak, kumbang dan sebagainya adalah bagian dari ekosistem yang tak perlu diputus matarantainya. “Kalau terputus, maka akibatnya tanamanlah yang jadi sasaran mereka,” kata dia. Karena itu hama babi yang senantiasa menyerang lahan pertanian penduduk harus dikendalikan dengan tidak memburunya. Joehari lalu menanam talas, ubi dan umbi-umbian di sekeliling ladangnya. Pada waktu-waktu senggang ia membawa ubi kayu ke hutan-hutan sekeliling untuk ditanam secara acak. Ketika sudah tumbuh dan berbuah, maka babi ‘memanen’nya tanpa harus menggangu lahan pertanian.

Joehari juga dengan cerdik mengalihkan perhatian hama cabai dan buncis ke bunga matahari, terong dan terung pirus. Hasil pengamatannya, ternyata sejumlah hama memilih hinggap di tanaman dengan daun berbulu tersebut.

Joehari dan Fitri memang menemukan dunianya sendiri. “Akhirnya saya tahu bertani itu adalah kehidupan yang indah. Secara sosial maupun secara ekonomi,” katanya sambil menyebutkan bahwa ia akan mengelola pertanian organik ini dengan serius. Menurut dia para petani sering lupa untuk membaca dan belajar untuk memahami alam. Sisi lain yang disorotnya adalah banyak petani yang tidak berhitung dengan waktu. “Kalau orang kantoran bekerja tujuh jam sehari dengan pendapatan yang pas-pasan, maka mestinya petani juga mulai mengjitung jam kerjanya. Jangan sampai setelah pekerjaan menyemai benih yang menghabiskan waktu 1 jam, lalu enam jam lainnya bermalas-masalan. Pokoknya jadi petani itu enak dan sangat prospektif,” kata pria yang sebelum terjun jadi petani adalah pekerja serabutan mulai dari jual beli kendaraan bekas, menjual nasi, sopir sampai penganggur.

Kini dengan panen ‘berketerusan’ itu Joehari dan Fitri sudah dapat hidup tenang. Ia hanya berharap kalau saja Pemkab Tanah Datar mau bermurah hati membantunya 2 ekor sapi untuk diambil urinenya, ia akan sangat bahagia sekali. “Dari pada Pak Bupati Shadiq marah-marah karena pupuk langka, sebaiknya anjurkan saja petani beternak sapi atau kambing dan semua pertanian di Tanah Datar jadikan berpola organik. Biarlah perusahaan pupuk itu tutup dan pabrik pestisida beralih usaha,” katanya.

Masa depan petani?

“Jangan khawatir, jika Anda punya lahan, tanamlah di sekelilingnya pohon mahoni. Jika 100 batang saja ditanam, dengan harga saat ini sampai Rp7 juta/batang maka saat usia mahoni mencapai 15 tahun Anda sudah mendapatkan dana pensiun Rp700 juta. Apakah uang sebanyak itu untuk hidup jadi petani masih kecil?” tanyanya.

Joehari sudah menanam 200 batang di sekeliling ladangnya.

Kini gitar akustik merk Kapok berdentang dipetik Joehari dari pondoknya di tengah ladang karena disambungkan ke loudspeaker. “Aku pernah punya cita-cita jadi petani kecil……” bait lagu Ebiet G Ade itu meluncur dari mulutnya. Ia mewakili semua ekosistem dalam komunitasnya itu untuk bergembira menyambut hari depan. Di situ tak ada pemusnahan, tak ada pemutusan mata rantai ekosistem ueko yanche edrie

Oktober 10, 2008 Posted by | Pertanian | 6 Komentar