WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat




Google


Iklan

Juli 10, 2006 Posted by | pencarian | 2 Komentar

Korupsi di Dinsos Sumbar


DUA tersangka kasus dugaan korupsi di Dinas Sosial Provinsi Sumbar senilai Rp 400 Juta, Drs Budi Susanto MPd (49), Kasubsdin Bantuan dan Jaminan Sosial di Dinsos Sumbar dan Ir L Dasviendri (40), Direktur CV Artha Kreasi akhirnya Kejaksaan Tinggi Sumbar, Kamis (6/7) kemarin. Kajati Sumbar Amrizal Syahrin, S.H., dengan surat perintah Penahanan Nomor : Print 225/N3/Fd.1/07/2006 tertanggal 6 Juni 2006 menahan tersangka Budi Susanto selama 20 hari sampai tanggal 25 Juli 2006 nanti, sedangkan tersangka Dasviendri ditahan dengan surat perintah penahanan Nomor : Print 256/N3/Fd.1/07/2006 yang juga ditahan selama 20 hari.
(Harian Haluan/7 Juli 2006)

Juli 6, 2006 Posted by | SUMBAR HARI INI | 4 Komentar

LUCGU Qolfiera Muhammad ke IMSO 2006


LUCGU Qolfiera Muhammad, siswa SD Baiturahmah Padang terpilih mewakili Sumbar sekaligus mewakili Indonesia sebagai calon peserta International Mathematics and Science Olympiade (IMSO) 2006.
Terpilihnya Lucgu setelah ia berhasil masuk peringkat 58 besar jalur B yang diseleksi langsung Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Kasubdin Pendidikan dan Pengajaran Dinas Pendidikan Sumbar, Drs. Syafruddin Abbas, M.Pd didampingi Kasi Perlombaan Drs. Erten Munandar, M.Pd kepada “Haluan” di ruang kerjanya mengatakan, terpilihnya Lucgu merupakan pengulangan prestasi dunia pendidikan Sumbar, khususnya tingkat SD dari prestasi Olimpiade Sains tahun-tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, untuk prestasi pendidikan yang sifatnya pribadi ini kita selalu berhasil meraih prestasi tingkat nasional. bagi Baiturahmah sendiri sebagai SD swasta unggulan di Padang juga merupakan pengulangan prestasi dimana dua tahun lalu siswanya atas nama Amelia berhasil meraih emas untuk Sumbar,” kata Syafruddin yang akrab dipanggil Jack itu.
(Harian Haluan/7 Juli 2006)

Juli 6, 2006 Posted by | SUMBAR HARI INI | 2 Komentar

Selamat Pagi, Lapan Satu Tiga!


Hari ini bahagia sekali Brigadir Polisi Satu Sidi Tonek (bukan nama sebenarnya) menghirup kopi dari cangkir di teras baraknya. Sepatunya sudah disemir mengkilap, Kepala ikat pinggang berlogo ‘Rastra Sewakottama’ juga dikilatkan pakai Braso.
Sepedamotor keluaran tahun 1990an ‘diracaknya’ untuk menuju markas. Ia menjadi salah satu dari banyak bintara polisi yang sudah berkali-kali ikut testing ke Sekolah Calon Perwira (Secapa) tapi tidak lulus-lulus. Ia sendiri tidak tahu dimana salahnya.
Yang jelas, ia sudah pasrah, lantaran kesempatan mengikuti jenjang pendidikan lanjuut agar bisa pensiun dengan pangkat perwira polisi sudah lenyap. Usianya sudah kepala 50.
Sampai di kantor pun ia tidak berada di balik meja komputer untuk memeriksa tersangka atau sekedar membuat surat kelakuan baik bagi masyarakat yang menbutuhkan. Ia ditempatkan pada unit Samapta Bhayangkara atau Sabhara. Kerjanya hanya berputar-putar untuk berpatroli ke lingkungan sekitar Polseknya. Maunya Tonek ia menjadi salah seorang anggota reserse, berpakaian preman lalu memeriksa tersangka sambil menatap layar komputer. Tapi, itulah Tonek, usia yang mulai menua, ia pun tak berkesempatan belajar komputer. Ia hanya pernah belajar mengetik 10 jari di pendidikan Secata dengan mesik tua bermerk Remington. Ini adalah mesin ketik keluaran Inggris peninggalan Perang Dunia II. Saat ia masuk polisi seperempat abad lalu, mesin tik tua seperti itu masih banyak di polsek-polsek. Bunyinya gemerincing dan kadang kalau ada pemeriksaan malam hari dari kejauhan terdengar meningkahi bunyi jengkerik di belakang markas.
Kini Jadi polisi harus ‘makan bangku sekolahan’. Kalau tidak sekolah, pangkat tak bakal naik-naik. Sidi Tonek sendiri adalah anak polisi yang dipensiun dengan pangkat Ajun Brigadir Polisi Satu. Kini ia meneruskan profesi ayahnya dan sudah pula akan memasuki masa pensiun. Dan Alhamdulillah ia belum pernah kena straaf oleh atasannya lantaran membeking togel, melapan anamkan perkara, memainkan perkara 480 (kasus penadahan yang tersangkanya dijadikan ATM), menjual barang bukti dan sebagainya. Pangkat boleh brigadir kecil tapi batinnya komisaris besar.
Di berbagai satuan setingkat Polres, para pemeriksa sudah pakai dasi. Tak ada lagi gemerincing Remington tua. Tak ada lagi ruang pengap yang membanjirkan keringat. Tak ada lagi telepon dengan engkol yang kalau mau bikin laporan tuntas dari Polres ke Polda (d/h dari Kores ke Kodak) operatornya harus berteriak-teriak. Kini pemeriksa bekerja dengan personal computer dengan word processor keluaran microsoft yang amat nyaman. Laporan tuntas harian (LTH) bisa menggunakan handphone atau radio komunikasi motorola.
Sepeda torpedo hitam yang menjadi salah satu atribut polisi masa lalu juga sudah lama lenyap. Bahkan polisi generasi tahun 80an saja barang kali tidak lagi mengenalnya. Kini patroli sudah menggunakan sepedamotor model terbaru. Setiap Polsek sudah punya kendaraan roda empat. Di tingkat Polda sudah ada helikopter.
Tonek memang sedang berada di ambang transisi polisi tua dengan polisi generasi supercop.
Perkembangan teknologi, juga membikin teknologi kepolisianj juga berkembang. Tapi takdir jadi polisi tidak akan pernah berubah-ubah. Polisi memburu bandit, bandit membuat kejahatan. Begitu terus menerus bagai tiada henti, hingga satu hari kedamaian abadi datang.
Generasi Tonek, sekalipun bisa dikatakan akan ada yang gatek alias gagap teknologi, tetapi sekali lagi doktrin kepolisian di manapun di seluruh dunia tidak akan membolehkan anggotanya membiarkan kejahatan berjalan dengan lenggang kangkung tanpa polisi dapat berbuat apa-apa, sekalipun dengan teknologi yang tertinggal dari para bandit.
Dengan teknologi yang seadanyapun, polisi juga tak mungkin meninggalkan fungsi yang melekat padanya: ‘senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keiklasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban’
Ini adalah kalimat pada brata ketiga dalam pedoman hidup Polisi Indonesia yakni Tribrata.
Tribrata menjadi pedoman hidup Polri melalui sebuah penelitian yang panjang selama satu dasa warsa setelah republik ini diproklamirkan. Penelitiannya dipimpin langsung oleh Guru Besar dan Dekan PTIK Prof. Djoko Soetono, SH. menyongsong pra rancangan Undang-Undang Kepolisian yang sedang digodok ketika itu.
Kata-kata Tri Brata mula pertama dikemukakan oleh Maha Guru Sastra sekaligus Dekan Fakultas Sastra UI merangkap sebagai Mendikbud saat itu, yaitu Prof. Dr. Priyono.
Kemudian secara resmi diucapkan oleh seorang mahasiswa PTIK pada prosesi wisuda kesarjanaan PTIK Angkatan II tanggal 3 Mei 1954, yang selanjutnya diresmikan sebagai Kode Etik pelaksanaan tugas Polri (yang dahulu disebut Pedoman Hidup) pada 1 Juli 1955.
Ada pertanyaan yang mengganggu: bagaimana mengayomi orang yang dia sendiri harus diayomi?
“Apapun, kamu harus mengayomi rakyat” kata Robert de Niro yang berperan sebagai penjahat dalam film Ahead kepada Robert de Niro yang berperan sebagai polisi. Penjahat dalam film itupun menyadari posisinya sebagai pihak yang menjadi musuh abadi polisi. Karena itu ia sarankan sang polisi tetap memburu dirinya, apapun konsekwensinya. Mau jalan kaki sementara banditnya pakai mobil, mau pakai sepeda sementara penjahatnya naik kapal terbang dan seterusnya. Resiko kesenjangan teknologi itu akan terus ada sepanjang masa. Musuh abadi itu tak punya belas kasihan, sekalipun polisinya ketinggalan.
Brigadir Tonek tak perlu kecil hati. Ia merasa dirinya tak perlu diayomi. Ia telah melewati ujian musuh abadi itu. Jika hari ini para Jenderal Polisi turun ke Polsek-polsek menjadi Inspektur Upacara Hari Bhayangkara ke-60, Tonek berbaris dengan sikap sempurna dalam palunan pasukan upacara. Ia ingin mengingatkan kepada para jenderal polisi itu bahwa belum pernah ada sejarahnya kejahatan menang melawan kebaikan. Polisi memainkan peranan kebaikan. Tapi jika ada polisi memainkan peran Robert de Niro dalam film Ahead niscaya ia akan kalah.
Teknologi boleh tertinggal, tapi elan vital polisi harus senantiasa tidak tertinggal oleh godaa-godaan duniawinya. Pangkat boleh brigadir kecil, tapi hatinya mesti komisaris besar.
Selamat pagi polisi, selamat ulang tahun, lapan anam, lapan satu tiga!

Juli 6, 2006 Posted by | esei hukum | 1 Komentar

Durin dan Rudini


Lelaki itu bernama Rudini. Jenderal bintang empat tamatan Akademi Militer Breda. Saya ketika itu wartawan Singgalang. Dan pertanyaan saya Desember1992: “Betulkan Anda mundur kalau Durin dilantik jadi Gubernur Sumbar?”

“Lho, pertanyaannya kok itu-itu meluluh sih?” jawabnya dengan mata dibulatkan. Tapi suaranya yang kecil tidak menunjukkan dia sedang jengkel. Tapi agaknya lagi malas menjawab pertanyaan yang itu ke itu saja diajukan para wartawan.
Saya kebetulan mendapat tugas juga menyampaikan pertanyaan yang ‘itu ke itu saja’ kepada lelaki itu.
Lelaki itu bernama Rudini. Jenderal bintang empat tamatan Akademi Militer Breda. Saya ketika itu wartawan Singgalang. Dan pertanyaan saya Desember1992: “Betulkan Anda mundur kalau Durin dilantik jadi Gubernur Sumbar?”
Sejak pemilihan November 1992, Rudini memang sering dicecar wartawan dengan pertanyaan itu. Saya piker itu salahnya Rudini sendiri, karena ia juga yang memulai beucap seperti itu: “Saya mundur kalau dia (Hasan Basri Durin) dilantik”.
Sepanjang tahun 1992 hingga 1993 nama Rudini memang memenuhi jagad pemberitaan tentang Sumatra Barat. Ia amat getol menentang Hasan Basri Durin (HBD) untuk maju ke periode kedua jabatan Gubernur Sumatra Barat. Pasalnya, ada ‘pilihan lain’ yang sedang diusahakan masuk dalam mainstream Jakarta. Nama Syahrul Udjud, mantan Walikota Padang yang menggantikan HBD jadi Walikota, sedang diupayakan pula menggantikan posisi HBD jadi gubernur. Tapi suara di DPRD berkata lain. Syahrul kalah setelah hanya mengantungi 12 suara, sedang HBD 23, sisanya diraup Sjoerkani.
Rudini berkali-kali mengatakan kepada media, jadi kepala daerah itu hanya boleh dua kali kalau prestasinya luar biasa. “Durin itu prestasinya biasa-biasa saja,” kata Rudini berkali-kali. Ia memang menyebut nama Hasan dengan Durin. Waktu itu, Rudini adalah jenderal yang sedang jadi perhatian lantaran berbagai sikap kritisnya. Termasuk kritisknya kepada Pak Harto. Ia gigih mempertahankan sikapnya.
Di pertemuan singkat di Bandara Tabing dalam tugas ‘mengeroyok Rudini’ saya mencoba menjelaskan bahwa nama panggilan HBD itu Hasan, bukan Durin karena Durin itu nama ayahnya. Tapi Rudini hanya senyum, nampaknya ia tidak ‘ngeh’ buktiknya beberapa waktu kemudian wartawan pun tak mencoba meluruskannya, ia tetap ‘gigih’ menyebut Durin. (Oh ya, Redaktur Pelaksana kami waktu itu memerintahkan ‘mengeroyok Rudini’ agar ia mau ngomong apapun tentang hasil Pemilihan Gubernur. Sudah kami perkirakan ia tidak mudah ditemui. Waktu itu, Rudini datang untuk sebuah acara olahraga Karate. Walhasil, kalau saya tidak salah ada lima wartawan yang ditugasi ‘mengeroyok’. Masing-masing menjaga pos. Saya di Bandara, Gusfen Khairul di lapangan Golf, Tun Akhyar yang wartawan Olahraga menantinya di arena pertemuan para karateka dan Akmal Darwis di kantor Gubernur)
Rudini. Pendek saja nama itu. Selama menjadi Mendagri ia memang menjadi the news maker. Apapun yang ia katakana sepertinya sudah langsung membentuk lead berita. “Saya ngomong apa adanya saja,” ujar dia saat terus saya kejar dari VIP room ke mobilnya.
Sebuah pertanyaan lain diajukan wartawan Koran digital ‘Detik.com’ tahun 1999: “Waktu jadi Mendagri memang sering dimarahin Soeharto? “Rudini menjawabnya dengan santai. Ndak takut-takut. Kata dia: “Yang jelas saya pernah membantah dalam tiga masalah besar. Pertama, saya dipanggil. Kamu jadi ketua umum Golkar. Lalu saya jawab, ndak bisa, pak. Saya wasit, saya juga pemain. Kacau nanti. Kecuali kalau Lembaga Pemilihan Umum (LPU) waktu itu bukan wasit. Beda dengan sekarang, KPU bukan wasit. Wasitnya Panwas. Mendengar jawaban saya, Pah Harto bilang, ya sudah, kalau ndak setuju lalu siapa. Marah-marah, ya ndak bisa dong. Yang kedua masalah PPP. Saya waktu itu disuruh nyingkirkan Naro. Alasan Pak Harto Naro otoriter. Lalu Pak Harto minta gantinya Dr. Sulastomo. Padahal Sulastomo itu kan salah satu ketua DPP Golkar. Saya katakan, wah kalau itu ndak bisa dong. Itu kan nggak sesuai dengan undang-undang. Pak Harto lalu marah-marah, mendelik-mendelik. Dan ketiga soal pemilihan Gubernur Sumbar. Saya sebenarnya waktu itu memang mengancam akan mundur kalau Pak Harto bersikeras. Rupanya memang itu yang terjadi. Namun Moerdiono kemudian yang minta agar saya jangan sampai mundur.”
Jenderal (purn) Rudini, lahir di Malang, Jawa Timur, 15 Desember 1929. Pendidikan dasar hingga SMA dihabiskannya di kota itu. Taun 1951 ia berkesempatan masuk Akademi Militer Breda di Belanda. Setelah itu karirnya terus melejit di kemiliteran sebelum ditugasi belajar le Seskoad, Bandung (1970); dan International Defence Management Course, AS (1973) serta Lemhanas, Jakarta (1977) Mengomandani pasukan bukan perkara sulit baginya. Buktinya ia sudah menjalani karir jadi Danton sampai Danki di Batalyon 518/Brawidjaja. Saat meletus peristiwa PRRI, Rudini jadi pelatih taruna di AMN. Lepas jadi Pamen ia beroleh bintang satu kemudian tongkat Panglima Kopur Linud diserahkan kepadanya tahun 1975. Selanjutnya menjadi Kaskostrad, lalu jadi Pangdam XII/Merdeka tahun 1978. Di kalangan militer, jika sudah jadi Pangdam, pertanda karir akan membaik. Rupanya benar. Ia berturut-turut jadi Pangkostrad lalu puncak karir tentaranya diakhiri sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Menteri Dalam Negeri (1988-1993) Jabatan yang dia embank selepas jadi Mendagri di masa awal reformasi adalah Ketua KPU.
Saat jadi Ketua KPU, ia mendapat tugas amat berat. Karena Pemilu harus dilaksanakan dalam kondisi Indonesia yang sedang tercabik-cabik. Tapi, ya itu lah. Rudini bukan Rudini, kalau tak bisa berkelit diantara berbagai kesulitannya. Pemilu berlangsung sukses sebagai Pemili pertama di masa reformasi. Dia paling menentang Korpri dikooptasi untuk kepentingan politik Golkar. Tentu saja kemudian dia diacungi jempol untuk itu. Buktinya sampai sekarang Korpri sudah lepas dari ‘payung’ partai politik berkuasa.
Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB, Jenderal dari Malang itu dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selamanya. Tak banyak tentara berpikiran kritis dan cerdas seperti dia. Kemarin ia beristirahat untuk selamanya di TMP Kali Bata. Selamat Jalan, Rek!(eko yanche edrie)

Juli 6, 2006 Posted by | tokoh | Tinggalkan komentar

Mak Datuk, Nih CD Gue!


Mau berbugil ria? Silahkan. Mau bersopansantun dengan tubuh terbalut kain dan semua aurat tak diumbar, ya monggo juga.

Sepinjik lagi soal porno. Ini perang yang usianya sudah panjang. Pengujung orde lama kaum perempuan mulai ‘kesulitan’ mendapatkan tekstil. Dunia pertekstilan Indonesia bahkan sedang didrill oleh Soeharto untuk mencapai tingkat yang bermartabat. Kredit dikucurkan untuk itu. Bahkan sampai ke hari-hari terakhir orde baru, Twako Tan Tjoe Hong alias Edy Tansil masih dikucuri kredit untuk bikin pabrik kain. Begitu juga sejumlah taipan tekstil dapat bagian kucuran besar juga.

Pak Harto bikin banyak-banyak pabrik tekstil sampai jutaan mata pintal. Kapas transgenik yang amat kontroversil dan ditentang oleh NGO lingkungan juga merupakan bagian dari upaya agar pabrik tekstil menjadi makin cukup bahan bakunya.

Di kawasan Cihampelas Bandung lebih sekilometer panjang pertokoan hanya menjual jeans. Di Cipulir dan Tenabang alias Tanah Abang yang bikin majalah terkenal Tempo tersandung perkara oleh Tomy Winata, adalah pusat tekstil paling komplit di Indonesia. Di Bukittinggi, Aur Kuning sering dikatakan sebagai Tanah Abangnya Sumbar.

Semuanya agar rakyat Indonesia yang ramah tamah, yang berbudaya ketimuran, yang bermoral tinggi, yang mulutnya manis kucindannya murah, yang beradat besendi syarak, yang syaraknya bersendi kitabullah itu tercukupi kebutuhan sandangnya.

Kebutuhan sandang itu juga dimaksudkan oleh Pak Harto waktu itu untuk menghindari rakyatnya tidak gampang masuk angin karena ‘pungguang ndak basaok’ pusar terbudur. Kalau naik angkot anak gadisnya tidak kerepotan menutupi belahan pahanya dengan kedua talapak tangan (akhirnya terintip jua oleh Sidi Tonek di balik kacamata hitamnya).

Memang ada iklan yang bertanya begini: “Ngapain takut belang?” Tapi sesungguhnya produk kosmetik itu tidak perlu dibeli kalau kecukupan sandang tadi terpenuhi oleh pabrik tekstil.

Oh ya saya binggung juga harus menjawab apa, ketika faktanya orang tak peduli kalau anak gadisnya sakit perut, masuk angin, tubuhnya belang, pusarnya terlihat, celana dalamnya kalau sedang menungging pun terlihat.

Seorang kemenakan saya sapa di atas angkot tempo hari: “Eh kalau kadisaok-saok juo jo tangan, manga dipakai nan singkek bana?” tanya saya ketika duduk berhadapannya dengan kemenakan tersebut. Puti Reno Nilam Basanggua Ameh binti Haji Jakfar Siddik nama panjangnya kemenakan itu. Saya lihat dia amat kerepotan menutupi pahanya dengan dompet kulit kecil. Tapi sepandai-padai menutup tetap saja ini merupakan kerja sia-sia.

Kemenakan yang satu lagi duduk disampingnya mengenakan celana jeans balel ketat. Kabarnya untuk memasukkan kaki ke dalam pipa celana itu harus menggunakan plastik agar licin. Bagian atas menggunakan kaos warna pink dengan lengan amat pendek tapi bukan seperti mode beberapa tahun sebelumnya, You Can See, alias bisa ngintip bulu ketek. Ini agak mirip tanktop yang bisa dikenakan artis Agnes Monica. Ketat dan pada bagian dada agak terbuka lebar, sehingga bagian atas dada lebih bisa terekspos.

Kedua Kemenakan ini jadi risih karena harus bersitatap dengan saya. Mungkin karena resah atau marah dalam hatinya (setelah pertanyaan saya tak dia jawab) dia minta sopir angkot berhenti, dia turun.

Menjelang turun jelas ia membungkuk. Woow, saya lihat kaos pink nya terangkat pinggangnya terlihat (awalan ter di sini artinya tidak sengaja he he) Darah saya berdesir. Eh, kemenakan itu memalingkan wajahnya ke saya sambil membulatkan matanya:
“Eh mak Datuak, lihat nih CD gue….”
Palasik! Saya memberungut lantaran merasa ‘dikalapua ayam batino’. Untung angkot itu segera cigin menuju Pasar Raya. Padalah tadi ‘sarawa kotok’ alias CD itu kumal, aaa…. dipertontonkan pula pada saya.

Saya mengguriminkan doa, mudah-mudahan kemenakan itu murah sajalah rezekinya, tak banyak sidik jari yang melekat di tubuhnya. Entah berapa kemenakan lainnya yang saban hari berlalu lalang di depan orang tua, di depan mamaknya sendiri tanpa peduli lagi pada apa yang sering disinggung oleh Mak Datuk Simulie sebagai ‘sumbang’. Sumbang kalau perempuan minang duduk mengangkang. Nah makin sumbang kalau di hadapan mamak bicara bahasa gaul, berperilaku aneh-aneh. Sama sumbangnya ketika menantu dan mertua sama-sama menonton TV dalam rumah yang acaranya adalah adegan yang syuuur. Makin sumbang pula kalau mamak rumah dan sumbando duduk bersisian sambil menatap pemandangan sumbang yang lain.

Saya mulai mencari-cari kambing hitam yang bisa dipersalahkan guna membela martabat kedatukan saya yang diremehkan kemenakan tadi. Saya pikir yang salah adalah Edy Tansil. Masak dikasih kredit untuk bikin pabrik tekstil eh malah kredit dikemplang dan dia cigin entah kemana (sampai sekarang).

Saya terpaksa mengasumsikan bahwa dunia pertekstilan Indonesia parah. Tak bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Indikatornya banyak anak kemenakan yang kekurangan kain untuk bikin pakaian. Akibat yang ditimbulkannya para kemenakan teraniaya karena harus dituduh berpornoaksi. Kemudian juga menimbulkan chaos politik dalam mendukung dan menolak RUU-APP. Seakan-akan kalau RUU-APP jadi UU maka kiamatlah Indonesia. Atau kalau RUU APP tidak jadi UU, 280 juta penduduk Indonesia berbaris ke neraka karena berdosa membiarkan maksiat, membiarkan aurat dipertontonkan.

Saya harus cari itu Tan Tjoe Hong yang kabur. Ulah dia, kita jadi ‘bakalibuik ampok’. Saya yakin Edy Tansil saat ini sedang tertawa terbahak-bahak sampai terbit kejambannya saat menyaksikan dagelan nasional ketika ada rombongan besar ‘mentas’ di bunderan HI. Di situ Inul dengan penuh emosi menggoyang pantatnya untuk ditonton orang serepublik. Sepertinya goyangan inul lebih hebat dari biasanya. “Mak Datuk, nih goyangan gue….”

Ya Allah, tobat awak dibuatnya. Biarlah Edy Tansil saja yang kita kambinghitamkan untuk dagelan nasional ini. Kalau bukan dia, siapa yang mau mengaku salah?(eko yanche edrie)

Juli 6, 2006 Posted by | minangkabau | 1 Komentar