WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Cara DARC: Makan Sepuasnya, Bayar Sesukanya


Oleh: Eko Yanche Edrie

Mana ada ceritanya di dunia ini kita makan sekenyang-kenyangnya sampai sangiah lalu ditutup pula dengan sereguk kopi atau jus sambil menghirup asap rokok bercandu tinggi tapi semuanya dibayar dengan suka-suka. Apalagi menunya adalah nasi padang.

Kalau perkara makan gratis sih banyak. Tapi makan dengan tarif ditentukan oleh siapa yang makan maka itu ceritanya kalau tidak dalam sinetron bergenre fiksi pastilah hanya ada di kawasan Sah Alam Selangor Darul Ehsan Malaysia.

Nama tempatnya secara resmi ditulis Denai Alam Ridding Club (DARC). Sebuah kawasan di luar Kuala Lumpur. Ini adalah kawasan wisata dengan mengedepankan olahraga berkuda sebagai intinya. Untuk bisa mendatangi tempat itu kita mesti jadi member dulu. Semua orang bisa mendaftar jadi member setelah membayar  tunai sebesar RM180 atau sekitar Rp600 ribu per tahun. Itupun untuk satu keluarga. Setelah mendaftar, kita boleh berkuda sepuasnya sampai penat. “Boleh tiap hari, seminggu sekali atau terserah kapan maunya,” kata Iwan Marzie Thamrin, salah seorang yang ikut bekerja di situ mengelola DARC. Iwan adalah putra mendiang Marzie Thamrin, wartawan Singgalang di Pariaman. Ia sudah hamper sepuluh tahun berada di situ.

Tapi yang menarik bukan berkudanya. Melainkan makannya. Di samping ranch dibangun sebuah restoran terbuka dengan hanya mengandalkan tenda besar sebagai penyungkupnya. Cuaca yang lembab di bagian barat tanah semenanjung itu terpaksa dilawan dengan mengerahkan empat fan besar  yang menghasilkan hembusan angin bercampur embun buatan.

Di bawah tenda itulah pengunjung, baik member yang selesai berkuda maupun pengunjung umum bersantap. Menu masakan yang dipilih oleh pengelolanya adalah menu masakan Minang atau nasi padang. Tak tanggung-tanggung, pengelola DARC mendatangkan juru masak (chef) dari salah satu restoran Padang yang terkenal di Jakarta.

“Nasi padang atau masakan Minang sengaja kami pilih karena ini adalah menu yang paling bisa cocok untuk semua etnis dan semua lidah. Hampir tak ada orang tak suka dengan nasi padang,” kata Terry Teo, Deputy President DARC ketika menjamu serombongan pemimpin media Sumatra Barat belum lama ini di Shah Alam.

Terry dengan bangga menceritakan perihal restorannya itu dan dengan bangga pula mempromosikan tiap lauk yang ada di situ. “Ini tunjang, rasanya sangat empuk. Ini gulai otak, memang berkolesterol tapi banyak yang suka,” ujarnya seraya menyorongkan gulai otak itu kepada budayawan Alwi Karmena. Alwi langsung menerima kehormatan itu dan memicingkan matanya untuk memperlihatkan mimik seorang yang sedang menikmati makanan enak. “Dimana tekadirlah,” kata Alwi menggunakan bahasa Minang yang diindonesiakan menurut versi dia. Untung H. Basril Djabar tak ikut menyemba gulai yang sudah tidak boleh didipinya itu. “Uda nan iko se lah,” ujar Da Bas kepada Hasril Chaniago yang duduk dekatnya sambil menyenduk sayur bayam segar.

Cerita kunyah-kenyoh itu tak akan habis-habisnya diceritakan. Tetapi yang justru makin menarik bagi para anggota rombongan muhibah media Sumbar itu adalah sistem pembayaran yang berlaku di restoran DARC itu. Usai makan, ketika Basril Basyar, Ketua PWI Sumbar yang ditunjuk menjadi ‘kasir kafilah’ ini hendak membayar dan meminta pelayan menghitung, Terry Teo sang Deputy President DARC langsung angkat tangan. “Tak ada tarifnya, semua yang makan di sini membayar menurut kata hatinya saja, sila ke kassa,” kata dia.

Rombongan pun menuju kassa. Tapi tak ada petugas di situ. Yang ada hanya kotak kaca seperti yang ada di mesjid-mesjid, lalu ada sebuah buku kuitansi dan ballpoint tergeletak di meja kassa.

Rupanya memang demikian aturannya, kita yang makan yang menentukan berapa kita ‘sanggup’ membayar makanan yang sudah tandas (kata yang di sini lain lagi artinya) itu. Berapa kesanggupan kita membayar itu pun dimasukkan ke dalam kotak. Setelah itu tulis di kuitansi yang sudah dicetak khusus. Pesan dikuitansi itu adalah, bahwa kita sudah menyerahkan sejumlah uang untuk diteruskan kepada anak yatim. Begitu saja. Selesai.

Demikianlah DARC, yang sebenarnya dimiliki oleh sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang relestat dan ritel dengan sejumlah supermarket memperuntukkan restoran dan klub berkuda itu untuk keperluan program charity mereka. Hasil dari DARC itu dibagikan kepada anak yatim secara periodik. “Ini cara kami untuk memberikan perhatian kepada anak-anak yatim yang hidupnya belum beruntung,” kata Terry. Ia mengulas dengan bahasa yang sederhana: berkuda murah sambil beramal. Sebab siapa pula yang akan berkata bahwa dengan Rp600 ribu setahun per satu keluarga sebagai iyuran yang mahal?

Tiap akhir pekan pengunjungnya banyak sekali. Para penduduk Kuala Lumpur dari kelas menengah banyak menghabiskan akhir pekannya di sini. Banyak juga yang datang dari Singapura dan Thailand.

Nah, siapa yang mau buka cara Selangor ini untuk beramal di sini?*** (dimuat pada Harian Singgalang edisi 13 April 2010)

Mei 13, 2010 Posted by | Budaya, melayu | , , , | Tinggalkan komentar

PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI


Malaysia di Tangan Pak Lah

Selama dua dasawarsa Malaysia ditangan Mahathir, secara alamiah regenerasi kepemimpinan juga berlangsung. Timbalannya (wakil) memang acap berganti. Bahkan ketika santer terdengar ia menyiapkan Anwar Ibrahim sebagai pengganti, ternyata publik kecele. Mahathir memang pintar memainkan emosi publik. Sebaliknya, Datuk Anwar dikurung di bui Sungai Buloh selama enam tahun.
Tak banyak pemimpin Asia yang turun tahta dengan soft landing. Tapi Mahathir mampu membuatnya. Kelanjutan kepemimpinan di UMNO dan di kursi PM dengan mulus dilanjutkan kepada Abdullah Ahmad Badawi. Pak Lah, demikian PM penerus Mahathir ini disapa akrab.
Di Minangkabau ada ada adagium berbunyi: ‘bak mamulangi jando Angku Palo’ (bagai mengawini janda Engku Kepala) tidak gampang. Sang janda memang sudah dipelukan, tapi apakah bisa memberikan kebahagiaan sebagaimana pernah dirasakannya dari sang Engku Kepala?
PM Abdullah Ahmad Badawi tentu tak mau pula disebut sebagai orang yang berada di bawah bayang-bayang Mahathir. Satu generasi akan punya sejarahnya sendiri pula, Pak Lah pasti percaya itu. Di Malaysia sejak 2004 ada slogan: ‘Malaysia Boleh!’ yang berarti Malaysia Bisa! Kalau hanya krisis yang ditebar Soros dan para spekulan asing, Malaysia bisa mengatasinya! Kira-kira begitu sentimen yang akan ditimbulkan tatkala slogan itu digulir ke seluruh negeri.
Maka Pak Lah, juga percaya dengan slogan itu bahwa ia bisa. Apa-apa yang sudah dibuat oleh pendahulunya, tentu akan dipertahankan dan ia juga akan membuat sejarah pula kelak.
Yang jelas selama Mahathir muncul pergeseran paham seolah pemerintah sedang meminggirkan Islam. Isu ini terus dihembuskan kelompok oposisi. Tapi pada praktiknya, justru Malaysia atau Mahathir di forum dunia sangat kental proIslamdan terlinat sangat antibarat. Sampai ia lengser, isu itu terus pula mengendur.
Maka kini Abdullah Badawi akan punya satu harapan untuk membukukan sejarahnya sendiri. Detik terakhir menjelang Mahathir turun digulir isu Asia. Malaysia tetap Islami dan tetap moderat dan tetap menjaga jarak dengan barat, tapi tetap benar-benar Asia!
Tak jelas, apakah motto pariwisata Malaysia yang kini dipilih yakni ‘the Trully Asia’ memang dimaksud meneguhkan keyakinan negeri itu bahwa Malaysia ada Asia dan Asia adalah Malaysia dalam arti bersama-sama dengan negara-negara Asia lainnya meletakkan Asia pada kedudukan yang terhormat?
Belajar dari mengafirmasi kedudukan Melayu dalam kaukus Cina-India-Melayu jadi sejajar, bukan tak mungkin Malaysia juga mendorong kemajuan yang lebih nyata bagi bangsa-bangsa Asia.
Kini untuk pertama kali Abdullah Ahmad Badawi datang ke Ramah Minang yang diyakini menjadi negeri asal sebagian warga Melayu di Malaysia. Selama dua hari ini ia akan bertukar cakap dengan seorang Presiden negeri berpenduduk 200 juta lebih, Presiden yang pandai bernyanyi lagu Ebiet G Ade. Selamat datang Pak Lah, Selamat datang Pak SBY.(eko yanche edrie)

Mei 5, 2006 Posted by | melayu | Tinggalkan komentar

MENGATROL MARTABAT MELAYU


  • BELAJAR DARI MALAYSIA
    Cara Dr.M Mengatrol Martabat Melayu

    The Malay Dilemma! seru Dr.M pada masa pasca kerusuhan rasial terburuk di negeri semenanjung itu tahun 1969.

Dr.M, adalah panggilan paling mashur bagi pemimpin Malaysia Mahathir Mohammad. Suaranya yang lantang mendebat Barat, membuat ia juga terkenal sebagai Soekarno Kecil.
The Malay Dilemma, adalah pikiran Mahathir tentang kondisi Malaysia diantara tiga ras besar, Melayu, China dan India. Ada yang senjang, baik secara ekonomi, politik maupun pembagian kue nasional diantara ketiganya. Sehingga menimbulkan dilema, bahkan permusuhan antarras dipicu oleh kesenjangan itu. Mahathir melihat ini amat kontraproduktif bagi perkembangan Malaysia. Ini perlu diatasi. “Selekasnya!” kata Mahathir. Belakangan pemikiran dituangkan dalam bentuk buku dengan judul yang sama.
Dalam dilema Melayu itu, amat terasa puak Melayu jauh tertingal di belakang. Sebagaimana halnya di Indonesia, ras Melayu lebih banyak berada di pinggiran. Sementara dua puak lainnya China dan India memegang kue ekonomi lebih besar dan berada di pusat kekuasaan secara lebih dominan.
Sejak kemerdekaan pada 1957, kondisi ketidakberimbangan ini terus mengisi alam kemerdekaan Malaysia. Dilema muncul ketika puak Melayu harus memilih: menjadi puak kelas dua di tengah kemayoritasannya atau menjadi penerima ‘belas kasihan’ negara atas jerih payah dua puak yang lain?
Pemerintah berkuasa (Barisan Nasional dengan dominasi UMNO) memberikan ketegasan: harus ada upaya mengangkat derajat Melayu sekelas China dan India. Sejak itu ketidakmerataan sosial dan ekonomi (beasiswa, kepemilikan tanah dan perbandingan antarsuku di pemerintahan) dijadikan prioritas untuk diatasi.
Kebijakan Ekonomi Baru (New Economic Policy-NEP) merupakan kerangka acuan mengangkat harkat Melayu itu. Sejak Tunku Abdurrahman Putra, Tun Razak, Husein Onn sampai Mahathir NEP terus digulir dan diperbaiki sepanjang tahun.
Ketertinggalan Melayu perlahan tapi pasti akhirnya teratasi. Kini ketiga ras itu sudah berdiri sejajar. “Apapun, proteksi pemerintah harus diberikan untuk mempercepat persamaan ras itu,” kata Mahathir ketika menerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Padjadjaran Bandung belum lama ini.
Hingga tahun 80an kesungguh-sungguhan Malaysia menenteramkan rakyat untuk bebas dari cemburu antaretnis yang kontraproduktif mencapai hasil. Malaysia tumbuh menjadi sebenar-benar Malaysia. Satu dari lima macan Asia (sebutan untuk negara-negara maju di Asia) adalah Malaysia.
Sebuah bekas koloni Inggris yang tadinya mengandalkan ekspor timah dan getah kini benar-benar menjadi negeri industri (bahkan) sudah berbasis Iptek.
Tidak asal bercakap, lihatlah apa yang disebut dengan Malaysia Multimedia Super Corridor (MSC), keanggunan bandar baru Putrajaya, Genting Highland, KL Tower atau Twin Tower, industri mobil Proton dan entah apa lagi. Semua menunjukkan hasil dari sebuah kesungguh-sungguhan sebuah bangsa membangun negerinya. Lalu sejumlah pelabur (investor) mulai merentang sayap ke negeri jiran. Ke Indonesia, termasuk juga ke Sumatra Barat. Keahlian mereka mengolah sawit terus dikembangkan di Indonesia.
Tadinya dalam rentang dua dekade yang silam, banyak mahasiswa Malaysia belajar ke Indonesia berkat ribuan beasiswa yang disediakan oleh negara. Tapi belakangan, orang Indonesia lah yang berjubel menuntut ilmu di Malaysia.
Ekspor Malaysia sentiasa menunjukkan perkembangan yang positif. Pertumbuhan antara tahun 1990-1997 melebihi 7%. Ini adalah disebabkan Malaysia merupakan sebuah negara yang semakin beralih kepada sebuah negara perindustrian.Investasi asing digalakkan, terutama industri elektronika maupun semikonduktor. Lihatlah, betapa Malaysia amat serius menggalakkan kawasan industri. Di Seberang Prai misalnya dibuat zona perdagangan bebas. Investasi dijuluk juga dengan cara memberikan peniadaan pajak untuk waktu-waktu tertentu. Namun pada kurun waktu 1997-1998 nasib Malaysia hampir sama seperti sejumlah negara-negara Asia Timur. Guncangan Soros, membikin geger ekonomi Asia. Bursa saham Kuala Lumpur ikut jatuh sampai separuhnya. Para investor asing mulai menarik modal mereka.
Akibat ikut dari kondisi ini, investor menahan diri, pemilik uang lokal lebih suka menyimpan uangnya di bank lantaran bunga tinggi. Sejumlah megaproyek yang sedang digarap Malaysia ketika itu terhenti seperti pembangunan Jalan Raya Genting-Cameron-Fraser. Lalu juga sempat terhenti Bandara Wilayah Utara, Fase II Putrajaya dan sejumlah proyek lainnya. Banyak korporasi Malaysia bertumbangan, PHK terjadi di mana-mana. Angka pengangguran meningkat tajam.
Dr.M, lalu memutar otak. Selain terus menerus bersuara lantang melakukan resistensi atas kebijakan AS dan Barat, Mahathir membuat kebijakan baru. Upaya perbelanjaan digalakkan, suku bunga bank diturunkan. Hasilnya dalam tempo tidak terlalu lama krisis pun berlalu.
Malaysia terus mengepak sayap lalu meletakkan titik berat masa depannya pada sektor industri dengan ciri khas berteknologi tinggi. Berbagai perusahaan BUMN ‘dipaksa’ bekerjasama dengan raksasa-raksasa industri di Korea maupun Jepang. Apa yang kemudian dikenal dengan HICOM (Heavy Industries Corporation of Malaysia) adalah buah dari upaya itu.
Pemerintah kemudian mendorong terciptanya swastanisasi di berbagai bidang. “Tapi pemerintah tetap ada di dalamnya,” kata Mahathir saat menggelontorkan izin untuk swastanisasi itu. Pemerintah mengambil peran sebagai jasa pelayanan pendukung. Sedangkan untuk urusan komersial diperankan oleh perusahaan nasional tadi.
Disamping membangun yang besar-besar, usaha kecil dan menengah juga ditaburi modal dan terus didorong untuk tumbuh dan berkembang mengitari industri-industri besar. Miliaran ringgit digelontorkan bagi usaha-usaha kecil bumiputra. Akses mereka ke lembaga permodalan, ke dunia Iptek, Tekonolo Informasi dan pasar ditingkatkan oleh pemerintah.
Maka sepuluh tahun sejak Mahathir jadi PM, ditetapkanlah visi Malaysia yang jauh ke depan. Dikenal dengan Visi 2020. Dalam visi ini digambarkan apa dan bagaimana Malaysia pada tahun 2020, saat ekonomi pasar bebas benar-benar bergulir.
Yang terang Malaysia sudah menikmati buah tangan Mahathir itu. Saat ini income/kapita Malaysia mencapai11.160 dolar (2005), dengan Pendapatan Domestik Bruto sebesar 290 miliar dolar. Malaysia dengan senyum berada di peringkat ke-33 dunia.(eko yanche edrie)

Mei 5, 2006 Posted by | melayu | Tinggalkan komentar