WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Kesetiakawanan Nasional, Kesetiakawanan Lokal


Oleh: Eko Yanche Edrie

Kesetiakawanan, rasanya kata itu nyaris tak memerlukan kitab tebal-tebal untuk mengartikan dan memperjelas makna dari pesan yang ada dalam kata itu. Dalam konstelasi nasional, juga dikenal dengan Kesetiakawanan Nasional.

Bulan ini hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN) akan diperingati dengan puncak acara nasionalnya di Payakumbuh. Kalau tidak aral melintang, kabarnya akan dihadiri oleh Presiden SBY.

Apa yang dapat kita (rakyat Sumbar khususnya) petik dari peringatan yang tiap tahun jatuh pada 20 Desember itu?

Sesungguhnya ada keluhuran makna dalam peringatan HKSN itu. Tidak sekdar upacara atau hanya pesta-pesta belaka. Bahwa kesetiakawanan sosial itu adalah sesuatu yang sangat bermakna spritual dan moralitas.

Peringatan HKSN juga sangat terkait dengan bagaimana bangsa yang besar ini merenungkan kembali nilai-nilai kebersamaan, senasib sepenanggungan semasa perang mempertahankan kemerdekaan.

Di Sumatera  Barat, makna ini terpateri pada sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Hari lahirnya PDRI tanggal 19 Desember sejak tiga tahun terakhir ditetapkan oleh Presiden SBY sebagai Hari Bela Negara (HBN).

Dengan demikian ada dua hari peringatan yang waktunya sangat berdekatan. Pertama HKSN dan kedua HBN. Karena HKSN tahun ini dipusatkan di Sumatera Barat, maka kedua hari peringatan ini juga memiliki arti yang khusus bagi Sumatera Barat.

Hari Kesetiakawanan Nasional adalah pengejawantahan dari sikap pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan.

Karena nilai-nilai dasar yang ada dalam kehidupan rakyat itulah segenap perjuangan mempertahankan kemerdekaan di masa lampau mendapat modal sosial yang demikian besar untuk mencapai kemerdekaan kita.

Sepintas lalu tidak masuk akal sehat kalau perjuangan dengan hanya bermodalkan bambu runcing, beberapa senjata rampasan dan eks balantentara Jepang bisa menghasilkan sukses. Bahkan secara materi, logistik pasukan Indonesia tidak pernah didukung sebagaimana logistik pasukan-pasukan reguler yang modern.

Tetapi Detasemen Logistik pasukan Indonesia selama masa perjuangan itu adalah rakyat sipil. Rakyat yang turun tangan membantu perjuangan. Kaum perempuan membuat dapur umum untuk keperluan perjuangan. Masing-masing penduduk memberikan kontribusinya sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang mereka bisa berikan bagi kepentingan perjuangan.

Kesetiakawanan sosial seperti itu tumbuh tanpa digelorakan dan tanpa diminta oleh pemimpin perjuangan ketika itu. Di Sumatera Barat perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi sangat berarti setelah para pemimpin republik ditawan Belanda dan diasingkan ke Bangka. Di Hutan belantara Sumatera Barat lalu dilanjutkan perjuangan setelah Sjafroeddin Prawiranegara menerima mandat Soekarno-Hatta. PDRI lalu dibentuk. Sementara perjuangan bersenjata di Jawa dilanjutkan terus oleh Panglima Besar Soedirman di hutan-hutan.

Kedua-dua perjuangan inilah yang melibatkan langsung rakyat. Sehingga sering disebut perjuangan rakyat. Jalian semangat untuk mencapai tujuan bersama lahir begitu saja tanpa pamrih apa-apa dari setiap anak bangsa di Jawa dan di Sumatera Barat.

Memaknai HKSN dan HBN tahun ini, seyogianya kita tidak hanya sekedar beromantis-romantis sambil mengenang-ngenang masa lalu nan heroik itu.

Tapi yang lebih penting adalah bagaimana merevitalisasi nilai-nilai dari HKSN dan HBN yang sama-sama tumbuh dari nilai sebuah kebersamaan dalam perjuangan.

Setia kawan, itulah kata kuncinya. Patutlah rasanya kita bertanya pada diri kita masing-masing seberapa jauh nilai kesetiakawanan masih melekat pada diri kita sekarang? Kesetiakawanan juga akan bermakna pada bagaimana kita hidup berkelompok (komunal). Kehidupan komunal sesungguhnya bukan hal yang asing bagi orang Minang. Justru semangat komunal itulah yang menjadi salah satu ciri komunitas Minang. Hidup dalam satu persukuan, pernagarian adalah hal yang ‘jadi air mandi’ bagi orang Minang.

Dalam satu komunal, sebutlah persukuan, perihal senasib sepenanggungan menjadi sangat penting. Siapa-siapa yang yang tidak mau seilir semudik dengan anggota komune itu akan langsung terlihat sebagai ‘silangkaneh’, sebagai orang yang tidak setia. Karena itu pula dalam semangat komunal haruslah tidak ada sikap-sikap individualistik.

Dengan patron seperti itu dapatlah kita ukur-ukur, sebarapa jauh kita bisa mempertahankan sikap setiakawan dalam perikatan yang ada dalam keseharian kita. Di dalam kantor yang sama, di dalam perusahaan yang sama, di dalam kelas yang sama, di dalam organisasi yang sama, di dalam profesi yang sama, coba lihat siapa saja yang yang bisa kita sebut pengkhianat?

Mari pula kita ukur seberapa jauh makna ‘kesumaterabaratan’ masih kita punyai. Jangan-jangan kita hanya bicara Padang saja, Pariaman saja, Agam saja, Tanahdatar saja, Solok saja, dan seterusnya.

Pertanyaan masih bisa kita teruskan: “Apakah kita masih bisa memberi dukungan kepada seseorang yang membawa nama Sumatera Barat?” atau apakah kita tidak hanya mencibir dari belakang kalau ada sebuah prestasi yang dibuat atas nama Sumatera Barat?

“Si Anu itu memang hebat, tapi…..”

Nah, selalu saja ada yang menyisakan kata ‘tapi’ bila harus mengakui prestasi temannya.

Kembali ke soal solidaritas yang termakna dalam HKSN dan HBN tadi. Kita baru saja melihat sebuah aksi solidaritas besar secara nasional yang ditunjukkan oleh saudara-saudara kita dari luar Sumatera Barat tatkala negeri ini luluh-lantak diguncang gempa.

Maka memperingati HKSN dan HBN, hendaklah kita tetap merevitalisasi nilai-nilai dalam kehidupan sekarang. Orang luar saja begitu solider dengan kita, kenapa diantara sesama kita bisa terancam kehilangan kesetiakawanan? *** (diterbitkan di Tabloid Detiknews edisi 20 Desember 2009)

Iklan

Desember 26, 2009 Posted by | politik, sejarah | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kado HJK ke 219 Padang Panjang


Sebenarnya berapa pun usia sebuah kota tidaklah menjadi persoalan benar bagi pengembangan kota itu ke masa depan. Hakikat usia itu hanya pada persoalan tua atau muda saja, selebihnya memang tiada mempengaruhi bagi perilaku warga kota.

Coba saja membandingkan perbedaannya, ketika kota ini diulangtahunkan dengan tanggal lahir 23 Maret  1956 atau dengan tanggal lahir 1 Desember 1790. Apanya yang terasa berbeda? Atau paling tidak tanyakan kepada rakyat Padang Panjang, apa sih bedanya?

Saya teringat dengan budayawan besar Padang Panjang, almarhum Bustanul Arifin Adam. Tidak banyak lagi orang seperti Uwan Tanul –begitu dia disapa—yang suka mencatat hal-hal remeh di masa lalu tapi berguna di masa depan.

Uwan Tanul dalam banyak kesempatan berdiskusi dengan kaum muda senantiasa mengatakan bahwa orang Padang Panjang itu sangat romantis. Romantisme Padang Panjang itu terbawa-bawa sampai ke sikap dan prilaku berbagai elemen pembangunan kota.

Sebagai anak muda (waktu itu) saya sering memprotes hal yang dikatakan Uwan Tanul. Menurut saya, mengenang kejayaan masa lalu yang merupakan pengejawantahan dari sikap romantisme tersebut tiada salah. Bahkan satu hari Uwan Tanul itu sampai ‘berang’ kepada saya tatkala saya beri contoh mengenang seorang ulama pendekar yang serba komplit bernama Adam Balai-Balai atau Adam BB. “Jan ang baok-baok lo namo Nyiak Adam tu lai,” katanya. Tapi kemudian dengan tenang Uwan Tanul menepuk bahu saya sambil berkata: “Romantisme tidak membuat orang larut dengan kejayaan masa lalu, kalau Inyiak Adam yang akan jadi contoh, bisakah kita lihat pada waktu bersamaan MIN yang didirikan beliau sakarang dan di masa yang akan datang terus menimba sukses?”

Lama-lama saya inap menungkan kata-kata pemain biola yang menyukai lagu klasik dari Ludwig Beethohen berjudul :”Fur Elise” itu (saya pernah dikritik beliau ketika lagu yang pernah bertahun-tahun menjadi backsound sebuah acara di Radio Bahana, saya salah menyebutkan penciptanya. Sempat saya bilang penciptanya adalah Mozart, tapi ternyata Uwan Tanul benar, bahwa penciptanya adalah Beethoven. thaks Uwan)

Dengan perhatian seorang Uwan Tanul terhadap masa lalu (salah satunya kisah lagu Ful Elise tadi) saya akhirnya menyadari bahwa mengenang kejayaan masa silam, tidak boleh membuat kita larut.

Ada berjilid-jilid buku yang bisa ditulis kalau hendak menceritakan kejayaan sebuah Serambi Mekah bernama Padang Panjang. Tak ada yang tak mengakui kejayaan itu, sampai-sampai kejayaan itu harus masuk dalam cerita fiksi Hamka “Tenggelamnja Kapal Vanderwijk”. Zainuddin, tokoh dalam cerita roman paling heboh di masanya itu tetap menempatkan Padang Panjang sebagai kota tujuan mencapai kegemilangan masa depan. Ia jauh-jauh berlayar dari Mengkasar (begitu Hamka menuliskan Makassar dalam buku tersebut) menuju lembah Merapi Singgalang. Tempat kererta api saling bertemu dari tiga jurusan. Tempat berbagai hasil bumi dikirim ke berbagai pelosok. Tempat barang-barang impor masuk. Tempat kebudayaan modern berkembang bersamaan dengan basis Islam yang kental. Tempat berbagai lembaga pendidikan tinggi berada. Ia menuntut ilmu di sana.

Bahwa ada hal-hal besar, agung, gemerlap dan sukses serta jaya di masa seratus tahun yang silam di Padang Panjang, marilah sama-sama kita pahami saja. Sebagian dari kejayaan itu, misalnya pusat pendidikan berbasis Islam. Hingga sekarang masih tetap belum tergoyahkan. Masih ada banyak pesantren yang didatangi berbagai santri seluruh pelosok.

Banyak pendapat berkembang dalam berbagai diskusi bahwa Padang Panjang sudah mulai kehilangan kejayaan masa lalunya. Berbagai hal yang dibuat oleh pemerintah kota dianggap seakan tidak bisa juga mengembalikan kejayaan masa lalu. Segala hal seolah akan diajak kembali ke masa lalu. Mana mungkin?

Kata orang bijak, tiap generasi punya sejarahnya sendiri. Di masa silam mungkin yang cocok adalah pemimpin yang suka ke lepau, bersalung atau berburu babi. Tapi dengan tantangan yang berbeda, pemimpin sekarang tak mungkin lagi seperti masa lalu. Problema yang dihadapi berbeda.

Oleh karena itu, tidak relevan lagi membanding-banding masa sekarang dengan masa lalu, pemimpin yang sekarang dengan pemimpin masa lalu. Mengutip kata-kata mantan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi (kini Mendagri) : “Berhentilah kita terpaku pada cara berpikir ‘yerterday logic’. Masa depan ada di depan, bukan di belakang” Gamawan sering gelisah ketika orang nyinyir benar mengatakan, di masa lalu begini, sekarang kok tidak? Di masa lalu hebat, sekarang kok tidak?

Apakah itu berarti menghapus dari memori kita semua rekaman masa silam Padang panjang? Ooo, tidak. Masa silam yang gemilang mestinya jadi enlightening (pencerah) dan  elan (penyemangat) untuk Padang Panjang berpacu menuju masa depan yang lebih baik dan unggul.

Kota yang sejuk ini tidak boleh hanya mengusung-usung piala dan piagam demi piagam. Buat apa gelar Adipura kalau hari-hari diluar tim penilai datang justru kota ini bersilemak? Buat apa gagah-gagahan mengusung Wahana Tata kalau fakta sebenarnya perlalulintasan kita tidak tertata baik? Apakah yang kita buru cap, stigma atau simbolistik belaka?

Okelah, semua kita sekarang sudah sepakat bahwa hari ini Padang Panjang sudah berusia 219 tahun. Sudah tua itu Engku!

Apa yang sudah dibuat oleh pemerintah kota hari ini memang tidak boleh kita nafikan begitu saja sebagai suatu upaya pemerintahan yang sekarang. Bahwa ada banyak prestasi (dibuktikan dengan piala dan piagam) semua sudah tahu. Sudah ditulis dikoran-koran. Bahkan tiap sebentar dipasang iklannya. Lengkap dengan puja-puji.

Tapi ke depan, tentu ini belum memuaskan. Apalagi kalau ujung-ujungnya harus kita beri pertanyaan: “Seberapa jauh penduduknya bisa sejahtera dengan segala aktifitas pembangunan saat ini?”

Masa kepimpinan Suir Syam-Edwin masih akan ada empat tahun lagi. Masih ada waktu untuk membuat kerangka-kerangka landasan bagi Walikota berikutnya melahirkan Visi Padang Panjang 2030. Hal-hal yang strategis tentu sudah ada dalam RPJM (yang diimplementasikan dari visi-misi Cawako-cawawako saat Prapilkada lalu) tetapi membuat terobosan untuk merumuskan kota macam apa Padang Panjang pada 2030 nanti, justru sudah jadi tuntutan yang semestinya.

Tahun 2030 nanti, kita yang membaca sekarang ini belum tentu masih hidup. Namun menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu adalah utang kita, kalau kita tak mau disumpahi oleh anak cucu kelak karena tidak membuatkan peta jalan (road map) bagi mereka.

Senator Irman Gusman (kini Ketua DPD RI) yang masih memiliki hubungan emosional dengan Padang Panjang pernah menawarkan kepada Pemerintah Kota untuk mulai memetakan potensi sebenarnya dari Padang Panjang dan mulai menyusun visi 2030. Itu dia ucapkan lima tahun silam di gedung Mohammad Sjafei. Ia khawatir secara ekonomis Padang Panjang akan tertinggal dari kota-kota lain.

Pada visi Walikota Suir Syam sebagai landasan filosofis kerjanya hingga lima tahun ke depan sudah dimaktubkan dengan jelas kea rah mana kota ini lima tahun ini dia bawa. Yakni mewujudkan masyarakat Padang Panjang yang tumbuh pendidikannya, ekonominya, meningkat derajat kesehatannya, membentuk pemerintahan yang bersih yang bernuasa Islami. Semua untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Jika kita menuntut Walikota dan Wakil Walikota untuk tetap berada pada track benar, maka tak boleh ada tuntutan yang melebihi apa yang sudah dinyatakannya kepada public sebagai visi-misinya. Biarkan pasangan ini bekerja menurut apa yang sudah dia janjikan kepada kita.

Yang tadi, Visi Padang Panjang 2030? Itu akan menjadi ujian juga apakah pasangan Suir Syam dan Edwin adalah pasangan yang visioner, sehingga pada pertengahan masa jabatannya nanti atau tahun depan, visi Padang Panjang 2030 itu sudah mulai disusun. Itu perlu meramu banyak pikiran dari berbagai kalangan. Kita tunggu saja. Selamat Ulang Tahun Padang Panjang! (Eko Yanche Edrie/www.padangmedia.com)

Desember 3, 2009 Posted by | pemerintahan, sejarah | 3 Komentar

Agustus


Agustus, senantiasa jadi bulan penuh makna. Ada kegegapgempitaan, heroisme, kematian, kesengsaraan, malapetaka dan pengkhianatat terhadap manusia dan kemanusiaan di dunia. Ada kemerdekaan sejumlah bangsa pada bulan ini tapi ada jutaan orang tersapu bom. Hirosima dan Nagasaki memuncaki petaka karena manusia mengdepankan egonya sendiri.  

Dan dari waktu ke waktu sejarah manusia senantiasa tak bisa melapaskan dirinya dari saling tindas, saling bunuh, saling serang dan saling berpacu memupuk keserakahan. Diantara kelompok-kelompok bertikai ada yang patut dimaki-maki ada yang patut mendapat pujian untuk dikenang sepanjang zaman. 

Jepang patut dimaki-makin oleh hampir sekerat bangsa Asia ketika mereka melakukan pendudukan. Tapi ketika 200an ribu jiwa tewas dan luka-luka seketika saat bulan Agustus yang hitam 1945 akibat ‘big boy’  jatuh di Hirosima dan Nagasaki, sejenak orang melupakan soal pendudukan Jepang. Yang ada rasa duka mendalam, betapa sia-sianya nyawa penduduk kedua kota itu. 

Di Jerman dan seluruh daratan Eropa hingga jauh ke Afrika Utara, semua mengutuk Adolf Hitler. Tokoh yang sering disebut sebagai orang sakit jiwa itu menganggap jiwa manusia ibarat kontak lampu saja yang layak di on-off kan seenak perut the fuhrer. Buku edan ‘Mein Kampf’ dijadikan kitab suci untuk memberi pembenaran ia membunuhi orang. Lengkaplah kerusakan otak Hitler ketika orang menyebutnya “the most evil man in all of history”. Kejahatannya jangan dilupakan sekaligus jangan terulang. Yang dikenang orang belakangan tentang Hitler adalah teori jalan tol yang berkembang hingga kini di seluruh dunia. Ia juga mengembangkan Volkswagen yang terus maju setelah perang hingga kini. 

Di Jepang lambang perlawanan atas penelantaran nyawa manusia dilambangkan oleh sosok Sadako Sasaki. Kisah bocah perempuan dari Hirosima senantiasa dikenang orang tiap-tiap Agustusan. Sadako satu dari sedikit orang yang tidak tewas saat bom jatuh. Tapi ia luluh lantak, ketika itu usianya 2 tahun. Selama sepuluh tahun ia dirawat di klinik radiasi. Bom membuatnya terkena leukemia tak tersembuhkan. 

Perawat-perawat amat mengagumi betapa tingginya semangat hidup Sadako. Kepadanya didongengkan bahwa jika ia bisa membuat origami (seni lipat kertas) burung bangau hingga 1000 buah, ia akan sembuh. Sadako berusaha dengan tertatih-tatih membuat seribu buah. Kertas amat sulit didapat setelah Jepang kalah. 

Usahanya pupus ketika sampai 644 origami, ajal menjemputnya dengan tangan masih memegang kertas. Ia pergi pada 25 Oktober 1955. Sejak itu sebuah monumen dibangun di Hirosima mengenang semangat hidupnya, tiap tahun kanak-kanak dari seluruh dunia yang bekunjung ke Hirosima senantiasa berusaha mencukupkan 1000 origami untuk Sadako.Agustus ini 62 tahun setelah malapetaka itu.  

Sadako menulis di buku hariannya: “I shall write peace upon your wings, and you shall fly around the world so that children will no longer have to die this way.” ueko yanche edrie

Agustus 20, 2007 Posted by | sejarah | Tinggalkan komentar

Diplomasi Duren


 

Diplomasi duren! Itu dicatat benar oleh Marshal Green, Dubes AS di Indonesia yang menggantikan Dubes Howard Jones. Menurutnya duren sangat berbahaya. Dengan ektrem dia menulis dalam bukunya: inilah makan paling menakutkan bagi saya, ini makanan dunia ketiga.

 

Green tak seluwes Howard. Karena itu medio 1965 ia disambut kasar oleh publik Jakarta. Di tembok-tembok para grafiti menulis: Green, go Home! Tapi ada juga yang menulis ketika itu dengan lipstick berbunyi: Green Go Home and take me with you!

 

Kembali ke duuu…ren!

Sebuah perjamuan diplomat diselenggarakan. Bung Karno sepertinya mau ngerjain Marshall. BPI (intel negara waktu itu) rupanya mengendus info paten bahwa Marshal Green paling benci bau duren.

Setelah main toast-toast-an pakai cocktail segala, tiba-tiba pelayan masuk dengan sebaki buah duren. Bung Karno langsung mangalokakan durian ranum itu sembari menyodorkannya ke Marshal. Keruan saja sang dubes cemas. Peluh dinginnya keluar. Kalau ditolak, berarti menyalahi tatakrama diplomat. Kalau dimakan juga amat gawat bagi perut Green. Tapi demi the star spangled banner terpaksa disantung juga buah dunia ketiga yang mungkin saja oleh CIA dianggap kualifikasi bahayanya menyamai gas beracun SS nya Gestapo di Jerman. Beberapa jurus kemudian Green pamit ke belakang untuk muntah-muntah. Bung Karno tersenyum. Sebuah diplomasi cara Sang Fajar yang mengungguli sebuah superpower.

 

Duren bukan sembarang buah yang bisa dilecehkan begitu saja oleh seorang Marshal Green (kelak Green amat terkenang dengan itu, iapun sampai mengusulkan program Marshall Plan untuk pembangunan Indonesia di masa Soeharto)

 

Sampai hari ini pun duren tetap saja dianggap buah diplomasi. Sejak pertengahan 2006 rupanya desakan terhadap Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar sejumlah menteri diganti. Biasalah, rumusan klasiknya: tak becus. Karena itu diharapkan Presiden mengganti. Yang menteri ekonomi lah, yang menteri kesra lah, yang menteri polkam lah. Pokoknya ganti.

 

Baik Presiden maupun Wapres sama-sama menahan diri untuk berbicara soal reshuffle itu. Sehingga hanya orang-orang di sekeliling Istana saja yang omong bongkar pasang kabinet. Celakanya yang resah justru para menteri.

 

Inilah gaya konvensi SBY. Ahad 15 April ya atau tidaknya reshuffle itu dipublikasi. Tapi Presiden mendahuluinya dengan ‘ritual’ makan duren bersama wartawan. “Ya reshuffle awal Mei” itu saja yang dikatakan Presiden, lalu menikmati duren di kebun duren Warso Farm, Cihideung Bogor Jawa Barat. Para wartawan mangut-manggut. Enam bulan didesak-desak agar Presiden mau mengatakan ya atau tidak untuk reshuffle, eh di parak duren kiranya itu terlontar.

 

Tapi percayalah, bongkar pasang kabinet bukan sesederhana makan duren. Ini menyangkut kepentingan besar. Soal apa dan bagaimana Indonesia ke depan. Jadi tak bisa hanya diputus di kebun duren.

 

Duren boleh jadi buah diplomasi Presiden, tapi jangan sampai hasil rombak kabinet ini yang muncul adalah kabinet duren, enak di bau nya tapi melukai banyak orang kalau digelindingkan.(eko yanche edrie)

Juni 29, 2007 Posted by | sejarah | Tinggalkan komentar