WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

CATATAN DARI MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (3)


Urusan Makan Cari yang Halal, Tidur?

 

Melayani tamu! Itu rupanya kunci pariwisata. Kata sebagian dari pramuwisata, juallah apa yang disukai tamu dan jangan jual apa yang tidak disukai tamu. Itu kata bijak yang lumrah.

 

Di Pantai Kuta Bali, orang asing suka berjemur dengan dada terbuka, baik pria maupun wanita. Masa bodohlah dengan sekeliling, yang penting gue seneng kata bule-bule itu.

 

Orang Bali memang pandai melayani tamu. Sepanjang adat istiadat dan peradaban orang Bali tak tergusur, maka para pelaku industri wisata di sana juga masa bodoh dengan perangai para bule yang kekurangan baju itu.

 

Di Malaysia atau Thailand, kurang lebih begitu. Tak boleh ada satupun orang Malaysia masuk ke slot-slot Kasino di Genting Highland. Orang Malaysia paling hanya dibolehkan di luar-luar menyaksikan berbagai permainan kanak-kanak.

 

“Sila nak bejudi die, awak tak nak lah,” kata Abdul Reheem bin Haji Abdul Hamed, pelancong dari Negeri Kedah yang berpapasan dengan saya di kereta gantung menuju puncak perjudian tersebut. Ia justru membawa anak-anak muridnya dari sebuah Kolej Kebangsaaan di Kedah.

 

Di Puncak perbukitan sebelah tenggara Kuala Lumpur itu tiap hari ribuan orang berjudi. Ia dipercaya sebagai salah satu dari tiga tempat perjuadian dunia setelah Las Vegas dan Makao.

 

Ketika seorang tauke bernama Lim Goh Tong membangun tempat itu tahun 60an, sejak itu pula ia jadi tambang uang bagi Malaysia. Awalnya hanya tempat berjudi, tapi kemudian berkembang jadi tempat melancong yang amat selesa (menyenangkan)

 

Babah Lim tentu saja sudah paham akan watak Melayu. Perjudian pasti ditentang. Tapi ia meyakinkan para politisi di Barisan Nasional (BN) bahwa ini hanyalah untuk para tetamu, para pelancong luar bandar.

 

Para Datok dan Tan Sri pun mengangguk pertanda setuju. Sejak itu hanya orang dengan paspor asing saja yang boleh melintasi batas antara area perjudian dengan area bersenang-senang. Tempat di pegunungan Titiwangsa di tapal batas Selangor dan Pahang itu telah jadi magnit dunia pelancongan.

 

Malaysia dan Thailand tahu belaka kalau ada 200 juta penduduk Indonesia yang jadi pasar potensial untuk jualan dunia pelancongan mereka. Maka keduanya bersaing keras.

 

Maka mereka berlomba menyediakan apa-apa yang orang Indonesia suka dan senang (tentu saja juga untuk orang-orang dari berbagai belahan dunia lain)

 

Sekitar 90 persen penduduk Indonesia adalah Muslim. Sedang Malaysia sekalipun tetap mengikat persepakatan antarperkauaman (Cina, India dan Melayu) yang beragam agama, namun yang mengemuka adalah bahwa Malaysia sebuah negara Islam. Jadi mereka pun paham bahwa judi adalah tak elok untuk anak bangsa. Tapi kalau itu elok bagi kaum pelancong dari luar? Mereka tak peduli.

 

Kata Fauzi, pemandu wisata saya, apa yang orang suka Malaysia kasih. Termasuk menyediakan makanan atau kuliner. Tiap rumah makan dan restoran senantiasa menerakan tanda halal yang dilengkapi dengan sertifikat halal. Mereka tahu orang Indonesia senantiasa ingin tahu terlebih dulu saat masuk rumah makan: halal atau haram?

 

Para pemandu wisata sudah hafal ke tempat mana pelancong Indonesia harus diajak makan. Tentu saja ke restoran yang bersertifikat halal.Kalau tidak, para pelancong akan komplain.

 

Menurut pemandu wisata Malaysia, orang Indonesia paling nyinyir menanyakan apakah makanan yang disediakan halal.

 

Jadi soal makan orang kita amat selektif. Tapi begitu menginjak wilayah Thailand lain lagi ceritanya. Thailand memang terkenal dengan wisata syuuuur. Pernah dengar pertunjukan Tiger show?

 

Dunia pelancongan Thailand sangat erat dengan seks. Hampir di tiap sudut bisa diperoleh perempuan-perempuan seronok buat dikencani.

 

Oh Ya, Tiger Show hanyalah semacam pembukaan untuk dunia yang lebih syuuur lagi. Ia hanyalah semacam pertunjukan tarian telanjang. Penonton duduk dalam ruang ber AC dengan dentuman house music, penari berputar-putar dengan bikini (miniiiii sekali)

 

Pelacuran memang dunianya pelancongan Thailand. Sekalipun kini ditentang LSM dan agamawan di sana, tapi itu tak kunjung habis, malah makin meluas.

 

Nah kembali ke cerita orang kita. Kata Gusfen Khairul wartawan RCTI, orang kita kalau makan nyinyir sekali menananyakan apakah ini makanan halal? Tapi begitu urusan tidur, tak tanya-tanya lagi apakah halal atau haram. Jangankan uruan tidur, urusan mata saja mana ada yang sempat bertanya lagi di dalam hiruk pikuknya suara musik, apakah yang ditonton halal atau haram. Yang jelas dengan senyum semua menjawab sapaan khas  Thailand: Sawasdee krap!***

 

Desember 11, 2007 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar

CATATAN DARI MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (2)


Tandas-tandas Kita Memang Sudah Tandas 

Mengapa Gubernur Gamawan Fauzi nyinyir benar mempersoalkan kakus? Tempat membuang segala yang tak enak dalam perut itu menurut gubernur sudah mendekati merisaukan di Sumatra Barat bila disangkutpautkan dengan pariwisata. Banyak kakus di tempat umum yang joroknya bukan main. Dari saluran yang mampet sampai ke air yang tidak mengalir adalah pemandangan di banyak kakus umum kita. Di restoran, rumah makan, kantor pemerintah, swasta yang namanya kakus umum senantiasa terlupakan untuk diurus secara serius.

Di Malaysia kakus disebut tandas, di kampung saya di Aie Angek disebut tandai, di Thailand selatan disebut shuam. Orang Malaysia lebih care dengan tandas. “Sejak zaman british (Inggris) di tempat umum selalu disediakan tandas yang bersih. Tapi di kampong-kampong awalnya belum. Sekarang kerana pelancongan (pariwisata) jadi penyokong ekonomi, maka tandas jadi syarat. Tak ada tandas, tak ada pelancong,” kata Ahmad Fauzi bin , seorang pemandu wisata.

Kepada saya dipanggakkannya tempat kejamban di sebuah rest area milik PLUS (proyek lebuh raya utara selatan) di ruas Ipoh – Alor Setar. Saya pura-pura takzim. Saya sudah mencoba mengejambani kakus itu barang empat kali kunjungan ke Malaysia sebelumnya. Kini saya coba lagi, kejamban tetap lasuah, air keran tetap lancar, lantai tetap mengkilap karena tiap setengah jam dipel, tempat shalat menyenangkan, tak ada tukang semir, tak ada yang memungut uang kejamban, pokoknya masih ueeenaaak!

Udara cerah ketika saya dan kawan-kawan melucus meninggalkan batas negeri Selangor dengan bus pelancongan. Ekon alias AC mobil yang disetel dalam posisi high sekaligus memberi isyarat para ahli hisap seperti yang saya ceritakan kemarin tak berkutik.  Merokok di sembarang tempat bisa kena saman (denda). Walhasil meskipun di tempat kita AC nya disetel sedingin es, kita malah keasyikkan melanggarnya; dalam ruang ber AC pun rokok kita pompong jua.

Tak merokok malah membuat kejamban tiap sebentar terpancar. Maka tak urung tiap 100 km para penumpang minta berhenti. “Ada tandas?” kata Devi ‘Pung’ Kurnia, juru bicara Pemprov Sumbar tiap kali bus hendak berhenti. Tapi sesungguhnya bagi kaum perokok tandas adalah tempat paling asyik menikmati asap nikotin. Sedangkan bagi yang lain itu juga sorga melepas ketegangan berjam-jam selama perjalanan.”Duduk di tandas juga enak,” kata Edi Busti, jurucakap Pemkab Pasaman Barat yang ikut dalam perjalanan itu..

Lebuh raya utara selatan yang Mbak Tutut pernah ikut membangun itu memang menyediakan rest area yang cukup banyak. Ada yang ditempatkan di ‘hentian sebelah’ (hanya utk satu arah saja) ada yang untuk dua arah. Begitu juga di gerbang-gerbang tol, selalu ada tandas.

Di Thailand selatan meskipun tak sebaik di Malaysia, tandas yang disebut shuam rupanya mutlak ada di tempat-umum. Hatyai, kota di provinsi Shongkla sejak beberapa tahun menjadi kota wisata di Selatan Thailand. Sebagai sebuah kota wisata, maka pemerintah Hatyai memandang kebersihan mutlak jadi modal penarik pelancong. Terutama pelancong dari Malaysia dan limpahan turis dari Bangko atau dari Pattaya dan Chiang Mai di sebelah mudik Bangkok.

Tandas menjadi bagian penting dari industri wisata. Singapura, Malaysia dan Thailand berkompetisi dalam merayu kedatangan wisatawan. Indonesia tak dijadikan kompetiter? Para operator pelancongan di ketiga negara itu seperti sepakat saja menyebut Bali sebagai kompetiter, bukan Indonesia. Seolah Bali dan Indonesia itu beda di mata mereka.

Tapi saya kira tak usah kecil hati menerima kenyataan ini. Selama urusan tandas yang keciiiil itu bisa dibereskan, maka ia akan mendatangkan manfaat yang besaaaaar.

Memang membanding Malaysia dengan Sumatra Barat tak adil, tapi kalau hanya membanding kakus alias tandas antara negara tetangga dengan Sumatra Barat saya kira cukup adil. Sebab membangun restoran, kantor, pasar, tempat ibadah atau hotel toh tak akan melupakan pembangunan toilet. Tak ada kantor atau rumah makan yang tak bertandas di Sumbar. Tapi kenapa masih jadi keluhan?

Saya kira masalahnya pada kesungguhan mengelola. Sering kita hanya punya perhatian untuk urusan yang masuk perut tanpa memberi perhatian yang sama dengan urusan keluar perut. Kalaupun kita punya tandas, selain banyak yang jorok tak terpelihara juga banyak yang sudah tandas pula alias tidak berfungsi lagi.

Desember 11, 2007 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar

CATATAN MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (1)


Maka Taraniayalah Para Ahli Hisap 

Empat hari awal bulan Desember, sejumlah wartawan Padang melawat ke Malaysia dan Thailand. Ceritanya masuk bandar keluar bandar (bandar = kota) dari Kuala Lumpur hingga Hatyai di Thailand. Eko Yanche Edrie dari Haluan mencatat hal-hal remeh temeh berbagai hal. Berikut catatannya:  

Peperangan besar sesungguhnya sedang berlangsung di seluruh dunia. Di front sedang berlaga Indonesia atau Kuba dikeroyok oleh ratusan negara. Eh, sebelum saya teruskan Anda jangan ‘terburangsang’ dulu.

Ini bukan semacam battle of britania’ yang terkenal di Eropa pada PD I atau semacam pertempuran pasifik yang kesohor di sekitar Midway itu. Ini adalah perang antara (negara) industri rokok dengan negara dan kaum antirokok. Sudah berlangsung bertahun-tahun. Belum ada yang menang dan (tentu saja) belum ada yang kalah. Kaum perokok terus saja membangun pabrik dan memperluas ladang tembakau, kaum antirokok terusberkampanye dimana-mana. Di Malaysia dan Thailand tak terlihat billboard iklan rokok macam di jalanan Indonesia.

Sebagai negara penghasil tembakau nomor satu dan cerutu nomor satu di muka bumi, devisa Indonesia dan Kuba cukup terbantu oleh tembakau yang diindustrikan menjadi rokok dan cerutu. Bahkan di Indonesia industri rokok sangat signifikan menopang ekonomi nasional.

Tapi belakangan kesadaran dunia mucul, bahwa rokok tak pernah membawa manfaat untuk manusia. Ia adalah racun pembunuh nomor satu. Alkisah tersebutlah kawan-kawan wartawan yang melancong ke Malaysia dan Thailand ternyata sebagian besar adalah ‘ahli hisap’ alias perokok berat.

Sebagai mantan perokok yang kini jadi perokok pasif (kadang merokok kadang tidak) saya dapat merasakan betapa tersiksanya kawan-kawan selama melancong. Di Bandara KLIA rokok hanya ‘diduduik’ di tempat tertentu saja. Di terminal Pudu Raya Kuala Lumpur sebagai ahli hisap kita harus bertobat sebenarnya dari palutan ketergantungan pada candu nikotin. Maklum di sana para ahli hisap dihilangkan tuahnya oleh polisi pelancongan. Tak boleh merokok di setiap level (lantai) kecuali di basement tempat bus-bus diparkir. Kalau hanya parkir sih tak apalah. Semua bus dalam keadaan mesin hidup, asap knalpotnya ‘mangkapopoh’. Maka berkatalah polis pelancongan kepada ahli hisap:“Sila encik sekalian habiskan rokok di sini”. Maka tinggallah para ahli hisap bercampur baur dengan gas CO2 yang keluar dari knalpot. Saya tak tahu, apakah geretekan kretek Jie Sam Soe menjadi makin bikin fly para ahli hisap atau malah paru-paru harus menyisakan space buat asap baru selain asap tembakau.

Sudah saya sebut tadi bahwa space iklan media luar ruang yang mengiklankan rokok nyaris tak terlhat di Thailand dan Malaysia. Yang terlihat justru makin meluas tempat pelarangan merokok. Di Hatjay, kota pelancongan selatan Thailand mulai menolak rokok. Di hotel, merokok hanya dibolehkan di kamar. Di loby kalau mau kena ‘uangrokok’ alias denda 2000 bath (equivalen dengan 200 ringgit Malaysia) silahkan menyulut rokok.Kata Nawavira Khmueng seorang petugas hotel, kebijaksanaan ini diterapkan oleh pemerintah distrik Songkla yang membawahkan kota Hatjay sejak dua tahun ini.

Maka selama melancong, sebagian besar anggota rombongan yang ahli hisab tak menyia-nyiakan tempat-tempat bebas rokok. Di restoran, senantiasa dipilih yang tidak ber AC. Dalam perjalananan Kuala Lumpur via Lebuh Raya Utara Selatan, tiap kali ada ‘hentian sebelah’ alias rest area, maka bagian dekat-dekat tandas alias kakus sangat membesarkan hati ahli hisap. Di situ rokok kabarnya enak sekali. Dan waktu yang diberikan senantiasa molor lantaran ada yang ‘batambuah rokok’.

Saya terbelalak ketika dalam koper wartawan senior Fachrul Rasyid ada satu slof rokok. Saya bilang, untung kita tidak masuk lewat Singapura yang amat ketat terhadap masuknya rokok ke negerinya. Tapi mana pula ia mau mendengarkan cakap saya (alaaamak ketularan malay pula awak).

Maka ibarat di Padang Pasir, rokok satu slof itu benar-benar bagai oase. Fachrul lalu ‘menyedekahkan’ rokoknya kepada para ahli hisap yang sedang jadi ‘musafir’ itu.

Perang pada rokok makin menghebat di Thailand. Rokok merk mildseven dibuat oleh Jepang di Thailand, harganya RM7 atau sekitar Bt70. Khusus yang diedarkan di Thailand, diluar kemasan Mildseven bukan saja dicantumkan peringatan tertulis mengenai bahaya rokok dengan teks namun dimuat juga gambar jantung manusia dan bagian tubuh manusia yang dirusak oleh nikotin.

Tapi apa berhenti orang merokok? Wallahualam. Yang terang kepatuhan pada aturan di kawasan orang ramai makin dipatuhi. Rambu-rambu larangan merokok makin banyak di tempat awam. Beda tipis dengan kita, banyak tanda larangan, banyak yang melanggar.

Macam mana anak-anak akan dilarang merokok, kalau oleh para orang tua, rokok justru menjadi peradatan dan sekaligus peradaban.

Desember 11, 2007 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar