WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Dot Id, untuk Marwah Bangsa


Sentana Bung Karno hari ini masih hidup, niscaya ia akan gelorakan dunia maya. Ia akan marah besar kalau kita masih saja doyan beramerika-amerika atau bereropa-eropa. Mungkin, karena internet lebih duluan diperkenalkan di Amerika, Bung Karno akan legowo mengakui hal itu. Tapi kemudian dalam dunia tak berbatas itu sesungguhnya egoetnik maupun egopatria senantiasa terlihat. Pastilah Bung Karno juga hendak menegakkan panji-panji Indonesia sejajar dengan yang orang lain punya.

Jika untuk menegakkan marwah bangsa ini, Bung Karno berani mengatakan go to hell with your aid. Bahkan kemudian berani keluar dari PBB, berani membikin Olimpiade tandingan seperti Ganefo dan sebagainya.

Ketika saya lagi doyan-doyannya chatting, saya ketemu di dunia maya dengan teman baru. Tadinya saya kira ia seorang dewasa, karena dari obrolan kami, lewat tulisan-tulisannya sepertinya ia sudah dewasa. Maklum ketika saya bicara banyak tentang perang di Irak (ketika itu Saddam Husein masih hidup) ia memahami apa yang sedang terjadi.

Tapi ketika kami berjanji sama-sama mengirimkan gambar, saya kaget. Ia ternyata masih amat belia. Ia tinggal di kota Oripaa, Finlandia sebelah Barat. Ia masih SMA.

Ngalor-ngidul mengasyikkan. Hingga saya jadi terpurangah ketika ia bertanya saya dari mana dan saya jawab singkat saja, Indonesia, ia balik bertanya, “Indonesia itu dimana?”

Mak! Saya tersinggung juga. Negara yang jadi lima besar jumlah penduduknya di dunia ini, sampai tak diketahui oleh bocah Finlandia ini. Usut punya, usut, omong punya omong, ia melakukan pendekatan geografis untuk melihat peta. Eh, si bocah kutub ini justru bikin saya tambah jengkel pula: “Binggo! Saya tahu kini, Indonesia itu dekat Bali ya?”

Belum sempat saya mengetik di papan ketik apa yang harus saya jawab, ia sudah menambahkan dengan pertanyaan berikut: “Kalau begitu kenapa kamu tidak gunakan domain Indonesia pada email yahoo kamu?”
Itu lima tahun silam, ketika itu saya belum tahu apakah yahoo sudah membuka acount email untuk dot.id. Saya masih menggunakan account dot.sg (Singapura) untuk email saya (hingga hari ini)

Si bocah kutub itu ternyata lebih kenal dengan Singapura yang keciiiiiil itu dibanding Republik Indonesia yang bapak saya ikut serta memperjuangkan kemerdekaannya.. Dan dia kira Indonesia tetangganya Bali.

Hari-hari ini sangat boleh jadi jati diri bangsa sudah dikenal orang di seluruh dunia. Tapi coba saja kita urutkan, terkenal dalam soal apa?
Indonesia, negeri dengan kerusuhan dan teror terus menerus?
Indonesia, negeri dengan bencana alam terbanyak?
Indonesia, negeri dengan kecelakaan transportasi tersering?
Indonesia, negeri dengan angka korupsi paling wahid di jagat?
Indonesia, negeri yang tiap kali ada pertandingan olahraga beregu senantiasa kalah?
Indonesia, negeri yang senantiasa dilihat sebagai pasar banyak produk asing?

Dalam ‘republik internet’ Indonesia hanya dikenal ketika ke dalam search engine kita ketikkan kata ‘indonesia’ maka muncullah berbagai hal tentang negeri kita. Lima atau sepuluh tahun lalu, ketika internet mulai merasuki bangsa ini banyak perusahaan, institusi, lembaga, kelompok, bahkan instansi pemerintah belum mencitrakan rasa nasionalismenya. Semua begitu bangga ketika mendaftarkan domainnya di lembaga-lembaga registry dengan ekstensi com, org. gov atau net. Soal conten mungkin sudah menunjukkan ia adalah domain yang bukan milik bangsa berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, Cina atau Jepang. Tapi ketika halaman per halaman dari situs milik orang Indonesia tadi dibuat dalam bahasa Inggris, maka orang mengerutkan keningnya. Ini situs berbasis di Amerika atau dimana?

Berbeda dengan sistus-situs di Singapura misalnya. Dot Com Dot Sg sudah sangat dikenal sebagai domain yang diregister di Singapura. Atau Malaysia dengan dot com dot my. Di Inggris kita kenal dot co dot uk dan sebagainya. Semua jelas menunjukkan jati diri sebuah bangsa.

Indonesia?
Alhamdulillah, meskipun sempat heboh memperebutkan siapa yang mesti ‘memperdagangkan’ toh akhirnya dot id mulai dapat membuat kita banggakan. Situs-situs milik pemerintah kini sudah rame-rame pake dot go dot id. Satu dua memang masih ada yang menggunakan dot com, tetapi itu kita kira lantaran adminnya tidak mengerti saja atau ketidaktahuan saja.

Ketidaktahuan ini adalah lantaran sosialisasi dan kampanye dot id baru sebatas kampanye untuk memakai dot id. Belum kampanye untuk terciptanya awareness publik terhadap Indonesia. Depkominfo, mestinya dari sekarang sudah mengampanyekan itu. Bahwa dot id adalah pembawa bendera bangsa. Ibarat barisan kapal perang, dot id seyogianya menyandang fungsi sebagai flag ship.

Ketika dua tahun silam ID-TLD dan APJII saling klaim sebagai pihak yang berhak mengelola domain Indonesia itu, kita menjadi bertanya-tanya. Yang terpenting siapa yang mengelolanya atau untuk apa dikelola? Untunglah kemudian jalan tengah diambil, Pandi akhirnya dipercayakan mengelola yang merupakan representasi dari pihak-pihak yang memperebutkan hak.
Hingga pertengahan tahun ini pihak Pandi mengklaim sudah terdaftar sebanyak 30ribu nama domain dot id. Jika dibanding dengan pengguna internet yang kira-kira 20an juta saja itu masih amat jauh untuk dikatakan bahwa dot id sudah mengindonesia.
Maka kampanye Pandi jangan hanya sekedar kampanye ‘jualan’ dot id. Tapi bagaimana mencitrakan dot id sebagai nama domain yang memberikan marwah bangsa ini. Saatnya mengepalkan tinju ke dunia luas! ..ueko yanche edrie

Iklan

Juli 31, 2007 - Posted by | TI

1 Komentar »

  1. Agieaaaah, taruiiiih mak Unieang !
    😆 😆 😆

    Komentar oleh diKO | Agustus 2, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: