WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Menjual Romantisme ‘Mak Itam’


Sebuah upaya yang sudah cukup lama diidamkan oleh Masyarakat Pencinta Kereta Api Sumatra Barat (MPKAS) untuk mendatangkan kembali lokomotif uap ke Sumbar akhirnya kesampaian jua. Sejak akhir 2008 loko yang akrab dipanggil Mak Itam itu sudah on the track di stasiun Sawahlunto.

Jika direalisasikan, maka kesampaian pula hasrat Nofrins dan Pak Saafruddin Bahar dari MKAS untuk menjadikan Mak Itam sebagai pendukung industri wisata daerah ini. Pihak PT Kereta Api bersedia mengoperasikan kembali kerta api khusus untuk wisata.

Naik kereta api bagi turis dari Jawa tentu tidak hal aneh, begitu juga dengan turis luar negeri. Tapi dengan Mak Itam tentu lain lagi ceritanya. Ada yang eksotik dari kereta api uap itu. Suara suitan peluitnya dan desah ‘nafas’nya saat mendaki tak akan pernah didengar di manapun kecuali hanya di kereta itu pula.

Selama delapan dasawarsa Mak Itam akrab dengan masyarakat Sumatra Barat khususnya yang dilewati jalur kereta api. Dari Padang ke Pariaman dan Naras, atau ke stasiun gadang di Padang Panjang. Kalau mendaki maka Mak Itam menyusuri lembah Merapi Singgalang (Lemersing) dan bisa terus ke Piladang dan Payakumbuh. Sampai di situ mentok. Ke hilir kereta Solok. Dari Padang Panjang ia menderu menuruni Batipuh dan menjalar sepanjang pantai timur Singkarak lepas ke Solok dan Sawahlunto.

Mak Itam adalah loko yang dibuat di Hartmann Chemnitz, Jerman. Atau ada yang dibuat di Amsterdam. Umumnya keluaran tahun 1900an.

Anda yang pernah menikmati romantisme Mak Itam pastilah ingat kode-kodenya. Ada yang BB 1012, ada yang seri C 1704 atau seri D. Ketika masih bersekolah di sekolah teknik, saya ingat pelajaran guru Ketel Uap saya tentang itu. Seri B berarti dengan 2 roda penggerak, seri C berarti tiga roda penggerak dan D berarti 4 penggerak. Maka kalau Mak Itam berkode BB itu artinya ia punya 4 as roda dan pasti rodanya delapan buah.

Dari stasiun gadang di Padang Panjang, kereta api membawa semen, minyak dan penumpang ke Bukittinggi. Ada sepuluh rangkaian gerbong yang diirit nya. Pada tahun-tahun 70an saya ingat di kampung saya orang-orang lebih percaya dengan jadwal kereta daripada jam tangan. Jika ada orang meninggal, lalu ada yang bertanya kapan meninggalnya. Maka percakapan itu kira-kira seperti ini: “Pabilo indaknyo si Anu?”. “Oh, ndak lamo sudah kureta ilia”. Maka yang bertanya sudah paham. Bahwa si Anu meninggal beberapa saat setelah kereta api melewati kampung kami dari stasiun Koto Baru menuju stasiun Pasa Rabaa. Itu adalah pukul 2 siang.

Dulu jadi pegawai Kereta Api (d/h PJKA, DKA) adalah profesi amat membanggakan. Kepala stasiun disebut Engku Sep. Dengan topi caronok berwarna merah, papan sinyal di tangan kanan dan peluit di mulut, ia terlihat amat gagah dan dihormati orang-orang. Priiiiiit, tangannya diangkat, maka melosoh lah kereta api meninggalkan stasiun. Tanpa tiupan peluit Engku Sep jangan diharap Mak Itam dapat berangkat.

Malam-malam kala tersintak bangun, terdengar bunyi peluitnya amat mendayu-dayu, suara desahnya mendaki Singgalang Kariang atau pendakian Panyalaian. Sungguh itu adalah sebuah romantisme yang bisa dijual kepada para penikmatnya. Mak Itam sudah datang, batubara masih ada. Apakah masyarakat pariwisata benar-benar bisa menjadikannya tambang uang? Kita tunggu makan tangan mereka-mereka itu. (Eko Yanche Edrie/www.padangmedia.com)

Desember 4, 2009 Posted by | Budaya, wisata | , , , , | Tinggalkan komentar

CATATAN DARI MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (3)


Urusan Makan Cari yang Halal, Tidur?

 

Melayani tamu! Itu rupanya kunci pariwisata. Kata sebagian dari pramuwisata, juallah apa yang disukai tamu dan jangan jual apa yang tidak disukai tamu. Itu kata bijak yang lumrah.

 

Di Pantai Kuta Bali, orang asing suka berjemur dengan dada terbuka, baik pria maupun wanita. Masa bodohlah dengan sekeliling, yang penting gue seneng kata bule-bule itu.

 

Orang Bali memang pandai melayani tamu. Sepanjang adat istiadat dan peradaban orang Bali tak tergusur, maka para pelaku industri wisata di sana juga masa bodoh dengan perangai para bule yang kekurangan baju itu.

 

Di Malaysia atau Thailand, kurang lebih begitu. Tak boleh ada satupun orang Malaysia masuk ke slot-slot Kasino di Genting Highland. Orang Malaysia paling hanya dibolehkan di luar-luar menyaksikan berbagai permainan kanak-kanak.

 

“Sila nak bejudi die, awak tak nak lah,” kata Abdul Reheem bin Haji Abdul Hamed, pelancong dari Negeri Kedah yang berpapasan dengan saya di kereta gantung menuju puncak perjudian tersebut. Ia justru membawa anak-anak muridnya dari sebuah Kolej Kebangsaaan di Kedah.

 

Di Puncak perbukitan sebelah tenggara Kuala Lumpur itu tiap hari ribuan orang berjudi. Ia dipercaya sebagai salah satu dari tiga tempat perjuadian dunia setelah Las Vegas dan Makao.

 

Ketika seorang tauke bernama Lim Goh Tong membangun tempat itu tahun 60an, sejak itu pula ia jadi tambang uang bagi Malaysia. Awalnya hanya tempat berjudi, tapi kemudian berkembang jadi tempat melancong yang amat selesa (menyenangkan)

 

Babah Lim tentu saja sudah paham akan watak Melayu. Perjudian pasti ditentang. Tapi ia meyakinkan para politisi di Barisan Nasional (BN) bahwa ini hanyalah untuk para tetamu, para pelancong luar bandar.

 

Para Datok dan Tan Sri pun mengangguk pertanda setuju. Sejak itu hanya orang dengan paspor asing saja yang boleh melintasi batas antara area perjudian dengan area bersenang-senang. Tempat di pegunungan Titiwangsa di tapal batas Selangor dan Pahang itu telah jadi magnit dunia pelancongan.

 

Malaysia dan Thailand tahu belaka kalau ada 200 juta penduduk Indonesia yang jadi pasar potensial untuk jualan dunia pelancongan mereka. Maka keduanya bersaing keras.

 

Maka mereka berlomba menyediakan apa-apa yang orang Indonesia suka dan senang (tentu saja juga untuk orang-orang dari berbagai belahan dunia lain)

 

Sekitar 90 persen penduduk Indonesia adalah Muslim. Sedang Malaysia sekalipun tetap mengikat persepakatan antarperkauaman (Cina, India dan Melayu) yang beragam agama, namun yang mengemuka adalah bahwa Malaysia sebuah negara Islam. Jadi mereka pun paham bahwa judi adalah tak elok untuk anak bangsa. Tapi kalau itu elok bagi kaum pelancong dari luar? Mereka tak peduli.

 

Kata Fauzi, pemandu wisata saya, apa yang orang suka Malaysia kasih. Termasuk menyediakan makanan atau kuliner. Tiap rumah makan dan restoran senantiasa menerakan tanda halal yang dilengkapi dengan sertifikat halal. Mereka tahu orang Indonesia senantiasa ingin tahu terlebih dulu saat masuk rumah makan: halal atau haram?

 

Para pemandu wisata sudah hafal ke tempat mana pelancong Indonesia harus diajak makan. Tentu saja ke restoran yang bersertifikat halal.Kalau tidak, para pelancong akan komplain.

 

Menurut pemandu wisata Malaysia, orang Indonesia paling nyinyir menanyakan apakah makanan yang disediakan halal.

 

Jadi soal makan orang kita amat selektif. Tapi begitu menginjak wilayah Thailand lain lagi ceritanya. Thailand memang terkenal dengan wisata syuuuur. Pernah dengar pertunjukan Tiger show?

 

Dunia pelancongan Thailand sangat erat dengan seks. Hampir di tiap sudut bisa diperoleh perempuan-perempuan seronok buat dikencani.

 

Oh Ya, Tiger Show hanyalah semacam pembukaan untuk dunia yang lebih syuuur lagi. Ia hanyalah semacam pertunjukan tarian telanjang. Penonton duduk dalam ruang ber AC dengan dentuman house music, penari berputar-putar dengan bikini (miniiiii sekali)

 

Pelacuran memang dunianya pelancongan Thailand. Sekalipun kini ditentang LSM dan agamawan di sana, tapi itu tak kunjung habis, malah makin meluas.

 

Nah kembali ke cerita orang kita. Kata Gusfen Khairul wartawan RCTI, orang kita kalau makan nyinyir sekali menananyakan apakah ini makanan halal? Tapi begitu urusan tidur, tak tanya-tanya lagi apakah halal atau haram. Jangankan uruan tidur, urusan mata saja mana ada yang sempat bertanya lagi di dalam hiruk pikuknya suara musik, apakah yang ditonton halal atau haram. Yang jelas dengan senyum semua menjawab sapaan khas  Thailand: Sawasdee krap!***

 

Desember 11, 2007 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar

CATATAN DARI MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (2)


Tandas-tandas Kita Memang Sudah Tandas 

Mengapa Gubernur Gamawan Fauzi nyinyir benar mempersoalkan kakus? Tempat membuang segala yang tak enak dalam perut itu menurut gubernur sudah mendekati merisaukan di Sumatra Barat bila disangkutpautkan dengan pariwisata. Banyak kakus di tempat umum yang joroknya bukan main. Dari saluran yang mampet sampai ke air yang tidak mengalir adalah pemandangan di banyak kakus umum kita. Di restoran, rumah makan, kantor pemerintah, swasta yang namanya kakus umum senantiasa terlupakan untuk diurus secara serius.

Di Malaysia kakus disebut tandas, di kampung saya di Aie Angek disebut tandai, di Thailand selatan disebut shuam. Orang Malaysia lebih care dengan tandas. “Sejak zaman british (Inggris) di tempat umum selalu disediakan tandas yang bersih. Tapi di kampong-kampong awalnya belum. Sekarang kerana pelancongan (pariwisata) jadi penyokong ekonomi, maka tandas jadi syarat. Tak ada tandas, tak ada pelancong,” kata Ahmad Fauzi bin , seorang pemandu wisata.

Kepada saya dipanggakkannya tempat kejamban di sebuah rest area milik PLUS (proyek lebuh raya utara selatan) di ruas Ipoh – Alor Setar. Saya pura-pura takzim. Saya sudah mencoba mengejambani kakus itu barang empat kali kunjungan ke Malaysia sebelumnya. Kini saya coba lagi, kejamban tetap lasuah, air keran tetap lancar, lantai tetap mengkilap karena tiap setengah jam dipel, tempat shalat menyenangkan, tak ada tukang semir, tak ada yang memungut uang kejamban, pokoknya masih ueeenaaak!

Udara cerah ketika saya dan kawan-kawan melucus meninggalkan batas negeri Selangor dengan bus pelancongan. Ekon alias AC mobil yang disetel dalam posisi high sekaligus memberi isyarat para ahli hisap seperti yang saya ceritakan kemarin tak berkutik.  Merokok di sembarang tempat bisa kena saman (denda). Walhasil meskipun di tempat kita AC nya disetel sedingin es, kita malah keasyikkan melanggarnya; dalam ruang ber AC pun rokok kita pompong jua.

Tak merokok malah membuat kejamban tiap sebentar terpancar. Maka tak urung tiap 100 km para penumpang minta berhenti. “Ada tandas?” kata Devi ‘Pung’ Kurnia, juru bicara Pemprov Sumbar tiap kali bus hendak berhenti. Tapi sesungguhnya bagi kaum perokok tandas adalah tempat paling asyik menikmati asap nikotin. Sedangkan bagi yang lain itu juga sorga melepas ketegangan berjam-jam selama perjalanan.”Duduk di tandas juga enak,” kata Edi Busti, jurucakap Pemkab Pasaman Barat yang ikut dalam perjalanan itu..

Lebuh raya utara selatan yang Mbak Tutut pernah ikut membangun itu memang menyediakan rest area yang cukup banyak. Ada yang ditempatkan di ‘hentian sebelah’ (hanya utk satu arah saja) ada yang untuk dua arah. Begitu juga di gerbang-gerbang tol, selalu ada tandas.

Di Thailand selatan meskipun tak sebaik di Malaysia, tandas yang disebut shuam rupanya mutlak ada di tempat-umum. Hatyai, kota di provinsi Shongkla sejak beberapa tahun menjadi kota wisata di Selatan Thailand. Sebagai sebuah kota wisata, maka pemerintah Hatyai memandang kebersihan mutlak jadi modal penarik pelancong. Terutama pelancong dari Malaysia dan limpahan turis dari Bangko atau dari Pattaya dan Chiang Mai di sebelah mudik Bangkok.

Tandas menjadi bagian penting dari industri wisata. Singapura, Malaysia dan Thailand berkompetisi dalam merayu kedatangan wisatawan. Indonesia tak dijadikan kompetiter? Para operator pelancongan di ketiga negara itu seperti sepakat saja menyebut Bali sebagai kompetiter, bukan Indonesia. Seolah Bali dan Indonesia itu beda di mata mereka.

Tapi saya kira tak usah kecil hati menerima kenyataan ini. Selama urusan tandas yang keciiiil itu bisa dibereskan, maka ia akan mendatangkan manfaat yang besaaaaar.

Memang membanding Malaysia dengan Sumatra Barat tak adil, tapi kalau hanya membanding kakus alias tandas antara negara tetangga dengan Sumatra Barat saya kira cukup adil. Sebab membangun restoran, kantor, pasar, tempat ibadah atau hotel toh tak akan melupakan pembangunan toilet. Tak ada kantor atau rumah makan yang tak bertandas di Sumbar. Tapi kenapa masih jadi keluhan?

Saya kira masalahnya pada kesungguhan mengelola. Sering kita hanya punya perhatian untuk urusan yang masuk perut tanpa memberi perhatian yang sama dengan urusan keluar perut. Kalaupun kita punya tandas, selain banyak yang jorok tak terpelihara juga banyak yang sudah tandas pula alias tidak berfungsi lagi.

Desember 11, 2007 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar

CATATAN MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (1)


Maka Taraniayalah Para Ahli Hisap 

Empat hari awal bulan Desember, sejumlah wartawan Padang melawat ke Malaysia dan Thailand. Ceritanya masuk bandar keluar bandar (bandar = kota) dari Kuala Lumpur hingga Hatyai di Thailand. Eko Yanche Edrie dari Haluan mencatat hal-hal remeh temeh berbagai hal. Berikut catatannya:  

Peperangan besar sesungguhnya sedang berlangsung di seluruh dunia. Di front sedang berlaga Indonesia atau Kuba dikeroyok oleh ratusan negara. Eh, sebelum saya teruskan Anda jangan ‘terburangsang’ dulu.

Ini bukan semacam battle of britania’ yang terkenal di Eropa pada PD I atau semacam pertempuran pasifik yang kesohor di sekitar Midway itu. Ini adalah perang antara (negara) industri rokok dengan negara dan kaum antirokok. Sudah berlangsung bertahun-tahun. Belum ada yang menang dan (tentu saja) belum ada yang kalah. Kaum perokok terus saja membangun pabrik dan memperluas ladang tembakau, kaum antirokok terusberkampanye dimana-mana. Di Malaysia dan Thailand tak terlihat billboard iklan rokok macam di jalanan Indonesia.

Sebagai negara penghasil tembakau nomor satu dan cerutu nomor satu di muka bumi, devisa Indonesia dan Kuba cukup terbantu oleh tembakau yang diindustrikan menjadi rokok dan cerutu. Bahkan di Indonesia industri rokok sangat signifikan menopang ekonomi nasional.

Tapi belakangan kesadaran dunia mucul, bahwa rokok tak pernah membawa manfaat untuk manusia. Ia adalah racun pembunuh nomor satu. Alkisah tersebutlah kawan-kawan wartawan yang melancong ke Malaysia dan Thailand ternyata sebagian besar adalah ‘ahli hisap’ alias perokok berat.

Sebagai mantan perokok yang kini jadi perokok pasif (kadang merokok kadang tidak) saya dapat merasakan betapa tersiksanya kawan-kawan selama melancong. Di Bandara KLIA rokok hanya ‘diduduik’ di tempat tertentu saja. Di terminal Pudu Raya Kuala Lumpur sebagai ahli hisap kita harus bertobat sebenarnya dari palutan ketergantungan pada candu nikotin. Maklum di sana para ahli hisap dihilangkan tuahnya oleh polisi pelancongan. Tak boleh merokok di setiap level (lantai) kecuali di basement tempat bus-bus diparkir. Kalau hanya parkir sih tak apalah. Semua bus dalam keadaan mesin hidup, asap knalpotnya ‘mangkapopoh’. Maka berkatalah polis pelancongan kepada ahli hisap:“Sila encik sekalian habiskan rokok di sini”. Maka tinggallah para ahli hisap bercampur baur dengan gas CO2 yang keluar dari knalpot. Saya tak tahu, apakah geretekan kretek Jie Sam Soe menjadi makin bikin fly para ahli hisap atau malah paru-paru harus menyisakan space buat asap baru selain asap tembakau.

Sudah saya sebut tadi bahwa space iklan media luar ruang yang mengiklankan rokok nyaris tak terlhat di Thailand dan Malaysia. Yang terlihat justru makin meluas tempat pelarangan merokok. Di Hatjay, kota pelancongan selatan Thailand mulai menolak rokok. Di hotel, merokok hanya dibolehkan di kamar. Di loby kalau mau kena ‘uangrokok’ alias denda 2000 bath (equivalen dengan 200 ringgit Malaysia) silahkan menyulut rokok.Kata Nawavira Khmueng seorang petugas hotel, kebijaksanaan ini diterapkan oleh pemerintah distrik Songkla yang membawahkan kota Hatjay sejak dua tahun ini.

Maka selama melancong, sebagian besar anggota rombongan yang ahli hisab tak menyia-nyiakan tempat-tempat bebas rokok. Di restoran, senantiasa dipilih yang tidak ber AC. Dalam perjalananan Kuala Lumpur via Lebuh Raya Utara Selatan, tiap kali ada ‘hentian sebelah’ alias rest area, maka bagian dekat-dekat tandas alias kakus sangat membesarkan hati ahli hisap. Di situ rokok kabarnya enak sekali. Dan waktu yang diberikan senantiasa molor lantaran ada yang ‘batambuah rokok’.

Saya terbelalak ketika dalam koper wartawan senior Fachrul Rasyid ada satu slof rokok. Saya bilang, untung kita tidak masuk lewat Singapura yang amat ketat terhadap masuknya rokok ke negerinya. Tapi mana pula ia mau mendengarkan cakap saya (alaaamak ketularan malay pula awak).

Maka ibarat di Padang Pasir, rokok satu slof itu benar-benar bagai oase. Fachrul lalu ‘menyedekahkan’ rokoknya kepada para ahli hisap yang sedang jadi ‘musafir’ itu.

Perang pada rokok makin menghebat di Thailand. Rokok merk mildseven dibuat oleh Jepang di Thailand, harganya RM7 atau sekitar Bt70. Khusus yang diedarkan di Thailand, diluar kemasan Mildseven bukan saja dicantumkan peringatan tertulis mengenai bahaya rokok dengan teks namun dimuat juga gambar jantung manusia dan bagian tubuh manusia yang dirusak oleh nikotin.

Tapi apa berhenti orang merokok? Wallahualam. Yang terang kepatuhan pada aturan di kawasan orang ramai makin dipatuhi. Rambu-rambu larangan merokok makin banyak di tempat awam. Beda tipis dengan kita, banyak tanda larangan, banyak yang melanggar.

Macam mana anak-anak akan dilarang merokok, kalau oleh para orang tua, rokok justru menjadi peradatan dan sekaligus peradaban.

Desember 11, 2007 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar

MURAH BUKAN MURAHAN


  • Singapura Murah, Tapi tidak Murahan……

    Apakah Singapura menangguk dolar hanya dengan strategi sekedar murah? Tentu saja bukan. Malah kalau sekedar murah, sebagai pusat transaksi terbesar di Asean, pasar Singapura bisa bercitra murahan.
    Karena itu mereka memilih pasar dengan multisegmen. Manajemen hotel grup Fragrance, pemilik sekaligus operator dari delapan hotel (tahun ini juga akan dilunching dua hotel lagi-red) memiliki rangkaian hotel dari yang bertarif murah hingga yang bertarif tinggi.
    “Dengan demikian kami bisa menjangkau semua segmen. Tahun 2004 kami raih keuntungan 10,7 juta dolar Singapura dari delapan hotel,” CEO grup mereka, Dr.Koh, dalam sebuah perjamuan makan malam di sebuah restoran Jepang.
    Mereka mulai mematok tarif dari 40 Dolar Singapura hingga 400 Dolar Singapura. Dengan demikian semua segmen bisa menikmati pelayanan Fragrance. “Senyum kami sama, hanya sentuhannya yang berbeda,” kata Direktur Pemasaran Frangrance, Lawrencve Lim.
    Adanya kamar bertarif murah bukan berarti hotel tersebut menjadi murahan, karena itu standar pelayanan khas Fragrance tetap menjadi nomor satu. Setelah itu peningkatan pelayanan menurut level tarif akan dinikmati oleh setiap tamu yang menginginkan.
    Kurang lebih jawaban yang sama datang dari pengelola hotel di bilangan Sentosa. Sentosa adalah sebuah pulau di Selatan Singapura. Di situ sejumlah hotel dengan konsep resort berdiri. Salah satu yang terbesar adalah Rasa Sentosa Hotel yang berada dalam naungan grup Shangri-La.
    Mereka mematok tarif dari 280 Dolar AS hingga kamar President Suite yang bertarif 2.000 Dolar AS atau sekitar Rp18 juta. Pengunjung Singapura yang ingin menikmati spa dan hangatnya pulau Sentosa, boleh datang ke sana dengan menikmati kereta gantung atau Cable Car dari bibir pantai selatan Singapura. Dengan mengeluarkan 30 Dolar Singapura Anda berempat bisa duduk di kabin kereta gantung untuk melayang menuju Sentosa.
    Lalu, kenapa transportasi untuk mencapai Singapura bisa menjadi lebih murah dari Padang dibanding dari Padang ke Jakarta?
    Inilah yang mula-mula dipertanyakan berbagai maskapai penerbangan nasional terhadap konsep Tiger Airways. Di Indonesia memang ada Lion Air yang main di Low Cost Carrier (LCC) tetapi tetap saja tak bisa menyaingi kemurahan Tiger.
    Dengan tarif 10 Dolar AS (p/p) dari Padang, praktis itu amat memungkinkan orang memilih perjalanan wisata ke Singapura ketimbang ke Jakarta. Apalagi kalau STB sudah mempublish tarif hotel dari yang termurah hingga yang tertinggi ke seluruh dunia.
    Akan halnya Tiger, tarif murah itu bukan lantaran ia adalah maskapai yang baru berdiri. Di dalam maskapai itu sendiri terdapat Singapore Airlines, maskapai milik Singapura yang menguasai 49 persen saham, serta Indigo Partners LCC (24 persen) dan Kelompok Tony Ryan (16 persen). Yang disebut terakhir ini adalah pemain LCC yang sudah amat berpengalaman di Eropa. “Jadi kami bukan sekedar murah, tapi berbekal pengalaman panjang di Eropa. Ini adalah penerbangan dengan konsep sebenar-benarnya LCC,: kata Tony Davis, CEO Tiger yang didampingi Manager Regional Indonesia/Filipina, Ikhsan Alfahmi.
    Lalu kenapa bisa murah? Pertanayaan itu pernah dijawab oleh seorang kawan ketika mempertanyakan maskapai nasional yang bisa memberikan tarif murah. Jawaban iseng itu adalah: “Ah jangan-jangan beberapa mur dan baut pesawat itu ada yang copot, makanya bisa murah”
    Tapi Tony dan Ikhsan membantah jawaban iseng itu (walaupun itu bukan jawaban untuk pertanyaan yang ditujukan kepada Tiger-red). Bahwa Tiger memang murah, tapi tidak murahan apalagi mengabaikan standar penerbangan internasional. Bayangkan dengan mengerahkan empat Airbus seri 320 terbaru, mereka langsung terbang ke 10 kota di Asean.
    “Kami memang mengutamakan efisiensi dan efektivitas. Baik dalam inflight maupun preflight dan postflight,” kata Ikhsan.
    Di kantor pusatnya di salah satu ruangan Changi Airport, perusahaan yang sebesar itu hanya dilayani oleh 30 orang saja, sudah termasuk CEO nya sendiri. Untuk kawasan regional Indonesia dan Filipina, Ikhsan hanya dibantu masing-masing satu staf. Pelayanan yang lain lebih banyak dilakukan oleh tenaga outsourching. Awak kabin juga mengerjakan beberapa pekerjaan secara sekaligus.
    Dan inilah kunci sukses lainnya: di dalam pesawat apapun dijual. Mulai dari makanan hingga papan display untuk iklan di kursi pesawat. “Jadi kami ingin mendapat pendapatan tak hanya dari ticketing tapi juga dari fasilitas non-ticket.
    Semua kemurahan itu lalu dipadukan dengan tarif hotel murah, belanja murah dengan pekan diskon gede-gedean, plus segala keramahtamahan, maka alasan apalagi yang akan membuat orang mengurungkan niatnya melancong ke negeri singa itu? Jadi, bae bana lah! (eko yanche edrie)

Mei 5, 2006 Posted by | wisata | Tinggalkan komentar

MEROKOK DI SINGAPURA


Pergalaskanlah’ Apa Saja di Singapura, tapi Jangan Rokok

MENJUAL habis-habisan Singapura memang target utama pemerintah negeri itu. Maka peran sentral STB kian terasa. Sampai-sampai setiap keluhan pendatang di Singapura dicari tahu oleh pihak STB.
Saya mengatakan kepada Juliana Khoo, tentang perilaku imigrasi Singapura bila kita masuk lewat pintu Johor Bahru. Ada kesan (entahlah kalau wajah saya dikira mirip teroris) tiap pemegang paspor Indonesia lebih lama di skerining di pinto Johor Bahru itu. Perlakuan itu jauh berbeda dengan kalau kita masuk lewat pintu Changi. Langsung keluhan saya dimasukkan ke dalam file Outlook Expres milik Juliana di dalam notebook Compac di mejanya. “Saya akan sampai ke imigrasi soal perlakuan itu. Tapi saya yakinkan Anda bahwa itu hanya eksiden (kejadian luar biasa) saja dan tak pernah jadi agenda imigrasi Singapura,” katanya meyakinkan saya.
Juliana boleh berkelit. Bahwa tahun 2003 misalnya, seorang pegawai Imigrasi Singapura yang bertugas di terminal ferri World Trade Center (WTC) diberitakan sering melecehkan pemegang paspor Indonesia. Seakan-akan tidak ada peraturan baku, tetapi dengan melihat penampilan maka seseorang dengan enteng dapat ditolak dan langsung disuruh balik ke Batam.(Kompas, 26/8/2003)
Kepala Kantor Imigrasi Batam, Danny H Kusumapraja ketika itu mengakui, banyak WNI yang dilecehkan karena dipaksa untuk menunjukkan isi dompetnya di depan orang banyak. Akibatnya, masuk Singapura sepertinya dikomersialkan menjadi tempat untuk orang-orang yang berduit saja.
Dari data Kantor Imigrasi Batam diketahui sedikitnya 4.831 orang WNI pada tahun 1998 yang ditolak pegawai Imigrasi Singapura, sementara untuk tahun 1999 hingga bulan Juni sudah tercatat 2.601.
Okelah Ncik! Yang jelas dari hari ke hari kejadian-kejadian itu tidak mengurangi kenekatan orang Indonesia datang ke Singapura. Padahal, hari-hari ini, justru perjuangan orang Indonesia kian berat saja di sana. Masalahnya, rata-rata yang datang adalah ‘juru hisab’ alias kaum perokok. Sementara hari ini Singapura kian gencar mengampanyekan gerakan antirokok.
Jika Anda datang ke kawasan belanja Orchard Road saat-saat Great Singapore Sale sekarang ini, jangan terkejut bila melihat banyak orang yang memakai T shirt bertuliskan Nice Lungs atau paru-paru sehat. Mereka merupakan bagian dari kelompok kampanye Quit Crew – yang dikerahkan oleh Badan Promosi Kesehatan Singapura – guna mengkampanyekan cara hidup sehat dan sedapat mungkin menjauhi rokok. Artinya, pergalaskanlah apa saja di Singapura, tapi jangan rokok.Dalam siaran Radio Singapura Internasional, kemarin Choo Lin – yang menjadi ketua pelaksana kampanye Quit Smoking menjelaskan latar belakang dilaksanakannya pendekatan baru itu. Menurut Choo Lin, kampanye untuk berhenti merokok terasa lebih relevan jika ditujukan kepada kalangan remaja. Oleh karena itu – jelasnya – kampanye baru ini memang dititik-beratkan pada manfaat yang akan dirasakan kaum remaja jika mereka bisa menghentikan kebiasaan merokok. Selain kampanye di Orchard Road, para relawan juga melakukan kampanye itu dengan mendatangi kantor-kantor dan mendorong karyawan di tempat-tempat itu untuk memilih hidup sehat. Cara yang dilakukan juga cukup menarik yaitu membagikan buah-buahan dan permen kepada mereka. Sebetulnya kampanye anti merokok di Singapura itu sendiri kini sudah dilaksanakan selama 20 tahun. Selama satu bulan ke depan 150 apotik di Singapura akan memberi konsultasi gratis kepada warga Singapura yang ingin berhenti merokok. Sebaliknya, STB malah mempromosikan rumah sakit Singapura. Berbagai rumah sakit yang ikut dalam GSS sebelum ini malah sudah datang langsung ke Indonesia untuk berpromosi. Jadi tak hanya mal yang mendatangkan dolar bagi negeri Engkong Lee Kwan Yew ini, tapi rumah sakitpun dipergalaskan. Agar udara jadi asri dan rumah sakit benar-benar hygenis, maka rokok diperangi habis-habisan. Salah bawa rokok (melebihi sebungkus) Anda akan berperkara dengan petugas imigrasi.
Seorang dokter Singapura, Dr. Camilla Wong sebagaimana dikutip Radio Singapura Internasional mengatakan bahwa ke Singapura bisa membuat orang berhenti merokok. Ketua Persatuan Apoteker Singapura itu mengatakan, jumlah warga yang memutuskan berhenti mengisap rokok cenderung meningkat. Caranya, ada apotek yang dimasukkan dalam program GSS untuk menunjang kampanye antirokok. Apotek tadi memberikan konsultasi gratis bagaimana caranya berhenti merokok.Dokter Camilla Wong menambahkan bahwa menurut data yang ada, tingkat keberhasilan dari program konsultasi di sebuah rumah sakit di Singapura sangat menggembirakan, yaitu sekitar 25 persen. (eko yanche edrie)

Mei 5, 2006 Posted by | wisata | 2 Komentar