WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Nasionalisme Bukan Xenophobia


Bukan Sri Edi Swasono namanya kalau tak bicara soal nasionalisme. Ia begitu miris melihat generasi sekarang jadi begitu gandrung dengan hal ihwal yang serba Amrik, serba luar negeri, seolah semua yang berbau ‘luar’ adalah hebat.

Kemarin ekonom senior yang juga mantu Bung Hatta itu kembali mengungkap kegusarannya di Padang. Dalam acara Annual Lecturer mengenang tokoh diplomasi Mohammad Hatta,  Apresiasi Perjalanan 50 tahun Hubungan Diplomatik  RI-Malaysia”,  di Kampus Unand, Sri Edi bicara telanjang tentang hedonisme bangsa yang mulai dipandangnya berlebihan.

Semangat untuk mengedepankan rasa nasionalisme bukan berarti Sri Edi mengajak kita untuk bersikap Xenophobia, tetapi mengingatkan bangsa ini yang terlalu terperosok memahami globalisasi seoalah harus menyerah kepada asing.

Masuk di akal sehat kita apa yang dikemukakan Sri Edi Swasosno itu. Lihat saja negara tetangga Malaysia sekalipun dalam hal-hal tertentu misalnya teknoli tak dapat tidak harus ikut pusaran globalisasi, tetapi Malaysia tidak meulu tunduk secara ekonomi dan kebudayaan dengan asing.

Seperti diungkap pengajar UI itu, Malaysia hingga kini masih mampu mengatasi pasar bebas, akibat kepiawaiannya dalam berdiplomasi. Malaysia tidak sepenuhnya tunduk ke WTO, malah sebaliknya bisa menolak impor sehingga produsen di negeri Jiran itu tetap berjaya bertahan, karena  Malaysia unggul dalam diplomasi.

Kelemahan kita, Indonesia dalam hal ini adalah tidak bisa menolak produk impor, sebab kebijakan itu jelas merugikan produsen di tanah air, karena sebagian pembeli tentu beralih pada  produk luar.

Lalu kembali ke pokok pikiran Sri Edi, bahwa bangsa Indonesia mengandrungi yang serba ‘pop’ (populer–red), atau serba luar negeri. ‘Pendidikan’ Amerika Serikat, misalnya tanpa disangka sudah menjual produk asing di Indonesia, anehnya kita justru menikmatinya,  bukan menolaknya. Tidak ada seminar di Indonesia yang membahas produksi sendiri. Bangsa Indonesia ‘sedang bunuh diri’  karena lebih menggandrungi ‘pop’ dan mengabaikan buatan dalam negeri sendiri.

Dalam berbagai ‘perbantahan terbatas’ di Sumatra Barat antara paham yang mengedepankan ABS-SBK dengan yang anti ABS-SBK sering kita dengar bahwa akar budaya, adat istiadat, bahkan agama (Islam) sekalipun dikatakan terancam oleh arus globalisasi. Bahwa sedang terjadi imperialisme baru berupa penjajahan kebudayaan dan ekonomi. Tiap hari kita pekikkan itu dalam ‘perbantahan terbatas’ tadi. Tapi kita seperti ditengarai Sri Edi sering bersifat ambivalen. Kita menentang kultur lokal dirusak oleh asing, tetapi secara ekonomi kita membuka ekonomi asing menjajah kita secara diam-diam.

Kaum muda Sumatra Barat sudah demikian ‘go ahead’ nya terhadap apa-apa yang berasal dari luar. Mereka memaki-maki Amerika yang terus bikin kegaduhan di Timur Tengah, tetapi semua malah bercita-cita dapat diterima kuliah di berbagai universitas Amerika. Produk-produk asal Amerika mulai dari pakaian, makanan cepat saji, minuman ringan maunya KFF, McDonald, Cocacola. Ayam goreng buatan kaki lima? Oh, no way! Kopi kawa? Oh, itu kampungan. Bika Mariana? Nggak gaul.

Sekali lagi mengangkat dan mengagungkan rasa nasionalisme bukan berarti Xenophobia atau membeci asing. Sebab kalau memperturutkan Xenophobia bisa-bisa kita menjadi orang pandir dalam pusaran global ini. Sebab kita harus tidak boleh menggunakan komputer dengan program milik Bill Gates atau Apple Machintos. Telepon seluler keluaran Motorola atau Nokia dari Finlandia dan Siemens dari Jerman harus kita haramkan pula. Jangan lupa kalau itu sikap kita, maka permadai dari Siria atau kurb=ma dari Taif Arab Saudi tidak boleh kita konsumsi. Bukan kebencian yang seperti itu yang kita inginkan. Tetapi bagaimana nasionalisme terus menerus dapat mendorong Indonesia bisa berdiri di kaki sendiri. Jangan sampai jarum penjahit sebiji, kita harus menyembah-nyembah juga ke China untuk mendapatkannya.

Semangat nasionalisme yang berlebihan bisa menelurkan ultranasionalisme. Ini berbahaya juga bagi kita sebagai warga dunia. Semangat nasionalisme harus mendorong kita untuk bisa bertahan dari penjajahan-penjajahan baru secara ekonomi.(Eko Yanche Edrie/www.padangmedia.com)

Desember 4, 2009 Posted by | kontemplasi | , , , , | Tinggalkan komentar

Merdeka Ataoe Patjoe Karoeng!


Tinggal empat hari lagi perayaan kemerdekaan Indonesia akan diperingati. Ini adalah ulang tahun ke-63 Republik Indonesia. Saya mendadak kecut, sudah sedewasa itukah republik ini? Saya anggap usia yang 63 tahun itu adalah sebuah usia matang bagi manusia. Bisakah republik ini dipersamakan dengan manusia? Bisa. Karena toh yang menjalankan dan mendiami serta mengisi kemerdekaan republik ini adalah manusia, bukan robot. 

Seyogianya kematangan itu tercerminlah hendaknya dalam peringatan ke-63 kemerdekaan. Dari tahun ke tahun peringatan kemerdekaan senantiasa dimaknai sebagai sebuah pesta. Gemerlap lampu lampion warna warni, pita merah putih, banner di gedung-gedung tinggi, di gerbang-gerbang kampung dipajang gapura lengkap dengan patung-patung laksana serdadu gagah perkasa memegang bambu runcing. Selebihnya rakyat kecil tenggelam dengan hiruk pikuknya pesta panjat batang pinang, lomba pacu karung, lomba makan kerubuk sampai berjoget dengan iringan organ tunggal, Pak Lurah berpidato penuh semangat sembari mengacung-acung tangannya berseru: merdeka! Maka hadirin pun membalasnya dengan yel serupa. 

Itu sajakah makna sebuah perayaan ulang tahun kemerdekaan?Saya tak hendak mengatakan bahwa sebuah ulang tahun mesti dilaksanakan dengan pesta tiup lilin, lalu orang-orang bersulang sambil mengangkat toast. Jelas itu bukan kebudayaan yang lahir dari perut republik ini.  

Setelah 63 tahun merdeka, seyogianya juga diisi dengan aktifitas-aktifitas kontemplasi. Perenungan, sudah sampai dimana perjalanan kita dan apa yang sudah kita perbuat untuk mengisi kemerdekaan ini? 

Upaya itu di Sumatra Barat tidak terlihat. Buktinya di koran-koran juga tak terbaca adanya kesemarakan penyambutan perayaan kemerdekaan. Di Padang misalnya, yang ada (yang menonjol) adalah peringatan ulang tahun  kota, pesta bahari, Padang Fair. Atau sebelum ini ada pekan budaya.  

Memang, rakyat lebih suka hiburan. Bisa jadi karena rakyat sedang banyak susahnya, jadi berhibur sekali setahun tak apalah, pikir mereka. Tetapi para elit sebenarnya punya kesempatan pula untuk memperlihatkan rapor kita bersama kepada rakyat. Seberapa jauh kita sudah mengisi republik ini selama 63 tahun. Sumatra Barat selama masa merdeka itu sudah berubah dari apa ke apa misalnya? Jadi kita tidak lagi mengkaji kemajuan bupati anu dalam dua tahun ini, gubernur anu dalam tiga tahun ini. Sumatra Barat misalnya, kita ingin rakyat dapatkan rapor kita selama 63 tahun. Ini semua untuk menjadi tempat bersitumpu bagi kita menuju masa depan yang lebih baik. Ada paparan angka-angka yang dimumumkan kepada publik. Semua selain untuk kita kenang juga untuk tak berlalu begitu saja bersama angin (gone with the wind). Untuk kita jadikan cemeti bahwa kita harus bekerja lebih keras dan lebih keras lagi. 

Teruslah berpesta, tapi tidak memabukkan. Teruslah memanjat batang pinang, tetapi terus pula tanpa henti kita gapai cita-cita menuju kemakmuran sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 kita. Merdeka! uH. masoed abidin

Agustus 13, 2007 Posted by | kontemplasi | Tinggalkan komentar

OKB dan OBB


Soal menetapkan siapa yang miskin siapa yang tidak atau berapa yang miskin berapa yang tidaknya rakyat Indonesia, ternyata bukan perkara gampang. Setengah mampus orang Bappenas dengan BKKBN basiarak mempertahan argumentasinya masing-masing.

Perkara miskin atau tidak miskin juga bertambah ruwet ketika orang Jakarta punya cara pandang berbeda dengan orang daerah. Walhasil alih-alih memberantas kemiskinan, soal menentukan syarat dan rukunnya orang miskin saja kita terpaksa bikin heboh nasional dulu.

Sidi Tonek bertengkar dengan dengan saya soal itu. Kawan saya ini memilih sudut pandang linguistik (maksudnya kebahasaan, jadi agar terdengar hebat Sidi menggunakan istilah linguistik) Sidi Tonek mempertahankan argumentasinya bahwa antara miskin versi orang
Jakarta dengan miskin versi otonomi daerah memang harus berbeda.

Tonek mendalilkan, dalam logat lokal miskin disebut bansaik. Tapi rupanya orang
Jakarta salah dengar. Mereka kira bansaik harus diucapkan dengan bangsat. Diacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka bangsat artinya semacam kutu busuk. Di Jakarta, kata bangsat dijadikan umpatan.

Beberapa orang Jakarta yang salah terima dengan dalil Sidi Tonek akhirnya mencoba memperturutkan nafsunya membuat kalimat-kalimat spanduk. “Memberantas Bangsat” atau “Angka Kebangsatan Sumbar meningkat” atau “Jumlah Penerima Beras Bangsat Menurun”.

Eh, lama-lama istilah bangsat rupanya berubah fungsi. Orang malah tiba-tiba jadi suka dibilang bangsat. Kawan saya yang lain Bagindo Toron baru kali itu ke Jakarta. Ia dibekali ide oleh Sidi Tonek. Katanya kalau di Jakarta cukup belajar Elu atau Gue saja. Maka ketika Toron turun di pintu Busway sembarangan tempat, kondekturnya berseru: Eh, bangsat lu! Toron mengira ia sedang diuji bahasa Jakartenye, maka dengan arogansi pemegang otonomi daerah, Toron pun memburangsang. Ia berkacak pinggang sambil berteriak: “Hoi, gua juga bangsat, tau?

Ya ya. Kemiskinan adalah bagian dari kekufuran. Termasuk kemiskinan pada hati nurani. Banyak orang yang tadinya miskin kemudian mendapat rezeki nomplok lalu berubah status jadi OKB alias Orang Kaya Baru. Lagaknya juga baru, cara bicara, berpakaian sampai ke hobi. Bahkan kalau ia bercarut pun sekarang sudah modern dan lebih dahsyat. Tapi ini sudah biasa.

Beda dengan OBB alias Orang Bangsat Baru. Ini adalah spesis yang kehilangan malu. Mereka mau bergedincit berebut kartu tanda miskin. OBB gayanya langsung berubah. Bicaranya berhiba-hiba, carut marut sudah kurang, sekarang sudah sering tidak gosok gigi, baju sudah beberapa hari tidak diganti. Semuanya agar bisa mengesankan sebagai anggota Orang Bangsat Baru. Agar dapat BBM bersubsidi, agar anak-anak bisa sekolah gratis, agar berobat tanpa bayar. Soal orang yang sebenar-benar miskin jadi tersisihkan atau teralahkan, itu soal lain lagi. Yang penting orang
Jakarta bisa meangkreditasinya sebagai orang yang benar-benar bangsat! Bae…lah(ekoyanche edrie)

Juni 3, 2007 Posted by | kontemplasi | Tinggalkan komentar

Hari-hari Pilkada


Kurindukan Mochtar Lubis, Hok Gie, Rudi Badil

Aku merasa jemu dengan koran-koran. Kucari sejumput idealisme yang tersuruk di kolong-kolong mejara para redaktur dan reporter, tapi tak bersua. Aku mulai bertanya-tanya: apakah kita memang sedang bikin koran atau buku harian para calon gubernur, bupati dan walikota?
Hari-hari kita kian tumpul. Nyaris cahaya Adinegoro meredup dan barangkali juga berangsur padam. Uang mendadak menjadi segalanya. Ruh para wartawan kian kerdil dan dikerdilkan oleh para wartawan sendiri.
Duh, kurindukan Mochtar Lubis, Hok Gie, Rudi Badil, dan sentah sesiapa saja yang senantiasa mengajak orang pada kebajikan bagi kemaslahatan ummat.

Juni 20, 2005 Posted by | kontemplasi | 2 Komentar