WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Bersama Kita Kalah


Tanggal 1 Desember mendatang, helat multiiven para atlet se-benua
Asia segera dimulai. Asian Games. Selama dua pekan pesta yang pernah dituanrumahi Indonesia tahun 1962 itu diselenggarakan di
Doha, Qatar. Sebanyak 45 negara sudah dipastikan berada dalam daftar entry by name milik DAGOC (Doha Asien Games Organizing Committe).

Qatar, negeri kaya minyak di Asia Barat itu merupakan Asia Barat kedua setelah 
Iran (1974) yang jadi tuan rumah Asian Games. Kali ini terdapat 45 cabang dari 39 induk olahraga akan dipertandingkan merebut 423 set medali emas.

Antelop, hewan khas negeri itu akan menjadi maskot perhelatan. Orry, itu nama sang maskot. Lalu biasalah, tiap pesta olahraga seperti ini senantiasa ada slogannya. Biar lebih seru, kali ini slogannya adalah: The Games of Your Life.

Senantiasa ada harapan. Selalu alam bawa sadar bangsa ini diusik untuk berjaya di negeri orang. Jauh dari pecundang. Selalu kita berharap mengikuti slogan kuno dunia olahraga: citius, altius, fortius (lebih cepat, lebih jauh, lebih tinggi)

Sayangnya bangsa yang besar (suaranya) kala berdemo ini tiap kali kegiatan olahraga multiiven, tiap kali pula kita pulang dengan wajah kuyu. Kita jadi pecundang sejati. Bung Karno boleh bilang dalam pidato superheroiknya: “Beri aku seribu orang! dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia”. Kini ada jutaan pemuda. Kala mereka pidato di kumpulan demonstran bukan main rotoriknya. Seakan hendak dijinjingnya dunia ini.

Heranlah Bung Karno di alam baqa melihat kenyataan. Terdapat wajah garang kita bila bertengkar. Tenaga jadi berlipat-lipat. Fighting spirit membara. Semuanya ditumpahkan untuk apa yang disebut kerusuhan. Dengan garang kita lanyau lawan-lawan tanpa ampun. Kita habisi musuh-musuh politik dengan ganas. Dan menang!

Tapi Bung Karno harus menangis mana kala dilihatnya para kesatria, para wirayudhawan dan seterusnya harus berada di barisan pecundang saat menghadapi pertempuarn yang sportif: dunia olahraga. Dari Asian Games ke Asian Games, dari Sea Games ke Sea Games berikutnya, dari Olimpiade ke Olimpiade, kita belum juga sanggup menegakkan kepala.

Saya tak bermaksud meremehkan perolehan medali emas di Olimpiade yang silam maupun  di Asian Games ke-14. Tapi semuanya tetap saja diraih oleh para etlet dari cabang olahraga perorangan.

Entah kenapa urusan beregu kita tetap saja kandas di hajar legiun asing. Sepakbola, bolavoli, bolabasket dan olahraga beregu lainnya. Entah kapan merah putih dapat kita kibarkan untuk cabang beregu di
medan laga serupa Asian Games itu. Agaknya inilah negeri para ‘mansur’ alias main surang. Kita sulit bersatu. Asal sudah berkumpul, kita bertengkar. Akhirnya terbawa sampai ke dunia olahraga. Slogan kita memang hebat: “Bersama kita Kita”. Entah kalau
Doha memang keramat, lain lagi ceritanya!(eko yanche edrie)

Juni 3, 2007 Posted by | olahraga | Tinggalkan komentar