WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Speedy, Cepat Saja tak CUkup


“Pokoknya semua dokumen harus dikirim ke redaksi”“Tapi dokumennya besar, pasti postingnya lambat”“Yang penting bisa dikirimkan”“Tapi
kan deadlinenya nanti malam?”
“Kalau begitu pakai kurir saja, kirim lewat kargo udara”“Tapi…”“Tidak ada tapinya…kirimkan, kami tunggu di Bandara”***  Itu adalah dialog antara seorang redaktur suratkabar di
Padang dengan seorang wartawannya di
Jakarta. Yang mereka perbincangkan adalah sebuah dokumen untuk melengkapi penulisan berita yang hendak diturunkan pada malam harinya. Tanpa dokumen itu berita tersebut menjadi tidak layak muat, padahal beritanya adalah sangat ekslusif.
Yang jadi soal bagi wartawan di
kota itu adalah akses internet yang lambat merambat bak seekor ulat. Proses up-load yang dilakukannya dengan mengambil sebuah layanan akses internet bisa memakan waktu yang lama. Selama proses itu, jelas hitungan pulsanya berjalan juga. Saat itu matahari sedang terik di titik kulminasi, saat jaringan sedang sibuk-sebuknya. Traffic telekomunikasi baik voice maupun data sedang dalam puncak bebannya.  Bisa-bisa itu harus keluarkan biaya besar dari koceknya untuk biaya internetnya.
Sementara sang redaktur juga mengalami hal yang sama ketika ia harus mengunduh (mendownload) file besar dari dokumen yang dikirimkan oleh korespondennya itu. Kesimpulan yang dapat ditarik dari situ adalah bahwa bisa saja terjadi biaya pengiriman lewat kargo udara jauh lebih irit dibanding dengan pengiriman lewat proses digitalisasi.Dulu
lima belas tahun silam ada harapan terjadinya percepatan pengembangan pasar media cetak dengan apa yang diperkenalkan oleh Departemen Penerangan sebagai Sistem Cetak Jarak Jauh.
Gagasan yang kunjung terujud itu antara lain mempresentasikan sebuah koran yang terbit di
Padang lalu setelah proses digitalisasi, dikirimkan ke satu
kota tujuan untuk diterima oleh perce takan di
sana, lalu dicetak.
Sederhana saja, tetapi kemudian ternyata  bahwa cost yang ditimbulkan cukup mahal. Pihak PT Telkom waktu itu hanya punya satu cara untuk membantu: menyediakan kanal sewa (lease line) yang hanya digunakan untuk keperluan CJJ itu saja. Walhasil, hingga sekarang cetak jarak jauh cara Deppen itu memang tak jadi-jadi. Lalu gagasan berikut (ini yang kemudian diaplikasikan sejumlah media) CJJ dilakukan dengan menggunakan pengiriman file berbasis internet. Layout halaman-halaman koran dikompresi, lalu hasil kompresinya dikirimkan dengan email atau dengan fasilitas FTP (file transfer protocol) bahkan ada yang hanya dengan email belaka ke
kota tujuan untuk diurai kembali guna proses cetak. Harian Pikiran Rakyat di
Bandung sudah mencobanya untuk cetak jarak jauh antara
Bandung dan
Cirebon, dan berhasil. Harian Riau Pos sudah mencoba juga untuk CJJ dari Pekan Baru ke Tanjung Pinang.
Hingga di sini sebenarnya industri media sudah terbantu. Jika keserempakan terbit antara satu
kota dengan
kota lain yang dianggap bisa memenangkan persaingan bisnis media, maka cetak jarak jauh sebenarnya sudah memberikan jawaban.
Masalahnya sekarang adalah ketika di tiap
kota, layanan yang diberikan oleh para Internet Service Provider (ISP) dengan port yang terbatas, maka saat traffic pengguna internet sedang tinggi, seperti digambarkan di atas koneksi berjalan seperti keong. Jika sudah seperti itu, maka dampaknya kembali lagi ke biaya. Koneksi yang sangat lambat mungkin oleh sementara orang bisa dimaafkan kalau cara perhitungannya tidak berdasarkankan waktu, melainkan berdasarkan kilobite data yang tertransmisikan. Tapi, lihat sajalah di warnet-warnet, begitu komputer dinyalakan tanda penghitung waktu juga mulai aktif. Artinya mau lambat atau cepat koneksinya, yang terang waktunya tetap dihitung.
Saat era duopoli (Indosat-Telkom) pertelekomunikasian nasional akan berakhir, Telkom mulai berpikir untuk memberi layanan yang dapat diandalkan oleh pengguna internet. Dengan membuka layanan premium, jadilah apa yang kemudian kita kenal dengan Telkomnet Instan. Ini dimaksudkan agar masyarakat dapat memperoleh akses internet yang cepat dalam rangka memenangkan kompetisi di era globalisasi.Kehadiran Telkomnet Instan beberapa tahun ini dirasakan cukup membantu dibanding kalau orang gunakan ISP lain. Tapi lagi-lagi nasib yang sama terjadi, dunia internet yang merasuki prilaku masyarakat urban membuat requesting ke ISP juga meningkat. Jika kanal yang tersedia misalnya 10 lalu permintaan 12, bukankah akhirnya kembali lagi ke soal pertama tadi. Seperti keong lagi.Kata kuncinya sekarang adalah: perlu layanan akses internet kecepatan tinggi, jika kita tidak mau tertinggal dalam memenangkan kompetisi. Akses internet yang lambat selain menimbulkan biaya tinggi, juga tidak membuat kompetisi antarbisnis dan antarservis jadi membaik. Sebaliknya ketika misalnya pelaku bisnis di
Indonesia harus bersaing dengan kompetiter asing dimana di negaranya akses internet bukan menjadi halangan, pebisnis kita tetap berada di belakang kompetiter.
Telkom sebagai salah satu operator telekomunikasi yang di
Indonesia paling besar memiliki infrastrukturnya juga tidak mau kalah bersaing dengan para kompetiternya. Era Telkomnet segera akan digantikan dengan era Speedy. Sebuah layanan akses supercepat di atas 128 Kbps.
 

Tidak Sekedar Cepat Layanan seperti Speedy hakikatnya adalah layanan lalulintas data, video dan suara berpita lebar (broadband). Analoginya, kalau perjalanan dari
Padang ke
Medan lewat jalan darat selama ini ditempuh dalam waktu 12 jam karena jalannya kecil. Sekarang jalan yang hanya 16 meter diperlebar menjadi 32 atau 48 bahkan 64 meter. Dengan demikian traffic menjadi lancar.
Pada lalulintas telekomunikasi analogi seperti itu sudah sejak lama diimpikan. Internet adalah kampung maya yang kaya. Tetapi belum benyak kekayaan itu diraih orang kita. Masalahnya kita masih dibenturkan pada infrastruktur yang kecil tadi. Komunikasi di jalur berpita lebar itu akan memungkinkan kita sekaligus menelepon, sekaligus nonton TV kabel, sekaligus mendengar musik online Wi-Fi gratis dari Google. Speedy kurang lebih dirancang untuk bisa seperti itu. Dan tentu saja salah satunya adalah untuk mengantisipasi ancaman VoIP (Voice over Internet Protocol) Dengan VoIP operatur bisa gulung tikar ketika lalulintas telepon internasional hanya dilakukan dengan sambungan lokal saja. Sederhananya, seorang pengguna Telkomnet di Pariaman lalu mengakses VoIP (di Indonesia ada VoIP Merdeka rancangan pakar internet Onno W Poerbo). Anda boleh ngomong dengan saudara yang ada Montreal Kanada dengan biaya lokal saja.Inilah konvergensi teknologi telekomunikasi, kian hari kian dukung mendukung. Kalangan operator telekomunikasi mau tidak mau, to be or not to be harus mengantisipasinya agar tak terlindas. VoIP hanyalah sebuah contoh dimana para insinyur mencoba meng akali tarif yang ditetapkan oleh para operator telekomunikasi dunia.Tapi VoIP harus berjalan di atas infrastruktur yang baik yang dipunyai oleh setiap operator. Infrastruktur itu dipunyai Telkom. Speedy disiapkan untuk bisa membuat pelayanan jasa telekomunikasi secara one stop service.Negara-negara maju sangat percaya infrastruktur internet berkecepatan tinggi selain bisa bikin rakyat tambah cerdas, juga membuat arus informasi makin cepat masuk dan keluarnya. Nisbit sudah mengisyaratkan bahwa pemilik informasi tercepat  akan memenangkan persaingan.Pertanyaan yang mengusik saat ini adalah apa reaksi pemerintah di daerah? Atau bagaimana seharusnya pemerintah di daerah melihat apa yang sedang berkembang di masyarakat pertelekomunikasian?Sebagaimana diisyaratkan oleh Pemerintah Presiden Yudhoyono, era birokrasi saat ini adalah era dimana harus tercipta tata pemerintahan yang baik (good governance –GG). Salah satu yang jadi indikator GG itu adalah terda patnya layanan prima dari birokrasi.Investasi yang diharapkan masuk tidak boleh dihambat oleh pelayanan yang berbelit-belit dan serba manual. One gateway service alias pelayanan satu pintu dijadikan jargon baru di mana-mana. Kalau saja semangat GG itu juga dibarengi dengan apresiasi yang baik dari birokrasi untuk menguasai TI (telematika dan informasi) maka apa yang kini berkembang -katakanlah Speedy-di masyarakat pertelekomunikasian maka layanan prima berbasis internet akan sangat membantu.Adanya infrastruktur yang bisa melayani akses internet secara cepat akan membuat layanan juga semakin ringkas dan cepat. Kalau skim perizinan bisa di gital kenapa harus dibikin manual? Akses internet sudah tidak terbatas, tetapi kenapa belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah terutama di daerah-dae rah?Kita impikan satu hari, urusan Kartu Tanda Penduduk di wilayah
Sumatra  bisa dilayani via internet. Bentuk fisik KTPnya bisa diprint di mana saja. Begitu juga dengan berbagai layanan publik yang disediakan pemerintah daerah akan terhindar dari kemungkinan adanya kolusi dan korupsi antara penyedia jasa dengan pengguna jasa.
Pada dunia perbankan nasional sebenarnya sejak satu dasawarsa lalu sudah mulai memanfaatkan cara-cara ini. Meskipun belum di era Speedy, tetapi apa yang dikenal dengan EDI (Electronic Data Interchange) sudah dimanfaatkan kalangan perbankan. Tiap hari bank-bank berikut kantor cabangnya di seluruh
Indonesia harus bikin laporan ke Bank
Indonesia. Dulu laporan itu dibuat dengan manual hingga terpaksa tiap tiga bulan. Dengan cara elektronis pelaporan itu bisa menjadi lebih praktis dan cepat. Mungkin di era beikutnya dengan memanfaatkan jaringan akses internet berpita lebar, sistem pelaporan itu juga bisa makin praktis dan makin murah biayanya.
Video conference tidak harus mahal lagi. Bukankah VC tak lebih dari pengembangan kemampuan yang ada di Yahoo Massenger saja? Kalau pada akses kecepatan lama, gambar video lawan bicara kita di Yahoo Massenger kadang pata-patah, dengan Speedy hal-hal itu bisa diatasi (mudah-mudahan)
Para wartawan televisi tidak usah repot lagi mengirimkan rekaman gambarnya sambil berkejaran dengan jadwal penerbangan. Mereka cukup simpan gambar di format video, lalu kompres dan kirim via email. Jika selama ini masalahnya adalah pada kecepatan akses, maka Speedy memungkinkan untuk itu.
Soalnya sekarang, akses cepat saja belum cukup untuk memenangkan persaingan. Tetapi bagaimana publik terutama pemerintah di daerah berapresiasi dengan teknologi informasi ini. Hingga mereka segera menangkap peluang di dalamnya. (eko yanche edrie)

Iklan

Oktober 15, 2006 - Posted by | TI

4 Komentar »

  1. bagus

    Komentar oleh handoyo | Agustus 23, 2007 | Balas

  2. trims bung Handoyo

    Komentar oleh ekopadang | Agustus 24, 2007 | Balas

  3. bener cepat saja tidak cukup…tapi tagihan telkom juga harus dipenuhi..he…3x, itulah komenku tentang tagihan saya sering bgt ngadat..maklum masih sma…namun setelah saya beralih ke sistem pembayaran di layanan prabayar satu kali dapat akses internet 3 tahun…speedy ku lancar….

    Komentar oleh om dhani | September 13, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: