WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Obituari Asbon: Memuji di Belakang


Oleh: Eko Yanche Edrie

Minangkabau bersajak? Istilah itu berkali-kali bergumam di mulut Asbon Budinan Haza tiga tahun lalu saat hendak memperingati 70 Tahun penyarir Papa Rusli Marzuki Saria. Itu tawaran tag line dari saya untuk acara ‘tribute for papa’. “Bung, itu masa lalu, sudah lewat. Sekarang negeri ini makin sepi dari sajak dan puisi. Orang lebih suka tulis SMS daripada menulis sajak, apalagi membaca dan mendeklamasikannya,” kata Asbon membantah tawaran saya. Saya memang tidak termasuk dalam daftar jagad seniman Sumatra Barat, tetapi saya suka dengan dunia seputar Taman Budaya tersebut.

Nah lagi-lagi Asbon mengingatkan saya, bahwa seniman tidak melulu harus berproduksi atau berkarya. Menghidupkan dan memperhatikan sampai membela dunia berkesenian adalah kewajiban seniman juga. Karena itu ia memilih Fachrul Rasyid HF, wartawan senior yang dalam keseharian tidak berada dalam pusaran kaum seniman untuk ikut membacakan sajak pada 70 Tahun RMS di teater utama Taman Budaya Padang itu. Menurut Asbon, Fachrul memiliki pilihan kalimat judul tiap tulisannya yang senantiasa bersajak. Dan Asbon tahu di masa mudanya, penulis buku “Refleksi Sejarah Minangkabau dari Pagaruyung Sampai Semenanjung” itu (pada puncak peringatan HPN lalu mendapat penghargaan dari PWI Pusat) adalah juga penyair. Penghargaannya kepada Chairul Harun ditunjukkan pula dengan menggelar peringatan 10 tahun Wafatnya CH di Kayutanam.

Mencari pilihan yang berbeda dan selalu ingin dicatat sebagai inovasi adalah bagian dari banyak lakon yang dijalanan Asbon Budinan Haza. Menjadi deklamator terbaik lalu menjadi dramawan bersama rombongan Teater Bumi nya Pak Wisran Hadi pernah dilaluinya. Lalu menjadi guru bahasa di SMA Pembangunan Bukittinggi. Itu menunjukkan bahwa Asbon adalah lelaki yang senantiasa gelisah tak senang diam. Meskipun untuk itu ia sering berbantahan dengan saya ketika ia saya cap sebagai orang yang tidak sabar dan tabah. Sudah jadi redaktur halaman Budaya di Harian Semangat di bawah pimpinan Makmur Hendrik, tapi ia malam memilih keluar dan mendirikan majalah anak-anak ‘Saya Anak Indonesia (SAI)’ walaupun ia tahu waktu itu (1988) menerbitkan media perlu SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) dari Deppen. Mengurus SIUPP hampir sama dengan meminta tanduk ke kuda. Tapi Asbon nekat, SAI diterbitkan dengan izin khusus, bayangkan oplagnya sampai 14.000 eksemplar. Finansial Asbon jadi sehat.

Tapi itulah Asbon, senantiasa gelisah. Begitu SAI sukses, ia memikirkan yang lain. Akhirnya SAI tertinggal dan tidak terbit lagi. H. Basril Djabar sangat paham dengan lompatan-lompatan pikiran Asbon. Maka ia tawarkan untuk mengelola Koran Masuk Sekolah (KMS); Asbon menyambutnya. KMS berubah 180 derajat penampilannya di tangan Asbon. Tapi lagi-lagi sifat gelisahnya muncul. Ia mundur setelah dua tahun. Menjelang bernagkat ke Jakarta meninggalkan KMS, Asbon mengajak main scrabble untuk terakhir kalinya di lantai I gedung Singgalang. Kami main berempat dengan Hasril Chaniago dan Gusfen Khairul. Setelah itu Asbon mengorbit di Jakarta. Ia membuka rumah makan. Lalu mendirikan Ikatan Warung Padang Indonesia (Iwapin) dan menjadi Presiden nya. Tak kurang dari 2000 warung padang yang jadi anggotanya.

Hingga tahun 2002 ia bermukim di ibukota. Komunikasi saya dan Asbon hanya berkontaktelepon saja.

Pengujung 2003 ia muncul lagi di Padang. Dan mengajak saya membentuk Perhimpunan Seniman Indonesia (Persindo) bersama Emeraldi Chatra, Free Hearty, Hermawan, Fuady Cairo, Asraferi Sabri dan beberapa nama lainnya. Saya sudah menyatakan kepada Asbon bahwa saya tidak tercatat sebagai seniman meskipun saya menulis beberapa novel di Harian Haluan dan Harian Singgalang serta sejumlah cerpen. Tapi Asbon melarang saya membantah. Sudahlah, saya digabungkan dalam Persindo itu.

Beberapa kali terdapat beda pendapat dengan para seniman dan budayawan. Saya tahu Asbon tak sepandangan dengan Darman Moenir, Wisran Hadi atau pun Haris Effendi Tahar. Tapi ketika kami berdua saja terlibat diskusi, eh, malah Asbon memuji-muji Darman dan Wisran. Jujur saja, saya sudah lama sekali tidak membaca novel ‘Bako’ tetapi rupanya Asbon mengoleksinya dan sangat hafal plotnya. “Kalau bisa makin banyak novelis yang mengangkat tema-tema etnik seperti pada ‘Bako’ itu,” kata dia memuji novel tersebut. Tentu saja sekaligus berarti memuji penulisnya. Dengan tulus dikatakannya bahwa membawa tema etnis itu bisa dilakukan penerus Darman misalnya oleh Khairul Jasmi atau Alwi Karmena.

Menurut Asbon KJ dan Alwi memiliki talenta untuk mengangkat tema-tema etnis dalam tulisannya. Lalu selepas puasa dua tahun silam ia diilhami oleh WS Rendra untuk meregenerasi dunia teater. “Tak banyak yang bisa mencetak dramawan di Padang ini kecuali Wisran Hadi,” ujarnya. Asbon lalu menyatakan dia banyak mendapat pengajaran ketika bergabung di Teater Bumi bersama Wisran.

Lelah sebenarnya kita mengikuti langkah-langkah Asbon. Bahkan kadang hal-hal yang tidak rasional dia tempuh. Misalnya ia tak peduli dengan kesehatannya ketika dalam satu malam pergantian tahun ia ingin diperingati dengan berkesenian di lereng Merapi, di nagari Lasi. Sejak itu kondisi kesehatannya agak terganggu.

Desakan-desakan dan ledakan-ledakan mimpinyalah yang membuatnya bisa lebih lama bertahan dengan jantung yang mengalami penyumbatan. Semengatnya selalu menggebu jika merencanakan sesuatu yang besar meski tidak terdukung oleh finansial sekalipun. Mimpinya yang terakhir adalah menerbitkan sebuah koran harian untuk masyarakat sosialis. Ini bagian dari pengejawantahan kekagumannya pada almarhum St. Sjahrir.

Mimpi-mimpi Asbon sering dianggap edan oleh orang lain tetapi sesungguhnya ia berangkat memulai mimpinya dari basis sosial. Sejak pukul 6.30 WIB kemarin, kita tidak akan mendengar cerita mimpinya Asbon. Setelah lebih sebulan mengalami gagal jantung dan gagal ginjal, Asbon menyerah, Yang Maha Pencipta menjemputnya.

Saya tidak percaya mulanya ketika Mohammad Ibrahim Ilyas (Bram) mengabari saya bahwa Asbon wafat. Beberapa hari lalu bahkan Gubernur Marlis Rahman bersama Kepala Biro Pemerintahan Fachril Murad masih menjenguknya di RSUP M Djamil. Kata Lona –anak Asbon—ayahnya mulai membaik.

Maka kemarin siang saya katakan kepada Bram, bahwa Asbon tidak pergi. Ia hanya pulang kembali dari satu perjalanan. Selamat Pulang Kembali, Bung!

(Dimuat pada Harian Singgalang, Edisi 13 April 2010)

Mei 13, 2010 Posted by | Budaya, Obituari | , , , | Tinggalkan komentar

Obituari Beny Aziz: Selamat Jalan Senior!


Oleh: Eko Yanche Edrie

Petang menjelang Ashar selepas Jumat lalu telepon di kantor PWI Sumbar berdering. Staf sekretariat Leni Suryani mengangkatnya. Yang menelpon adalah Beny Aziz, wartawan senior yang sedang terbaring sakit di RS Yos Surdarso.

“Caliak lah ambo,” katanya kepada Leni. Leni melapor kepada saya bahwa Da Ben –begitu kawan-kawan menyapanya—minta dibezoek ke rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia sakit tapi belum satupun rekan wartawan menjenguknya. Saya bilang pada Leni, ya, nanti kita atur kunjungan ke RSYS.

Saya tidak tahu apakah benar belum ada wartawan membesoek Da Ben. Tapi sudahlah, yang jelas kemudian pengurus PWI bersama IKWI memutuskan akan menjenguk Da Ben pada hari Minggu selepas menghadiri acara keluarga di rumah Ketua PWI Basril Basyar.

Tapi niat menjenguk itu tidak kesampaian, pulang dari Bandar Buat, hujan amat lebat. Saya, Zulnadi, Naswardi bersama empat pengurus IKWI memutuskan menunda bezoek jadi hari Senin (kemarin) dengan demikian keranjang buah yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu IKWI terpaksa dibawa pulang saja oleh Ny. Naswardi.

Pagi kemarin, semua yang sudah berencana membezoek Da Ben, sama-sama menyampaikan penyesalan mendalam. Langit pagi yang mendung terasa makin mendung tatkala SMS beranting beredar, berita menggelegar kami terima: Da Ben telah berpulang untuk selamanya. Innalillahi wa innailaihi raajiun.

Beny Aziz, sepanjang 30 tahun terakhir di jagad wartawan Sumatera Barat namanya bukan nama yang kecil. Pergaulannya yang luas membuat hampir tiap pejabat dan tokoh masyarakat mengenalnya.

Ketika saya masih SMP di tahun 76an, asrama polisi di Batusangkar tempat saya tinggal buncah. Seorang anggota Polantas yang biasanya bertugas di Padang Panjang –sebut saja Sersan X—tiba-tiba ditarik ke Batusangkar dan tidak lagi jadi Polantas. Bisik-bisik beredar, polisi itu ketahuan menerima uang dari sopir bus dan ‘tertangkap basah’ oleh kamera wartawan Haluan. Nama wartawan Haluan itu disebut-sebut Beny Aziz. “Kabanyo Beny Aziz bana nan mamoto,” begitu bisik-bisik saya dengar.

Ketika mulai menjadi wartawan tahun 1983 baru saya mengenal lelaki bernama Beny Aziz itu. Kemana-mana suka pakai baju dan celana dengan dasar kepar berwarna krem. Biasanya kemejanya tidak dimasukkan ke celana tapi dibiarkan lepas begitu saja. “Krem warna kesukaan Bung Karno,” kata Da Ben satu ketika kala saya bertanya kepadanya perihal warna itu.

Awalnya saya anggap Beny adalah wartawan senior yang sombong. Tapi ketika saya diperkenalkan oleh Pak Muchlis Sani saat menjadi Kepala DLLAJR Padang Panjang di kantornya, ternyata terkaan saya meleset. Ia memberi saya sebuah kalimat yang kalau memberi ceramah jurnalistik selalu saya ulang: “Berita itu adalah apa yang kita lihat dan kita dengar”. Itu rumusan universal. Tapi pertama kali kalimat itu saya dengar dari Da Ben. Sejak itu kami sering berinteraksi.

Saat saya dipindah ke Solok tahun 1985 kami acap bersua. Da Ben adalah wartawan Haluan dengan mobilitas tinggi. Tiap lima belas hari ia menelusuri pelosok-pelosok mulai dari Solok, Alahan Panjang, Muaralabuh lalu keluar di Pulau Punjung kembali ke Sijunjung, Sawahlunto dan balik ke Padang. Ada saja informasi yang diubernya. Dan itu harus sampai dapat. Satu ketika saya diajak naik truk mulai dari Sungai Langsat Sijunjung sampai ke Bakauheuni di Provinsi Lampung hanya untuk menghitung berapa jumlah pungutan liar sepanjang jalan lintas Sumatra itu. Saat itu sedang gencar-gencarnya dilakukan operasi tertib oleh Kopkamtib di bawah komando Laksamana Soedomo. Itu perjalanan yang tak terlupakan. Saya mengagumi Da Ben yang sepanjang jalan itu ternyata banyak kawannya.

Kemarin saya terpurangah menerima kabar bahwa Da Ben telah pergi. Sekali lagi saya menyesali kenapa harus membatalkan kunjungan bezoek. Tapi itu Allah yang punya kuasa Da Ben. Maafkan kami, dan Selamat Jalan Senior! (dimuat pada Harian Haluan edisi 6 April 2010)

Mei 13, 2010 Posted by | Obituari, pers/media, tokoh | , , | Tinggalkan komentar

Mak Datuk Pemain Basket


OBITUARI

(Wartawan senior HKR Dt. P.Simulie)

 

Saya diceritakan oleh Mak Datuk Simulie (HKR Dt. P.Simulie) tentang anak gadis sekarang yang kalau pakai celana panjang, bagian belakangnya biasa dibiarkan terbuka. Sehingga ‘sarawa kotok’nya terlihat. Kata Mak Datuk kepada saya: “Cubolah tulih tu, itu namonyo dek cando mah. Kok lai barasiah lo nan dipacaliakan tu lumayanlah, tapi kok kumuah?”

Selang sebulan setelah Mak Datuk berkeluh kesah tentang ‘sarawa kotok’ tu, sayapun menulisnya dalam kolom ini. Saya tulis dengan judul ‘Mak Datuk, nih CD (celana dalam) gue’. Saya ungkapkan bahwa anak gadis sekarang seakan hendak ‘memanggakkan’ celana dalamnya kepada orang-orang tua. Seakan ia menantang Mak Datuk: “Mak Datuk, Nih CD Gue’

Besoknya Mak Datuk menelepon saya sambil ketawa yang cukup lama. Saya kira sudah lama Mak Datuk tidak ketawa lepas. “Kamanakan ado-ado se mah,” ujarnya di balik telepon. Lalu seperti biasa kami saling melempar joke.

Mak Datuk amat rapi menyimpan joke-joke yang kadang tak terduga. Dari yang serius (eh mana ada joke yang serius ya?) sampai yang kurang serius.  Tapi umumnya ia ingin mengajarkan kepada generasi dibawahnya  bahwa di balik joke tersimpan pesan mendalam.

Saat Mak Datuk dilantik lagi (setelah ‘nganggur’ karena tak cukup suara) jadi anggota DPRD untuk kedua kalinya, ia bilang kepada saya tentang sistem sepakbola. Menurutnya aturan yang terbaik itu ada di bola basket, bukan di sepakbola. Saya bingung, kemana tujuan pembicaraan Mak Datuk.

“Saya sekarang pemain basket, karena pemain basket yang sudah keluar boleh main kembali. Beda dengan sepakbola, setelah keluar, tidak boleh main lagi,” katanya. Mak Datuk seakan yakin bahwa saya bisa menangkap semua teka-tekinya. Padahal, jujur saja waktu itu saya masih kebingungan. Tapi saya icak-icak mengerti saja. Barulah setelah dua hari kemudian saya menyadari apa hubungan pemain basket itu dengan dirinya. Ia menganggap dirinya pemain basket ketika dilantik kembali jadi anggota DPRD.

Begitulah Mak Datuk. Kata Hasril Chaniago, ada dua yang jadi ensiklopedi berjalan dalam jagad wartawan Sumbar. Yang pertama adalah Chairul Harun dan yang kedua adalah HKR Dt. P.Simulie. Sepanjang hidupnya Mak Datuk memang mendedikasikan hadupnya untuk dunia jurnalis. Ia memberikan pembelajaran kepada yang muda-muda dengan cara ninik mamak. Pengajaran itu baru terasa setelah beberapa waktu.

Dalam banyak hal, memori Mak Datuk memang luar biasa. Ia mampu mengingat hal-hal kecil yang kadang jarang diingat orang. Suatu hari ia mengingatkan saya bahwa proklamasi kemerdekaan itu bukan dikumandangkan pada pukul 10.00 WIB, melainkan pukul 10.00 WD alias Waktoe Djawa. Karena tahun 1945 wilayah waktu belum dibagi atas WIB, WITA dan WIT. Di Padang weaktu itu masih dikenal Waktoe Soematra.

Sejak kemarin, dengan kerongkongan tercekat saya berbisik: “Kepada siapa lagi saya hendak bertanya Mak Datuk?” Beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa tentang. Ia seperti sepakat bahwa wartawan harus belajar sendiri seperti dirinya dan para wartawan senior lainnya.

Mak Datuk, izinkan saya sebut nama lengkapmu: Haji Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, kami kehilanganmu. Kami berharap namamu akan dikenang lebih panjang dari usiamu. Beristirahatlah dengan tenang!(eko yanche edrie)

Oktober 26, 2008 Posted by | Obituari | 3 Komentar

Obituari: Saidal Bahauddin, Dokter Politik


Oleh Eko Yanche Edrie

 

Sebelum bersua dengan dr. Saidal Bahauddin, saya hanya membayangkan bahwa ia seorang pria perokok dan suka mencari-cari sikap ‘asal lain’. Masalahnya banyak yang menceritakan kepada saya bahwa seorang Saidal adalah tipikal pembangkang. Di zaman Soekarno ia melawan Soekarno dan mendukung Soeharto. Lalu di zaman Soeharto ia jadi pembangkang Soeharto pula. Apa yang dia cari?

“Hidup tak sekedar mencari makan, tapi harus berarti bagi orang banyak,” kata Bang Saidal –begitu dia disapa oleh hampir semua orang yang mengenalnya—ketika bertahun setelah perkenalan saya yang pertama dengannya. Kata Bang Saidal itu kalimat dari Encik Rahmah El Yunusiah yang ia panggil dengan sebutan Etek Rahmah saat mereka berada di hutan-hutan sebelah timur Tanah Datar di tahun-tahun pergolakan PRRI.

Saya diperkenalkan dengan Bang Saidal di tahun 1991 oleh Hasril Chaniago dan Adi Bermasa. Ketika itu kami bertandang ke kantor Yarsi di Sawahan Padang, ketika itu ada juga H. Mas’oed Abidin dan Bang Masfar Rasyid.

Setelah itu setiap kali ada peringatan Supersemar, Tritura, peristiwa gugurnya pahlawan Ampera Ahmad Karim di Bukittinggi, 1 Oktober, Sumpah Pemuda, saya senantiasa tak melupakan mencantumkan nama Ketua Presedium KAMI itu sebagai salah satu narasumber saat merencana liputan khusus. Ia dengan penuh semangat bicara tentang antikomunis, kebebasan mimbar, otonomi daerah, dan semangat kritis anak muda.

Satu ketika saya katakan bahwa dia adalah dokter politik. Maklum, brevet dokter yang disandangnya amat jarang ‘ditambangkan’. Beda dengan kawan-kawannya sesama dokter yang sudah kaya raya dan nyaris tak punya waktu untuk bersosialisasi. Bang Saidal tetap bersahaja. Aktifitas nonmedis lebih banyak menyita waktunya. Ni Cun, istrinya yang juga dokter agaknya memahami jiwa Bang Saidal. Maka pasangan dokter itu seperti sepakat untuk memberi kesempatan kepada dokter-dokter lain saja untuk berpraktek.

Selepas pergolakan PRRI, dimana ia ikut masuk hutan dan menjadi salah seorang perwira Kompi Pelajar ia melanjutkan studi lagi. Namanya saja orang ‘kalah’ para pentolan PRRI sering dianggap sepele saja oleh kaum ‘republiken’. Saidal tak seperti itu. Sejarah mencatatnya bahwa seorang Saidal mewarnai banyak aktifitas aksi mahasiswa selama hari-hari kritis menjelang kejatuhan rezim Soekarno yang di tahun 1958 juga dia tentang.

Banyak tokoh aksi 1966 yang menyeruak ke puncak kekuasaan bergelimang harta. Tapi Saidal tetap Saidal.  Bahkan mengurus kenaikan pangkatnya di Universitas Andalas pun tak diperhatikannya benar. Kawan-kawan seangkatannya sudah jadi orang-orang penting di Universitas itu,  Bang Saidal tetap juga seorang dosen biasa yang disapa ‘Abang’ oleh para mahasiswanya.

Terus terang, saya berutang kepadanya. Ketika kepada saya dan Fachrul Rasyid ditawarkan menulis biografinya, banyak saja kendala. Untunglah adik-adik di HMI meneruskan penulisan buku itu. Ketika berbicang dengannya soal buku itu di rumahnya, saya terharu. Tak ada apa-apa di rumahnya, tak banyak perabotan mahal yang menunjukkan bahwa dia seorang tokoh besar Sumatra Barat. Entah berlebihan, kalau saya tiba-tiba teringat Hatta, Natsir dua tokoh yang sangat diidolakan Bang Saidal soal kesederhanaan hidup.

Kemarin, saya terpurangah ketika mendengar kabar Bang Saidal sudah mendahului kita untuk selamanya. Ia pergi dengan kesederhanaan seorang dokter dan kebesaran seorang pemimpin. Selamat jalan Bang Saidal!

Oktober 10, 2008 Posted by | Obituari | Tinggalkan komentar