WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Obituari Beny Aziz: Selamat Jalan Senior!


Oleh: Eko Yanche Edrie

Petang menjelang Ashar selepas Jumat lalu telepon di kantor PWI Sumbar berdering. Staf sekretariat Leni Suryani mengangkatnya. Yang menelpon adalah Beny Aziz, wartawan senior yang sedang terbaring sakit di RS Yos Surdarso.

“Caliak lah ambo,” katanya kepada Leni. Leni melapor kepada saya bahwa Da Ben –begitu kawan-kawan menyapanya—minta dibezoek ke rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia sakit tapi belum satupun rekan wartawan menjenguknya. Saya bilang pada Leni, ya, nanti kita atur kunjungan ke RSYS.

Saya tidak tahu apakah benar belum ada wartawan membesoek Da Ben. Tapi sudahlah, yang jelas kemudian pengurus PWI bersama IKWI memutuskan akan menjenguk Da Ben pada hari Minggu selepas menghadiri acara keluarga di rumah Ketua PWI Basril Basyar.

Tapi niat menjenguk itu tidak kesampaian, pulang dari Bandar Buat, hujan amat lebat. Saya, Zulnadi, Naswardi bersama empat pengurus IKWI memutuskan menunda bezoek jadi hari Senin (kemarin) dengan demikian keranjang buah yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu IKWI terpaksa dibawa pulang saja oleh Ny. Naswardi.

Pagi kemarin, semua yang sudah berencana membezoek Da Ben, sama-sama menyampaikan penyesalan mendalam. Langit pagi yang mendung terasa makin mendung tatkala SMS beranting beredar, berita menggelegar kami terima: Da Ben telah berpulang untuk selamanya. Innalillahi wa innailaihi raajiun.

Beny Aziz, sepanjang 30 tahun terakhir di jagad wartawan Sumatera Barat namanya bukan nama yang kecil. Pergaulannya yang luas membuat hampir tiap pejabat dan tokoh masyarakat mengenalnya.

Ketika saya masih SMP di tahun 76an, asrama polisi di Batusangkar tempat saya tinggal buncah. Seorang anggota Polantas yang biasanya bertugas di Padang Panjang –sebut saja Sersan X—tiba-tiba ditarik ke Batusangkar dan tidak lagi jadi Polantas. Bisik-bisik beredar, polisi itu ketahuan menerima uang dari sopir bus dan ‘tertangkap basah’ oleh kamera wartawan Haluan. Nama wartawan Haluan itu disebut-sebut Beny Aziz. “Kabanyo Beny Aziz bana nan mamoto,” begitu bisik-bisik saya dengar.

Ketika mulai menjadi wartawan tahun 1983 baru saya mengenal lelaki bernama Beny Aziz itu. Kemana-mana suka pakai baju dan celana dengan dasar kepar berwarna krem. Biasanya kemejanya tidak dimasukkan ke celana tapi dibiarkan lepas begitu saja. “Krem warna kesukaan Bung Karno,” kata Da Ben satu ketika kala saya bertanya kepadanya perihal warna itu.

Awalnya saya anggap Beny adalah wartawan senior yang sombong. Tapi ketika saya diperkenalkan oleh Pak Muchlis Sani saat menjadi Kepala DLLAJR Padang Panjang di kantornya, ternyata terkaan saya meleset. Ia memberi saya sebuah kalimat yang kalau memberi ceramah jurnalistik selalu saya ulang: “Berita itu adalah apa yang kita lihat dan kita dengar”. Itu rumusan universal. Tapi pertama kali kalimat itu saya dengar dari Da Ben. Sejak itu kami sering berinteraksi.

Saat saya dipindah ke Solok tahun 1985 kami acap bersua. Da Ben adalah wartawan Haluan dengan mobilitas tinggi. Tiap lima belas hari ia menelusuri pelosok-pelosok mulai dari Solok, Alahan Panjang, Muaralabuh lalu keluar di Pulau Punjung kembali ke Sijunjung, Sawahlunto dan balik ke Padang. Ada saja informasi yang diubernya. Dan itu harus sampai dapat. Satu ketika saya diajak naik truk mulai dari Sungai Langsat Sijunjung sampai ke Bakauheuni di Provinsi Lampung hanya untuk menghitung berapa jumlah pungutan liar sepanjang jalan lintas Sumatra itu. Saat itu sedang gencar-gencarnya dilakukan operasi tertib oleh Kopkamtib di bawah komando Laksamana Soedomo. Itu perjalanan yang tak terlupakan. Saya mengagumi Da Ben yang sepanjang jalan itu ternyata banyak kawannya.

Kemarin saya terpurangah menerima kabar bahwa Da Ben telah pergi. Sekali lagi saya menyesali kenapa harus membatalkan kunjungan bezoek. Tapi itu Allah yang punya kuasa Da Ben. Maafkan kami, dan Selamat Jalan Senior! (dimuat pada Harian Haluan edisi 6 April 2010)

Mei 13, 2010 Posted by | Obituari, pers/media, tokoh | , , | Tinggalkan komentar