WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Lima Pasangan Hebat di Bukittinggi


Oleh: Eko Yanche Edrie

Riuh rendah suara pendukung para kandidat Walikota Bukittinggi seperti membikin ramai kota wisata itu. Kota jadi semarak, penuh dengan baliho dan spanduk. Tak hanya baliho dan spanduk kandidat Walikota dan Wakil Walikota, tetapi juga baliho dan spanduk para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur. Kota berpenduduk hampir 100 ribu jiwa itu tahun ini Insya Allah akan berwalikota dan berwakilwalikota baru yang dipilih serentak se Sumatera Barat pada 30 Juni mendatang. Berdasarkan yang mendaftar ke KPU Kota Bukittinggi terdapat lima pasangan Kepala Daerah yang mendaftar untuk dipilih publik dua bulan mendatang itu.

Ke lima pasangan itu adalah H. Ismet Amzis, SH – dr. H. Harma Zaldi, SpB. FinaCs (Partai Demokrat), H. Zulkirwan Rifai (H. Buyung) – H. Baharyadi, SH (PAN, PKS, Hanura dan PKPI), Drs. Nursyamsi Nurlan – Dr. Yalvema Miaz , MA (PPP dan PBB), H. M. Ramlan Nurmatias, SH Dt. Nan Basa – Drs. H. Azwar Risman Taher Dt. Rajo Nan Sati (Golkar dan Gerindra) dan Drs. Darlis Ilyas – Sobirin Rahmat (Koalisi Forlip : PKPB, PPPI, PPRN, PPD, PDS, PDIP, PBR, PSI, PKB, PNI-M, PDP, Pakar Pangan, PMB, PDKB, PPDI, PDK dan Republikan).

Kelima pasangan itu akan berjuang meyakinkan penduduk kota yang akan memilih mereka. Saat ini berdasarkan data yang dimiliki KPU Bukittinggi, tercatat 69.757 orang pemilih dalam DCS (Daftar Pemilih Sementara).  Para pemilih itu akan memilih di 176 TPS, di bawah pengaturan 24 PPS dan 3 PPK.

Menilik dari calon-calon yang sudah mendaftar ternyata bukan tokoh sembarangan. Ismet Amzis adalah Walikota Incumbent yang selama empat tahun terakhir menjadi Wakil Walikota ketika Walikotanya Jufri. H. Zulkirwan Rifai aatau yang dikenal dengan panggilan akrab Haji Buyung adalah tokoh yang pada Pilkada lima tahun lalu menjadi saiangan ketat Jufri-Ismet. Kali ini tentu saja ia akan melakukan berusaha keras membayar kekalahannya lima tahun silam. Bersama Buyung ada Baharyadi birokrat yang selama ini dikenal tak banyak ‘ulah’ di Balaikota Bukittinggi.

Kemudian Nursyamsi Nurlan adalah politisi senior yang lama berkecimpung di Senayan. Ia bahkan didampingi Calon Wakil Walikota, Yalvema Miaz, wartawan senior yang terakhir menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi. Yalvema tentu saja akan menjadi ‘vote-gater’ bagi pasangan ini mengingat ia cukup dikenal luas di Bukittinggi.

Yang juga tak kalah berpeluang adalah Ramlan Nurmatias,  mantan Ketua KNPI dan KPU Bukittinggi. Percaturan politik di kota Bukittinggi bagi pengusaha optik ini sudah tidak asing. Ia amat hafal sudut-sudut kota yang akan mendukung suara untuknya bersama calon wakilnya Azwar Risman Taher, mantan birokrat dari Agam.

Pasangan berikut adalah Darlis Ilyas – Sobirin Rahmat. Darlis, tokoh yang membikin geger jagad birokrasi Sumbar beberapa tahun yang silam saat ia dimakzulkan oleh DPRD Payakumbuh saat menjadi Walikota di kota Galamai itu. Setelah sempat merapat ke Pemprov Riau, Darlis balik ke Bukittinggi mencoba peruntungan lagi untuk jadi Walikota. Ia mengandeng Sobirin Rahmat, peniaga garmen yang dikenal sukses di Bukittinggi.

Menilik dari kelima calon pasangan ini, sama-sama memiliki kekuatan finansial dan latar belakang kepemerintahan yang memadai. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengatakan mana yang lebih hebat dari mereka itu.

Yang jadi soal sebenarnya bukan memastikan mana yang lebih hebat kemampuannya dari kelima calon ini melainkan mana yang lebih bisa menjawab persoalan-persoalan Bukittinggi masa depan.

Sebagai sebuah kota metropolis, Bukittinggi sudah bisa dipastikan sebagai kota kedua setelah Padang. Tetapi sebagai sebuah pusat perputaran uang, Bukittinggi agaknya jauh lebih penting dari Padang. Geliat ekonomi kota itu benar-benar bisa dilihat secara kasat mata. Begitu kita memasuki gerbang kota, sudah terasa adanya aroma uang yang berputar. Tiap rumah pasti memiliki usaha, kalau tidak industri makanan tentu konveksi. Dari segi kemakmuran, Bukittinggi jauh lebih meyakinkan dari Padang.

Kota yang terletak antara 100, 21° – 100, 25° Bujur Timur dan 00,17° – 00,19° lintang selatan dengan ketinggian 909 -941 mdpl beruhu antara 16,1 ° – 24,9° Celcius juga merupakan kota tujuan wisata utama di Sumatra. Terlalu banyak daya tariknya, sehingga sulit mengatakan bahwa turis akan lebih banyak ke Padang daripada ke Bukittinggi.

Dengan demikian para calon Walikota di Bukittinggi hampir bisa dipastikan tinggal berkreasi saja membuat pertumbuhan lebih tinggi lagi. Usaha keras membangun sentra-sentra penghasil uang yang baru mungkin relatif tidak akan terlalu menekan para pemenang Pilkada ini kelak. Walikota pemenang tinggal hanya memperbaiki apa-apa yang sudah ada sekarang dan tidak boleh lari dari core kota itu sebagai kota wisata.

Pelayanan umum terutama untuk para pengunjung menjadi mutlak jadi konsentrasi para pemenang Pilkada. Lapangan parkir yang sulit,  jalanan yang sempit, sumber air bersih yang minim, penataan lanskap kota adalah masalah-masalah Bukittinggi sejak beberapa periode Walikota. Walikota yang sekarang (Jufri-Ismet) juga pernah menjanjikan akan menata kota ini dengan baik dalam visi misinya lima tahun silam.

Keterbatasan lahan dan terlalu terkonsentrasinya perdagangan di Pasar Atas membuat arus kendaraan semuanya menuju ke Pasar Atas yang akhirnya membuat kemacetan dan memusingkan pengunjung. Kalau Bukittinggi akan tetap dikunjungi wisatawan, ini memerlukan perubahan cepat. Kesejalanan program pariwisata antara Pemprov dan Kota Bukittinggi perlu diharmonisasi. Ada kecenderungan untuk mengatakan bahwa dengan dan tanpa promosi, Bukititnggi akan tetap dikunjungi. Ini sesungguhnya pendapat keliru. Keserempakan promosi antara Bukittinggi dengan Provinsi belum terlihat.

Hal lain yang juga perlu kita sangkutkan harapan kepada Walikota pemenang adalah Kebun Binatang (Taman Margasatwa) Bukittinggi. Dulu sudah pernah muncul gagasan untuk memprivatisasi kebun binatang itu, tetapi belakangan tenggelam lagi. Pengelolaan kebun binatang itu saat ini masih berada di bawah Pemko Bukittinggi. Mungkin dengan dilepas ke swasta dalam sebuah kontrak kerjasama, pengelolaannya jadi lebih efisien dan mampu bersaing dengan kebun binatang lain di Asean.

Kita rasa kelima ‘jagoan’ ini sama-sama memiliki visi untuk lebih memajukan industri wisata di kota Bukittinggi lima tahun ke depan. Kelimanya sama berpeluang, tinggal bagaimana mereka meyakinkan penduduk kota untuk memilih mereka.***(Dimuat pada Tabloid DetikNews edisi 26 April 2010)

Mei 13, 2010 Posted by | isu lokal, politik | , , | 5 Komentar