WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Anak Muda Panjang itu Dinamis


Oleh: Eko Yanche Edrie

Hanya mengelola dua kecamatan dengan 16 kelurahan? Untuk itu ada Walikota dan 20 anggota DPRD?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang diajukan beberapa pengunjung atau tamu-tamu Padang Panjang pada masa orde baru. Artinya, kedudukan Walikota Padang Panjang setara dengan kedudukan Walikota Bandung atau Bupati Padang Pariaman yang wilayahnya ketika itu mencapai Mentawai dan beberapa mil dari lepas pantai terluar.

Saya teringat Walikota Asril Saman yang selalu tangkas menjawab bahwa mengurus Padang Panjang gampang-gampang sulit. “Jadi tak bisa hanya dilihat dari perspektif luas wilayah saja,” kata Asril Saman 20 tahun silam.

Asril memang tidak berbohong. Karena faktanya kota kecil yang dibentuk tahun 1956 ini memiliki karakteristik tersendiri. Dengan jumlah penduduk tak sampai 40 ribu pada tahun 80an, justru dari struktur geopolitisnya Padang Panjang seolah memiliki penduduk 80ribu.

Kota yang dingin secara klimatologis ini, justru hangat dan dinamis dalam hal sosial, budaya dan politik. Keunikan ini dicerminkan misalnya dari besarnya peranan pemimpin informal dalam menggerakkan masyarakat. Peranan tokoh informal masih terasa hingga sekarang ketika pengambilan keputusan di tingkat formal (Pemko) selalu tak bisa dimulai tanpa mendapatkan masukan  ‘sato sakaki’ dari tokoh-tokoh informal. Di tiap kelurahan ada saja tokoh seperti itu.

Dan rasa kepadangpanjangan jauh lebih tinggi dibanding rasa berkelurahan itu. Ini agak beda dengan di kota lain. Saya masih ingat pada tahun-tahun permulaan orde baru, semangat komunal orang-orang muda Padang Panjang jarang yang tidak membawa nama ‘padang panjang’ dalam sosialisasinya.

Pernah dengan nama perkumpulan FBC? Itu adalah perkumpulan anak muda di zaman mendiang Chairul Babak (Chairul St.Berbangso). itu adalah perkumpulan anak muda yang hobi bermain sepakbola. Klub FBC pernah menjadi salah satu klub anggota PSPP. Tapi anggotanya tidak terdiri dari anak muda dari satu komplek atau satu wilayah kelurahan saja melainkan berasal dari segenap penjuru kota.

Pada masa ‘kelam’ anak muda Padang Panjang juga sudah jauh lebih terkenal dibanding kota-kota lain di Sumatera Barat. Kalau Anda yang sudah remaja pada tahun akhir 60an, pasti kenal dengan yang namanya ‘Bagados’ nama itu bahkan sangat dikenal jauh ke luar kota ini.

Pada era itu, musik rock dianggap sebagai representasi modernisme. Di Kota Serambi Mekah tersebut ketika itu musik rock amat dekat dengan kehidupan remajanya. Bahkan kemudian ketika musik-musik dangdut mulai masuk pasar, di Padang Panjang hampir tak terdengar. Barulah setelah masa ordebaru, musik-musik dangdut itu bisa ‘menembus’ Padang Panjang.

Kemudian belakangan ketika di kota lain ditumbuhkan secara top down oleh pemerintah apa yang dikenal dengan PKK dan Karang Taruna, di Padang Panjang hal seperti itu justru masih belum bisa diterima mulus. Anak-anak muda di tahun 80an lebih suka menyebut diri mereka dengan nama-nama unik untuk perkumpulannya. Sebut saja kelompok yang bernama Ethernal. Ini adalah akronim untuk kata-kata: ‘Elit dan Terkenal’. Dalam kelompok ini konon berkumpul kalangan muda elit Padang Panjang yang kadang menimbulkan bermacam-macam penafsiran. Bahkan kemudian kelompok yang berseberangan dengan anggota perkumpulan Ethernal membentuk pula perkumpulan sendiri, namanya Akutarol. Tahu apa kepanjangan Akutarol? Sedeharna saja: ‘anak kuncang tapi royal’. Di situ berhimpun para muda yang tidak masuk kategori ‘the haves’. Tak jarang kedua kelompok ini terlibat bentrok.

Di masa itu juga muncul kelompok lain yakni Venus, Black Ground, Paus, Gumala dan beberapa lainnya. Ini adalah mereka yang melakukan pendekatan wilayah tempat tinggal. Venus ada di sekitar Balai-balai dan Pasar, Black Ground adalah nama lain dari Tanah Hitam, Paus untuk Pasar Usang, Gumala untuk Guguk Malintang.

Generasi berikutnya muncul. Tahun 1982 lahirlah Gemaest. Ini adalah kelompok anak sekolahan yang sudah bosan dengan gaya lama itu. Kelompok ini mulai lebih terarah dan terfokus. Tidak sekedar ngumpul untuk raun-raun malam Minggu ke Ombilin atau mendaki gunung, melainkan mulai melahirkan kreatifitas. Frame yang mereka kibarkan adalah sport, art and social. Kelompok ini mulai sering terlihat menggelar panggung kesenian, festival pop song, vokal group sampai pertandingan basket.

Zaman Gemaest itu, zona berkumpul beralih dari pasar ke Radio Bahana (d/h El Em Bahana). Kru Radio Bahana dikenal sebagai orang-orang yang suka menyalurkan berbagai kreatifitas anak muda Padang Panjang. Semua penggemar El Em Bahana disebut dengan panggilan ‘Orang Muda Dua Sebelas’. Kata ‘dua sebelas’ itu adalah posisi gelombang AM yang waktu itu dipakai Bahana, 211 Meter.

Tapi para penggerak kreasi di Bahan tidak mau membentuk satu wadah tunggal bagi perkumpulan anak-anak muda. “Kita mau semua kreatiditas tumbuh dan setiap kelompok berhak tampil membentuk komunitasnya sendiri-sendiri asal tetap membawa nama Padang Panjang, jadi tidak berdasarkan kelurahan,” kata Yul Sikumbang yang pernah malang melintang menjadi Station Manager di Bahana.

Tak heran kemudian lahir pula nama-nama aneh seperti ‘Kejam-Ya’. Ini adalah singkatan dari Kelompok Jalan Muhammad Yamin’ tempat Radio Bahan berposisi. Kelompok ini lebih banyak terlibat dalam kepencitaan alam. Mereka pernah menggelar Temu Cinta Alam se Sumatera Barat yang dipusatkan di Bancah Laweh.

Setelah itu muncul kelompok penggemar Breakdance (tarian patah-patah seperti yang dihadirkan oleh grup musik Electric Bagoolo dan sejenisnya) Flipper’s Sport & Art. Ini adalah organisasi anak muda yang lebih teratur dibanding pendahulunya. Mereka bahkan sudah melengkapi diri dengan AD & ART. Tiap anggota diberikan ID Card. Sejumlah pertunjukan musik untuk amal dan festival mereka gelar. Kehidupan berkesenian terasa lebih semarak di masa Flippers ini (sekitar 1984-1988).

Beberapa anak muda tanggung yang ingin masuk Flippers tapi tak tertampung akhirnya membentuk pula kelompoknya dengan nama yang juga tak kalah seru: The Under Cover. Markas mereka di depan Swing Foto Studio (Jl Sudirman). Tapi tak lama pula umurnya. Mereka tidak bubar atau membubarkan diri, tapi karena sudah tidak ada aktifitas, akhirnya beberapa pentolannya membentuk kelompok berhimpun yang baru. Kali ini namanya juga aneh: Fantastic Doll. Era main sepeda motor ngebut dimulai oleh kelompok ini. Kebisingan di jalan-jalan karena mulai menjamurnya sepeda motor tak terhidarkan.

Dari kelompok demi kelompok yang senantiasa punya sejarahnya sendiri-sendiri di Padang Panjang kelihatan betapa tidak menonjolnya kelompok-kelompok dengan pendekatan kewilayahan atau kelurahan.

Dapat dikatakan bahwa anak muda Padang Panjang lebih suka menggerek ‘bendera Padang Panjang’ dibanding ‘bendera kelurahannya’. Mereka lebih bangga disebut anak Padang Panjang dibanding anak kelurahan tertentu. Beda dengan beberapa kota di Sumbar, ‘Karang Taruna Kelurahan Anu’ bisa sangat menonjol, di Padang Panjang organisasi-organisasi anak muda kategori ‘mainstream’ paling-paling FKPPI, PPM, AMPI atau KNPI. Empat nama itu memang ikut mewarnai dinamika anak muda di Padang Panjang sejak zaman orde baru bahkan sampai sekarang.

Interaksi dengan kelompok-kelompok yang sama ‘anehnya’ dengan kota-kota tetangga juga sering dilakukan, kalau tidak bertanding basket tentu lomba grup vokal. Nama yang juga unik datang dari Bukittinggi seperti ‘Phochenk’ (rupanya akronim dari Pohon Cengkeh), Balaba (Belakang Balok). Atau ada nama Horizon dari Payakumbuh, atau nama terkenal dari Padang seperti DKRP (Depot Kreatifitas Remaja Padang).

Keunikan seperti itulah yang tak dapat tidak harus diakui sebagai salah satu dinamika anak muda Padang Panjang dalam hal berhimpun dan berorganisasi. Pilihan nama yang unik-unik merupakan pengejawantahan dari cepatnya anak muda Padang Panjang masuk dalam arus global.

Kenapa?

Tidak ada yang perlu diherankan. Karena secara geografis kota ini memang berada di persimpangan. Pada masa penjajahan justru ia sudah menjadi metropolitan juga di Sumatera Tengah. Di situ kereta api bersimpang tiga dan menjadi sumbu perputaran budaya antardaerah. Bahasa sederhananya: kaum muda Padang Panjang memiliki potensi besar mengubah kotanya dan sekaligus berpotensi besar membangun kotanya. Jika selama kurun waktu 40 tahun terakhir Pemko Padang Panjang memberi ruang yang besar bagi penampungan kegiatan anak muda, maka pertanyaannya: “Sekarang apa yang diberikan Pemko untuk anak mudanya?” (dimuat pada tabloid CARANO SERAMBI edisi Desember 2009)

Iklan

Desember 26, 2009 - Posted by | Budaya | , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: