WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Menjual Romantisme ‘Mak Itam’


Sebuah upaya yang sudah cukup lama diidamkan oleh Masyarakat Pencinta Kereta Api Sumatra Barat (MPKAS) untuk mendatangkan kembali lokomotif uap ke Sumbar akhirnya kesampaian jua. Sejak akhir 2008 loko yang akrab dipanggil Mak Itam itu sudah on the track di stasiun Sawahlunto.

Jika direalisasikan, maka kesampaian pula hasrat Nofrins dan Pak Saafruddin Bahar dari MKAS untuk menjadikan Mak Itam sebagai pendukung industri wisata daerah ini. Pihak PT Kereta Api bersedia mengoperasikan kembali kerta api khusus untuk wisata.

Naik kereta api bagi turis dari Jawa tentu tidak hal aneh, begitu juga dengan turis luar negeri. Tapi dengan Mak Itam tentu lain lagi ceritanya. Ada yang eksotik dari kereta api uap itu. Suara suitan peluitnya dan desah ‘nafas’nya saat mendaki tak akan pernah didengar di manapun kecuali hanya di kereta itu pula.

Selama delapan dasawarsa Mak Itam akrab dengan masyarakat Sumatra Barat khususnya yang dilewati jalur kereta api. Dari Padang ke Pariaman dan Naras, atau ke stasiun gadang di Padang Panjang. Kalau mendaki maka Mak Itam menyusuri lembah Merapi Singgalang (Lemersing) dan bisa terus ke Piladang dan Payakumbuh. Sampai di situ mentok. Ke hilir kereta Solok. Dari Padang Panjang ia menderu menuruni Batipuh dan menjalar sepanjang pantai timur Singkarak lepas ke Solok dan Sawahlunto.

Mak Itam adalah loko yang dibuat di Hartmann Chemnitz, Jerman. Atau ada yang dibuat di Amsterdam. Umumnya keluaran tahun 1900an.

Anda yang pernah menikmati romantisme Mak Itam pastilah ingat kode-kodenya. Ada yang BB 1012, ada yang seri C 1704 atau seri D. Ketika masih bersekolah di sekolah teknik, saya ingat pelajaran guru Ketel Uap saya tentang itu. Seri B berarti dengan 2 roda penggerak, seri C berarti tiga roda penggerak dan D berarti 4 penggerak. Maka kalau Mak Itam berkode BB itu artinya ia punya 4 as roda dan pasti rodanya delapan buah.

Dari stasiun gadang di Padang Panjang, kereta api membawa semen, minyak dan penumpang ke Bukittinggi. Ada sepuluh rangkaian gerbong yang diirit nya. Pada tahun-tahun 70an saya ingat di kampung saya orang-orang lebih percaya dengan jadwal kereta daripada jam tangan. Jika ada orang meninggal, lalu ada yang bertanya kapan meninggalnya. Maka percakapan itu kira-kira seperti ini: “Pabilo indaknyo si Anu?”. “Oh, ndak lamo sudah kureta ilia”. Maka yang bertanya sudah paham. Bahwa si Anu meninggal beberapa saat setelah kereta api melewati kampung kami dari stasiun Koto Baru menuju stasiun Pasa Rabaa. Itu adalah pukul 2 siang.

Dulu jadi pegawai Kereta Api (d/h PJKA, DKA) adalah profesi amat membanggakan. Kepala stasiun disebut Engku Sep. Dengan topi caronok berwarna merah, papan sinyal di tangan kanan dan peluit di mulut, ia terlihat amat gagah dan dihormati orang-orang. Priiiiiit, tangannya diangkat, maka melosoh lah kereta api meninggalkan stasiun. Tanpa tiupan peluit Engku Sep jangan diharap Mak Itam dapat berangkat.

Malam-malam kala tersintak bangun, terdengar bunyi peluitnya amat mendayu-dayu, suara desahnya mendaki Singgalang Kariang atau pendakian Panyalaian. Sungguh itu adalah sebuah romantisme yang bisa dijual kepada para penikmatnya. Mak Itam sudah datang, batubara masih ada. Apakah masyarakat pariwisata benar-benar bisa menjadikannya tambang uang? Kita tunggu makan tangan mereka-mereka itu. (Eko Yanche Edrie/www.padangmedia.com)

Iklan

Desember 4, 2009 - Posted by | Budaya, wisata | , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: