WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Meningkatkan Awareness Produk UKM di Hati Konsumen


Terus menerus disorongkannya kepada publik tentang perlunya mencintai produk dalam negeri khsususnya produk UKM, memberikan makna kepada kita semua bahwa produk UKM belum berada pada tempat yang semestinya, belum on the track. Setidak-tidaknya dapat dikatakan tingkat awareness publik kepada produk UKM masih berada di belakang  awareness publik kepada produk usaha besar atau manufaktur (dan tentu saja termasuk produk asing)

Dari waktu ke waktu sepertinya urusan kita tak kunjung selesai untuk menganjungkan produk UKM anak bangsa ini ke posisi yang setara dan seterhormat produk usaha berskala besar maupun produk UKM asing.

Berbagai upaya sudah dilakukan, baik oleh para pemain UKM sendiri maupun pemerintah di daerah-daerah yang memfasilitasi kampanye mencintai produk UKM. Dan itu sudah berlangsung lama. Dari pameran UKM hingga seminar, dari pelatihan peningkatan kualitas sampai pemberian skim kredit dengan bunga rendah.

Presiden Soeharto tahun 1985 memprakarsai Pameran Produksi Indonesia (PPI). Tak tanggung-tanggung, para pelajar seluruh Indonesia, pengurus Karang Taruna, PKK, Ormas Pemuda, mahasiswa dan tokoh masyarakat di desa-desa diundang ke Jakarta untuk menyaksikan PPI tersebut. Semua diharapkan dapat mengampanyekan betapa berharganya produk dalam negeri dan produk usaha kecil dan menengah. Pak Harto bilang, mencintai produk dalam negeri adalah ujud nasionalisme yang sesungguhnya.

Tak kurang pula kelompok penyanyi adik-kakak, Trio Bimbo (Sam-Acil dan Jaka) menciptakan lagu ‘Aku Cinta Buatan Indonesia’. Lagu itu senantiasa dikumandangkan di TVRI serta di ratusan radio siaran swasta di Indonesia pada saat berlangsungnya PPI 1985.

Sepanjang tahun 1980an itu, kampanye cinta produk Indonesia meluas sampai ke penggunaan bahasa Indonesia. Apa-apa yang berbau bahasa asing harus diindonesiakan. Jakarta Fair yang sudah berlangsung sejak zaman Ali Sadikin, diubah menjadi Pekan Raya Jakarta. Kata Real Estate yang sudah lama familiar diindonesiakan menjadi realestat. Yang paling hebat adalah perintah Menteri Penerangan Harmoko: ubah semua akta notaris radio-radio siaran swasta yang berbau asing. Di Padang misalnya Radio Don Bosco harus ganti nama menjadi Dikara Bawana. Radio El Kartika tidak boleh lagi pakai ‘El’ karena itu sangat berbau hispanic.

Mangkus?

Ya!

Dalam waktu relatif singkat semangat berindonesia meluas di seluruh tanah air.

Tapi apakah orang makin mencintai produk dalam negeri dan khususnya produk UKM? Tunggu dulu.

Nama memang sudah berganti, tetapi tiap hari di berbagai radio pemutaran lagu-lagu asing makin marak. Perfilman nasional yang umumnya diusahakan oleh usaha menengah sepanjang dekade 80an hingga 90an ambruk. Boleh dihitung dengan jari produser Indonesia yang ‘nekat’ membuat film nasional. Orang lebih suka nonton film keluaran Hollywood.

Anak-anak muda masih lebih condong pakai Levi’s yang sering dipakai pengembala sapi di Texas ketimbang memesan celana ke salah satu penjahit di kotanya. Merk-merk Armani, Playboy, Executive dan seterusnya menjadi impian kaum urban.

Restoran-restoran franchise siap saji lebih diserbu anak muda dan orang dewasa sekalipun. Pada kurun waktu dua dekade sebelum ini janjian anak muda lebih banyak dibuat di KFC, di PizzaHut, di McD atau di Hokben. Hanya orang-orang dengan selera lama yang masih tetap doyan ke Bu Dibyo, ke Bang Kumis, ke Warteg, ke RM Simpangraya. Cotto Makassar dan Konro hanya ramai oleh komunitasnya sendiri.

Datanglah ke Cibaduyut pada waktu itu, hanya orang-orang mapan saja yang berbelanja sepatu. Di berbagai pertemuan, kaum hedonis lebih suka pamer merk luar ketimbang produk bangsa sendiri. Asal dari luar, biarlah barang dari Cina sekalipun yang harganya sangat miring.

Kaum perempuan kelas menengah di Sumatera Barat misalnya pada kurun waktu itu sangat bangga pakai merk luar ketimbang pakaian yang bahannya disulam oleh kelompok sulaman H.Rosma atau menggunakan produk konveksi dari Nagari Ampek Angkek Kabupaten Agam.

Berkampanye Lagi

Apa sesungguhnya yang terjadi? Sehingga upaya kampanye habis-habisan yang dilakukan ternyata belum kunjung membikin baik nasib produk UKM. Atau setidak-tidaknya masih membuat produk-produk UKM jalan di tempat. Ia tidak mati. Bahkan ketika krisis multidimensi melanda Indonesia, seringkali UKM disajung-sajung sebagai lembaga bisnis yang tahan banting. Tak goyah oleh terpaan badai.

Agaknya ada dua hal penting yang perlu kita gencarkan lagi. Pertama pemberian contoh tauladan oleh para pemimpin, kaum selebriti ataupun figur-figur publik untuk seserius-seriusnya membesarkan produk UKM Nasional. Saya menyebutnya produk UKM Nasional, karena ada juga produk UKM asing, misalnya apakah perlu mendewa-dewakan guci buatan Ghuongzou dibanding keramik-keramik dari Padalarang, Plered dan sebagainya.

Memberikan penyadaran penggunaan produk UKM kepada para pemimpin dan selebritis adalah satu hal, tetapi menyampaikan kepada publik bahwa mereka para pemimpin dan selebritis itu sudah menggunakan produk UKM sangat mungkin dilakukan. Paling tidak dengan prakarsa Kementerian Koperasi/UKM dilakukan pendekatan ke para produser acara di berbagai stasiun TV. Selama ini kredit titel di bawah gambar seorang pemimpin atau selebritis yang sedang tampil paling-paling hanya namanya saja. Rasanya tidak akan terlalu menyita space pabila secara periodik dicantumkan merk pakaian yang melekat di tubuh mereka. Kalaupun tabu dari etika periklanan, maka cukup dicantumkan saja bahwa yang dipakai Menteri Sekretaris Negera Hatta Radjasa saat ini adalah produk UKM.

Begitu juga pada moment-moment pertemuan resmi (pada saat rehat), mesti ada ekspose dari pembawa acara yang menyebutkan bahwa tas yang dipakai Ibu Menteri Kesehatan tadi adalah buatan Tanggulangin. Atau jaket kulit Pasha Ungu tersebut adalah buatan perajin dari Padang Panjang Sumatera Barat.

Yang kedua adalah soal periklanan. Adalah wajar kalau produk-produk dari pemain besar merajai pasar karena mereka juga menguasai space dan slot iklan di berbagai media. Penguasaan itu karena uang mereka banyak. Kecuali itu, apresiasi pengusaha besar tentang iklan sudah sangat bagus. Bahkan pada umumnya dalam neraca perusahaan, biaya iklan tidak lagi disebut sebagai biaya entertainment namun sudah merupakan biaya rutin yang harus selalu ada. Bagi produknya yang sudah dikenal luas, biaya iklan itu lalu diubah menjadi biaya untuk menjaga citra produk. Lihatlah, apa perlunya Pepsodent terus menerus beriklan, bukankah produk itu sudah dikenal luas?

Pia Yogya atau enting gurih dari Semarang tak sekalipun kita lihat tayangan iklannya di televisi. Rumah makan Padang, RM Sederhana tak terlihat di slot ilan TV seperti KFC dan McDonald beriklan. Kaos antik bermerk Jogger dari Kuta Bali semestinya membanggakan kita kalau iklannya ditayangkan di TV nasional atau koran nasional. Begitu juga dengan produk sarung basah dari Samarinda harus seterhormat sarung Gajah Duduk dari pemain besar Pismatex.

Pengusaha UKM sering menganggap tak perlu beriklan karena harga jual produknya tidak seberapa. Tapi kenapa permen Hexos yang per bijinya Rp250 bisa beriklan di TV dan di Majalah, sementara Mpek-mpek ‘Selamat’ dari Jambi per bijinya Rp1.500an jangankan di TV nasional, di koran lokalpun tak beriklan.

Pengalaman saya dengan kalangan pengusaha UKM di daerah menunjukkan bahwa iklan masih dilihat sebagai ‘uang keluar’ yang hanya untuk gagah-gagahan saja. Karena itu kalangan UKM beriklan di koran lokal hanya kalau sedang berulang tahun atau ikut serta mengucapkan selamat pada iven tertentu atau sekedar ucapaan dukacita atas meninggalnya sesorang.

Iklan Bersama

Pandangan miring tentang iklan ini baru untuk daerah. Belum lagi kalau UKM diajak beriklan di televisi atau media nasional yang biayanya besar tentu akan membuat mereka (UKM) membelakangi para account executive (AE) yang datang menawarkan space iklan. Untuk membayar Rp15 sampai Rp20 juta per spot di TV Nasional yang durasinya paling 60 detik sekali tayang terasa masih amat berat bagi industri rumah tangga makanan ringan amplang di Samarinda.

Kementerian Koperasi/UKM sudah waktunya memfasilitasi perihal iklan ini. Mungkin terlebih dulu mengajak kalangan media dan kalangan periklanan untuk memberi pemahaman tentang perlunya iklan bagi produk UKM guna mencapai awareness yang baik di hati masyarakat. Kementerian mesti mengalokasikan anggaran untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi seperti ke daerah-daerah.

Setelah itu Kementerian bisa menghimpun asosiasi UKM untuk membuat iklan bersama dengan biaya bersama. Usaha-usaha dari jenis berbeda dihimpun dalam satu kluster lalu pada tahap pertama diberikan subsidi (atau kalau perlu bantuan penuh) untuk merancang iklan dan membiayainya. Misalnya batik tulis Yogya digabung dengan Apel Malang, Mukena Bukittinggi, senapan angin Bandung, gitar Sidoarjo, Konro Makassar. Barangkali frekwensinya tidak perlu terlalu sering, tapi dari blocking time di TV atau di majalah dan koran nasional produk-produk dalam satu kluster tadi dapat tayang secara bergantian.

Medium lain untuk kampanye produk misalnya pameran seperti SMEsCo 2009 yang digelar pertengahan Oktober ini di Jakarta adalah juga penting. Akan tetapi janganlah ajang seperti itu orientasinya adalah transaksi saja. SMEsCo hendaknya juga dapat berperan mempertinggi awareness publik terhadap produk-produk UKM yang ditampilkan di sana.

Kementerian Koperasi dan UKM yang menyelenggarakan hajat tersebut memang sudah bikin ancang-ancang untuk bisa mecapai transaksi sampai Rp37,4 miliar. Tapi apa gunanya kalau setelah itu tak ada melekat sedikitpun sentimen produk UKM tersebut di hati pengunjung.

Apa artinya?

Artinya, agar pengunjung tak menyumpah serapah setelah membeli produk-produk UKM di ajang SMEsCo 2009 karena mutunya amburadul, jelas produk UKM yang ditampilkan di sana adalah produk pilihan. Menurut informasi memang demikian adanya bahwa peserta adalah UKM-UKM yang sudah terseleksi dari masing-masing daerah.

Bagaimanapun tetap akan terjadi ‘pertempuran’ antara nasionalisme dengan pragmatisme. Satu sisi kita mencoba menjadi bangga minum kopi Aceh dibanding minum semangkuk kopi Starbuck. Tapi apa selera bisa didustai dengan berselimut nasionalisme? Kalau memakai Levi’s 505 lebih nyaman dan tahan dibanding memakai jeans keluaran Cihampelas, apa mau dikata? Apakah kita harus berbohong mengatakan kejadian sebenarnya ketika kita dilayani dengan sangat ramah oleh pramusaji yang cantik di pintu Pizza Hut ketimbang diterima dengan muka cemberut oleh pelayan restoran sate di kawasan puncak?

Kesimpulannya, setelah semua sepakat mengangkat produk UKM ke anjungan yang lebih terhormat, harus diikuti dengan memberi suri tauladan kepada rakyat banyak. Suri tauladan itu mesti diperkaya oleh kampanye yang pas dan strategis. Jangan lagi UKM memandang rendah arti iklan. Akhirnya sebelum beriklan di TV dan koran nasional secara berkelompok, segala sesuatu di ‘dapur’ UKM itu harus sudah tertata baik. Sudah harus manajemen kendali mutunya dijaga sebaik-baiknya agar publik tidak merasa dibohongi oleh iklan dan ajakan-ajakan sales promotion girl di gerai-gerai pameran semacam SMEsCO 2009 nanti. Apalagi pameran kali ini menyertakan UKM asing yang akan dijadikan kaca pembanding bagi produk-produk nasional.

Menggunakan lembaga-lembaga pengontrol mutu, mendapatkan sertifikasi ISO, sertifikasi SNI, sertifikasi Depkes dan sebagainya sudah harus menjadi keharusan bagi usaha-usaha UKM. Ini akan memberikan dukungan bagi pencitraan produk dalam rangka memenangkan hati konsumen nasional.

Dengan semua upaya di atas, maka produk UKM akan dapat melenggang masuk gelanggang bersaing dengan produk UKM asing maupun dengan produk industri besar. Tak perlu lagi adanya usaha-usaha memberikan proteksi. Selain berlawanan dengan WTO dan prinsip pasar bebas, proteksi hanya akan membuat usahawan kecil dan menengah serta koperasi kita jadi manja dan tak tangguh untuk di pasar.

Satu hal yang perlu menjadi poerhatian bersama adalah agar semangat membangun UKM jangan hanya temporer. Artinya SMEsCO 2009 boleh jadi sebuah ajang bagi penampilan puncak-puncak produk lokal secara internasional, tetapi sepulang dari SMEsCO para pengusaha dan para pejabat Dinas Koperasi & UKM harus membawa pulang banyak PR. Itu artinya, SMEsCO 2009 selain sebagai sebuah expo harus juga dimanfaatkan sebagai forum studi bagi peningkatan mutu produk UKM di daerah. Dengan demikian pada waktu-waktu mendatang selain citra sebuah produk UKM jadi meningkat karena ikut SMEsCO, hendaknya pada SMEsCO berikutnya kualitas produk peserta meningkat setelah digojlok lagi di dapur dengan mengimplementasikan hasil belajar di SMEsCO 2009.

Jadi marilah kita tunggu, Keripik Balado Christine Hakim di Padang bisa sesajar dengan produk milik pemain besar. Keripik Balado hendaknya sama  terhormatnya dengan Cokelat Silver Queen di etalase Carrefour bahkan satu hari sampai ke Hypermart di Singapura. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? (Eko Yanche Edrie/www.padangmedia.com)

Iklan

Desember 4, 2009 - Posted by | ekonomi | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: