WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Mak Datuk Pemain Basket


OBITUARI

(Wartawan senior HKR Dt. P.Simulie)

 

Saya diceritakan oleh Mak Datuk Simulie (HKR Dt. P.Simulie) tentang anak gadis sekarang yang kalau pakai celana panjang, bagian belakangnya biasa dibiarkan terbuka. Sehingga ‘sarawa kotok’nya terlihat. Kata Mak Datuk kepada saya: “Cubolah tulih tu, itu namonyo dek cando mah. Kok lai barasiah lo nan dipacaliakan tu lumayanlah, tapi kok kumuah?”

Selang sebulan setelah Mak Datuk berkeluh kesah tentang ‘sarawa kotok’ tu, sayapun menulisnya dalam kolom ini. Saya tulis dengan judul ‘Mak Datuk, nih CD (celana dalam) gue’. Saya ungkapkan bahwa anak gadis sekarang seakan hendak ‘memanggakkan’ celana dalamnya kepada orang-orang tua. Seakan ia menantang Mak Datuk: “Mak Datuk, Nih CD Gue’

Besoknya Mak Datuk menelepon saya sambil ketawa yang cukup lama. Saya kira sudah lama Mak Datuk tidak ketawa lepas. “Kamanakan ado-ado se mah,” ujarnya di balik telepon. Lalu seperti biasa kami saling melempar joke.

Mak Datuk amat rapi menyimpan joke-joke yang kadang tak terduga. Dari yang serius (eh mana ada joke yang serius ya?) sampai yang kurang serius.  Tapi umumnya ia ingin mengajarkan kepada generasi dibawahnya  bahwa di balik joke tersimpan pesan mendalam.

Saat Mak Datuk dilantik lagi (setelah ‘nganggur’ karena tak cukup suara) jadi anggota DPRD untuk kedua kalinya, ia bilang kepada saya tentang sistem sepakbola. Menurutnya aturan yang terbaik itu ada di bola basket, bukan di sepakbola. Saya bingung, kemana tujuan pembicaraan Mak Datuk.

“Saya sekarang pemain basket, karena pemain basket yang sudah keluar boleh main kembali. Beda dengan sepakbola, setelah keluar, tidak boleh main lagi,” katanya. Mak Datuk seakan yakin bahwa saya bisa menangkap semua teka-tekinya. Padahal, jujur saja waktu itu saya masih kebingungan. Tapi saya icak-icak mengerti saja. Barulah setelah dua hari kemudian saya menyadari apa hubungan pemain basket itu dengan dirinya. Ia menganggap dirinya pemain basket ketika dilantik kembali jadi anggota DPRD.

Begitulah Mak Datuk. Kata Hasril Chaniago, ada dua yang jadi ensiklopedi berjalan dalam jagad wartawan Sumbar. Yang pertama adalah Chairul Harun dan yang kedua adalah HKR Dt. P.Simulie. Sepanjang hidupnya Mak Datuk memang mendedikasikan hadupnya untuk dunia jurnalis. Ia memberikan pembelajaran kepada yang muda-muda dengan cara ninik mamak. Pengajaran itu baru terasa setelah beberapa waktu.

Dalam banyak hal, memori Mak Datuk memang luar biasa. Ia mampu mengingat hal-hal kecil yang kadang jarang diingat orang. Suatu hari ia mengingatkan saya bahwa proklamasi kemerdekaan itu bukan dikumandangkan pada pukul 10.00 WIB, melainkan pukul 10.00 WD alias Waktoe Djawa. Karena tahun 1945 wilayah waktu belum dibagi atas WIB, WITA dan WIT. Di Padang weaktu itu masih dikenal Waktoe Soematra.

Sejak kemarin, dengan kerongkongan tercekat saya berbisik: “Kepada siapa lagi saya hendak bertanya Mak Datuk?” Beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa tentang. Ia seperti sepakat bahwa wartawan harus belajar sendiri seperti dirinya dan para wartawan senior lainnya.

Mak Datuk, izinkan saya sebut nama lengkapmu: Haji Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, kami kehilanganmu. Kami berharap namamu akan dikenang lebih panjang dari usiamu. Beristirahatlah dengan tenang!(eko yanche edrie)

Iklan

Oktober 26, 2008 - Posted by | Obituari

3 Komentar »

  1. maningga mamak kito wan?Mudah-mudahan ada gantinyo nan baru and uwan mudah-mudahan pulo panjang umua.

    Komentar oleh kabati | November 8, 2008 | Balas

  2. sebuah tulisan yang hebat pak, menukilkan obituari dari sisi yang lain, jarang sebuah obituari mengangkat sisi yang seperti yang bapak tulis…

    saya juga pernah beberapa kali kesempatan bertemu dengan Datuak Kamardi dan mendapatkan beberapa petuah dan opininya…

    hingga saat ini saya pribadi masih merasa kehilangan, dan secara umum, saya kira Sumbar juga kehilangan yang cukup besar atas berpulangnya Datuak kita Kamardi Rais Dt panjang Simule…

    Komentar oleh pengamat | November 19, 2008 | Balas

  3. Ranah Minang terus dirawat para wartawan hebat. Menurut saya, Minang Kabau itu sudah lama tenggelang, kalau tidaklah karena dirawat wartawan dan rumah makan nasi padangnya.
    Boleh jadi, Sumbar tenggelam dalam industri pers, tapi sejatinya ruh pers itu masih berjaya di Ranah Minang. Banyak wartawan berbakat berkeliaran di sana.
    Moga pepatah,”Mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti,” terus menemukan maknanya.
    Oh, Ranah Minang, badankoe boleh seribu kilo meter dari moe, tapi jiwaku tidak.

    Irsad Sati
    33th; Jakarta
    Bang, baa kaba. Masih ingek jo ambo..
    Dima Hendriansyah kini bang?

    Komentar oleh Irsad | Desember 21, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: