WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Obituari: Saidal Bahauddin, Dokter Politik


Oleh Eko Yanche Edrie

 

Sebelum bersua dengan dr. Saidal Bahauddin, saya hanya membayangkan bahwa ia seorang pria perokok dan suka mencari-cari sikap ‘asal lain’. Masalahnya banyak yang menceritakan kepada saya bahwa seorang Saidal adalah tipikal pembangkang. Di zaman Soekarno ia melawan Soekarno dan mendukung Soeharto. Lalu di zaman Soeharto ia jadi pembangkang Soeharto pula. Apa yang dia cari?

“Hidup tak sekedar mencari makan, tapi harus berarti bagi orang banyak,” kata Bang Saidal –begitu dia disapa oleh hampir semua orang yang mengenalnya—ketika bertahun setelah perkenalan saya yang pertama dengannya. Kata Bang Saidal itu kalimat dari Encik Rahmah El Yunusiah yang ia panggil dengan sebutan Etek Rahmah saat mereka berada di hutan-hutan sebelah timur Tanah Datar di tahun-tahun pergolakan PRRI.

Saya diperkenalkan dengan Bang Saidal di tahun 1991 oleh Hasril Chaniago dan Adi Bermasa. Ketika itu kami bertandang ke kantor Yarsi di Sawahan Padang, ketika itu ada juga H. Mas’oed Abidin dan Bang Masfar Rasyid.

Setelah itu setiap kali ada peringatan Supersemar, Tritura, peristiwa gugurnya pahlawan Ampera Ahmad Karim di Bukittinggi, 1 Oktober, Sumpah Pemuda, saya senantiasa tak melupakan mencantumkan nama Ketua Presedium KAMI itu sebagai salah satu narasumber saat merencana liputan khusus. Ia dengan penuh semangat bicara tentang antikomunis, kebebasan mimbar, otonomi daerah, dan semangat kritis anak muda.

Satu ketika saya katakan bahwa dia adalah dokter politik. Maklum, brevet dokter yang disandangnya amat jarang ‘ditambangkan’. Beda dengan kawan-kawannya sesama dokter yang sudah kaya raya dan nyaris tak punya waktu untuk bersosialisasi. Bang Saidal tetap bersahaja. Aktifitas nonmedis lebih banyak menyita waktunya. Ni Cun, istrinya yang juga dokter agaknya memahami jiwa Bang Saidal. Maka pasangan dokter itu seperti sepakat untuk memberi kesempatan kepada dokter-dokter lain saja untuk berpraktek.

Selepas pergolakan PRRI, dimana ia ikut masuk hutan dan menjadi salah seorang perwira Kompi Pelajar ia melanjutkan studi lagi. Namanya saja orang ‘kalah’ para pentolan PRRI sering dianggap sepele saja oleh kaum ‘republiken’. Saidal tak seperti itu. Sejarah mencatatnya bahwa seorang Saidal mewarnai banyak aktifitas aksi mahasiswa selama hari-hari kritis menjelang kejatuhan rezim Soekarno yang di tahun 1958 juga dia tentang.

Banyak tokoh aksi 1966 yang menyeruak ke puncak kekuasaan bergelimang harta. Tapi Saidal tetap Saidal.  Bahkan mengurus kenaikan pangkatnya di Universitas Andalas pun tak diperhatikannya benar. Kawan-kawan seangkatannya sudah jadi orang-orang penting di Universitas itu,  Bang Saidal tetap juga seorang dosen biasa yang disapa ‘Abang’ oleh para mahasiswanya.

Terus terang, saya berutang kepadanya. Ketika kepada saya dan Fachrul Rasyid ditawarkan menulis biografinya, banyak saja kendala. Untunglah adik-adik di HMI meneruskan penulisan buku itu. Ketika berbicang dengannya soal buku itu di rumahnya, saya terharu. Tak ada apa-apa di rumahnya, tak banyak perabotan mahal yang menunjukkan bahwa dia seorang tokoh besar Sumatra Barat. Entah berlebihan, kalau saya tiba-tiba teringat Hatta, Natsir dua tokoh yang sangat diidolakan Bang Saidal soal kesederhanaan hidup.

Kemarin, saya terpurangah ketika mendengar kabar Bang Saidal sudah mendahului kita untuk selamanya. Ia pergi dengan kesederhanaan seorang dokter dan kebesaran seorang pemimpin. Selamat jalan Bang Saidal!

Iklan

Oktober 10, 2008 - Posted by | Obituari

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: