WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Mengintai Investor di IRIF


Oleh: Eko Yanche Edrie

 

HARI ini Dewan Perwakilan Daerah (DPD) berhelat. Atas prakarsa lembaga itu digelarlah apa yang disebut IRIF (Indonesian Regional Investment Forum) alias pertemuan para investor asing dengan para kepala daerah Provinsi, Kabupaten/Kota se Indonesia.

Ini bagus-bagus saja. Bahkan boleh disebut sebuah prakarsa yang seharusnya ada sejak lama. Dimana kontak langsung dengan para calon investor dengan kepala daerah bisa lebih menukik pada penyampaian keinginan masing-masing pihak dan ada panduan bersama daripada masing-masing daerah maju sendiri-sendiri.

Ya, secara politis tentu saja bagi DPD ini merupakan salah satu cara untuk menunjukkan perhatian para anggotanya ke daerah pemilihannya masing-masing. Tapi tak apalah, asal memang pada bagian akhirnya yang hendak dicapai adalah mendorong terjadinya peningkatan kinerja perekonomian lokal dan regional.

Para kepala daerah bukan tak ada yang sudah memulai loby-loby dengan para calon investor selama ini. Ada! Namun itu tadi, kadang membawa hasil ingga investasi pun tertanam, kadang hanya beranjak dari satu MoU ke satu MoU berikutnya.

Rasanya, dengan apa yang diprakarsai oleh DPD RI ini merupakan kesemptan baik para kepala daerah untuk mengukur sejauh mana mereka dan timnya bisa meyakinkan para calon investor agar masuk ke daerahnya.

Forum ini juga sebenarnya akan menguji seberapa jagonya para kepala daerah meloby orang. Seberapa besar mereka bisa membuktikan kepada publik bahwa mereka bukanlah orang-orang yang hanya ‘jago kandang’ yang ketika harus berhadapan dengan pihak asing langsung ‘sakit perut’.

Ada yang kadang membuat saya ‘rusuh’ atas kebiasaan lokal yang tak siap tampil di forum-forum seperti itu. Saya teringat ketika pernah satu kali ada pertemuan bisnis antara pelabur (investor) dari Selangor dengan pebisnis lokal (terutama perusahaan daerah air minum) Sumbar beberapa tahun lalu. Yang dari Selangor sudah tampil dengan apik dan sangat parlente. Sejumlah bahan cetakan mulai dari company profile sampai ke buku-buku yang dicetak superlux disiapkan dan diserahkan mereka kepada pebisnis lokal. Giliran mereka minta bahan-bahan tertulis serupa dari ‘rang awak’ eh, yang muncul adalah fotokopian-fotokopian bahkan ketika itu saya nyaris tergelak lantaran ada pula yang menyerahkan bahan stensilan. Kala para pelabur Malaysia bertanya tentang potensi ternak lengkap dengan data-datanya, pihak kita hanya menjelaskan dengan lisan saja. Walhasil MoU tetap tinggal MoU.

IRIF, hendaknya tidak buang-buang uang ke Jakarta rame-rame, tapi pulangnya membawa sesuatu yang berharga untuk menggerakkan ekonomi lokal.

 

Iklan

Oktober 10, 2008 - Posted by | ekonomi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: