WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Kerianggembiraan Lebaran


Oleh Eko Yanche Edrie

 

Sebuah kerianggembiraan bernama: lebaran, akhirnya berlalu jua.Dalam diskursus syariah tentu saja yang dimaksud adalah kerianggembiraan setelah melewati perjuangan 30 hari 30 malam melawan perlawanan iblis. Lepas dari apakah dalam perjuangan itu kita yang kalah atau iblis yang kalah atau hanya podo, tapi syariah sudah mengaturnya sedemikian rupa, pada 1 Syawal saat Ramadhan berakhir, kemenangan dirayakan. Artinya dapat kita raba aba-aba dari dari syariah bahwa kita harus menang! dan iblis harus kalah. Podo pun tak boleh.

Itu Syariah.

Kerianggembiaraan di luar syariah juga tak kalah gegap gempitanya. Bahkan diluar sadar, sudah mendekati berlebihan. Kerianggembiraan merayakan lebaran sedemikian menonjolnya dibanding kegembiraan merayakan keberhasilan mengalahkan iblis selama 30 hari.

Bahkan yang saya maksud terakhir ini, sudah terlihat aba-abanya sepekan menjelang lebaran. Mabuk mudik yang tak memedulikan keselamatan diri pun sudah dirancang. Puluhan ribu berkendara roda dua dari Jakarta menuju desa-desa di Jawa dan Sumatra. Jaraknya ribuan kilometer. Dingin, hujan, panas, buruknya jalan, rawannya kecelakaan bahkan tak membuat gentar mereka. Ada yang sambil menggendong bayi bersepdamotor sampai ribuan kilometer dari Jakarta, alaaamak!.

Di daerah lain termasuk di Sumatra Barat, kerianggembiraan menyambut lebaran (bukan merayakan kemenangan mengalahkan iblis 30 hari) tak kalah gila-gilaannya.

Sehari menjelang lebaran semua hotel di daerah ini sudah full book. Hotel-hgotel kecil di Padang Panjang, Solok, Pariaman, Batusangkar dan Payakumbuh pun dibooking para peharirayawan dan peharirayawati.

Malam-malam 1 dan 2 Syawal, kota macam Bukittinggi benar-benar menjerit disesaki pengunjung. Puncak jam gadang benar-benar terang benderang lantaran bersaput cayaha kembang api.

Sebuah kembang api dikombinasikan dengan mercon harganya Rp30ribu dibakar. Lima ledakan sekelas ledakan senjata tua jungle atau jenis LE Springfield berdentang di langit jam gadang. Dalam semenit paling tidak ada dua kembang api ditembakkan, jadi abu lah duit Rp60 ribu. Anda hitung saja panjang pesta kembang api itu dari pukul 18.00 hingga pukul 00.00 WIB. Lalu hitung sejak 1 hingg 7 Syawal x Rp30 ribu sekali tembak.

Siangnya puluhan ribu liter bensin dan solar juga dibakar sepanjang jalanan yang macet. Minta ampun, dari Bukittinggi ke kampung saya di Aie Angek Kecamatan X Koto Tanah Datar yang jaraknya 11 Km terpaksa saya tempuh 3 jam. Di obyek wisata macam Minang Fantasi, orang tak peduli pula harus membayar Rp50ribu. Semua melakukan dengan sadar. Dan…….yang padti tak ada kerut di kening sambil menyumpah serapah. Semua merayakan kerianggembiraan lebaran. Meskipun belum tentu merayakan Idul Fitri sebagaimana tuntunan sunnah.

Akhirnya satu pertanyaan: kegembiraan tak bisa dinilai dengan uang. Maka bae bana lah!***

 

 

Iklan

Oktober 10, 2008 - Posted by | Budaya

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: