WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Diperlukan Banyak Relawan Antikemiskinan


Kemiskinan sejak permulaan reformasi menjadi begitu hafal oleh tiap orang di negeri ini. Bahkan untuk memformulasikan kemiskinan sejumlah lembaga harus bertengkar. Kemiskinan versi BPS dengan versi BKKBN saja berbeda.  Sementara cara PBB melihat kemiskinan berbeda dengan cara kita melihat kemiskinan. Maka jadilah kemiskinan sebagai sesuatu yang terus menerus berada dalam diskursus sementara tindakan nyata bagi pengentasannya tidak banyak berkibar.

Berbagai program memang sudah dirancang dan sebagian sudah dijalankan. Tapi masih lebih banyak jawaban parsial. Ibarat sakit kepala yang diberikan sekedar antibiotik, penghilang rasa sakit. Program-program itu misalnya ada dalam bentuk pemberian subsidi BBM, layanan kesehatan serta bantuan langsung tunai (BLT)

Sedangkan program-program yang berbentuk pembukaan kesempatan kerja, pembentukan iklim berusaha bagi UKM yang baik, mendorong munculnya inisiatif dan kreatifitas masyarakat untuk menolong dirinya sendiri lepas dari kemiskinan masih belum banyak terlihat.

Yang jadi kendala utama adalah kesamaan cara pandang terhadap kemiskinan dan penanggulangannya belum tercipta menyeluruh. Sehingga sering lebih banyak diterjemahkan bahwa kewajiban pengantasan kemiskinan hanya dibebankan kepada negara. Awam lebih meyakini bahwa pengentasan kemiskinan adalah sesuatu yang struktural. Rakyat hanya menerima jadi tanpa ada inisiatif.

”Di Sumatra Barat misalnya, tidak cukup banyak terlihat kelompok maupun individu yang mencoba mengembangan prakarsa masyarakat. Program non-pemerintah yang  bersifat social engineering belum banyak terlihat,” kata mantan aktifis lingkungan hidup nasional Zukri Saad.

Zukri mengambil contoh di Sumatra Barat itu lantaran ia sudah pernah mencoba melakukan upaya-upaya rekayasa sosial yang mengajak masyarakat ke arah kehidiupan yang lebih baik. Kini ia justru banyak melakukan aktifitas bagi rekayasa sosial di Indonesia Timur.

Menurut dia, banyak program dan kebijaksanaan daerah yang belum menjangkau penduduk miskin di sentra-sentra kemiskinan antara lain karena masyarakat miskin itu jauh dari pelayanan dasar dan prasarana ekonomi.

Kebijakan umkum dari atas yang dirancang di gedung-gedung ber AC, banyak yang tidak ’nyambung’ dengan kehidupan nyata kaum papa di berbagai pedesaan dan kawasan pantai. ”Kebijakannya sih bagus. Tetapi itu tadi, tidak aplikatif lantaran adanya missing link antara yang bikin konsep dengan masyarakat sebagai objek,” kata Zukri.

Karena itu ia mengajak sejumlah kawan-kawannya untuk mau terjun sendiri tanpa harus bergantung lagi pada konsep-konsep yang tidak aplikatif tadi.

Ketika didata bahwa kehidupan masyarakat di kawasan pesisir barat Sumatra Barat yang hampir seratus persen adalah nelayan tapi tidak berdaya sama sekali menggali potensi bahari yang besar. Maka salah satu dari ’skuad’ Zukri itu adalah Johny Halim Ja’far. Entah karena sama-sama alumnus ITB, keduanya jadi cocok. Dengan sejumlah kawan-kawan yang lain dirancanglah apa yang mereka sebut menjadikan nelayan lokal bervisi global.

”Potensi laut kita amat besar, tetapi kebesaran potensi itu hanya jadi santapan nelayan-nelayan asing berlalu-lalang di depan pantai Sumatra Barat. Tak dapat kita salah orang asing, karena secara teknologi, permodalan dan kecakapan sumber daya manusia mereka lebih unggul. Karena itu hanya ada satu kata: berdayakan nelayan lokal,” kata Johny yang resminya adalah penguasaha real estat, bukan nelayan. Tetapi ia lihat selama ini nelayan lokal sepertinya hanya sekedar untuk bisa menangkap ikan-ikan yang jadi konsumsi lokal. Tuna dan ikan-ikan kelas satu lainnya seolah mereka (nelayan lokal) tak boleh ikut serta.

Menurut Johny harus ada upaya atau inisiatif yang dilakukan guna mengubah nasib kaum nelayan ini. Tapi ia mengaku ini tugas berat lantaran yang dilakukan adalah mengubah cara berfikir dan kebiasaan nelayan.

Maka dirancanglah kerja besar yang membutuhkan modal juga besar. Nelayan yang akan diajak tentu saja tak punya modal. Karena satu kapal yang domodifikasi dari kapal tinda bisa menjadi kapal mini long liner Ia bersama sejumlah karibnya kini tengah berupaya melakukan modifikasi sederhana kapal tonda menjadi mini long liner, agar bisa mengalihkan orientasi nelayan  menjadi nelayan tuna.

Awal 2007 enam kapal sudah siap, Johny dan kawan-kawan memang mencoba habis-habisan, termasuk habis-habisan untuk mendanainya. Kelompok yang semula . Karena ini ibarat memandikan kuda, yang empunya kuda hulu harus masuk air. Masyarakat butuh ‘contoh soal’ tak bisa diajak-ajak begitu saja mengerjakan sesuatu yang belum jelas ujudnya.

Kapal berlayar, yang diincar pun akhirnya dapat. Tuna berhasil diraup nelayan anggota kelompok Jhony. Tapi pertengahan 2007 badai yang mengamuk sepanjang musim buruk tahun ini menenggelamkan dua dari empat kapal. Tapi Jhony dan kawan-kawan tak menyerah. Sekalipun tidak mendapat dukungan bantuan permodalan dari pemerintah, upaya mengangkat harkat nelayan ini tidak berhenti. “Saya harap makin banyak hendaknya orang yang mau menggerakkan semangat kewirausahaan pada orang-orang kecil. Untuk itu diperlukan wirausahawan sosial yang tak melulu bersandar pada tujuan bisnis,” tutur Zukri Saad.

***

 

Di laut kaum nelayan butuh dorongan dari wirausahawan sosial, sedang di darat para petani mengalami nasib yang tidak kurang pula menyedihkannya. Para petani hortikultura dan petani padi senantiasa hanya jadi permainan para tengkulak, para toke dan pengusaha tani.

“Masalahnya karena nyaris tidak ada yang mau terjun pasang badan untuk menggelorakan semangat kewirausahaan para petani. Banyak pebisnis yang menganggap bertanam investasi di sektor pertanian khususnya pertanian tanaman pangan adalah pekerjaan sia-sia dan penuh risiko. Bahkan perbankan pun tak banyak yang tertarik membiayainya,” kata Kreatiko Boentoro, seorang pebisnis tapi mau menerjuni subsektor tanaman pangan. Ia jaminkan hartanya untuk para petani di Pesisir Selatan bisa menuai hasil yang lebih besar dari sawh mereka.

Tetapi seperti juga Jhony Halim, upaya itu rupanya penuh onak dan duri. Boentoro tersandung perkara. Ia dituduh melakukan kredit fiktif. Hartanya disita, tapi ketika ia dinyatakan bebas oleh pengadilan, ratusan hand tracktor yang jadi jaminan kreditnya sudah hancur. Maksud hati mengentaskan kemiskinan di Pesisir Selatan berantakan.

Menyerahkah Boentoro? “Tidak, saya tetap akan bersama-sama para petani. Jika urusan perkara saya selesai, saya akan kembali mendorong para petani ke sawah-sawah di daerah itu agar kehidupan yang lebih baik dapat dicapai,” katanya.

 

***

 

Patani sayur baik di kawasan sepanjang lereng Merapi dan Singgalang maupun di dataran tinggi Alahan Panjang sudah lama hanya menjadi objek permainan para tauke. Semurah-murahnya harga sayur namun yang namanya tauke tak pernah rugi. Tinggallah petani hanya menerima nasib tidak bisa memiliki posisi tawar yang seimbang dengan para tauke tadi.

“Jadinya petani sayur kita kehidupan mereka berputar-putar begitu saja,” kata Joni mantan aktifis lingkungan hidup yang kini dipercaya menjadi Kepala Dinas Pertanian. Jauh sebelum menjadi Kepala Pertanian, Joni sudah menggelorakan upaya menjauhi pestisida. Menurutnya jika petani lokal hendak mengakses pasar internasional agar beroleh untung yang lebih besar haruslah memulainya dengan pertanian bersih alias bebas dari pestisida bakan dari pupuk kimia.

“Harga yang diterima petani saat ini hanyalah harga yang sangat jauh selisihnya dari harga pasaran internasional. Tapi produk petani sayur kita tidak bisa mengakses pasar internasional semisal Singapura atau Malaysia lantaran kebelumbebasan produk kita dari pestisida dan pupuk kimia,” kata Joni.

Beberapa tahun lalu bersama Zukri Saad ia mulai mencoba menanam kentang dan tanaman hortikultura lainnya yang tidak menggunakan sama sekali pupuk maupun pestisida. Joni dan kawan-kawannya memanfaatkan lahan-lahan penduduk di kawasan Alahan Panjang. Hasilnya? Luar biasa. Tetapi rupanya mengajak masyarakat yang sudah terbiasa dengan pupuk kimia dan pestisida  agar menjauhinya amat sulit. Sulit meyakinkan petani konvensional yang lebih tergiur dengan tradisi lama. Bagi petani masih dipentingkan kuantitas, volume produk yang besar ketimbang produk yang diterima pasar internasional. “Mereka anggap terlalu lama prosesnya dan hasilnya amat sedikit,” kata Joni.

Tak cukup hanya itu, ia pun bersama kawan-kawannya alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas mendirikan apa yang disebut Institut Pertanian Organik (IPO) di Aie Angek Kecamatan X Kotto Tanah Datar.

Obsesinya: satu hari seluruh produk pertanian Sumatra Barat bisa diterima di pasar Singapura, tentu saja dengan harga yang lebih baik. “Pada akhirnya kita sampai pada perbaikan nasib petani, jangan lagi hanya ‘dimakan’ para toke,” kata dia.

Ia mengakui pengalaman di Alahan Panjang terulang pula di Aie Angek. Sulit meyakinkan banyak petani untuk berangsur beralih ke pertanian organik. Resistensinya masih besar. Namun Joni ingin menunjukkan bukti bahwa apa yang dimaksud dengan pertanian organik jauh lebih bernilai ekonomis dibanding pertanian anorganik. “Saya akan terus berusaha meyakinkan petani bersama kawan-kawan di IPO,” katanya.

***

 

Di Aie Angek, Joni dan kawan-kawan mendirikan Institut Pertanian Organik, di Kelok Dama, Kinari Kabupaten Solok, Yongki Salmeno mendirikan Pusat Pelatihan Alam Pertanian (Puspatani) Kelok Dama.

Sejak 2001, mantan wartawan Kompas memutuskan terjun ke pedesaan menggeluti peternakan, perikanan dan pertanian. Peraih penghargaan presiden untuk wartawan lingkungan hidup terbaik nasional tahun 1989 dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Andalas ini sudah membulatkan tekad untuk back to basic, memilih profesi menjadi petani.

Keterpaduan, peternakan, perikanan dan pertanian hortikultura menjadi inti upayanya. Sebagai insinyur peternakan, Yongki melihat usaha peternakan masyarakat di pedesaan belum lagi berkembang. Maksudnya, peternakan masih sebagai usaha sampingan. “Padahal beternak, berkolam ikan, membuat pakan ternak dan pakan ikan serta bertanam sayuran adalah sesuatu yang bisa dibuat terpadu. Memang modalnya perlu agak banyak, tetapi jika ini dikerjakan berkelompok niscaya akan berhasil juga,” katanya.

Maka setelah melakukan berbagai uji coba, termasuk menemukan formula untuk mempercepat pertumbuhan berat badan sapi dan ‘mengerem’ bau busuk dari kotoran sapi dan ayam, Yongki berhasil. Ia lalu membuat ranch yang lebih representatif. Kotoran sapi dimanfaatkan untuk keperluan perikanan dan pertanian. Sementara beberapa tanaman seperti jagung selain dijual, juga diperuntukan untuk pakan ternak dan pakan ikan yang pabriknya dia dirikan di dekat ranch.

Setelah menemukan ‘hasil’ Yongki yang juga lama malang melintang di lingkungan LSM lingkungan hidup berusaha membagi kebisaannya itu kepada para petani sekitarnya. Awal 2005 ia mendirikan Puspatani yang kemudian diresmikan oleh Mentan Anton Apriantono.

Kini Yongki terlanjur cinta dengan dunia pertanian, cinta kehidupan petani. Ia ingin membagi cintanya melalui Puspatani Kelok Dama. Ia ingin meneruskan usaha-usaha kewirausahaan Zukri Saad seniornya menodorong para petani menuju ke kehidupan yang lebih baik dan tak lagi termarjinalisasi. Ia berharap bisa berbagi ilmu dan bertukar pengalaman dengan petani di sini. Dengan fasilitas yang ada saat ini Puspatani Kelok Dama bisa memberikan pelatihan gratis kepada petani secara periodik, termasuk fasilitas nginap dan makan, ala petani tentunya.(eko)

Iklan

Oktober 10, 2008 - Posted by | ekonomi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: