WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

CATATAN DARI MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (2)


Tandas-tandas Kita Memang Sudah Tandas 

Mengapa Gubernur Gamawan Fauzi nyinyir benar mempersoalkan kakus? Tempat membuang segala yang tak enak dalam perut itu menurut gubernur sudah mendekati merisaukan di Sumatra Barat bila disangkutpautkan dengan pariwisata. Banyak kakus di tempat umum yang joroknya bukan main. Dari saluran yang mampet sampai ke air yang tidak mengalir adalah pemandangan di banyak kakus umum kita. Di restoran, rumah makan, kantor pemerintah, swasta yang namanya kakus umum senantiasa terlupakan untuk diurus secara serius.

Di Malaysia kakus disebut tandas, di kampung saya di Aie Angek disebut tandai, di Thailand selatan disebut shuam. Orang Malaysia lebih care dengan tandas. “Sejak zaman british (Inggris) di tempat umum selalu disediakan tandas yang bersih. Tapi di kampong-kampong awalnya belum. Sekarang kerana pelancongan (pariwisata) jadi penyokong ekonomi, maka tandas jadi syarat. Tak ada tandas, tak ada pelancong,” kata Ahmad Fauzi bin , seorang pemandu wisata.

Kepada saya dipanggakkannya tempat kejamban di sebuah rest area milik PLUS (proyek lebuh raya utara selatan) di ruas Ipoh – Alor Setar. Saya pura-pura takzim. Saya sudah mencoba mengejambani kakus itu barang empat kali kunjungan ke Malaysia sebelumnya. Kini saya coba lagi, kejamban tetap lasuah, air keran tetap lancar, lantai tetap mengkilap karena tiap setengah jam dipel, tempat shalat menyenangkan, tak ada tukang semir, tak ada yang memungut uang kejamban, pokoknya masih ueeenaaak!

Udara cerah ketika saya dan kawan-kawan melucus meninggalkan batas negeri Selangor dengan bus pelancongan. Ekon alias AC mobil yang disetel dalam posisi high sekaligus memberi isyarat para ahli hisap seperti yang saya ceritakan kemarin tak berkutik.  Merokok di sembarang tempat bisa kena saman (denda). Walhasil meskipun di tempat kita AC nya disetel sedingin es, kita malah keasyikkan melanggarnya; dalam ruang ber AC pun rokok kita pompong jua.

Tak merokok malah membuat kejamban tiap sebentar terpancar. Maka tak urung tiap 100 km para penumpang minta berhenti. “Ada tandas?” kata Devi ‘Pung’ Kurnia, juru bicara Pemprov Sumbar tiap kali bus hendak berhenti. Tapi sesungguhnya bagi kaum perokok tandas adalah tempat paling asyik menikmati asap nikotin. Sedangkan bagi yang lain itu juga sorga melepas ketegangan berjam-jam selama perjalanan.”Duduk di tandas juga enak,” kata Edi Busti, jurucakap Pemkab Pasaman Barat yang ikut dalam perjalanan itu..

Lebuh raya utara selatan yang Mbak Tutut pernah ikut membangun itu memang menyediakan rest area yang cukup banyak. Ada yang ditempatkan di ‘hentian sebelah’ (hanya utk satu arah saja) ada yang untuk dua arah. Begitu juga di gerbang-gerbang tol, selalu ada tandas.

Di Thailand selatan meskipun tak sebaik di Malaysia, tandas yang disebut shuam rupanya mutlak ada di tempat-umum. Hatyai, kota di provinsi Shongkla sejak beberapa tahun menjadi kota wisata di Selatan Thailand. Sebagai sebuah kota wisata, maka pemerintah Hatyai memandang kebersihan mutlak jadi modal penarik pelancong. Terutama pelancong dari Malaysia dan limpahan turis dari Bangko atau dari Pattaya dan Chiang Mai di sebelah mudik Bangkok.

Tandas menjadi bagian penting dari industri wisata. Singapura, Malaysia dan Thailand berkompetisi dalam merayu kedatangan wisatawan. Indonesia tak dijadikan kompetiter? Para operator pelancongan di ketiga negara itu seperti sepakat saja menyebut Bali sebagai kompetiter, bukan Indonesia. Seolah Bali dan Indonesia itu beda di mata mereka.

Tapi saya kira tak usah kecil hati menerima kenyataan ini. Selama urusan tandas yang keciiiil itu bisa dibereskan, maka ia akan mendatangkan manfaat yang besaaaaar.

Memang membanding Malaysia dengan Sumatra Barat tak adil, tapi kalau hanya membanding kakus alias tandas antara negara tetangga dengan Sumatra Barat saya kira cukup adil. Sebab membangun restoran, kantor, pasar, tempat ibadah atau hotel toh tak akan melupakan pembangunan toilet. Tak ada kantor atau rumah makan yang tak bertandas di Sumbar. Tapi kenapa masih jadi keluhan?

Saya kira masalahnya pada kesungguhan mengelola. Sering kita hanya punya perhatian untuk urusan yang masuk perut tanpa memberi perhatian yang sama dengan urusan keluar perut. Kalaupun kita punya tandas, selain banyak yang jorok tak terpelihara juga banyak yang sudah tandas pula alias tidak berfungsi lagi.

Iklan

Desember 11, 2007 - Posted by | wisata

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: