WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Televisi Adiluhung


Kata Bill Gates, sebentar lagi zaman media cetak akan menuju museum. Peranannya akan digantikan oleh media pandang dengar di internet. Ia sebenarnya  tidak menyebut itu adalah era televisi. Tetapi sekalipun tesis Bill Gates itu seperti termentahkan dengan masih bertahannya banyak media cetak di AS, di kampungnya sendiri, menurut saya era media berbasis IT itu terlebih dahulu akan ditransisikan oleh bulan madunya media TV.

Awal tahun 2000an lalu saya dapat kesempatan melakukan studi awal untuk dibangunnya satu televisi milik Pemprov Sumbar. Saya pun memperoleh banyak pencerahan seputar media yang satu ini (sayangnya, meskipun hasil studi itu dari sisi kelayakan sangat layak dibangun, tapi urung. Saya kira itu karena alasan-alasan subyektif saja)

Tapi saya pun bergembira, akhirnya jagad pertelevisian lokal di Sumatra Barat setelah itu bisa menjawab impian-impian saya. Dulu saya amat khawatir, kalau TVRI Padang hanya menjadi pemain tunggal. Kata orang Malaysia, tak elok lah, macam tu. Karena itu ketika ada Favorit TV, ada Padang TV (mungkin akan diikuti oleh yang lain) hidup ini terasa agak lengkap. Ada banyak pilihan, tidak monoton oleh sajian tunggal. Saaya kira para brodkaster lokal pun gembira lantaran ada kompetisi.

Di tingkat nasional TVRI pun mulai menjadi tidak pemain tunggal ketika ada RCTI, lalu SCTV dan seterusnya.  Tadinya yang terjadi adalah informasi audiovisual yang amat afirmatif alias wacana tunggal. Kita seoalah hanya dibolehkan untuk mengenal seorang Usi Karundeng, Magdalena Daluas, Sazli Raiz, Bonita atau Inke Maris. Jika jika bosan menatap wajah Pak Harto pada sidang paripurna DPR, paling-paling kita Cuma bisa mematikan tombol on-off TV. Tak bisa mengganti chanel. Begitu juga kalau kamera hang high-angle menyorot rambut licin Menpen Harmoko sampai setengah jam untuk menyampaikan konferensi pers hasil ‘petunjuk bapak presiden’, tak bisa kita alihsalurankan ke stasiun lain.

Tapi ketika alam berubah, TV swasta masuk dan menjamur, giliran TV swasta pula yang disorot pengamat. Yang tayangannya hantu melulu lah, yang sinetronnya tidak mencerminkan budaya nusantara lah, yang mengumbar gosip tiga kali sehari (tanpa sendok makan) lah, yang banyak tayangan mistiklah, yang iklannya memancing konsumerismelah, yang tidak mendorong nasionalismelah. Macam-macam. Dan satu lagi, rating menjadi dewa, engku Nelsen (AC Nelsen) tak boleh diragukan kemahabenarannya.

Logikanya, tentulah kita harus kembali ke pangkal kaji. Kalau begitu TVRI lah tempat kita kembali. Kita rindu Pak Timo yang pintar memuji anak-anak, hingga semua anak menjadi merasa hebat. Kita kangeni tayangan macam Sayekti dan Hanafi. Mbak Pur di tayangan Losmen. Kita rindukan Cepat Tepat nya anak-anak sekolah setiap akhir pekan. Kita rindukan Manasuka Siaran Niaganya yang di blok dalam satu slot panjang (60 menit) dengan opening-theme nya kartun delman. Kita rindukan sebuah televisi tempat kita melepas lelah dari jejalan tayangan kehidupan hedonism. Sebuah brodkas yang masih menyiarkan hal-hal tentang keadiluhungan dan keluruhan budaya bangsa setelah kita penat menonton tayangan dari ketidakluruhan budaya bangsa(t).

Hari ini 45 tahun TVRI, sanggupkah lembaga penyiaran yang memiliki jangkauan paling luas dengan 22 staisiun daerah dan 400an pemacar itu meujudkan impian kita?Yang jelas: selamat ulang tahun TVRI! ueko yanche edrie

Iklan

Agustus 24, 2007 - Posted by | pers/media

2 Komentar »

  1. Uwan lah banyak na bacarito tantang tivi. Tapi janji uwan dulu kamambuek tivi allun juo lai. Kalau lah jadi babbuek, tantu ambo pulang kampuang lai ddan langsung jadi presenter acara baggurau di langit.
    Halooo wan, ba kaba kini. Lain sehat se. Maknaih lah taragak pulang wan, pado baru duo hari marantau lah taragak makan di tampek inyai. Kicek ee, ado cucu iinyai ttu rancak ddan inyo ndak rela si jer mangaduah paja tu. Jadi baa tivi tadi wan

    Komentar oleh Rep | November 14, 2007 | Balas

  2. ha ha, saba lah. kito kumpuan pitih dari timah dulu baru kito buek tivi di padang. Jago-jago mak naih, nyo panyakik paruik mah

    Komentar oleh eko y e | November 14, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: