WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Merdeka Ataoe Patjoe Karoeng!


Tinggal empat hari lagi perayaan kemerdekaan Indonesia akan diperingati. Ini adalah ulang tahun ke-63 Republik Indonesia. Saya mendadak kecut, sudah sedewasa itukah republik ini? Saya anggap usia yang 63 tahun itu adalah sebuah usia matang bagi manusia. Bisakah republik ini dipersamakan dengan manusia? Bisa. Karena toh yang menjalankan dan mendiami serta mengisi kemerdekaan republik ini adalah manusia, bukan robot. 

Seyogianya kematangan itu tercerminlah hendaknya dalam peringatan ke-63 kemerdekaan. Dari tahun ke tahun peringatan kemerdekaan senantiasa dimaknai sebagai sebuah pesta. Gemerlap lampu lampion warna warni, pita merah putih, banner di gedung-gedung tinggi, di gerbang-gerbang kampung dipajang gapura lengkap dengan patung-patung laksana serdadu gagah perkasa memegang bambu runcing. Selebihnya rakyat kecil tenggelam dengan hiruk pikuknya pesta panjat batang pinang, lomba pacu karung, lomba makan kerubuk sampai berjoget dengan iringan organ tunggal, Pak Lurah berpidato penuh semangat sembari mengacung-acung tangannya berseru: merdeka! Maka hadirin pun membalasnya dengan yel serupa. 

Itu sajakah makna sebuah perayaan ulang tahun kemerdekaan?Saya tak hendak mengatakan bahwa sebuah ulang tahun mesti dilaksanakan dengan pesta tiup lilin, lalu orang-orang bersulang sambil mengangkat toast. Jelas itu bukan kebudayaan yang lahir dari perut republik ini.  

Setelah 63 tahun merdeka, seyogianya juga diisi dengan aktifitas-aktifitas kontemplasi. Perenungan, sudah sampai dimana perjalanan kita dan apa yang sudah kita perbuat untuk mengisi kemerdekaan ini? 

Upaya itu di Sumatra Barat tidak terlihat. Buktinya di koran-koran juga tak terbaca adanya kesemarakan penyambutan perayaan kemerdekaan. Di Padang misalnya, yang ada (yang menonjol) adalah peringatan ulang tahun  kota, pesta bahari, Padang Fair. Atau sebelum ini ada pekan budaya.  

Memang, rakyat lebih suka hiburan. Bisa jadi karena rakyat sedang banyak susahnya, jadi berhibur sekali setahun tak apalah, pikir mereka. Tetapi para elit sebenarnya punya kesempatan pula untuk memperlihatkan rapor kita bersama kepada rakyat. Seberapa jauh kita sudah mengisi republik ini selama 63 tahun. Sumatra Barat selama masa merdeka itu sudah berubah dari apa ke apa misalnya? Jadi kita tidak lagi mengkaji kemajuan bupati anu dalam dua tahun ini, gubernur anu dalam tiga tahun ini. Sumatra Barat misalnya, kita ingin rakyat dapatkan rapor kita selama 63 tahun. Ini semua untuk menjadi tempat bersitumpu bagi kita menuju masa depan yang lebih baik. Ada paparan angka-angka yang dimumumkan kepada publik. Semua selain untuk kita kenang juga untuk tak berlalu begitu saja bersama angin (gone with the wind). Untuk kita jadikan cemeti bahwa kita harus bekerja lebih keras dan lebih keras lagi. 

Teruslah berpesta, tapi tidak memabukkan. Teruslah memanjat batang pinang, tetapi terus pula tanpa henti kita gapai cita-cita menuju kemakmuran sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 kita. Merdeka! uH. masoed abidin

Iklan

Agustus 13, 2007 - Posted by | kontemplasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: