WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Batik Bukan Sebuah Romantisme Masa Lalu


Tiap kali disebut kata batik, maka baik di Indonesia maupun dari luar Indonesia orang serta merta terasosiasi kepada kemeja. Jika dalam sebuah undangan resepsi dicantumkan persyaratan pakaian dengan menggunakan batik, tak ada alasan lain untuk mengasosiasikan ‘pesan’ tersebut selain yang diundang mesti menggunakan kemeja batik.

Tidak peduli apakah batik kemudian harus mutlak berarti kemeja belaka. Pertanyaannya sekarang apakah memang batik hanya sebuah idiom untuk mengganti kata kemeja, baju atau pakaian pria? Kalau memang begitu, tidakkah kita sedang dijebak ke dalam perangkap mikrokosmis menyempitkan pemahaman tentang batik? Padahal, batik juga sudah lama ‘diselewengkan’ dari sekedar kemeja (kemeja pria), dari sekedar kain perempuan yang jadi pasangan kebaya menjadi fungsi-fungsi lain. Ia mulai dilarikan keluar pakemnya sebagai sepatu, kipas, tas, kaos, payung, taplak meja, sarung bantal, bad cover, gorden, jok kursi, jok mobil. Atau lebih gila lagi; siapa tahu ada yang sudah bikin celana jeans bermotif batik. Kita juga menanti kebijaksanaan para petinggi olahraga, agar kostum resmi atlet Indonesia dibuat dengan menggunakan batik (maksudnya kaos bermotif batik). Kita impikan Bambang Pamungkas berlari di lapangan sepakbola bersama Elie Aiboy atau Erol Iba dengan kostum bermotif batik. Taufik Hidayat melakukan jumping smash dengan kaos bermotif batik!

***

Batik memang sudah mengindonesia dan ia sudah menjadi ikon Indonesia juga dibanding dengan sekedar ikon Jawa. Sekalipun batik tumbuh subur di Jawa, tetapi kini ia sudah tidak lagi dilihat sebagai fashion etnik. Ia sudah menjadi fashion yang berbasis multietnik di Indonesia. Jangan salah tafsir kalau batik hanya dikenal di Indonesia atau terjerumus pada kejumawan bahwa batik bermula dari Indonesia. Batik juga sudah dikenal luas di daratan Tiongkok, di India, Thailand maupun di Malaysia. Tapi harus diakui bahwa sekalipun ia tidak dilahirkan di bumi Indonesia, kemasyhurannya justru disemaikan di sini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya batik terus meluas pembuatan maupun penggunaannya.

Perbatikan di tanah Jawa semula amat erat dengan feodalisme. Hanya keluarga kraton yang berbusana batik. Batik semula hanya dikenal sebagai kerajinan orang perorang dari ponggawa istana yang membuatkan busana keluarga raja.

Dari literatur yang ada misalnya buku 20 Tahun GKBI, dituturkan bahwa seni membatik diakui bermula dari kraton. Itu meneguhkan pemahaman kita batik berangkat dari masyarakat kelas atas. Artinya ada selang waktu yang memberikan ketrangan kepada kita generasi sekarang ini dimana terjadi masa dimana batik sebagai fashion yang sudah ketinggalan sepur. Masa itu mungkin terjadi ketika sinar kerajaan-kerajaan di Indonesia memudar seiring meningkat pergerakan menuju pembaruan politik, budaya hingga pemerintahan.

Sementara literatur lain di situ sejarah batik (www.story-of batik.com) disebutkan bahwa tak ada kata sahih di mana dan kapan batik mulai dibuat orang. Hanya menurut situs itu, batik kuno berusia 2000 tahun pernah ditemukan. Versi melayu menyebut bahwa sebagai pakaian, batik juga sudah dikenal lama dalam etnis ini. Kain cindai yang sering disebut dalam sastra lisan melayu sesungguhnya adalah kain dengan motif bergambar yang kini disebut batik itu.

Di daratan Tiongkok menurut situs Radio Tiongkok (www.cri.cn) disebutkan bahwa peradaban kuno Tiongkok dicerminkan oleh seni batik. Bahkan di sana disebut-sebut batik paling awal dilahirkan lewat ritual ilmu gaib. Bahkan disana dikatakan seni membatik dilhami dari kebiasaan para nenek melukis kupu-kupu dengan getajh pohon di punggung dan perut cucu perempuan mereka. Dari lukisan di tubuh berpindah pada lukisan di pakaian. Jadilah batik. Lalu orang Cina mulai menjadikan batik untuk pakaian, aksesori, barang seni gantungan, tas dan topi, gorden sampai alas meja.

Kembali ke batik Indonesia. Ada masa dimana kalau berpakaian batik dianggap tidak modis dan katrok. Tapi itu tidak lama. Para perajin batik terus bertahan hingga sentuhan-sentuhan baru berupa manajemen, desain dan kualitas kain mulai masuk ke dunia perbatikan. Perkembangan itu terutama amat terasa pada masa orde baru, batik naik daun. Suka atau tidak suka, karena Presiden Soeharto kemana-mana mengampanyekan batik, maka batik mengalami kemajuan yang amat pesat.

Ketradisionalan batik di Jawa dan daerah-daerah lain di Indonesia mulai mengalami revolusi. Dari produk kerajinan tangan biasa lalu berkembang menjadi industri. Bahan dasar batik yang ditenun tangan mulai memasuki industri tekstil modern. Pabrik-pabrik tekstil bermata pintal banyak mulai berdiri. Batik diproduksi massal. Batik tak lagi sebatas batik tulis dengan canting tapi sudah lebih maju lagi. Lalu dikenal batik cap dan batik cetak. Semua itu tetap tidak meninggalkan kehasan batik yang terletak pada motifnya itu.

Batik lebih sebagai sebuah seni melukis di tas kain. Maka kalau motif-motif di atas kain tidak lagi menerjemahkan seni merangkai gambar atau motif ke kain, citra batiknya tentu akan berkurang.

Kita tidak bisa membayangkan kalau satu hari kelak, canting benar-benar hanya bisa ditemukan di museum batik atau di pelosok-pelosok rumah di Pekalongan, Solo, Yogya dan sebagainya. Ketika itu batik cukup dicitrakan lewat digitalisasi di layar komputer yang bisa memanipulasi carakter apapun.

Tapi siapa bisa menjamin bahwa zaman seperti itu tidak akan ditemui oleh dunia batik? Maka sesungguhnya hal-hal seperti itu tidak patut untuk dijadikan ketakutan akan tenggelamnya batik oleh peradaban posmo. Dengan bekal citra batik yang sudah membasis pada multietnik itu, batik tinggal memassalkan diri lebih hebat lagi. Kata massal dalam hal ini sangat bertendensi memperkuat pengaruh industrialisasi pada batik. Ini sesungguhnya hal yang tak terelakkan.

Ketika di zaman pergerakan kemerdekaan usaha batik menjadi salah satu tulang punggung kaum pergerakan melawan hegemoni imperialis, batik menunjukkan peranan besarnya. Batik berusaha bersaing dengan tekstil non-batik yang banyak didatangkan orang asing.

Upaya mengalahkan atau menyaingi produk asing itu juga sudah meneguhkan semangat para perajin batik misalnya membentuk persekutuan batik semisal Gabungan Koperasi Batik Indonesia dan berbagai persekutuan dagang lainnya, termasuk Serikat Dagang Islam yang diprakarsai H.Samanhudi dan kawan-kawannya. Seperti sudah disebutkan di atas, upaya pemerintahpun tak kalah hebatnya.

Ketika batik sudah membuktikan diri bisa menjadi salah satu warisan budaya, ia juga harus memiliki kemampuan bisa menghidupi bangsa ini. Bak pepatah Minang : ‘Seperti memandikan kuda’ maka pemerintah pun memulainya dengan cara memassalkan penggunaan batik baik untuk kepentingan busana dinas pemerintah maupun buat berbagai organisasi.

Semuanya, disamping untuk terus meninggikan derajat batik, juga untuk menjadikan batik sebagai produk unggulan republik ini. Kembali pada citra batik tadi, bahwa kita harus melihatnya sekarang sebagai sebuah masa depan. Batik jangan lagi diposisikan sebagai sebuah masa lalu. Tapi ia mestinya diletakkan pada ranah seni yang dinamis. Yang siap ditangani secara tradisi maupun oleh putaran generator yang mengatur mata pintal pabrik tekstil.

Ada hal yang masih belum kunjung selesai diperjuangkan oleh masyarakat batik Indonesia. Yakni mengajak kaum muda mencintai batik. Kita boleh saja jengkel mendengar celotehan anak-anak muda baik yang masih ABG maupun mahasiswa ketika ada temannya mengenakan batik.

“Wah bapak-bapak mau kondangan nih” Celotehan itu tentu saja disebabkan masih jauhnya jarak antara anak muda dengan batik. Bagi mereka pakai batik berarti nggak gaul. Memang mereka tidak lagi menyebut kalau mengenakan batik adalah ndeso, tetapi batik dalam idiom anak muda adalah cerminan sosok orang dewasa yang sudah berkeluarga.

Sekali lagi, ini adalah sebuah tantangan bagi masyarakat perbatikan Indonesia untuk mencari trik bagaimana anak muda mulai mencintai batik. Jika memang mau melihat batik sebagai sebuah masa depan, maka segmentasi anak muda ini harus jadi perhatian. Para perajin batik hendaknya mulai memikirkan motif-motif yang bisa dekat ke anak muda. Sementara para desainer juga mulai memikirkan mencipta benda-benda yang menggunakan batik sebagai salah satu media utamanya. Ambil contoh, tas-tas anak muda harus bisa didesain dengan menggunakan batik sebagai bahan dasar. Tas bisa dirancang sedemikian rupa hingga kesan gaul bisa dicitrakan.

Berbagai keseharian anak muda hendaknya bisa diisi oleh batik. Sebuah layar perahu lomba layar tak ada yang salah kalau dibuat bermotif batik. Para pembuat tenda untuk camping juga tidak akan dipersalahkan jika merancang bahan tendanya dengan motif batik.

Yang paling signifikan menggugah anak muda berbatik adalah seragam sekolah. Bukan tak ada seragam sekolah yang menggunakan batik, tetapi biasanya dipakai untuk hari tertentu saja. Padahal jika pemerintah mau, hanya dengan mengubah keputusan Menteri Pendidikan saja tentang pakaian seragam sekolah, maka jadilah batik melekat di semua tubuh anak sekolah di Indonesia. Sebab seragam putih abu-abu untuk SLA dan putih donker untuk SLTP tidak harus sebuah harga mati. Tak ada alasan pula kalau aturan itu diubah akan membuat industri tekstil yang membuat seragam sekolah akan bangkrut. Tinggal mengubah produknya dari tadinya kain berwarna putih polos menjadi bermotif batik.

Menjadikan batik sebagai masa depan memang tidak ada jalan lain kecuali berhenti melihatnya sebagai masa lalu. Batik harus berputar bersama zaman, ia harus senantiasa hidup dengan dinamis.

Kreatifitas sebagai salah satu elemen penting penanda kemajuan tidak boleh dilupakan oleh masyarakat bati Indonesia. Tidak boleh ada sikap yang memandang kreatifitas perbatikan berarti mendurhakai leluhur yang sudah menciptakan batik. Urusan mempertahankan keluhuran warisan yang adiluhung itu adalah urusan yang tak kita biarkan. Tetap ada. Para perajin yang setia dengan seni batik kuno harus tetap dipertahankan juga. Yang keluar dari tangan mereka adalah barang-barang berupa masterpice seni batik. Dan semua pun tahu bahwa itu tidak untuk konsumsi semua orang. Hanya para kolektor, para penyuka seni, para pemburu barang-barang antik lah yang akan menjadi pasarnya. Ruh kesenian yang mereka bentuk ke kain-kain batik dapat menjadi inspirasi para pembuat batik massal yang akan bertarung menuju masa depan tadi. Dari cita rasa yang dilahirkan oleh tangan-tangan piawai perajin batik antik tadi para desainer akan mendapat ilham mengubah batik menjadi berang-barang lintasfungsi.

Maka upaya-upaya memodifikasi dan inovasi batik baik dasar, teknologi maupun produk yang dihasilkan batik harus terus menerus didorong oleh masyarakat perbatikan. Jika sekarang sudah ada handuk batik, topi batik, tas batik, kipas batik, payung batik dan sebagainya, maka tinggal lagi pemassalan.

Para kreator di berbagai lembaga pendidikan seni rupa perlu terus mengembangkan teknik-teknik dan motif batik untuk keperluan yang tidak hanya melulu buat baju kondangan saja. Satu hari pabrik Levi’s harus menyembah-nyembah datang ke Indonesia untuk minta bahan dasar pakaian koboy dengan corak batik. Pierre Cardin, Armani, YSL dan Giovani dan sebagainya harus menyisakan space di gudang-gudang mereka untuk menumpuk bahan dasar batik sebagai bahan baku produksi mereka.

Dari itu kita buktikan bahwa batik bukan sekedar sebuah romantisme masa lalu, melainkan sebuah produk unggulan yang dapat mengangkat martabat bangsa lebih tinggi lagi. Batik kelak akan sama mendunianya dengan Levi’s. Batik adalah sebuah nasionalisme! eko yanche edrie

Iklan

Juli 31, 2007 - Posted by | ekonomi

3 Komentar »

  1. Setujuuuuuu……Sebagai orang Indonesia asli, Seharusnya kita lebih bangga mengenakan batik dari pada mengenakan baju yang bermotifkan bendera USA. Apalagi dibentuk suatu wadah yang menyatukan seluruh pengrajin dan industri konveksi khusus batik yang solid…untuk merumuskan metode pemasaran dan terobosan baru untuk meningkatkan produksi batik.

    Komentar oleh yessi | September 14, 2007 | Balas

  2. ye tengkiu, salam kenal, yessi dimana?

    Komentar oleh ekopadang | September 19, 2007 | Balas

  3. selamat malam mas,
    batik untuk arti batik sendiri di jawa memang asli jawa, walaupun memang kalau di cina ada teknik print, tidak bisa disebut batik. Sama hasilnya (di media kain) tapi beda tekniknya. Yang kadang kita salah adalah memastikan sejak kapan sejarah itu di mulai(dalam hal ini sejarah Jawa), dan memang betul batik dimulai dari kalangan keraton sebab pada masa dahulu yang memiliki pemikiran jauh adalah kalangan keraton, dan perlu diketahui bahwa batik menurut pakemnya adalah digunakan sebagai unsur kain bawah, karena semuanya itu telah dilakukan kajian mendalam, yang anehnya orang-orang disiplin ilmu sekarang belum sampai pada taraf penelitian ini.Banyak desainer dan akademisi berlomba-lomba back to nature and culture, mereka mati-matian membela batik tapi mereka sendiri tidak tahu hal ihwal batik itu sendiri. Menurut saya pribadi, sebelum kita nekat-nekatan berbicara batik, mati-matian pakai batik, kalau tak tahu cerita dan penggunaannya sama saja kita ingin menghidupkan lampu neon dengan korek api.
    thanks mas

    Komentar oleh BADAI-LAUT-SELATAN | Maret 14, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: