WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Sekali Tepuk, UKM dan Industri Otomotif Tertolong


Hanya impian saja yang bisa mewujudkan perasaan Syafrizal (33) bisa duduk di atas sadel Honda SupraFit sebelum ia mengenal sebuah lembaga pembiayaan. Sebab warga kota Kecamatan Padang Utara ini sehari-hari hanyalah pemulung pada sejumlah tempat sampah.  Sehari pendapatannya hanya Rp20 ribu. Kalau lagi apes cuma Rp15ribu saja yang dia bawa pulang untuk istrinya. Untung Ia belum punya anak.

 Empat silam ia ditawari seorang sales sepeda motor untuk membeli sepeda motor. Dia anggap sales itu mencandainya saja. Sebab dengan apa ia akan membelinya? Meskipun ia memang senantiasa mengimpikan dapat sebuah sepeda motor untuk digunakannya sebagai ojek.  Tapi kemudian ia dihadapkan pada realita, bahwa hanya dengan memecah celengannya yang berisi hampir Rp2 juta lalu ditambah uang dari istrinya, kebanggaan Syaf tak terperikan ketika sepeda motor itu ia perlihatkan kepada Inon, istrinya.  

Sejak itu Syaf mengurangi jadwal memulung di tempat-tempat sampah dan lebih banyak berkeliling Kecamatan untuk mengantarkan penumpangnya. Ia kini jadi pengojek. Nasib baik bersamanya, tiga tahun kemudian sepeda motor itu lunas. Ia menjualnya dengan harga Rp7 juta. Uang itu lalu dijadikannya sebagai down payment sebesar Rp6 juta untuk mengambil tiga sepeda motor baru. Sisanya ia tabung. K

ini dua sepeda motor dia serahkan kepada adik dan iparnya untuk diobyekan sebagai ojek. Harapannya dalam waktu tiga tahun mendatang ketiga sepeda motor itu juga lunas dan akan dijualnya pula. Lalu penjualannya bisa untuk dijadikan uang muka bagi  Kalau tak ada aral melintang, tentu ia bisa membawa pulang sembilan sepeda motor baru berkat bantuan lembaga pembiayaan.  

Cerita sukses seperti itu tentulah amat banyak bertebaran di seluruh Indonesia. Sejumlah orang yang bergabung dengan Koperasi Angkutan juga menikmati hal yang sama saat mencoba keberuntungan memiliki angkutan kota. Astra Credit Company misalnya, adalah salah satu yang ikut memberikan pengaruh besar kepada orang-orang kecil untuk bisa membuka lapangan kerja baru lewat kredit mobil. Sementara sektor yang kita ceritakan pada pagian awal tadi misalnya dilakoni oleh FIF, Aldira dan sebagainya.  

Sejak Kepres 61 tahun 1988 (yang mengatur Lembaga Pembiayaan) dikeluarkan, maka peneguhan kepada publik bahwa kesulitan modal tak lagi melulu dikeluhkesahkan kepada bank dan pegadaian. Sebuah Toyota Avanza mengkilap yang terletak di sebuah ruang pamer otomotif bisa saja dibawa pulang hanya dengan Rp25 juta, sekalipun harga rilnya bisa saja sampai di atas Rp100 juta.

Kok bisa? Ya, itu dia, lembaga pebiayaan memang ditubuhkan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pembiayaan. Pembiayaan itu misalnya seperti uang muka kredit mobil, sepeda motor, peralatan rumah tangga dan sebagainya.  Semula banyak yang meragukan lembaga pembiayaan. Maklum ini bisa ditafsirkan sebagai transformasi resiko kredit dari bank ke lembaga pembiayaan.

Jika Anda butuh uang Rp12 juta lalu datang ke bank, tak ada bank yang mau memberikan tanpa ada jaminan yang nilainya pasti lebih besar dari kredit yang Anda butuhkan. Orang-orang kecil sering kecewa ketika didengungkan usaha-usaha kecil mereka akan dibantu perbankan. Nyatanya mereka harus balik kanan setelah customer service di bank itu menanyakan agunan, izin usaha, proposal dan seterusnya. Orang kecil macam Syaf yang hanya pemulung sampah mana ada urusan dengan proposal apalagi izin usaha.  Maka ketika keran lembaga pembiayaan seperti ACC terbuka, orang berduyun-duyun menampungnya.

Bahwa kemudian memang ada macet, lalu kendaraan yang sudah dibawa pulang bisa disita kembali dengan konsekwensi semua cicilan berikut uang muka ikut amblas. Dan itu cukup fair. Rakyat juga harus paham hak dan kewajiban serta mengerti tentang kesungguh-sungguhan.

Keseriusan tidak hanya ketika meneken persetujuan leasing, tetapi juga serius dan sungguh-sungguh dalam mengelola usaha hingga kewajiban mencicil utang juga tidak terkendala.  Tentang adanya kecemasan sejumlah pengamat saat lembaga pembiayaan diperkenalkan, adalah wajar saja. Karena negeri ini memang sudah amat terkenal akan banyak tipu daya. Termasuk memperdaya perbankan. Uangnya dikuras untuk lembaga pembiayaan, lalu pembiayaan mengucurkan ke rakyat, sampai di tangan rakyat macet.  

Dari praktik di lapangan kemacetan kredit itu adalah karena ketidakcermatan dan ketidakkomprehensifan dealer kendaraan maupun lembaga pembiayaan dalam meloloskan permohonan konsumen.

 Sebenarnya kalau lembaga pembiayaan atau dealer menerapkan prinsip-prinsip 4C (character, capacity, capital, collateral) dalam memberi persetujuan pada setiap pemohon faktor non-performance loan alias kredit macet itu bisa diminimalkan.  Kini dengan kerasnya kompetisi antar dealer (baik mobil, motor maupun elektronika) membuat masing-masing dealer berebut pengaruh merayu calon konsumen.

Celakanya lembaga pembiayaan ikut-ikut kehilangan kewaspadaan karena banjirnya permintaan. Dengan 4C maka pertimbangan bahwa moral pengutang (character) bisa dipercaya. Kemudian lembaga pembiayaan juga harus benar-benar meyakini kemampubayaran dari pengutang. Yang tak kalah penting juga apakah pengutang punya modal yang dibarengi dengan adanya jaminan pengutang.  Karena pada prinsipnya lembaga pembiayaan tidak berorientasi pada jaminan, maka jaminan itu diejawantahkan dalam bentuk pembayaran uang muka tadi serta penahanan surat-surat kendaraan oleh pemberi utang.  

Tetapi apapun yang terjadi, nyatanya lembaga pembiayaan telah memainkan peranan yang amat besar dalam menggerakkan sektor UKM (Usaha Kecil dan Menengah) sekaligus berperan besar ‘mengasapi’ industri otomotif nasional.  Data yang ada pada Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tahun 2006, lebih dari 80 persen pembelian kendaraan dilakukan dengan bantuan lembaga pembiayaan. Begitu juga dengan apa yang dilansir oleh Ketua Asosiasia Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI)  Ridwan Gunawan, 4 juta unit lebih sepeda motor yang terjual 80 persen dilepas lewat transaksi lembaga pembiayaan.  

Keberadaan lembaga pembiayaan ternyata telah mengubah anggapan banyak orang bahwa bank bukanlah satu-satunya tempat untuk mendapatkan modal. Keterpinggiran orang-orang kecil oleh perilaku ekstra-prudensial dari para bankir, sungguh terobati oleh keberadaan lembaga pembiayaan.  Lembaga pembiayaan juga sudah memberikan sesuatu yang bernilai kepada para pabrikan otomotif maupun para dealernya. Angka penjualan yang tadinya rendah, tiba-tiba meroket berkat adanya lembaga pembiayaan.  

Maka kalau masih ada yang menyangsikan keberlangsungan hidup lembaga pembiayaan lantaran ketinggian resiko atas kredit yang mereka berikan,  lembaga-lembaga ini perlu mempertimbangkan prudensian yang diterapkan perbankan, tetapi tetap memberi kemudahan bagi publik.  

Yang belum dilakukan sekarang adalah tidak adanya komunikasi pascatransaksi antara lembaga pembiayaan maupun dealer dengan konsumennya. Padahal jika saja diluangkan sedikit waktu berinteraksi, maka apa dan bagaimana kondisi ril konsumen di lapangan dapat dipantau. Dengan demikian, kemuyngkinan-kemungkinan buruk semisal macetnya kredit dapat diantisipasi lebih awal.  Bank boleh sangat ekstraprudensial, tetapi lembaga pembiayaan mesti menerjemahkannya dalam bentuk kepiawaian memenej resiko yang akan timbul setelah kredit disalurkan kepada konsumen.(eko yanche edrie)

Iklan

Juni 29, 2007 - Posted by | ekonomi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: