WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Diplomasi Duren


 

Diplomasi duren! Itu dicatat benar oleh Marshal Green, Dubes AS di Indonesia yang menggantikan Dubes Howard Jones. Menurutnya duren sangat berbahaya. Dengan ektrem dia menulis dalam bukunya: inilah makan paling menakutkan bagi saya, ini makanan dunia ketiga.

 

Green tak seluwes Howard. Karena itu medio 1965 ia disambut kasar oleh publik Jakarta. Di tembok-tembok para grafiti menulis: Green, go Home! Tapi ada juga yang menulis ketika itu dengan lipstick berbunyi: Green Go Home and take me with you!

 

Kembali ke duuu…ren!

Sebuah perjamuan diplomat diselenggarakan. Bung Karno sepertinya mau ngerjain Marshall. BPI (intel negara waktu itu) rupanya mengendus info paten bahwa Marshal Green paling benci bau duren.

Setelah main toast-toast-an pakai cocktail segala, tiba-tiba pelayan masuk dengan sebaki buah duren. Bung Karno langsung mangalokakan durian ranum itu sembari menyodorkannya ke Marshal. Keruan saja sang dubes cemas. Peluh dinginnya keluar. Kalau ditolak, berarti menyalahi tatakrama diplomat. Kalau dimakan juga amat gawat bagi perut Green. Tapi demi the star spangled banner terpaksa disantung juga buah dunia ketiga yang mungkin saja oleh CIA dianggap kualifikasi bahayanya menyamai gas beracun SS nya Gestapo di Jerman. Beberapa jurus kemudian Green pamit ke belakang untuk muntah-muntah. Bung Karno tersenyum. Sebuah diplomasi cara Sang Fajar yang mengungguli sebuah superpower.

 

Duren bukan sembarang buah yang bisa dilecehkan begitu saja oleh seorang Marshal Green (kelak Green amat terkenang dengan itu, iapun sampai mengusulkan program Marshall Plan untuk pembangunan Indonesia di masa Soeharto)

 

Sampai hari ini pun duren tetap saja dianggap buah diplomasi. Sejak pertengahan 2006 rupanya desakan terhadap Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar sejumlah menteri diganti. Biasalah, rumusan klasiknya: tak becus. Karena itu diharapkan Presiden mengganti. Yang menteri ekonomi lah, yang menteri kesra lah, yang menteri polkam lah. Pokoknya ganti.

 

Baik Presiden maupun Wapres sama-sama menahan diri untuk berbicara soal reshuffle itu. Sehingga hanya orang-orang di sekeliling Istana saja yang omong bongkar pasang kabinet. Celakanya yang resah justru para menteri.

 

Inilah gaya konvensi SBY. Ahad 15 April ya atau tidaknya reshuffle itu dipublikasi. Tapi Presiden mendahuluinya dengan ‘ritual’ makan duren bersama wartawan. “Ya reshuffle awal Mei” itu saja yang dikatakan Presiden, lalu menikmati duren di kebun duren Warso Farm, Cihideung Bogor Jawa Barat. Para wartawan mangut-manggut. Enam bulan didesak-desak agar Presiden mau mengatakan ya atau tidak untuk reshuffle, eh di parak duren kiranya itu terlontar.

 

Tapi percayalah, bongkar pasang kabinet bukan sesederhana makan duren. Ini menyangkut kepentingan besar. Soal apa dan bagaimana Indonesia ke depan. Jadi tak bisa hanya diputus di kebun duren.

 

Duren boleh jadi buah diplomasi Presiden, tapi jangan sampai hasil rombak kabinet ini yang muncul adalah kabinet duren, enak di bau nya tapi melukai banyak orang kalau digelindingkan.(eko yanche edrie)

Iklan

Juni 29, 2007 - Posted by | sejarah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: