WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Tahun Babi Disambut Badai


Banyak kecemasan yang menghadang kita saat meninggalkan tahun 2006. Beberapa evaluasi ahli tentang tahun 2006 dan prediksi maupun asumsi mereka di tahun 2007 ini kadang menimbulkan kecemasan.

Baru saja tahun baru yang dalam penanggalan Cina disebut tahun babi ini, bencana langsung menghadang. Banjir, badai dan sejumlah kapal tenggelam. Korban berjatuhan. Sebelumnya menjelang tutup tahun di Sumatra Barat juga terjadi banjir, longsor yang menimbulkan korban nyawa di Kabupaten Solok. Di perbatasan Sumbar-Sumut, gempang mengguncang Muara Sipongi. Di Aceh, tsunami yang sangat traumatik itu belum hilang di ingatan tapi sudah datang pula banjir besar melanda kawasan Aceh Tamiang.

Tahun 2006 sesungguhnya tak sekedar bencana pisik yang kita derita. Tetapi ada bencana politik, bencana budaya, bencana moral hingga terkikisnya nilai-nilai.

Sekedar bencana alam, mungkin kita renungkanlah sebagai sebuah kemestian lantaran kitapun berbuat tak senonoh terhadap alam. Jika Allah murka dan menumpahkan lumpur Lapindo, itu adalah lantaran kesewenang-wenangan kita memperlakukan alam. Lompur, banjir dan galodo lantaran kita tak adil terhadap lingkungan. Kita tuai sekarang akibatnya. Kata para ahli, alam telah bertindak fair.

Tapi bencana budaya, politik hingga bencana moral juga sungguh memilukan kita. Ini adalah lantaran mulai tak berfungsinya indra batin membaca, melihat, merarasakan, mendengar suara rakyat atau persisnya penderitaan rakyat.
Para aktor politik sibuk dengan dunianya sendiri, birokrasi heboh dari waktu ke waktu mengurus dirinya atau komunitasnya.

Mereka kurang peka mendengarkan bahasa batin rakyat. Penderitaan rakyat hanya tamat sampai di kesimpulan seminar-seminar tanpa jelas harus bagaimana menyelesaikannya. Satu dua upaya pemberantasan kemiskinan nyaris tak terdengar dalam banyaknya persoalan-persoalan korupsi melanda birokrasi.

Inilah zaman ketidakpastian. Yang seharusnya mendapat cinta justru mendapat tuba. Yang seharusnya disanjung dengan segenap kehormatan, justru berbuat nista. Artis-artis dengan enak dan enjoy memamerkan kierusakan akhlaknya. Pamer video mesum dengan anggota DPR menjadi tontotan asyik.

Jika ini memang tahun babi, lalu disambut dengan badai dan bencana, maka saya kira sebagai bangsa yang besar kita tak boleh pesimis. Badai, galodo, gempa, kapal tenggelam, kerusakan moral, kahancuran akhlak adalah buah kerja buruk kita selama ini. Maksud saya kalau kita pesimis sambil mengatakan bahwa kita tidak akan pernah lepas dari kenegatifan itu, artinya kita sudah menyerah. Bangsa yang besar ini harus bisa berubah menjadi lebih baik, semuanya harus diawali dengan kebulatan tekad. Tekad untuk berubah menuju kesuksesan. Kalau hari esok sama saja bahkan lebih buruk dari hari kemarin, itu artinya kita sudah benar-benar tak memkiliki apa-apa alias kalah total. Allah sangat benci orang yang tidak mau berusaha mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.(asril kasoema, pemred Harian Haluan)

Iklan

Juni 3, 2007 - Posted by | Budaya

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: