WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Pahlawanku Dora Emon


Sidi Tonek hampir saja naik darah tingginya ketika lagu yang sedang disetelnya di perangkat Hi-Fi nya ditukar oleh anaknya dengan lagu I Write Sins Not Tragedies dari kelompok Panic! At the Disco.Tadinya Sidi mendengar lagu Sapu Tangan dari Bandung Selatan yang digubah sang Maestro Ismail Marzuki. “Abak kuno bana mah, ko lagu alah dua pakan di puncak tangga amerika top forty,” kata anaknya sambil membongkar keping cakram padat dari CDROM.Tumbung! Benar-benar ndak ‘bataratik’ anak kini. Tapi percuma saja Tonek mencoba berargumen kepada anaknya bahwa lagu-lagu Ismail Marzuki bisa merasuki semangat nasionalisme kita. Mengusik alam bawah sadar kita untuk senantiasa mengenang para pahlawan, para pejuang yang sudah berdjoeang memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan tanah pertiwi ini.Apa boleh buat, Tonek mendapati realitas yang tak sama dengan realitas yang dialaminya ketika usianya masih seusia anaknya dulu. Dulu ia ingat ketika di sekolah tak bisa menghafalkan tahun Perjanjian Bongaya, Traktat London, tahun Perang Paderi maka hukumannya adalah disetraaf ‘tegak itik’ satu jam oleh engku guru. Kini kanak-kanak yang matanya masih lucu-lucu bak mata kelinci dan mata Habibie, jika ditanya siapa pahlawan idolamu? Maka jawabannya adalah Dora Emon! Setengahnya menjawab Power Ranger. Yang lain menjawab Sincan. Daya pikat heroisme Satria Baja Hitam telah mencederai pikiran kanak-kanak ketimbang mengidolakan Teuku Umar Djohan Pahlawan. Dora Emon jauh lebih hebat dari Walter Robert Monginsidi yang bersedia ditembak mati demi republik ini. Sponge-Bob animasi dari busa pencuci piring ternyata lebih membetot semangat kanak-kanak dan lantas mengidolakannya dibanding mau membaca agak separagraf sejarah PDRI yang dimaktubkan dalam kitab ‘Somewhere in the jungle’ oleh Mestika Zed.Kita khawatir, jangankan tahu nama besar Bung Hatta, Bung Karno. Dokter Douwes Dekker, H.Abdul Karim Amarullah, Sjech Mohammad Djamil Djambek, Inyiak Musa Parabek, Rahmah El Joenoesiah, mencoba untuk menghafal fragmen-fragmen perdjoeangan lokal Sumatra Barat pun kanak-kanak kita seperti tak ada minat. Ini sungguh satu kuplet irama pilu dalam keseharian kita untuk mewarisi nilai-nilai kepahlawanan. Heroisme, patriotisme, kesatriaan kelak hanya akan tertulis di relief-relief batu, bukan dalam jantung hati kanak-kanak kita. Merdeka!(eko yanche edrie)

Iklan

Juni 3, 2007 - Posted by | Budaya

2 Komentar »

  1. wah aku terharu kepada dora emon

    Komentar oleh liliput | Juli 3, 2008 | Balas

  2. hai lain kali tulisannya dibesarkan ya……. karena aku tida kelihatan tulisannya

    Komentar oleh macan | Juli 3, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: