WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Melokalkan LKBN Antara


Kemarin meskipun tidak persis di tanggal ulang tahunnya, Lembaga Kantor Berita Nasional Antara merayakan hari jadi ke-69 bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Wisma Antara
Jakarta.


Ada satu pernyataan yang sedang ditunggu-tunggu oleh segenap pewarta kantor berita pemerintah RI itu, yakni jadi tidaknya Antara berubah status dari Lembaga Pemerintah Nondepertemen (LPND) menjadi Perusahaan Umum (Perum)

Presiden kemarin rupanya sudah memberi ‘bocoran’ bahwa tahun depan, ia akan teken peraturan pemerintah pengalihan status LKBN Antara jadi Perum.

Itu artinya tahun depan, LKBN Antara mungkin tak akan menggunakan kata ‘LKBN’ lagi. Ia akan seperti Perum Pegadaian. Bagian utama dari konsekwensinya adalah bahwa Antara diharapkan menjadi mandiri. Ia akan disapih oleh Sekretariat Negara, tempat dimana ia diafiliasikan selama ini.

Menurut saya, ini bukan langkah baru bagi para pewarta Antara. Ketika didirikan tanggal 13 Desember 1937 oleh Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahoetar dan Pandoe Kartawagoena, kantor berita ini juga bukan milik siapa-siapa. Tapi semangat jurnalisme dan nasionalisme kemudian menghela para pendiri itu untuk mengklaim bahwa ini adalah kantor berita
Indonesia. Barulah tahun 1962, Antara dinyatakan sebagai LKBN yang berada di bawah Presiden.

Kini dalam usia yang sudah 69 tahun itu, tentulah tak terlalu berolok-olok benar kalau dikatakan Antara telah merekam seluruh perjalanan republik ini sejak disiarkannya naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. Sedih dan gembira, jatuh dan bangun, gelap dan terang, kalah dan menang dan semua warna-warni republik ini sudah direkam Antara. Saya boleh katakan, kantor berita ini sudah jadi buku harian bangsa ini.

Ia juga sudah ikut membesarkan ratusan suratkabar dan majalah yang terbit di negeri ini. Pasokan berita-beritanya tidak pernah kosong menghiasai halaman-halaman koran nasional. Begitu urusan telex Antara mengalami kerusakan, maka redaktur koran-koran di tahun 70an langsung berkelibut. Maklum waktu itu hampir setengah isi halaman koran di daerah dipasok Antara.

Kini dalam usia 69, berangsur-angsur hegemoni Antara di arena pemberitaan nasional mulai berkurang. Ini Sejalan dengan perkembangan media-media mainstream yang juga membangun jaringan berita sendiri. Kompas menggunakan Indopresda, Jawapos Grup dengan JPNN, Radio 68H dengan jaringan radio-radio yang berafiliasi dengannya, Radio Elshinta melakukan hal yang sama. Harian Haluan juga pernah sangat aktif menggalang sindikasi berita dengan sejumlah koran di Jawa, Bali dan
Sulawesi.

Ini mengharuskan Antara memahami juga posisinya. Paling tidak ia mesti melakukan repositioning dari pasokan seragam menjadi pasokan spesifik. Belum tentu satu berita dibutuhkan oleh semua media. Jika Antara ingin terus berkembang, di tahun-tahun mendatang mestinya mulai memikirkan pasokan menurut kebutuhan media langganannya. Mungkin akan ada hanya langganan berita lokal bagi pelanggan lokal. Sama seperti layanan berita TV yang kini mulai dikerjakan Antara.Jadi, Dirgayahu Antara! (eko yanche edrie)

Iklan

Juni 3, 2007 - Posted by | pers/media

1 Komentar »

  1. bagus ,saya suka

    Komentar oleh ana susanti-aippsa | November 3, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: