WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Aie Angek Setelah 78 Hari


Enam Maret Enam Skala Reichter Enam Menit!Tanpa jeda. Lalu punah rarah. Ribuan rumah ambruk ke bumi. Gempa tak pandang bulu. Rumah orang kaya rumah orang miskin, sama saja. Kini mendekati tiga bulan setelah gempa dahsyat di sebagian besar wilayah Sumatra Barat itu sudah berlalu. Getaran di bawah bumi mulai menyurut meskipun tiap hari masih saja terjadi. Namun secara psikologis masyarakat sudah mulai beradaptasi dengan kondisi ini.Selama lebih sebulan dari 6 Maret 2007 itu berbagai pihak sudah menunjukkan kepedulian dalam bentuk tanggap darurat. Dari instansi pemerintah dan swasta hingga lembaga-lembaga Internasional sudah turun tangan.Kini masa tanggap darurat itu sudah berakhir. Yang disambung dengan program-program pemulihan atau recovery dengan kebutuhan dana yang tak sedikit. Pemerintah provinsi mencatat mendekati angka Rp2 triliun.Di berbagai nagari yang mengalami bencana, masyarakat kini nyaris tak punya tempat berteduh seperti sediakala. Sebulan masa tanggap darurat, yang dirasakan adalah kekurangan makanan dan kebutuhan logistik lainnya. Tetapi sekarang setelah masa tanggap darurat berakhir, yang dihadapi masyarakat adalah trauma pascagempa hingga ketidakmungkinan mendirikan rumah tempat bertdeduh seperti sediakala dalam waktu cepat.“Tak mungkin membangun dengan cepat. Karena masyarakat umumnya tidak punya tabungan apalagi asuransi. Walhasil semua sangat bergantung pada bantuan pemerintah,” kata N. Dt. Simarajo, warga Nagari Gunung Rajo Kecamatan Batipuh Tanah Datar.Di Aie Angek Kecamatan X Koto Tanah Datar hal yang sama juga dirasakan masyarakatnya. Hanya seperlima saja dari total bangunan yang ada di Nagari  di lereng Gunung Merapi itu yang masih ‘berdiri’. Selebihnya kalau tidak rata dengan tanah, pastilah kondisinya amat parah, tak layak dihuni lagi.Bantuan yang pernah dijanjikan pemerintah belum kunjung turun. “Tak mungkin masyarakat terus menerus berada dalam tenda darurat, eknomi keluarga harus bergerak,” tutur Plt.Wali Nagari, B. Sutan Saidi.Maka lengkaplah cobaan bagi masyarakat di
sana. Rumah tak terbangun, anak-anak harus sekolah, tahun ajaran baru tiba pula, beberapa persil sawah kekeiringan karena ada irigasi yang rusak diguncang gempa.
Menyadari kondisi ini, Wali Nagari bersama perangkatnya mulai menggugah kesadaran masyarakat untuk tidak terus menerus berkeluhy kesah, menangisi apa yang sudah terjadi. “Berlama-lama dalam kedukaan tentu hanya akan membawa kerugian. Semua harus bangkit kembali, kembali ke sawah dan ke ladang. Kembali meneruka bumi untuk mencari kehidupan yang lebih baik demi menghidupi keluarga,” kata B. Sutan Saidi.Tiap hari ia menggelorakan semangat warga untuk menatap kenyataan yang ada. Musibah ya musibah. Selain mesti diterima dengan sabar dan tawakal, tidak boleh terus menerus terkepung kedukaan dan keputusasaan. “Walhasil yang bertani kembali ke sawah, yang sudah bisa membangun rumah darurat dengan bambu ya bangun dulu. Lupakan dulu akan ada bantuan atau tidak dari pemerintah, kami mencoba berdikari mengatasi masalah ekonomi masing-masing,” kata Sutan Rangkayo Batuah (55). Ia bertani sayuran organik dan menjualnya di pasar sayur organik Aie Angek. Menjelang habis masa tanggap darurat ia sudah mengajak semua anggota keluarganya untuk bangkit dari keterpurukan. “Nasib tidak akan diubah Allah  kalau kita tidak berusaha pula mengubahnya,” kata ayah
lima anak ini.
Ia mendirikan rumah dengan bahan
baku dari bambu. Ia berpikir kalau tidak diusahakan sendiri tentu tidak akan bisa-bisa juga. Lagi pula ia tak ingin cucunya yang masih kecil terus menerus tinggal di tenda.
Langkah Rangkayo itu diikuti juga oleh banyak penduduk Aie Angek. Semua pria yang sebelumnya adalah petani di sawah bertanam palawija, ya kembali ke sawah. Yang berladang kol di hutan kembali berladang. “Kita lupakan dulu ada atau tidak bantuan dari pemerintah, perbaikan ekonomi harus segera dilaksanakan tanpa menunggu program-program pemerintah,” kata Jon (40) juga seorang petani. Rumahnya sudah tak mungkin dihuni lagi. Iapun mengajak keluarganya untuk bergotongroyong merehabilitasi rumah kayu yang masih tersisa. Semua menggunakan bambu.Kini hampir semua penduduk sudah mulai menyadari bahwa saatnya bangkit kembali dari keterpurukan tidak harus menunggu bantuan pemerintah. “Bukan berarti bantuan pemerintah tidak kita butuhkan. Tetapi kalau urusan bantuan itu memrlukan teknis adimistrasi yang agak rumit, tentu kami menunggunya agak lama. Sementara kehidupan berputar terus, saat bangkit dengan penuh semangat dan harapan sudah tiba,” kata St. Rangkayo Batuah.Enam Skala Reichter Enam Menit.

Begitu cepat meluluhlantakkan sebagian Minangkabau. Tapi tidak boleh terlalu lama dalam palunan kedukaan. “Saatnya menyingsingkan lengan baju lagi,” kata Wali Nagari Aie Angek B.Sutan Saidi.(haluan/rabu/23 Mei 2007)

Iklan

Juni 3, 2007 - Posted by | SUMBAR HARI INI

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: