WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

OKB dan OBB


Soal menetapkan siapa yang miskin siapa yang tidak atau berapa yang miskin berapa yang tidaknya rakyat Indonesia, ternyata bukan perkara gampang. Setengah mampus orang Bappenas dengan BKKBN basiarak mempertahan argumentasinya masing-masing.

Perkara miskin atau tidak miskin juga bertambah ruwet ketika orang Jakarta punya cara pandang berbeda dengan orang daerah. Walhasil alih-alih memberantas kemiskinan, soal menentukan syarat dan rukunnya orang miskin saja kita terpaksa bikin heboh nasional dulu.

Sidi Tonek bertengkar dengan dengan saya soal itu. Kawan saya ini memilih sudut pandang linguistik (maksudnya kebahasaan, jadi agar terdengar hebat Sidi menggunakan istilah linguistik) Sidi Tonek mempertahankan argumentasinya bahwa antara miskin versi orang
Jakarta dengan miskin versi otonomi daerah memang harus berbeda.

Tonek mendalilkan, dalam logat lokal miskin disebut bansaik. Tapi rupanya orang
Jakarta salah dengar. Mereka kira bansaik harus diucapkan dengan bangsat. Diacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka bangsat artinya semacam kutu busuk. Di Jakarta, kata bangsat dijadikan umpatan.

Beberapa orang Jakarta yang salah terima dengan dalil Sidi Tonek akhirnya mencoba memperturutkan nafsunya membuat kalimat-kalimat spanduk. “Memberantas Bangsat” atau “Angka Kebangsatan Sumbar meningkat” atau “Jumlah Penerima Beras Bangsat Menurun”.

Eh, lama-lama istilah bangsat rupanya berubah fungsi. Orang malah tiba-tiba jadi suka dibilang bangsat. Kawan saya yang lain Bagindo Toron baru kali itu ke Jakarta. Ia dibekali ide oleh Sidi Tonek. Katanya kalau di Jakarta cukup belajar Elu atau Gue saja. Maka ketika Toron turun di pintu Busway sembarangan tempat, kondekturnya berseru: Eh, bangsat lu! Toron mengira ia sedang diuji bahasa Jakartenye, maka dengan arogansi pemegang otonomi daerah, Toron pun memburangsang. Ia berkacak pinggang sambil berteriak: “Hoi, gua juga bangsat, tau?

Ya ya. Kemiskinan adalah bagian dari kekufuran. Termasuk kemiskinan pada hati nurani. Banyak orang yang tadinya miskin kemudian mendapat rezeki nomplok lalu berubah status jadi OKB alias Orang Kaya Baru. Lagaknya juga baru, cara bicara, berpakaian sampai ke hobi. Bahkan kalau ia bercarut pun sekarang sudah modern dan lebih dahsyat. Tapi ini sudah biasa.

Beda dengan OBB alias Orang Bangsat Baru. Ini adalah spesis yang kehilangan malu. Mereka mau bergedincit berebut kartu tanda miskin. OBB gayanya langsung berubah. Bicaranya berhiba-hiba, carut marut sudah kurang, sekarang sudah sering tidak gosok gigi, baju sudah beberapa hari tidak diganti. Semuanya agar bisa mengesankan sebagai anggota Orang Bangsat Baru. Agar dapat BBM bersubsidi, agar anak-anak bisa sekolah gratis, agar berobat tanpa bayar. Soal orang yang sebenar-benar miskin jadi tersisihkan atau teralahkan, itu soal lain lagi. Yang penting orang
Jakarta bisa meangkreditasinya sebagai orang yang benar-benar bangsat! Bae…lah(ekoyanche edrie)

Iklan

Juni 3, 2007 - Posted by | kontemplasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: