WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

CATATAN GADO-GADO MELAWAT KE AMBON MANISE (4-habis)


Mau Sekolah Perlu Kapal, Mau Kapal Perlu Dermaga 

Mari sekolah! Ujar sebuah tag line iklan di TV. Tapi ketika tag line iklan itu bergema di Negeri (nagari di Sumbar) yang terletak di pulau-pulau sekitar laut Banda Maluku, terasa kelat bagi penduduknya.Untuk bisa sekolah, perlu gedung sekolah yang memadai dengan jarak tempuh dari kediaman penduduk juga masuk akal.Sambil menawarkan papeda (makanan khs Maluku) kepada anggota DPRD Sumbar, Irdinansyah Tarmizi, saya dengarkan komentar gubernur Ralahalu tentang dunia pendidikan di provinsinya.“Minimnya infrastruktur di Maluku dampaknya sampai ke kurangnya fasilitas publik. Transportasi yang tak cukup membuat pembangunan pendidikan jadi terendat pula. Jadi ini kiait berkait,” katanya dalam santap malam di kediaman gubernur.Dari percakapan itu juga saya catat bahwa sesungguhnya hampir seluruh kawasan di Kabupaten/
Kota yang ada di Maluku mengalami ketertinggalan. Ini terutama makin parah tatkala konflik yang berujung kerusuhan massal tahun 1999.Ribuan bangunan sarana dan prasarana publik hancur, terbakar dan rata dengan tanah.Inbfrastruktur yang tersedia saat ini adalah sekitar 980an kilo meter jalan negara. Tapi sepersepuluhnya masih merupakan jalan tanah liat. Seperempatnya rusak berat. Sedang jalan provinsi ada sekitar 900an kilo meter dengan kondisi seperti jalan negara tadi.Transportasi antar pulau memerlukan kapal dan dermaga. Tapi dari 1400an pulau hanya ada 60 pelabuhan singgah, itupun hanya separuhnya saja yang memiliki dermaga yang bisa menambatkan kapal.Dengan kondisi seperti itulah peta pendidikan dibuat di Maluku. Mobilisasi guru yang mengharuskan lintaspulau kadang terasa mengganjal. Jika di satu pulau hanya ada SD, lalu untuk melanjutkan ke SLTP yang ada di pulau lain, mulai timbul masalah. Apalagi kalau sudah mulai menapak ke SMA atau SMK. Tak semua pulau memiliki SLTP dan atau SMA.Maka sebagaimana dikatakan para pendidik di
Ambon, hanya ada dua cara saja mengatasi kerumitan daerah kepulauan itu. Pertama bangun sekolah lengkap SD-SMP-SMA di setiap pulau. Atau pilihan kedua, sediakan transportasi yang memadai dan lengkap untuk memobilisasi komunitas pendidikan dari tempat tinggalnya ke lingkungan sekolah.Trayek pelayaran perintis yang hanya ada delapan. Empat diantaranya berpangkal di
Ambon, sedang sisanya dibagi antara Maluku Tenggara (di Tual) dengan Maluku Tenggara Barat (di Saumlaki)Kembali ke soal pendidikan tadi. Pertikaian sosial yang terjadi telah menghancurkan infrastruktur pendidikan pada seluruh tataran mulai dari taman kanak-kanak sampai pada Perguruan Tinggi, sehingga sangat mengganggu pengembangan sumberdaya manusia yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah. Masalah ini memerlukan perhatian yang sangat serius, karena terkait dengan upaya membangun Selain pelbagai sarana prasarana pendidikan mengalami penghancuran, juga terjadi eksodusnya guru-guru sekolah mengakibatkan tingginya angka anak putus sekolah dan merosotnya mutu pendidikan. Situs Pemprov Malku yang saya kutip di sini menyiarkan secara nasional murid-murid sekolah di Maluku mengalami penurunan kualitas pendidikan yang diindikasikan dari ranking dalam ilmu-ilmu sosial yang menempati urutan ke 29; dan untuk matematika, menempati peringkat ke 30 dari 30 Provinsi yang ada di Indonesia. Secara umum, walaupun angka melek huruf penduduk Maluku cukup baik, namun mengalami penurunan yaitu dari 97,8% dalam tahun 1999 menjadi 96,66% di tahun 2001. Demikian halnya dengan angka partisispasi sekolah, dimana untuk kelompok umur 7-12 tahun sebesar 93,1% di tahun 1999 turun menjadi 92,32% di tahun 2001, kelompok umur 13-15 tahun sebesar 86,8% di tahun 1999 turun menjadi 80,36% di tahun 2001, naik menjadi 81,55% tahun 2002, dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 72,5% di tahun 1999 turun menjadi 64,28% di tahun 2001, naik menjadi 65,77% di tahun 2002. Angka partisipasi murni di sisi lain dalam tahun 2001 rata-rata untuk SD sebesar 86,04% naik menjadi 87,53% di tahun 002. Untuk SLTP rata-rata sebesar 60,35% di tahun 2001 naik menjadi 61,12% di tahun 2002. Untuk SLTA rata-rata sebesar 53,60% di tahun 2001 naik menjadi 53,97% di tahun 2002. Untuk pendidikan tinggi maka diketahui bahwa baru sekitar 14% dari penduduk usia 19-24 tahun yang belajar di perguruan tinggi, hal ini sangat rendah bila dibandingkan dengan di Filipina dimana angka ini adalah 25%, walaupun secara nasional besarannya adalah sekitar 14%. Tinggi rendahnya angka partisipasi pada suatu wilayah sangat ditentukan oleh ketersediaan sarana prasarana pendidikan termasuk guru di wilayah tersebut. Dalam tahun ajaran 1999/2000, jumlah SD yang ada di Maluku mencapai 1.561 unit, menurun menjadi 1.555 unit di tahun 2001/2002. Jumlah SLTP di tahun ajaran 1999/2000 sebanyak 309 unit menurun menjadi 300 unit pada tahun ajaran 2001/2002. Jumlah SLTA di tahun ajaran 1999/2000 sebanyak 121 unit menurun menjadi 116 unit di tahun ajaran 2001/2002. Berdasarkan data perkembangan pendidikan di Provinsi Maluku Tahun 2004, diketahui bahwa jumlah SD sebanyak 1.595 buah dengan jumlah siswa sebanyak 230.458 orang, sedangkan jumlah SLTP sebanyak 302 buah dengan jumlah siswa sebanyak 61.615 orang, selanjutnya jumlah SMU/SMK berjumlah 144 buah dengan jumlah siswa sebanyak 42.668 orang. Akibat pertikaian sosial yang terjadi di Maluku, diketahui bahwa jumlah SD yang rusak ringan sebanyak 263 buah, rusak sedang 202 buah dan rusak berat 564 buah, sedangkan SLTP yang rusak ringan sebanyak 77 buah, rusak sedang 64 buah dan rusak berat 90 buah, SMU yang rusak ringan sebanyak 15 buah, rusak ringan 22 orang dan rusak berat 29 buah, sedangkan SMK yang rusak ringan sebanyak 5 buah, rusak sedang 5 buah dan rusak berat sebanyak 10 buahBerbagai upaya untuk mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan sudah dilakukan. Bahkan pemerintah pusatpun sudah menerbitkan Inpres khusus (Inpres 6 tahun 2003) yang isinya berbunyi ‘Percepatan Pembangunan Maluku Pascakonflik’.Hasilnya?“Belum, bahkan pengembalian ribuan pengungsi ke tempat penampungan permanen hingga kini belum juga bisa kita tuntaskan,” kata gubernur.Banyak orang di pengungsian membuat penanganan masalah pendidikannya juga rumit. Tadinya mereka sekolah di kampung asalnya. Tapi pascakonflik berada di pengungsian, di sekitar itu hanya ada satu sekolah yang sudah padat muridnya. Dapat dibayangkan bertapa berjubelnya gedung sekolah oleh para siswa pengungsi.Beberapa kali para pengungsi juga mendesak pemerintah provinsi untuk mempercepat pembangunan pemukiman baru atau kepada mereka diberikan dana membangun sendiri rumahnya.Pemerintah Maluku menetapkan bantuan kepada pengungsi untuk membangun rumahnya kembali dengan beberapa kriteria. Antara lain adanya identitas yang jelas,  kartu keluarga, denah rumah, serta peta blok (lokasi rumah terbakar).Tapi karena keminiman anggaran penempatan kembali para pengungsi (resettlement) harus belum bisa dilaksanakan menyeluruh. Sementara jumlah pengungsi dari tahun 1999 hingga tahun 2004 sebanyak 65.910 kepala keluarga dan yang sudah tertangani 62.860 KKSaya catatkan kembali akibat konflik pada tahun 1999 itu. Hampir 30 ribu rumah hancur, 251 rumah ibadah (gereja dan mesjid) 141 gedung sekolah berbagai tingkatan hancur lebur, 20 rumah sakit rata dengan tanah, 106 kantor pemerintah dibakar serta 636 unit pertokoan hanya tinggal puing. Belum lagi korban nyawa yang hingga kini belum kunjung ada angka resminya. Ada yang menyebut 2.500 orang ada yang 1.000 orang. Entah, yang jelas banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya dan tak menemukan jenazahnya.Maka, kalau Komisi IV hendak menyilau dunia pendidikan di Maluku paling tidak akan berguna untuk mempelajari bagaimana Maluku keluar dari kemelut pascakonflik tadi.(eko yanche edrie)

Iklan

November 10, 2006 - Posted by | melawat ke maluku

2 Komentar »

  1. Salam kenal Uda.. 🙂
    Keep up the good work..!

    cheers,
    Hafif
    http://blog.hafif.info

    Komentar oleh Hafif | Januari 10, 2007 | Balas

  2. terimakasih hafif

    Komentar oleh eko | Februari 24, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: