WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

CATATAN GADO-GADO MELAWAT KE AMBON MANISE (1)


 Konflik, Sejarah Kelam yang tak Terlupakan

Agak aneh juga saya dengar ketika Komisi IV DPRD Sumbar memutuskan hendak melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Maluku dalam rangka studi banding terutama untuk sektor-sektor yang menjadi gawenya komisi ini (Kesra). Apa yang akan dipelajari untuk kepentingan Sumbar dari dunia pendidikan, kesehatan, sosial dan bidang Kesra lainnya? Saya pikir Sumbar berada jauh di atas Maluku.Menurut akal sehat saya, jika Komisi IV hendak studi banding juga untuk sektor-sektor yang jadi counterpart mereka mungkin akan lebih pas ke Jakarta, Yogya atau Bandung saja.Tapi sudahlah, saya bunuh saja pikiran itu, lalu saya pun mencoba bergabung dengan mereka dan ikut terbang ke Ambon, kota yang waktunya berselisih 2 jam dengan Padang itu. Saya pikir, Mahyeldi, Rizal Moenir, Guspardi, Muslim Yatim, Irdinansyah Tarmizi, Salmiati, Abdul Kadir, Hayatul Fikri, Mockhlasin, Syafril Hadi, Saidal Masfiudin dan Erwina Sikumbang cukuplah jadi garansi bahwa keputusan berstudi banding ke Maluku 19-22 September tidak keliru.Membangun bidang Kesra di atas negeri yang dikoyak konflik tentulah amat berat. Maka, kalau energi dan perlakuannya harus sama dengan daerah yang tak dilanda konflik horizontal, hasilnya pastilah tidak sama.  “Karena itu energi dan perlakuannya untuk Maluku juga harus berbeda dengan provinsi lain yang tidak dilanda konflik,” ujar Karel Albert Ralahalu, Gubernur Maluku ketika menyambut rombongan Komisi IV di Ambon.Maluku adalah ‘Indonesia Mini’ dengan keragamanan etnis yang mendiaminya, 5 persen dari 1,5 juta penduduknya adalah ‘urang awak’. Tak hanya itu, di provinsi yang memiliki sekitar 1400 pulau ini tidaklah merupakan kawasan yang homogen bagi kehidupan beragama. Islam sekitar 60 persen, sisannya Protestan 28 persen, Katolik 6,8 persen, Hindu dan Budha masing-masing setengah persen.Jadi dengan mengambil kata kunci : Urang Awak, Seribu Pulau, Heterogenitas Etnis dan Agama dan Konflik, maka kunjungan Komisi IV ke Maluku baru menjadi bermakna. Saya awali catatan gado-gado ini dari Konflik Ambon.Tahun 1999, negeri yang terkenal amat damai itu tiba-tiba terkoyak-koyak oleh konflik. Dari sebuah perkelahian kecil merebak menjadi perang antarsuku dan kemudian antaragama. Orang berbunuhan, rumah ibadah dihancurkan., sekolah diruntuntuhkan, rumah penduduk di bakar, panah dan peluru berdesing diantara bau amis darah. Indonesia menangis. Akibat yang ditimbulkan dari konflik 1999 itu adalah; hampir 30 ribu rumah hancur, 251 rumah ibadah (gereja dan mesjid) 141 gedung sekolah berbagai tingkatan hancur lebur, 20 rumah sakit rata dengan tanah, 106 kantor pemerintah dibakar serta 636 unit pertokoan hanya tinggal puing.“Inilah catatan kelam kami, mudah-mudahan jangan pernah terjadi di Sumatra Barat dan di manapun di wilayah Indonesia,” kata Sekretaris Daerah Provinsi, S. Assegaff. Penyesalan yang dalam dari rakyat Maluku juga disampaikan oleh kalangan anggota DPRD n+ya.Saleh Watihelo dan Sufi Madjid, keduanya adalah legislator dari Komisi D DPRD Maluku, menyatakan bahwa konflik 1999 telah menimbulkan kerugian besar bagi semua orang Maluku. “Yang menang adalah provokatornya. Hingga kini kita tetap berharap provokator itu bisa diusut,” kata mereka.Pendapat yang sama juga datang dari legislator Z Manduabessy misalnya. Ia menyatakan bahwa di masa depan Orang Maluku tak akan mau lagi diadu domba sesamanya. “Kita betul-betul sedih kenapa bisa dibikin panas dan saling menghancurkan,” katanya.Jika Anda ke Ambon, kawasan sepanjang gerbang menuju Bandara Pattimura terlihat ribuan bangunan yang jadi puing. Kini sebagian masih dibiarkan jadi puing. Kata sebagian dari orang Maluku, inilah monumen alam yang akan senantiasa mengingatkan kepada semua orang bahwa konflik sangat merusak.“Kita orang menyesal. Tak pernah terbayang akibatnya akan begini. Beta punya oom tewas kena parang,” kata S. Manuputty, seorang guru di kawasan Batu Merah saat saya berkunjung ke sana. Hampir semua orang yang saya tanya menyatakan menyesali konflik tahun 1999 itu. Kini setelah enam tahun berlalu, rakyat dan pemerintah provinsi harus kerja keras untujk melakukan recovery ekonomi dan sosial. Ketika konflik itu ekonomi Maluku anjlok sampai jauh di bawah titik nol. Akibat lain yang ditimbulkan adalah adanya semacam syindrom konflik. Investor jadi takut datang ke Maluku karena syindrom konflik itu. “Inilah tugas berat kami. Mencoba menyampaikan ke semua pihak di luar Maluku bahwa kami sudah berdamai. Bahwa kami sudah tidak mau ada konflik dan kekerasan lagi. Tolong sampaikan juga itu kepada saudara-saudara kami di Sumatra Barat,” kata Gubernur Ralahalu.Jika kita hendak menjadikan pengalaman Maluku itu sebagai guru, maka kitapun hareus mencari tahu apa yang jadi akar dari konflik di sana agar di Sumatra Barat dapat juga diantisipasi.Irdinansyah Tarmizi dari Komisi IV DPRD Sumbar misalnya mencoba mencari jawaban kepada Sekdaprov S. Assegaff. Sekda yang keturunan Arab ini, menjawab bahwa akar masalahnya karena Maluku sebagai sebuah provinsi kepulauan tidak memiliki beberaopa pintu masuk dan keluar saja, melainkan ada ratusan pintu masuk yang sulit diawasi.“Dari pintu-pintu masuk yang banyak itu kita sulit mengetahui lalulintas orang yang bisa saja jadi provokator kerusuhan.Pengetahuan lebih lanjut seputar akar masalah itu diberikan gubernur Ralahalu. Pensiunan jenderal berbintang satu ini bahkan menuliskannya jadi buku (Otonomi Daerah di Tengah Konflik) Ralahalu mengklaim bahwa semangat sentralisasi pemerintahan dan semangat penyeragaman nasional telah membunuh pohon-pohon budaya dan struktur sosial lokal. Di Maluku seperti juga di Sumatra Barat dikenal adanya pemerintahan paling bawah di masa lalu yang disebut Negeri (di Sumbar Nagari) yang dipimpin seorang raja (tanpa R besar)Dalam sistem Negeri ini hidup pula filosofi yang terkenal dengan Pela-Gandong. Kalau diterjemahkan untuk Sumatra Barat lebih kurang artinya barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Dan untuk keseluruhan Maluku yang memiliki sekityar 114 bahasa lokal itu ada pula filososi yang menyatukan mereka yakni Siwalima. Lebih kurang artinya Siwalima itu adalah: ‘semua milik kita bersama dan kita jaga bersama’“Inilah yang menghilang menjelang konflik. Ini lantaran kita dipaksa untuk ikut sentralisasi. Negeri diganti jadi Desa. Semangat persaudaraan mulai memudar. Pela-Gandong dan Siwalima mulai dilupakan. Pada saat itu gampang sekali memprovokasi massa. Apalagi di tengah ekonomi sedang morat-maritnya dan situasi politik secara nasional juga tidak stabil,” kata Brigjen Ralahalu yang pernah  jadi Dandim di Medan ini.Dari apa yang disampaikan Gubernur dan Sekda Maluku ini saya pikir kesungguh-sungguhan kita di Sumatra Barat meneguhkan ABS-SBK sebagai filosofi bermasyarakat menjadi sangat penting untuk mengghindari konflik. Tatanan moral yang dan agama yang kuat membentengi kita dari upaya membikin konflik dan gaduh. Pemerataan kue pembangunan di seluruh wilayah Sumatra Barat yang sudah ada ini hendaknya kita pertahankan. Saat ada ketidakadilan, kesenjangan sosial, ketidakmerataan, saat itu kegaduhan biasanya muncul. Ketidakmerataan distribusi kue pembangunan Sumbar menjadi mustahil masih akan terjadi mengingat jarak dan sarana prasarana mengkakses semua Kabupaten/Kota kita sudah lengkap. Beda dengan Maluku, untuk mengakses satu pulau di Maluku Tenggara yang berbatas dengan Australia misalnya, sangat susah. Anda bayangkan ada 1400 pulau dengan 92 persen wilayah Maluku adalah laut, betapa repot mengaksesnya satu persatu. Tentang ini besok akan saya ceritakan. (eko yanche edrie)

Iklan

November 10, 2006 - Posted by | melawat ke maluku

4 Komentar »

  1. Assalammualikum W.W
    Saya sangat senang membaca situs ini. Paling tidak saya dapat menggali informasi tentang kampung halaman yang telah hampir 15 tahun saya tinggalkan. Dan yang lebih saya takjub lagi yang mengelola situs ini adalah guru saya, senior saya yang banyak memberikan pelajaran tentang dunia dan pekerjaan pada masa pertumbuhan saya, Kakanda Eko Yanche Edrie. Apa kabar kakanda, terakhir kita berkumpul saat kakanda melangsungkan pernikahan di Aie angek.
    Kakanda Eko saya sekarang bertugas di Pontianak Kalimantan Barat, sebagai Branches Manager PT.LUXINDO RAYA Cabang Pontianak. Sebelumnya saya sudah hampir keliling Indonesia ditugaskan. Kakaanda salah satu Guru saya yang membuat saya selalu termotivasi untuk meraih masa depan saya. Masih ingatkah dengan saya PRAJA SINTARA. Saya rindu sekali pulang kampung untuk reuni sesama mantan penyiar Radio EL EMBAHANA dalam acara ULAH PAK BOB. tapi karena kesibukan sampai saat ini saya belum juga bisa pulang. Walau kemarin hati saya sangat sedih atas musibah yang terjadi di Kampung halaman. Salam untuk seluruh kawan di Padang Panjang semoga cepat bangkit dari bencana yang menimpa kita semua. ( maaf jadi surat bukan Komentar, Abiz saya bangga dan kangen sekali dengan Kakanda Eko )

    Komentar oleh Praja Sintara ( Bahana 109 ) | Maret 31, 2007 | Balas

  2. trims, praja.
    Oii…baa lai sehat-sehat sajo. Ha ha ha, lah bara anak kini? Iyo lah taragak pulo ambo. Si Romo lai acok basuo, patang ko sato pelatihan jo ambo di Padang. Eh bilo ka pulang ka Padang Panjang, yo lah taragak awak bakumpua-kumpua di Bahana.
    Salam untuak keluarga,
    nomor kontak ambo 08126783071, atau di email
    ok, salam

    Komentar oleh eko | April 15, 2007 | Balas

  3. Sorry Eko, awak baru tahu dunia internet, jadi baru mambaco komentar bung Eko…..komentar ambo Mantap, jan lupo pakai tanda petik….ha ha

    Komentar oleh Rizal Moenir | September 16, 2007 | Balas

  4. Tengkiu, bilo wak pai baliak?

    Komentar oleh ekopadang | September 19, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: