WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Mengimpikan Transportasi Nasional yang Nyaman


Dalam perjalanan panjang dari Hatchai di Thailand Selatan ke Padang via Malaysia-Singapura dan Batam dua tahun lalu saya mendapatkan pengalaman menikmati multimoda transportasi dengan berbagai plus minus.Matahari naik sepenggalan dalam udara yang cerah di Thailand Selatan. Bus Transnasional yang akan membawa saya ke Malaysia lewat perbatasan berangkat pukul 11.00 waktu setempat. Sepuluh menit menjelang berangkat dari terminal Hatchai sopirnya Prakash Mugam, orang Malaysia menyapa satu persatu penumpangnya. Kadang ia berbahasa Inggris, kadang berbahasa Thai dan selebihnya berbahasa Melayu. Dia hanya sekedar mengatakan bahwa mudah-mudahan semua penumpang nyaman dalam perjalanan dan menambahkan agar tidak ada yang merokok. Tepat pukul 11.00 bus itu bergerak, padahal dua kursi masih kosong. Tapi karena perjalanan harus sesuai schedule, tak ada waktu  untuk menunggu calon penumpang yang lain lagi seperti di Indonesia. Memasuki check point imigrasi semua pasport penumpang dikumpulkan oleh kondektur, bahkan ia membantu mengisikan borang atau formulir untuk memasuki wilayah Malaysia.Tak banyak pertele-telean yang dilewati di check point, semua hanya pemeriksaan standar imigrasi. Selepas itu bus melaju dengan kecepatan 70-80 Km/jam menuju Lebuh Raya Utara-Selatan yang menautkan dua kutub Malaysia di Negeri Kedah di Utara hingga Johor di Selatan.Lebuh raya yang lebar tanpa ada bolong-bolongnya, tanpa ada polisi yang memeriksa macam-macam. Di terminal Kedah, juga tak ada preman yang memalak sopir saat kami rehat makan siang. Juga tak ada pedagang asongan yang menyerbu naik bus.Memasuki Kuala Lumpur juga tak bersua kemacetan panjang yang bisa membikin kita stress seperti di Jakarta. Terminal antarnegara Pudu Raya yang nyaman bagai pelabuhan udara membuat kita benar-benar masuk terminal layaknya tempat rehat. Tak ada tumpukan sampah, tak ada hiruk pikuk agen angkutan umum, tak ada orang merokok.Kami ditransfer ke bus lain dengan merk sama tanpa harus repot mengangkat barang bawaan. Semua diatur oleh maskapai angkutan. Tak usah khawatir akan kehilangan barang-barang.Perjalanan dilanjutkan ke Selatan, masih melintasi Lebuh Raya Utara Selatan yang apik itu. Kurang lebih pengalaman dari Hatchai kami peroleh juga sampai ke checkpoint Johor-Singapura. Menjelang subuh kami masuk Singapura dan diturunkan di kawasan Serangoon.Pilihan moda transportasi untuk ke Padang tiga. Pertama naik ferry ke Dumai, kedua naik kapal kecil ke Batam atau langsung ke Changi International Airport untuk terbang ke Padang.Saya pilih lewat Batam dengan menggunakan kapal kecil saja. Hitung-hitung untuk melengkapi perjalanan  multimoda saya. Di pelabuhan Singapura terasa sekali keamanan dan kenyamanan. Kita tak usah khawatir akan ditipu calo atau barang-barang kita akan disikat oleh alap-alap pelabuhan. Taruh saja barang bawaan di ruang tunggu, lalu pergilah berbelanja menjelang kapal berangkat, semuanya akan aman-aman saja. Perjalanan laut antara Singapura dan Batam tak sampai sejam. Tapi waktu sepenggal itu dapat dipakai untuk membanding semua pelayanan dan kenyamanan perjalanan dari Hatchai dua hari lalu. Kapal kecil yang muatannya sekitar 50 orang terasa menyesakkan. AC kapal mulai sejuk. Masuk di pelabuhan Batam pemandangan benar-benar bertukar 180 derajat. Di pintu gerbang selepas pemeriksaan imigrasi, puluhan orang mencoba menarik-narik barang bawaan kita. Sementara ada pula yang mendesak-desak menyorongkan jasa taksinya. Harap diingat, kesiagaan kita jadi harus terkuras untuk mengawasi barang-barang. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa ada saja yang hilang dari pengawasan kita. Tak ada yang bertanggungjawab bila kita ajukan komplain. Tidak Dinas Perhubungan, Pelindo atau Adpel. Semua angkat bahu. Semua barang bawaan tanggungjawab sendiri-sendiri.Moda transportasi darat dari pelabuhan ke pusat Batam adalah taksi plat hitam. Tarif yang berlaku adalah tarif kesepakatan. Tak ada kepastiannya. Kitapun mulai memasuki dunia yang berlawanan dengan dunia sebelumnya kita lewati. Di jalanan kendaraan saling berpacu. Keteraturan yang kita saksikan di Malaysia dan Singapura tiba-tiba masuk ke dalam mimpi. Taksi tanpa argometer  di Batam juga berarti tanpa AC. Sopirnya merokok pula.Walhasil lengkaplah perjalanan multimoda dengan multiservis yang saling berbeda kita alami sampai di Padang. Setelah keluar dari pesawat di Bandara Tabing (sekarang Bandara Internasional Minangkabau-pen) ‘penyerbuan’ dari sopir-sopir taksi juga bikin kita jadi pusing. Tanpa diizinkan, para pengangkat barang mengangkat barang kita, lalu tarifnya pun tak bisa dipastikan. Sampai di rumah walau jaraknya hanya dua kilometer dari Bandara, tarif taksinya harus kita bayar tetap sama dengan yang jaraknya 20 kilometer. Alaaamak! 

 

Kondisi Umum Fragmen perjalanan multimoda transportasi di atas menggambarkan sebuah kaca perbandingan pelayanan jasa transportasi antarnegera. Dapat dirasakan betapa kita masih tertinggal jauh. Kondisi umum pelayanan jasa transportasi nasional kita tetap saja masih menempatkan masyarakat konsumen sebagai pihak yang tak bisa berbuat apa-apa. Lihatlah di pelabuhan-pelabuhan laut, aksi-aksi berbagai kelompok yang melakukan penekanan kepada penumpang dan bahkan kepada maskapai transportasi. Di perhubungan darat, terutama angkutan umum bus antarkota antar provinsi (AKAP), bus antarkota dalam provinsi (AKDP) maupun angkutan kota memberi gambaran kepada kita betapa pelayanan jasa dari moda transportasi darat kita jauh dari bagus. Bus AKAP yang mulai mati suri akibat murahnya tarif angkutan udara juga makin menderita dengan rusak parahnya infrastruktur. Walhasil jika kita harus menggunakan moda transportasi darat misalnya dari Jakarta ke Padang, secara ekonomis menjadi amat mahal. Kerusakan jalan dan banyaknya pungli sepanjang jalan membuat perusahaan angkutan membebankan cost itu kepada penumpang.Pada angkutan antarkota dalam provinsi dan angkutan kota, yang terjadi justru pelayanan yang kian amburadul. Penumpang dijejal ke dalam kabin bus seperti ikan sardencis. Berhimpitan dan bercampur bau apek keringat adalah pemandangan umum hari-hari angkutan darat kita.Sopir ditekan induk semang mengejar setoran, kebut-kebutan tak terhindarkan. Ujung-ujungnya kecelakaan lalulintas yang memilukan kita terjadi. Bahkan termasuk angkutan kereta api yang tiap sebentar mengalami kecelakaan.Regulasi yang diharapkan untuk membikin nyaman angkutan darat kita tak kunjung menjadi jawaban atas keabsurditasan moda transportasi darat. Ambil contoh saja di Sumatra Barat. Buruknya pelayanan jasa angkutan antarkota dalam provinsi membuat orang lebih suka naik mobil sewaan sejenis Toyota Kijang, Mitsubishi Kuda atau Colt L300 yang jelas-jelas tidak terdaftar sebagai angkutan umum. Tapi karena layanannya lebih bagus, orang mulai tak peduli kalau angkutan itu tidak melindungi penumpangnya dengan asuransi kecelakaan. Akhirnya angkutan umum reguler jadi mati suri. Bus-bus kini diparkir di pool. Begitu juga dengan angkutan kota. Copet, jambret dan jalannya yang seperti siput membuat orang lebih suka memilih angkutan alternatif, ojek. Ojek ‘bisa’ naik sampai ke trotoar atau main salib di lampu merah untuk mengatasi kemacetan. Dan sekali lagi, penumpangnya juga tak terjamin oleh asuransi.Moda transportasi udara yang kini sedang jadi primadona juga tak kalah memperihatinkan dalam hal layanannya. Murah, memang itu jadi salah faktoir utama membuat orang memilih angkutan udara untuk perjalanan jarak jauh.Tapi bacalah tiap hari di koran-koran, dalam surat pembaca tak pernah sepi keluhan masyarakat terhadap jasa pelayanan angkutan udara ini. Mulai dari ketidaktetapan jadwal, kehilangan barang-barang, komplain yang tidak pernah dilayani sampai ke tertekannya penumpang saat pre-flight maupun post-flight di bandara.Harap dicatat sejumlah kecelakaan pesawat yang menimbulkan banyak korban nyawa yang mewarnai perjalanan transportasi udara sejak beberapa tahun terakhir ini. 

Jalan KeluarTransportasi adalah bagian paling penting dalam mendukung sistem perkenomian nasional. Kemacetan dan kekisruhan transportasi akan berdampak pada meningginya biaya hidup rakyat yang pada akhirnya memerosotkan ekonomi secara nasional.Karenanya, dari waktu ke waktu dan Menteri yang satu ke Menteri Perhubungan yang berikutnya upaya perbaikan sistem transportasi nasional sebenarnya tidak pernah berhenti. Hanya saja pengawasan dan kontrolnya saja yang belum maksimal. Ditambah pula dengan kultur bangsa yang belum sepenuhnya siap untuk menuju disiplin nasional. Budaya sogok, suap, korupsi dan main jalan pintas membuat upaya berdisiplin lalulintas kita anjlok.Beberapa hal yang penting jadi perhatian bersama adalah pentingnya penerapan kebijakan multimoda dan intermoda. Dari sisi suprastruktur ketransportasian yang ada, sudah saatnya dilakukan pendekatan multimoda dan intermoda.Hari ini kita belum ketemu dengan pengaturan moda transportasi darat, laut dan udara yang bisa membuat masyarakat pengguna jasa memperoleh layanan satu pintu atau single gate service. Kalau kita hendak bertolak dari Bandung ke Gunung Sitoli via Padang dengan multimoda (Bus AKAP Bandung-Jakarta, pesawat udara Jakarta-Padang, taksi Bandara Minangkabau-Teluk Bayur, kapal laut Teluk Bayur-Gunung Sitoli) kita harus menghadapi banyak pintu layanan dengan segara kekisruhannya. Mimpi kita, cukup mendapat satu pelayanan di Bandung secara single gate service untuk sampai ke Gunung Sitoli.Hal yang sama di masa depan, jika kita naik kereta api di stasiun Pasar Turi Surabaya, kita sudah tak usah repot dengan macam-macam urusan hingga sampai ke Medan. Cukup dilayani di Pasar Turi saja. Pada waktunya ada jalur kereta api yang sampai ke Bandara Soekarno Hatta.Penumpukan infrastruktur transportasi tidak lagi di pulau Jawa. Apa yang disebut sebagai Trans Sumatra Railway (TSR) haruslah segera diujudkan untuk membuat adanya alternatif pelayanan nyaman ketika jalan raya Lintas Sumatra hancur. Kereta api diyakini bisa mengurangi beban jalan raya yang amat padat. Apalagi untuk angkutan barang, jalan raya kita masih rata-rata hanya mampu menahan beban 20 ton. Sedang  iaya maintenance  jalan raya juga amat terbatas. Wacana TSR hendaknya sama cepatnya dengan gagasan membangun monorel maupun semacam mass rapid transportation (MRT) di Jabotabek.Pada transportasi lokal, regulasi juga harusnya tidak setengah-setengah. Mati surinya angkutan antar kota dalam provinsi akibat munculnya moda alternatif irreguler seperti mobil sewa (yang praktiknya sebenarnya adalah angkutan umum reguler-pen) perlu segera diatasi.Memang dari sisi konsumen, orang akan lebih mau membayar mahal asal layanannya tepat waktu, nyaman dan bersih. Tapi bukankah sudah tidak rahasia lagi kalau bus AKDP terlilit banyak pungutan yang membuat pengusahanya membebankan cost liar itu kepada penumpang? Pungli itu tidak saja datang dari oknum pemerintah tapi juga dari kalangan preman. Kata para sopir, jika semua pungutan di jalanan itu dihabiskan, tak ada alasan lagi untuk membebani penumpang dan tak ada alasan lagi untuk berleha-leha di jalan memburu penumpang.Di dalam kota, ketertiban dan keamanan bertransportasi dikeluhkan karena faktor-faktor seperti tidak ‘mangkus’nya traffic engineering, tidak adanya traffic education yang terus menerus, serta tumpulnya tindakan law enforcement dari lembaga berwenang terhadap para pelanggar. Pemerintah kota harus lebih berwibawa dalam menengakkan ketiga faktor di atas. Jangan sampai tiap kali aturan dibuat, lalu didemo para sopir tapi justru membuat pemerintah kota ‘takut’ dengan demonstran. Walhasil traffic engineering hanya ditentukan oleh sopir angkot!Pada moda transportasi laut soal-soal yang menyangkut regulasi masih amat diperlukan. Tidak sepenuhnya benar anggapan bahwa persaingan antarmoda terutama tarifnya telah membuat ada moda yang modar. Secara internal moda transportasi darat dan laut juga ikut dimatikan oleh buruknya pelayanan. Kapal Lambelu sampai tidak merapat lagi di Teluk Bayur bukan karena tarifnya mahal saja. Tetapi tentu saja soal kenyamanan itu tadi. Transportasi laut mengalami mati suri karena tak terlindung secara menyeluruh.Syukurlah sudah ada regulasi yang lebih tegas dari pemerintah dengan diterbitkannya Inpres No.5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Pelayaran Nasional. Kalau Inpres ini benar-benar dijalankan dengan maksimal, maka kelak hanya kapal-kapal berbendera merah putih saja yang boleh mengakut barang dan orang di semua perairan Indonesia. Kelak merah putih pun akan menjadi primer flag ship setara dengan bendera Panama misalnya dalam mengharungi tujuh samudera.Begitu juga dengan penanganan pelayanan di pelabuhan. Apa yang baru saja berhasil diterapkan Dephub yakni dipangkasnya berbagai pungutan di pelabuhan. Misalnya pemangkasan terminal handling charge. Kedepan pemberangusan pungli demi pungli itu hendaknya juga termasuk yang diberlakukan oleh oknum-oknum pelabuhan maupun preman terhadap calon penumpang dan pemilik barang.Sementara pada moda transportasi udara, ukuran kenyamanan berpergian bukan saja pada murahnya tarif yang bisa diperoleh penumpang. Tetapi setelah keramahtamahan layanan juga pada keselamatan penerbangan. Publik mulai mencurigai murahnya tarif sebagai salah satu penyebab tidak terbiayainya sistem keselamatan penerbangan nasional yang berakibat akhir-akhir ini sering terjadinya kecelakaan pesawat. Secara sadar kita menaiki tangga pesawat dengan segala resikonya. Bahwa ancaman keselamatan itu datang dari berbagai hal, dari teknis sampai faktor manusia dan alam. Tapi semua itu rupanya tak menyurutkan orang untuk terbang dengan pesawat udara.Maka keluhan atas buruknya pelayanan baik pre-aflight, in-flight maupun post-flight sangat perlu diatasi. Pada pre-flight, percaloan tiket dan banyaknya pungli yang mengerubungi penumpang membuat kita harus memujikan layanan-layanan di Bandara Changi ataupun KLIA di Malaysia.Saat kita sudah mara ke udara dan berada dalam kabin pesawat, rata-rata airlines nasional sudah cukup memberikan layanan layak. Setidak-tidaknya sudah sesuai dengan tarif murah yang disodorkan oleh maskapai pengusung low cost carrier (LCC)Tapi nasib penumpang (jika penerbangan selamat) masih perlu jadi perhatian masyarakat penerbangan di Bandara tujuan. Layanan post-flight sering dikeluhkan penumpang setelah berurusan dengan komplain bagasi. Layanan kasar dan ‘emang gue pikirin’ (EGP) masih sering terdengar. 

KesimpulanDari uraian di atas paling tidak ada sejumlah kesimpulan yang kita peroleh. Pertama bahwa kondisi umum transportasi nasional masih memiliki berbagai kekurangan dan menemukan banyak masalah.Sistem pelayanan transportasi kita masih belum terpola secara nasional. Kalaupun ada aturan-aturan yang sudah diterbitkan, maka praktiknya belum lagi diikuti dengan pengawasan ketat.Faktor infrastruktur yang parah (karena minimnya anggaran yang tersedia) telah menjadi penyebab tingginya biaya transportasi terutama darat. Sementara untuk moda transportasi udara dengan banyaknya airline low cost carrier  menyebabkan meningginya peminat transportasi udara. Pungli di berbagai lapisan pelayanan menyebabkan juga tidak nyamannya masyarakat pengguna transportasi maupun operator transportasi.Karena itu hal-hal yang perlu jadi perhartian secara nasional adalah pentingnya penerapan law enforcement kepada para pelanggar regulasi, pemasyarakatan traffic enggineering yang terus menerus kepada sermua lapisan masyarakat, serta adanya traffic engineering tiap kota yang berwibawa guna memberi kenyamanan pada moda transportasi darat. Untuk transportasi udara harus dipandang makin pentingnya pelayanan in-flight maupun post-flight. Sementara untuk transportasi laut, pemberangusan pungli baik kepada maskapai pelayaran maupun kepada pengguna jasa pelabuhan (eksportir maupun menumpang)Selebihnya yang perlu dipikirkan ke depan adalah lahirnya sistem transportasi multimoda maupun intermoda yang makin memudahkan mobilitas orang dan barang demi memperkuat perekonomian nasional.(eko yanche edrie)

Iklan

Oktober 15, 2006 - Posted by | transportasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: