WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Selamat Pagi, Lapan Satu Tiga!


Hari ini bahagia sekali Brigadir Polisi Satu Sidi Tonek (bukan nama sebenarnya) menghirup kopi dari cangkir di teras baraknya. Sepatunya sudah disemir mengkilap, Kepala ikat pinggang berlogo ‘Rastra Sewakottama’ juga dikilatkan pakai Braso.
Sepedamotor keluaran tahun 1990an ‘diracaknya’ untuk menuju markas. Ia menjadi salah satu dari banyak bintara polisi yang sudah berkali-kali ikut testing ke Sekolah Calon Perwira (Secapa) tapi tidak lulus-lulus. Ia sendiri tidak tahu dimana salahnya.
Yang jelas, ia sudah pasrah, lantaran kesempatan mengikuti jenjang pendidikan lanjuut agar bisa pensiun dengan pangkat perwira polisi sudah lenyap. Usianya sudah kepala 50.
Sampai di kantor pun ia tidak berada di balik meja komputer untuk memeriksa tersangka atau sekedar membuat surat kelakuan baik bagi masyarakat yang menbutuhkan. Ia ditempatkan pada unit Samapta Bhayangkara atau Sabhara. Kerjanya hanya berputar-putar untuk berpatroli ke lingkungan sekitar Polseknya. Maunya Tonek ia menjadi salah seorang anggota reserse, berpakaian preman lalu memeriksa tersangka sambil menatap layar komputer. Tapi, itulah Tonek, usia yang mulai menua, ia pun tak berkesempatan belajar komputer. Ia hanya pernah belajar mengetik 10 jari di pendidikan Secata dengan mesik tua bermerk Remington. Ini adalah mesin ketik keluaran Inggris peninggalan Perang Dunia II. Saat ia masuk polisi seperempat abad lalu, mesin tik tua seperti itu masih banyak di polsek-polsek. Bunyinya gemerincing dan kadang kalau ada pemeriksaan malam hari dari kejauhan terdengar meningkahi bunyi jengkerik di belakang markas.
Kini Jadi polisi harus ‘makan bangku sekolahan’. Kalau tidak sekolah, pangkat tak bakal naik-naik. Sidi Tonek sendiri adalah anak polisi yang dipensiun dengan pangkat Ajun Brigadir Polisi Satu. Kini ia meneruskan profesi ayahnya dan sudah pula akan memasuki masa pensiun. Dan Alhamdulillah ia belum pernah kena straaf oleh atasannya lantaran membeking togel, melapan anamkan perkara, memainkan perkara 480 (kasus penadahan yang tersangkanya dijadikan ATM), menjual barang bukti dan sebagainya. Pangkat boleh brigadir kecil tapi batinnya komisaris besar.
Di berbagai satuan setingkat Polres, para pemeriksa sudah pakai dasi. Tak ada lagi gemerincing Remington tua. Tak ada lagi ruang pengap yang membanjirkan keringat. Tak ada lagi telepon dengan engkol yang kalau mau bikin laporan tuntas dari Polres ke Polda (d/h dari Kores ke Kodak) operatornya harus berteriak-teriak. Kini pemeriksa bekerja dengan personal computer dengan word processor keluaran microsoft yang amat nyaman. Laporan tuntas harian (LTH) bisa menggunakan handphone atau radio komunikasi motorola.
Sepeda torpedo hitam yang menjadi salah satu atribut polisi masa lalu juga sudah lama lenyap. Bahkan polisi generasi tahun 80an saja barang kali tidak lagi mengenalnya. Kini patroli sudah menggunakan sepedamotor model terbaru. Setiap Polsek sudah punya kendaraan roda empat. Di tingkat Polda sudah ada helikopter.
Tonek memang sedang berada di ambang transisi polisi tua dengan polisi generasi supercop.
Perkembangan teknologi, juga membikin teknologi kepolisianj juga berkembang. Tapi takdir jadi polisi tidak akan pernah berubah-ubah. Polisi memburu bandit, bandit membuat kejahatan. Begitu terus menerus bagai tiada henti, hingga satu hari kedamaian abadi datang.
Generasi Tonek, sekalipun bisa dikatakan akan ada yang gatek alias gagap teknologi, tetapi sekali lagi doktrin kepolisian di manapun di seluruh dunia tidak akan membolehkan anggotanya membiarkan kejahatan berjalan dengan lenggang kangkung tanpa polisi dapat berbuat apa-apa, sekalipun dengan teknologi yang tertinggal dari para bandit.
Dengan teknologi yang seadanyapun, polisi juga tak mungkin meninggalkan fungsi yang melekat padanya: ‘senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keiklasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban’
Ini adalah kalimat pada brata ketiga dalam pedoman hidup Polisi Indonesia yakni Tribrata.
Tribrata menjadi pedoman hidup Polri melalui sebuah penelitian yang panjang selama satu dasa warsa setelah republik ini diproklamirkan. Penelitiannya dipimpin langsung oleh Guru Besar dan Dekan PTIK Prof. Djoko Soetono, SH. menyongsong pra rancangan Undang-Undang Kepolisian yang sedang digodok ketika itu.
Kata-kata Tri Brata mula pertama dikemukakan oleh Maha Guru Sastra sekaligus Dekan Fakultas Sastra UI merangkap sebagai Mendikbud saat itu, yaitu Prof. Dr. Priyono.
Kemudian secara resmi diucapkan oleh seorang mahasiswa PTIK pada prosesi wisuda kesarjanaan PTIK Angkatan II tanggal 3 Mei 1954, yang selanjutnya diresmikan sebagai Kode Etik pelaksanaan tugas Polri (yang dahulu disebut Pedoman Hidup) pada 1 Juli 1955.
Ada pertanyaan yang mengganggu: bagaimana mengayomi orang yang dia sendiri harus diayomi?
“Apapun, kamu harus mengayomi rakyat” kata Robert de Niro yang berperan sebagai penjahat dalam film Ahead kepada Robert de Niro yang berperan sebagai polisi. Penjahat dalam film itupun menyadari posisinya sebagai pihak yang menjadi musuh abadi polisi. Karena itu ia sarankan sang polisi tetap memburu dirinya, apapun konsekwensinya. Mau jalan kaki sementara banditnya pakai mobil, mau pakai sepeda sementara penjahatnya naik kapal terbang dan seterusnya. Resiko kesenjangan teknologi itu akan terus ada sepanjang masa. Musuh abadi itu tak punya belas kasihan, sekalipun polisinya ketinggalan.
Brigadir Tonek tak perlu kecil hati. Ia merasa dirinya tak perlu diayomi. Ia telah melewati ujian musuh abadi itu. Jika hari ini para Jenderal Polisi turun ke Polsek-polsek menjadi Inspektur Upacara Hari Bhayangkara ke-60, Tonek berbaris dengan sikap sempurna dalam palunan pasukan upacara. Ia ingin mengingatkan kepada para jenderal polisi itu bahwa belum pernah ada sejarahnya kejahatan menang melawan kebaikan. Polisi memainkan peranan kebaikan. Tapi jika ada polisi memainkan peran Robert de Niro dalam film Ahead niscaya ia akan kalah.
Teknologi boleh tertinggal, tapi elan vital polisi harus senantiasa tidak tertinggal oleh godaa-godaan duniawinya. Pangkat boleh brigadir kecil, tapi hatinya mesti komisaris besar.
Selamat pagi polisi, selamat ulang tahun, lapan anam, lapan satu tiga!

Iklan

Juli 6, 2006 - Posted by | esei hukum

1 Komentar »

  1. Terima kasih untuk tulisan yang sangat menyentuh.

    Komentar oleh David Aden | Agustus 12, 2006 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: