WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Mak Datuk, Nih CD Gue!


Mau berbugil ria? Silahkan. Mau bersopansantun dengan tubuh terbalut kain dan semua aurat tak diumbar, ya monggo juga.

Sepinjik lagi soal porno. Ini perang yang usianya sudah panjang. Pengujung orde lama kaum perempuan mulai ‘kesulitan’ mendapatkan tekstil. Dunia pertekstilan Indonesia bahkan sedang didrill oleh Soeharto untuk mencapai tingkat yang bermartabat. Kredit dikucurkan untuk itu. Bahkan sampai ke hari-hari terakhir orde baru, Twako Tan Tjoe Hong alias Edy Tansil masih dikucuri kredit untuk bikin pabrik kain. Begitu juga sejumlah taipan tekstil dapat bagian kucuran besar juga.

Pak Harto bikin banyak-banyak pabrik tekstil sampai jutaan mata pintal. Kapas transgenik yang amat kontroversil dan ditentang oleh NGO lingkungan juga merupakan bagian dari upaya agar pabrik tekstil menjadi makin cukup bahan bakunya.

Di kawasan Cihampelas Bandung lebih sekilometer panjang pertokoan hanya menjual jeans. Di Cipulir dan Tenabang alias Tanah Abang yang bikin majalah terkenal Tempo tersandung perkara oleh Tomy Winata, adalah pusat tekstil paling komplit di Indonesia. Di Bukittinggi, Aur Kuning sering dikatakan sebagai Tanah Abangnya Sumbar.

Semuanya agar rakyat Indonesia yang ramah tamah, yang berbudaya ketimuran, yang bermoral tinggi, yang mulutnya manis kucindannya murah, yang beradat besendi syarak, yang syaraknya bersendi kitabullah itu tercukupi kebutuhan sandangnya.

Kebutuhan sandang itu juga dimaksudkan oleh Pak Harto waktu itu untuk menghindari rakyatnya tidak gampang masuk angin karena ‘pungguang ndak basaok’ pusar terbudur. Kalau naik angkot anak gadisnya tidak kerepotan menutupi belahan pahanya dengan kedua talapak tangan (akhirnya terintip jua oleh Sidi Tonek di balik kacamata hitamnya).

Memang ada iklan yang bertanya begini: “Ngapain takut belang?” Tapi sesungguhnya produk kosmetik itu tidak perlu dibeli kalau kecukupan sandang tadi terpenuhi oleh pabrik tekstil.

Oh ya saya binggung juga harus menjawab apa, ketika faktanya orang tak peduli kalau anak gadisnya sakit perut, masuk angin, tubuhnya belang, pusarnya terlihat, celana dalamnya kalau sedang menungging pun terlihat.

Seorang kemenakan saya sapa di atas angkot tempo hari: “Eh kalau kadisaok-saok juo jo tangan, manga dipakai nan singkek bana?” tanya saya ketika duduk berhadapannya dengan kemenakan tersebut. Puti Reno Nilam Basanggua Ameh binti Haji Jakfar Siddik nama panjangnya kemenakan itu. Saya lihat dia amat kerepotan menutupi pahanya dengan dompet kulit kecil. Tapi sepandai-padai menutup tetap saja ini merupakan kerja sia-sia.

Kemenakan yang satu lagi duduk disampingnya mengenakan celana jeans balel ketat. Kabarnya untuk memasukkan kaki ke dalam pipa celana itu harus menggunakan plastik agar licin. Bagian atas menggunakan kaos warna pink dengan lengan amat pendek tapi bukan seperti mode beberapa tahun sebelumnya, You Can See, alias bisa ngintip bulu ketek. Ini agak mirip tanktop yang bisa dikenakan artis Agnes Monica. Ketat dan pada bagian dada agak terbuka lebar, sehingga bagian atas dada lebih bisa terekspos.

Kedua Kemenakan ini jadi risih karena harus bersitatap dengan saya. Mungkin karena resah atau marah dalam hatinya (setelah pertanyaan saya tak dia jawab) dia minta sopir angkot berhenti, dia turun.

Menjelang turun jelas ia membungkuk. Woow, saya lihat kaos pink nya terangkat pinggangnya terlihat (awalan ter di sini artinya tidak sengaja he he) Darah saya berdesir. Eh, kemenakan itu memalingkan wajahnya ke saya sambil membulatkan matanya:
“Eh mak Datuak, lihat nih CD gue….”
Palasik! Saya memberungut lantaran merasa ‘dikalapua ayam batino’. Untung angkot itu segera cigin menuju Pasar Raya. Padalah tadi ‘sarawa kotok’ alias CD itu kumal, aaa…. dipertontonkan pula pada saya.

Saya mengguriminkan doa, mudah-mudahan kemenakan itu murah sajalah rezekinya, tak banyak sidik jari yang melekat di tubuhnya. Entah berapa kemenakan lainnya yang saban hari berlalu lalang di depan orang tua, di depan mamaknya sendiri tanpa peduli lagi pada apa yang sering disinggung oleh Mak Datuk Simulie sebagai ‘sumbang’. Sumbang kalau perempuan minang duduk mengangkang. Nah makin sumbang kalau di hadapan mamak bicara bahasa gaul, berperilaku aneh-aneh. Sama sumbangnya ketika menantu dan mertua sama-sama menonton TV dalam rumah yang acaranya adalah adegan yang syuuur. Makin sumbang pula kalau mamak rumah dan sumbando duduk bersisian sambil menatap pemandangan sumbang yang lain.

Saya mulai mencari-cari kambing hitam yang bisa dipersalahkan guna membela martabat kedatukan saya yang diremehkan kemenakan tadi. Saya pikir yang salah adalah Edy Tansil. Masak dikasih kredit untuk bikin pabrik tekstil eh malah kredit dikemplang dan dia cigin entah kemana (sampai sekarang).

Saya terpaksa mengasumsikan bahwa dunia pertekstilan Indonesia parah. Tak bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Indikatornya banyak anak kemenakan yang kekurangan kain untuk bikin pakaian. Akibat yang ditimbulkannya para kemenakan teraniaya karena harus dituduh berpornoaksi. Kemudian juga menimbulkan chaos politik dalam mendukung dan menolak RUU-APP. Seakan-akan kalau RUU-APP jadi UU maka kiamatlah Indonesia. Atau kalau RUU APP tidak jadi UU, 280 juta penduduk Indonesia berbaris ke neraka karena berdosa membiarkan maksiat, membiarkan aurat dipertontonkan.

Saya harus cari itu Tan Tjoe Hong yang kabur. Ulah dia, kita jadi ‘bakalibuik ampok’. Saya yakin Edy Tansil saat ini sedang tertawa terbahak-bahak sampai terbit kejambannya saat menyaksikan dagelan nasional ketika ada rombongan besar ‘mentas’ di bunderan HI. Di situ Inul dengan penuh emosi menggoyang pantatnya untuk ditonton orang serepublik. Sepertinya goyangan inul lebih hebat dari biasanya. “Mak Datuk, nih goyangan gue….”

Ya Allah, tobat awak dibuatnya. Biarlah Edy Tansil saja yang kita kambinghitamkan untuk dagelan nasional ini. Kalau bukan dia, siapa yang mau mengaku salah?(eko yanche edrie)

Iklan

Juli 6, 2006 - Posted by | minangkabau

1 Komentar »

  1. HA HA HA, ambo setuju sekali atas pertanyaan ” kalau ka disaok…..” disinilah masalah yang sering kita hadapi, yaitu penggunaan ratio/otak yang salah hanya karena ingin “bimas” (biar mati asal stil) atau gengsi, kita harus mengajarkan kepada keturunan kita untuk lebih banyak menggunakan otak instead of emosi, kita sebagai orang minang sudah ada pegangan,”alam takambang jadi guru”,semoga kita berhasil, amin.

    Komentar oleh Ardy | Agustus 10, 2006 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: