WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Durin dan Rudini


Lelaki itu bernama Rudini. Jenderal bintang empat tamatan Akademi Militer Breda. Saya ketika itu wartawan Singgalang. Dan pertanyaan saya Desember1992: “Betulkan Anda mundur kalau Durin dilantik jadi Gubernur Sumbar?”

“Lho, pertanyaannya kok itu-itu meluluh sih?” jawabnya dengan mata dibulatkan. Tapi suaranya yang kecil tidak menunjukkan dia sedang jengkel. Tapi agaknya lagi malas menjawab pertanyaan yang itu ke itu saja diajukan para wartawan.
Saya kebetulan mendapat tugas juga menyampaikan pertanyaan yang ‘itu ke itu saja’ kepada lelaki itu.
Lelaki itu bernama Rudini. Jenderal bintang empat tamatan Akademi Militer Breda. Saya ketika itu wartawan Singgalang. Dan pertanyaan saya Desember1992: “Betulkan Anda mundur kalau Durin dilantik jadi Gubernur Sumbar?”
Sejak pemilihan November 1992, Rudini memang sering dicecar wartawan dengan pertanyaan itu. Saya piker itu salahnya Rudini sendiri, karena ia juga yang memulai beucap seperti itu: “Saya mundur kalau dia (Hasan Basri Durin) dilantik”.
Sepanjang tahun 1992 hingga 1993 nama Rudini memang memenuhi jagad pemberitaan tentang Sumatra Barat. Ia amat getol menentang Hasan Basri Durin (HBD) untuk maju ke periode kedua jabatan Gubernur Sumatra Barat. Pasalnya, ada ‘pilihan lain’ yang sedang diusahakan masuk dalam mainstream Jakarta. Nama Syahrul Udjud, mantan Walikota Padang yang menggantikan HBD jadi Walikota, sedang diupayakan pula menggantikan posisi HBD jadi gubernur. Tapi suara di DPRD berkata lain. Syahrul kalah setelah hanya mengantungi 12 suara, sedang HBD 23, sisanya diraup Sjoerkani.
Rudini berkali-kali mengatakan kepada media, jadi kepala daerah itu hanya boleh dua kali kalau prestasinya luar biasa. “Durin itu prestasinya biasa-biasa saja,” kata Rudini berkali-kali. Ia memang menyebut nama Hasan dengan Durin. Waktu itu, Rudini adalah jenderal yang sedang jadi perhatian lantaran berbagai sikap kritisnya. Termasuk kritisknya kepada Pak Harto. Ia gigih mempertahankan sikapnya.
Di pertemuan singkat di Bandara Tabing dalam tugas ‘mengeroyok Rudini’ saya mencoba menjelaskan bahwa nama panggilan HBD itu Hasan, bukan Durin karena Durin itu nama ayahnya. Tapi Rudini hanya senyum, nampaknya ia tidak ‘ngeh’ buktiknya beberapa waktu kemudian wartawan pun tak mencoba meluruskannya, ia tetap ‘gigih’ menyebut Durin. (Oh ya, Redaktur Pelaksana kami waktu itu memerintahkan ‘mengeroyok Rudini’ agar ia mau ngomong apapun tentang hasil Pemilihan Gubernur. Sudah kami perkirakan ia tidak mudah ditemui. Waktu itu, Rudini datang untuk sebuah acara olahraga Karate. Walhasil, kalau saya tidak salah ada lima wartawan yang ditugasi ‘mengeroyok’. Masing-masing menjaga pos. Saya di Bandara, Gusfen Khairul di lapangan Golf, Tun Akhyar yang wartawan Olahraga menantinya di arena pertemuan para karateka dan Akmal Darwis di kantor Gubernur)
Rudini. Pendek saja nama itu. Selama menjadi Mendagri ia memang menjadi the news maker. Apapun yang ia katakana sepertinya sudah langsung membentuk lead berita. “Saya ngomong apa adanya saja,” ujar dia saat terus saya kejar dari VIP room ke mobilnya.
Sebuah pertanyaan lain diajukan wartawan Koran digital ‘Detik.com’ tahun 1999: “Waktu jadi Mendagri memang sering dimarahin Soeharto? “Rudini menjawabnya dengan santai. Ndak takut-takut. Kata dia: “Yang jelas saya pernah membantah dalam tiga masalah besar. Pertama, saya dipanggil. Kamu jadi ketua umum Golkar. Lalu saya jawab, ndak bisa, pak. Saya wasit, saya juga pemain. Kacau nanti. Kecuali kalau Lembaga Pemilihan Umum (LPU) waktu itu bukan wasit. Beda dengan sekarang, KPU bukan wasit. Wasitnya Panwas. Mendengar jawaban saya, Pah Harto bilang, ya sudah, kalau ndak setuju lalu siapa. Marah-marah, ya ndak bisa dong. Yang kedua masalah PPP. Saya waktu itu disuruh nyingkirkan Naro. Alasan Pak Harto Naro otoriter. Lalu Pak Harto minta gantinya Dr. Sulastomo. Padahal Sulastomo itu kan salah satu ketua DPP Golkar. Saya katakan, wah kalau itu ndak bisa dong. Itu kan nggak sesuai dengan undang-undang. Pak Harto lalu marah-marah, mendelik-mendelik. Dan ketiga soal pemilihan Gubernur Sumbar. Saya sebenarnya waktu itu memang mengancam akan mundur kalau Pak Harto bersikeras. Rupanya memang itu yang terjadi. Namun Moerdiono kemudian yang minta agar saya jangan sampai mundur.”
Jenderal (purn) Rudini, lahir di Malang, Jawa Timur, 15 Desember 1929. Pendidikan dasar hingga SMA dihabiskannya di kota itu. Taun 1951 ia berkesempatan masuk Akademi Militer Breda di Belanda. Setelah itu karirnya terus melejit di kemiliteran sebelum ditugasi belajar le Seskoad, Bandung (1970); dan International Defence Management Course, AS (1973) serta Lemhanas, Jakarta (1977) Mengomandani pasukan bukan perkara sulit baginya. Buktinya ia sudah menjalani karir jadi Danton sampai Danki di Batalyon 518/Brawidjaja. Saat meletus peristiwa PRRI, Rudini jadi pelatih taruna di AMN. Lepas jadi Pamen ia beroleh bintang satu kemudian tongkat Panglima Kopur Linud diserahkan kepadanya tahun 1975. Selanjutnya menjadi Kaskostrad, lalu jadi Pangdam XII/Merdeka tahun 1978. Di kalangan militer, jika sudah jadi Pangdam, pertanda karir akan membaik. Rupanya benar. Ia berturut-turut jadi Pangkostrad lalu puncak karir tentaranya diakhiri sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Menteri Dalam Negeri (1988-1993) Jabatan yang dia embank selepas jadi Mendagri di masa awal reformasi adalah Ketua KPU.
Saat jadi Ketua KPU, ia mendapat tugas amat berat. Karena Pemilu harus dilaksanakan dalam kondisi Indonesia yang sedang tercabik-cabik. Tapi, ya itu lah. Rudini bukan Rudini, kalau tak bisa berkelit diantara berbagai kesulitannya. Pemilu berlangsung sukses sebagai Pemili pertama di masa reformasi. Dia paling menentang Korpri dikooptasi untuk kepentingan politik Golkar. Tentu saja kemudian dia diacungi jempol untuk itu. Buktinya sampai sekarang Korpri sudah lepas dari ‘payung’ partai politik berkuasa.
Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB, Jenderal dari Malang itu dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selamanya. Tak banyak tentara berpikiran kritis dan cerdas seperti dia. Kemarin ia beristirahat untuk selamanya di TMP Kali Bata. Selamat Jalan, Rek!(eko yanche edrie)

Iklan

Juli 6, 2006 - Posted by | tokoh

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: