WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

MURAH BUKAN MURAHAN


  • Singapura Murah, Tapi tidak Murahan……

    Apakah Singapura menangguk dolar hanya dengan strategi sekedar murah? Tentu saja bukan. Malah kalau sekedar murah, sebagai pusat transaksi terbesar di Asean, pasar Singapura bisa bercitra murahan.
    Karena itu mereka memilih pasar dengan multisegmen. Manajemen hotel grup Fragrance, pemilik sekaligus operator dari delapan hotel (tahun ini juga akan dilunching dua hotel lagi-red) memiliki rangkaian hotel dari yang bertarif murah hingga yang bertarif tinggi.
    “Dengan demikian kami bisa menjangkau semua segmen. Tahun 2004 kami raih keuntungan 10,7 juta dolar Singapura dari delapan hotel,” CEO grup mereka, Dr.Koh, dalam sebuah perjamuan makan malam di sebuah restoran Jepang.
    Mereka mulai mematok tarif dari 40 Dolar Singapura hingga 400 Dolar Singapura. Dengan demikian semua segmen bisa menikmati pelayanan Fragrance. “Senyum kami sama, hanya sentuhannya yang berbeda,” kata Direktur Pemasaran Frangrance, Lawrencve Lim.
    Adanya kamar bertarif murah bukan berarti hotel tersebut menjadi murahan, karena itu standar pelayanan khas Fragrance tetap menjadi nomor satu. Setelah itu peningkatan pelayanan menurut level tarif akan dinikmati oleh setiap tamu yang menginginkan.
    Kurang lebih jawaban yang sama datang dari pengelola hotel di bilangan Sentosa. Sentosa adalah sebuah pulau di Selatan Singapura. Di situ sejumlah hotel dengan konsep resort berdiri. Salah satu yang terbesar adalah Rasa Sentosa Hotel yang berada dalam naungan grup Shangri-La.
    Mereka mematok tarif dari 280 Dolar AS hingga kamar President Suite yang bertarif 2.000 Dolar AS atau sekitar Rp18 juta. Pengunjung Singapura yang ingin menikmati spa dan hangatnya pulau Sentosa, boleh datang ke sana dengan menikmati kereta gantung atau Cable Car dari bibir pantai selatan Singapura. Dengan mengeluarkan 30 Dolar Singapura Anda berempat bisa duduk di kabin kereta gantung untuk melayang menuju Sentosa.
    Lalu, kenapa transportasi untuk mencapai Singapura bisa menjadi lebih murah dari Padang dibanding dari Padang ke Jakarta?
    Inilah yang mula-mula dipertanyakan berbagai maskapai penerbangan nasional terhadap konsep Tiger Airways. Di Indonesia memang ada Lion Air yang main di Low Cost Carrier (LCC) tetapi tetap saja tak bisa menyaingi kemurahan Tiger.
    Dengan tarif 10 Dolar AS (p/p) dari Padang, praktis itu amat memungkinkan orang memilih perjalanan wisata ke Singapura ketimbang ke Jakarta. Apalagi kalau STB sudah mempublish tarif hotel dari yang termurah hingga yang tertinggi ke seluruh dunia.
    Akan halnya Tiger, tarif murah itu bukan lantaran ia adalah maskapai yang baru berdiri. Di dalam maskapai itu sendiri terdapat Singapore Airlines, maskapai milik Singapura yang menguasai 49 persen saham, serta Indigo Partners LCC (24 persen) dan Kelompok Tony Ryan (16 persen). Yang disebut terakhir ini adalah pemain LCC yang sudah amat berpengalaman di Eropa. “Jadi kami bukan sekedar murah, tapi berbekal pengalaman panjang di Eropa. Ini adalah penerbangan dengan konsep sebenar-benarnya LCC,: kata Tony Davis, CEO Tiger yang didampingi Manager Regional Indonesia/Filipina, Ikhsan Alfahmi.
    Lalu kenapa bisa murah? Pertanayaan itu pernah dijawab oleh seorang kawan ketika mempertanyakan maskapai nasional yang bisa memberikan tarif murah. Jawaban iseng itu adalah: “Ah jangan-jangan beberapa mur dan baut pesawat itu ada yang copot, makanya bisa murah”
    Tapi Tony dan Ikhsan membantah jawaban iseng itu (walaupun itu bukan jawaban untuk pertanyaan yang ditujukan kepada Tiger-red). Bahwa Tiger memang murah, tapi tidak murahan apalagi mengabaikan standar penerbangan internasional. Bayangkan dengan mengerahkan empat Airbus seri 320 terbaru, mereka langsung terbang ke 10 kota di Asean.
    “Kami memang mengutamakan efisiensi dan efektivitas. Baik dalam inflight maupun preflight dan postflight,” kata Ikhsan.
    Di kantor pusatnya di salah satu ruangan Changi Airport, perusahaan yang sebesar itu hanya dilayani oleh 30 orang saja, sudah termasuk CEO nya sendiri. Untuk kawasan regional Indonesia dan Filipina, Ikhsan hanya dibantu masing-masing satu staf. Pelayanan yang lain lebih banyak dilakukan oleh tenaga outsourching. Awak kabin juga mengerjakan beberapa pekerjaan secara sekaligus.
    Dan inilah kunci sukses lainnya: di dalam pesawat apapun dijual. Mulai dari makanan hingga papan display untuk iklan di kursi pesawat. “Jadi kami ingin mendapat pendapatan tak hanya dari ticketing tapi juga dari fasilitas non-ticket.
    Semua kemurahan itu lalu dipadukan dengan tarif hotel murah, belanja murah dengan pekan diskon gede-gedean, plus segala keramahtamahan, maka alasan apalagi yang akan membuat orang mengurungkan niatnya melancong ke negeri singa itu? Jadi, bae bana lah! (eko yanche edrie)
Iklan

Mei 5, 2006 - Posted by | wisata

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: