WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

MENUMBUHKAN UKM DI SEKITAR INDUSTRI BESAR


  • MENUMBUHKAN UKM DI SEKITAR INDUSTRI BESAR
    Jangan Hanya Melahirkan Tukang Bakso

    SEJAK zaman orde baru, impian akan lahirnya UKM (Usaha Kecil dan Menengah) diantara usaha-usaha berskala besar senantiasa masih jadi harapan, malah kadang kita mulai beranggapan itu sebagai hal yang utopis belaka.
    Dalam tataran ideal, kita berharap sebuah kawasan industri misalnya di Jababeka serta berbagai kawasan industri besar lainnya di Indonesia, akan lahir dan bertumbuhan usaha-usaha kecil dan menengah yang ikut menopang usaha besar tersebut. Sebutlah misalnya, sebuah usaha pesawat telepon, ada komponen-komponen yang dihadilkan oleh UKM di sekelilingnya.
    Belakangan wacana yang dimunculkan dari kawasan industri Jababeka untuk mendorong tumbuhnya UKM di sekeliling industri besar patut disambut gembira oleh para pelaku UKM.
    Tapi apa memang bisa?
    Yang terjadi justru sebaliknya. Yang banyak adalah lahirnya tukang bakso, pedagang lontong di sekitar pabrik besar. Kita tidak menyebut apakah di sekeliling Jababeka yang sarat industri, UKM tumbuh menjadi UKM yang mengikuti mainstream Jababeka? Jangan-jangan yang terjadi justru lebih banyak pedagang nasi Padang.
    Ini sesungguhnya persoalan kita. Kesungguh-sungguhan membesarkan UKM belum terlihat nyata. Para industriawan masih dihingapi rasa sak wasangka kalau-kalau yang kecil kelak menelan yang besar. Jelas ini adalah pikiran absurd yang tidak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan obyektif.
    Padahal, sebuah kolaborasi yang memunculkan kawin mengawin antarkebutuhan akan dapat menghasilkan sinergi yang luiar biasa bagi keseluruhan industri yang berada dalam satu kluster.

    Lihatlah di Jepang misalnya, pada pusat-pusat industri besar, disebar unit-unit UKM yang mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan apa yang dihasilkan industri besar. Dalam kluster itu antara industri besar hidup seperti aur dan tebing dengan industri kecil dan menengah.
    Kehadiran industri besar di tengah-tengah industri kecil dan menengah atau sebaliknya usaha kecil dan menengah di dalam pusat industri besar semestinya ditujukan untuk saling menghidupi. Kalaupun ada semacam kemauan baik dari industri besar dan atau BUMN untuk membina UKM janganlah karena terpaksa. Seperti selama ini sudah ada bentuk-bentuk perhatian dari apa yang dikenal dengan Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi oleh BUMN, kessannya masih sekedar belas kasihan. Beloum menjurus pada kesungguh-sungguhan membina UKM secara profesional. Sisa-sisa tenaga dan kelbihan sedikit keuntungan memang sudah diberikan kepada UKM, tapi genjotannya belum terasa benar.
    Padahal impian nasional adalah menjadikan lingkungan usaha besar yang kondusif guna mendorong terciptanya produktivitas. Yang dimaksud di sini adalah produktivitas usaha besar, menengah dan kecil. Tidak hanya produktivitas usaha besar itu sendiri.
    Belum banyak kita dengar industri besar melakukan transfer knowledge pada industyri kecil dan menengah yang berada dalam binaannya atau yang ada pada kluster di mana dia berada. PT Semen Padang misalnya di Padang, tidak melakukan pembinaan usaha kecil dan menengah untuk usaha membuat karung semen, benang penjahit karung atau membuat. Industri-industri di Jababeka adakah membina UKM yang produknya berhubungan dengan produk industri besar di kawasan itu?
    Padahal kalau semuanya melakukan itu, maka trickle down effect akan berlangsung dan menghasilkan ha-hal positif dibanding dengan melakukan pembinaan pada usaha-usaha yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan industri induk.
    Dari data di Depertamen Perindag sebelum tahun 2000 misalnya, di seluruh Indonesia terdapat hampir 25 ribu perusahaan besar. Jumlah itu hanya kurang dari 1 persen dari total industri yang ada di Indonesia. Sedang yang lain adalah UKM. Dan pada paruh pertama tahuan 2000an ini tentu jumlah itu sudah melonjak pula.
    Dalam sebuah ekspos oleh Kementerian Perindag RI, disebutkan bahwa output indusdtri/usaha besar dan sedang sepuluh tahun yang silam saja sudah mencapai nilai lebih dari Rp260 triliun. Sedang total output industrik kecil dan menengah hanya sekitar Rp26 triliun saja atau hanya sekitar sepersepuluhnya saja dari output industri besar dan sedang.
    Apa sesungguhnya yang terjadi?
    Bahwa dengan penunjukan angka-angka di atas, ternyata dalam kuantitas UKM memang besar, tetapi kontribusi outputnya hanya sepersepuluh usaha besar. Dan yang lebih nyata dapat kita baca dari situ bahwa kontribusi sumber daya manusia yang bermain di UKM (disamping keminimalan modal) terhadap output nya sangat kecil.
    Tak dapat dipungkiri rendahnya kualitas SDM pada UKM adalah cerminan dari rendahnya kualitas pendidikan rata-rata penduduk Indonesia. Rata-rata pemain di UKM memang bermula dari intuisi belaka, bermodal sedikit nekad dan coba-coba.
    Keminiman kualitas tadi telah menjadi salah satu rintangan untuk menggenjot makin besarnya kontribusi output UKM. Para pemain UKM tidak memiliki kapasitas visi yang cukup untuk bisa mengakses ketersangkutan bisnis mereka dengan bisnis usaha besar yang di daerah mereka.
    Itu jugalah penyebabnya, kenapa UKM-UKM hanya bermain untuk sekedar katering, jasa ATK, cetak mencetak keperluan usaha besar dan usaha tetek bengek lainnya. Kita jadi rindu ada UKM yang berada di sekitar pabrik otomotif mengambil spesialisasi membuat onderdil atau bagian dari onderdil atau sub bagian dari bagian onderdil dan seterusnya. Begitu juga kita jadi rindu di sekitar pabrik perakit pesawat televisi, UKM mengerjakan bagian-bagian kecil dari pesawat TV tersebut. Misalnya ada UKM yang membuat dioda, papan rangkaian, membuat saklar dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang berhubungan dengan industri TV tadi.
    Kalaupun industri besar membuka peluang, tapi bagaimana mereka (UKM) bisa terangsang atau terusik menangkap peluang itu kalau mereka tidak punya pengetahuan dasar dan apresiasi terhadap industri besar itu.
    Maka selain tugas membuka peluang, industri besar sebenarnya diharapkan untuk terlebih dulu melakukan inkubasi pada UKM-UKM yang ada di sekitarnya. Inkubasi itu bisa berbentuk pengenalan-pengenalan secara umum core bisnis mereka, maupun dengan secara langsung memberikan pengetahuan praktis untuk membuat komponen-komponen tertentu yang bisa dikerjakan UKM.
    Pada kawasan-kawasan industri hendaknya dari semula sudah diarahkan menjadi kluster-kluster industri yang dapat mengatrol maupun memancing tumbuhnya usaha-usaha kecil dan menengah yang sejalan dengan mainstream industri inti. Jadi kalau boleh dicari bandingnya adalah kira-kira yang seperti yang terbentuk pada sistem inti dan plasma perkebunan.
    Kehadiran UKM yang produknya bertalian dengan produk industri inti di tempat dia berada, sekaligus juga akan memberikan keuntungan sosial bagi usaha besar. Rasa memiliki dan tanggungjawab UKM untuk ikut menjaga kelangsungan usaha besar akan mencuat. Bukan sebaliknya, usaha besar tiap hari hanya disibukkan oleh ‘gangguan sosial’ UKM yang berada di sekelilingnya. Tuntutan demi tuntuan yang kadang sudah bernuasa politis pun biasanya tiada henti dialamatkan ke pusat usaha besar, kalau mereka tidak dapat membina hubungan yang harmonis dengan sekelilingnya. (eko yanche edrie)

Iklan

Mei 5, 2006 - Posted by | ekonomi

1 Komentar »

  1. PROPOSAL
    I. Thema :
    Peningkatan Penjualan Hasil Produksi UKM Dengan Menggunakan Fasilitas INTERNET MARKETING
    II. Judul :
    Pemasaran Dengan Internet Untuk Branding serta Segmented Produk UKM
    III. Latar Belakang :
    1. Adanya kendala biaya pemasaran yang tinggi tidak sebanding dengan keuntungan produksi.
    2. Belum tahunya manfaat internet yang memang benar benar bisa menembus dunia maya sampai tak terhingga.
    3. Tidak seimbangnya laju teknologi dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki.
    4. Tidak adanya wadah untuk melakukan strategi pemasaran yang jitu dan bisa reduce cost.
    5. Mulai bertumbuhnya hotspot area, warnet dan tingkat penjualan komputer dan laptop di Indoensia yang sudah tembus 50.000.000 buah.
    6. Kecenderungan pasar yang menginginkan semuanya serba cepat.
    IV. Tujuan :
    1. Memasarkan produk UKM untuk diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia
    2. Melakukan strategi branding produk dengan metode display, brosur dan iklan, yang nantinya penggunaan biaya sangat kecil (Reduce Cost). Karena pengeluarannya hanya biaya internet saja, yang lainnya gratis.
    3. Melakukan strategi segmented dan targeted sehingga penjualan produk sesuai dengan pasar yang diinginkan, hanya dengan fasilitas internet saja.
    4. Memperkenalkan produk UKM ke luar negeri dengan teknik yang sederhana namun bisa diketahui oleh seluruh negara luar.
    5. Mengajari bertransaksi di internet untuk bisa closing.
    6. Peningkatan jumlah produksi dari hasil penjualan di internet.
    7. Gairah perekonomian UKM bisa berjalan.
    V. Strategi :
    1. Penjelasan dasar tentang manfaat internet yang begitu dahsyatnya.
    2. Cara penggunaan internet yang baik dan benar serta bijak sehingga bisa fokus pada penjualan.
    3. Pelaksanaan dibagi dalam tingkat beginner, intermediate dan expert, sehingga bisa menyesuaikan kemampuan masing masing UKM didalam memasarkan produknya.
    4. Secara berkala memberikan konsultasi terhadap permasalahan dari pemasaran via internet via online.
    VI. Contoh Solusi :
    1. Kawasan Industri Tas Gadukan – Surabaya
    a. Pertama adalah memperkenalkan didunia maya jika selain Tanggulangin ada Gadukan yang juga penghasil tas.
    b. Menjelaskan item produk serta kelebihan produk dibandingkan dengan hasil produksi daerah lain.
    c. Melakukan dan mempersiapkan brosur dengan teknis yang sederhana baik dalam bentuk foto atau video, namun bisa disajikan di internet sehingga calon pembeli bisa secepatnya mengetahui produk yang ada.
    d. Mempelajari cara termurah didalam pengiriman namun tetap aman dan cepat.
    2. Kawasan Industri Kripik Kedelai – Sidoarjo
    a. Pembuatan contoh atau sample rasa yang bisa dikirimkan ke seluruh peminat di internet dengan teknik promo yang murah meriah.
    b. Mempersiapkan kemasan dan cara pengiriman yang aman, sehingga kwalitas masi tetap terjamin.
    c. Memperkenalkan ke semua penjual seantero Nusantara dengan menggunakan teknologi internet.
    VII. Target :
    1. Para UKM melek akan dunia internet dan manfaat yang begitu dahsyatnya.
    2. Memperkenalkan produk ke luar daerah tanpa harus keluar daerah.
    3. Peningkatan produksi UKM sehingga bisa memutar perekonomian.
    VIII. Kesimpulan :
    1. Perlu adanya edukasi dalam 3 tahap untuk tepat sasaran.
    2. Perlunya suatu wadah konsultasi jika terjadi permasalahan.
    Demikian proposal ini kami sampaikan, semoga antara keinginan, tujuan dan kemauan untuk membangun bisa diberikan jalan bagi kelancaran didalam mencapai target.

    Hormat kami,

    Agus Setiyawan (Internet Marketer Income JUTAAN Modal GRATISAN)
    http://piranhamas.wordpress.com, piranhamasgroup@gmail.com

    Komentar oleh Agus Setiyawan | Agustus 19, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: