WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

Duh, lagi-lagi bom


Nyoman, Kami Bersamamu!

Apalagikah yang tersisa di republik ini setelah kenyamanan, keamanan, ketertiban, kehidupan ekonomi yang memadai, kehormatan, kegemahrepahlohjinawian, ketatatentremkertaraharjaan semuanya direnggut?
Sabtu petang yang berdarah di Kuta dan Jimbaran Bali. Semua jualan pariwisata kita yang mengedepankan keramahtamahan, senyum dan sapaan akrab mendadak sontak pudur. Tiga bom diledakkan. 22 nyawa melayang seketika dan 122 orang terluka. Dan jutaan orang Bali terluka hatinya, untuk kedua kalinya setelah tiga tahun yang silam bom serupa mengguncang Legian Kuta.
Orang Bali mungkin tak memahami arti Ramadhan. Tapi kita, saudara-saudaranya yang berjarak jauh beribu-ribu kilometer tetap harus menangis manakala lusa di kaki langit kita menanti hilal Ramadhan mencogok. Kita menangisi Bali, sejumput tanah yang masih masih dianggap menyisakan kedamaian di republik ini, tapi dengan kejam diluluhlantakkan pula oleh sebuah keangkaramukaan.
Kuta yang indah. Nyoman, Made, Ketut, Kadek, Putu, Desak, Ni Luh, Bagus, kami bersamamu.
Kita mungkin belum akan sependapat dengan PM Howard yang subuh buta sudah menuding-nuding kelompok Islam garis keras sebagai pihak yang berada di belakang semua ini.
Sebagai Muslim, tak ada ajaran yang menyebutkan kita harus berada sebarisan dengan kelompok yang melepas bom itu. Tak ajaran bahwa kita harus membunuhi orang yang tidak bersalah. Semua ajaran memberlakukan itu.
Lalu siapa yang mengebom dan apa maksudnya? Entahlah, biarlah aparat keamanan saja yang menjawabnya kelak setelah melakukan penyelidikan.
Yang dapat kita pertanyakan sekarang adalah betapa aparat intel kita senantiasa tertinggal jauh dalam kecepatan baik bergerak maupu menguasai teknologi dibanding dengan teroris.
Tiap kali otoritas intelijen kita berganti, senantiasa dengan janji bahwa mereka akan membawa dunia intelijen kita kepada profesionalitas yang dapat menjawab tantangan zaman.
Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa aparat keamanan yang bekerja untuk intelijen kita nyaris dibuat seperti barisan pemadam kebakaran yang datang dengan selang besar setelah api berkobar.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid senantiasa mencela aparat intel kita yang ia nilai lamban. Di zaman dia, sejumlah aksi teror bom juga berlangsung. Lalu dilanjutkan dengan masa Megawati.
Kini Presiden SBY sedang berada pada posisi menghadapi berbagai aksi pembangkangan atas keputusannya yang amat tidak populer: menaikkan harga BBM. Jelas, teror bom ini akan dikait-kaitkan dengan adanya kecurigaan untuk menggoyang kepemimpinan SBY.
Tapi bagi rakyat kecil yang kini sedang hidup dengan nafas senen kemis, apakah dugaa-dugaan itu merupakan kepeduliannya?
Rakyat hanya dapat menangis kini. Menangisi kondisi dan menangisi saudara-saudaranya yang jadi korban bom di Kuta dan Jimbaran.
Seberapa lama lagikah kita menangis?Sebarapa banyak lagikah air mata yang kita punya?

Iklan

Oktober 4, 2005 - Posted by | kamtibmas

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: