WARTAWAN PADANG

Hal ihwal tentang Sumatra Barat

semen padang


Sebuah Ikon Lokal Bernama: Semen Padang

Sajak pabirik di indaruang
Lori bajalan di ateh kawek
Sajak peningga mande kanduang
Nasi dimintak sumpah nan dapek

Dalam benak setiap orang Minang, paling tidak yang lahir sebelum tahun 70an, Indarung senantiasa dikaitkan dengan lori. Ia adalah kereta gantung yang memuat batu kapur dari Bukit Karang Putih menuju silo-silo pembakar untuk dijadikan semen.
Lori yang bolak-balik dari Bukit Karang Putih ke silo di pabrik sepanjang hari selama bertahun-tahun setia menjadi mainan mata orang-orang di sekitar Indarung.
Tiap kali orang ‘darek’ datang ke Padang, senantiasa tidak melewatkan menyaksikan lori berjalan di atas kawat itu. Hingga pencipta lagu di atas pun tak mau kalah menukilkan pantun tersebut dalam lagunya.
Sejak 1910, kawasan di sebelah Timur kota Padang itu memang selalu menjadi perhatian. Dari mulai dibangun, di kejauhan akan terlihat asap pabrik menerobos keluar lalu bermain dalam palunan awan-awan kota Padang. Selama bertahun-tahun pemandangan tersebut akrab dengan mata orang Padang.
Sebuah citra berbentuk kepala kerbau dan rumah adat Minangkabau akhirnya menjadi sangat dekat dengan urang awak.
Sejak didirikan tahun 1910, di benak orang Minang kalau bicara semen, itu berarti Semen Padang. Semen Padang beerarti Indarung. Indarung berarti Lori. Lori berarti dendang sansai, saat orang mengenang nasibnya yang buruk.
Artinya, secara sadar, orang Minang sudah menjadikan Semen Padang sebagai sebuah ikon lokal. Oleh karena kecenderungan migrasi orang Minang, maka ikon lokal itu menjalar menjadi ikon regional. Bahkan mungkin saja ikon nasional. Ini dibuktikan dengan bertebarannya produk semen Padang pada berbagai landmark kota, termasuk untuk membangun tugu Monas di Jakarta.
Saya tidak tahu apakah manajemen PT Semen Padang pernah mendata mahakarya arsitektur mana saja di Indonesia yang dibangun dengan semen padang. Kalau itu pernah dilakukan, PT Semen Padang akan menambah literatur sejarah lagi, termasuk menjadikannya sebagai bukti kualitas produksi pabrik di bukit Indarung itu.
Meneer Belanda yang memulai meneruka bukit cadas di Indarung itu dari semula agaknya sudah tahu bahwa dari kawasan tersebut kelak akan muncul ikon lokal yang amat terkenal.
Karena itu, pendekatan logo pabrik memang sengaja didekatkan kepada nuansa lokal, didasarkan kepada filosofi lokal. Tatakala ia masih bernama NIPCM (Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij) memang belum kental nuansa lokalnya. Dua lingkaran yang tidak sama besarnya, citra lokalnya hanya disampaikan lewat kata ‘Sumatra’ dalam kalimat yang lengkapnya berbunyi ‘Sumatra Portland Cement Works’
Sejak itu dalam suasana iklim kelesuan eknomi dunia, semen mulai akrab dengan masyarakat lokal Minangkabau yang masih dalam cengkeraman kolonial Belanda. Bangunan-bangunan baru yang muncul mulai mengenal semen, dari yang tadinya hanya berupa kayu dan bambu melulu.
Sekali lagi Belanda menginginkan bahwa nuansa lokal harus melekat pada produknya, agar muncul rasa memiliki masyarakat lokal terhadap pabrik tersebut dan produknya. Maka pada tahun 1913, manajemen NIPCM merilis logo baru untuk produk mereka.
Tren sebuah produk ketika adalah memiliki cap. Semen cap kerbau! Agaknya itulah inspirasinya para meneer Belanda. Logo baru NIPCM ditambahi dengan kepala kerbau. Meski tidak jelas apakah itu kerbau jantan atau betina, yang jelas manajemen NIPCM mengatakan bahwa itu adalah kerbau jantan yang perkasa.
Kenapa harus cap kerbau?
Tak ada literatur yang menjelaskan itu. Tetapi dapat ditebak, bahwa lagi-lagi pendekatan lokal diperlukan oleh manajemen. Kerbau dalam kultur Minangkabau sangat berkaitan erat dengan nama Minangkabau. Nama perusahaan pada logo baru itu dtambahi menjadi NV NIPCM. Logo ini bertahan dan terus masyhur sampai tahun 1928.
Entah karena semangat lokal belum terlalu terasa dalam logo tersebut, manajemen Belanda kemudian memperbarui lagi logonya. Saat pergerakan nasional sedang bangkit-bangkitnya di berbagai daerah di Indonesia, Belanda mulai menjalankan politik etis. Politik balas jasa ingin ditunjukkan Belanda lewat produk-produknya.
Entah maksudnya memperkecil resistensi kaum pergerakan kepada Belanda, maka mereka kemudian mengganti lagi logo semen padang. Kata Nederlandsch Indische dibuang, diganti dengan NV Padang Portland Cement Maatschappij (PPCM). Masyarakat kawasan Indarung boleh bangga ketika itu, manakala nama kawasan itu mulai dicantumkan di bawah logonya. Bacalah kata-katanya: “Fabrik di Indarung Dekat Padang, Sumatera Tengah”.
Logo baru yang dirilis dalam suasana Soempah Pemoeda 1928 itu, juga menyertakan gambar anak kecil yang memegang tali kerbau dilatari gonjong rumah adat. Belanda sepertinya ingin lebih meyakinkan kaum pergerakan bahwa mereka cukup ‘memperhatikan’ budaya lokal. Terlepas dari apakah itu hanya sekedar ‘galomok’. Yang jelas makin lama ikon semen padang kian melekat dengan Padang, dengan Sumatra Tengah dan Minangkabau.
Ikon ini bertahan hingga Jepang masuk. Jepang memerlukan banyak infrastruktur yang harus dibangun dengan semen. Karena itu mereka amat berkepentingan mempertahankan pabrik ini.
Tapi Jepang agaknya lebih ‘sungguh-sungguh’ mengindonesiakan pabrik tersebut. Politik mengambil hati orang Asia yang sedang dijalankan Jepang, akhirnya mengubah lagi nama PPCM. Nama baru yang disandangnya kini lebih terasa mengindonesia, Semen Indarung. Tapi logonya tidak diubah.
Tapi orang sepertinya tak terlalu peduli dengan nama itu. Indarung dan semen nya tak lepas lagi dari ingatan orang. Bicara soal semen, maka pastilah semen padang. Sampai ketika pabrik itu dinasionalisasi oleh pemerintahan Soekarno 1958, namanya menjadi Semen Padang Pabrik Indaroeng.
Sedang Belanda dan Jepang saja bersikukuh mempertahankan nuansa lokal pada logonya, apalagi pemerintahan Indonesia. Gambar kerbau dan gonjong rumah adat tetap dipertahankan.
Dalam kemasan semen pada 1970an ditambahi pula kata-kata yang paling terkenal dari Bukit Indarung: “Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan”
Kalimat itu kelak seperti bersaing dengan pencitraan semen Indarung sendiri. Artinya semen padang sama terkenalnya dengan kalimat tersebut. Walhasil, sebuah ikon bernama PT Semen Padang, memiliki awareness yang tinggi dari publiknya.
Dari sebuah ikon lokal, semen padang berubah menjadi kecintaan lokal. Tak bisa dipungkiri kalau kemudian muncul semangat dan rasa memiliki yang tinggi oleh masyarakat Sumatra Barat terhadap pabrik.
Apalagi kalau kehadiran pabrik di Indarung itu sangat terkait dengan apa yang dikenal dengan Empat Sekawan. Empat Sekawan itu adalah Pelabuhan Teluk Bayur, Jawatan Kereta Api, Semen Padang dan Batubara Ombilin. Keempat-empatnya selama puluhan tahun menjadi pilar kukuh perekonomian Sumatra Barat. Indarung butuh batubara dari Ombilin, Jawan Kereta Api yang mengangkutnya, lalu ekspor semen dan batubara dilayani oleh Teluk Bayur. Belum lagi ribuan orang hidup dan menggantungkan hidup dari pabrik ini.
Karena itu tatkala ia terseok-seok dan nyaris bangkrut, masyarakat serentak turun tangan. Nagari-nagari bahu membahu mempertahankan pabrik yang nyaris akan dijual ke tangan asing pada 1960an.
Perubahan kepemilikan dalam tubuh perusahaan semen ini menimbulkan gejolak. Bukan lantaran apa-apa, sesungguhnya itulah ujud kecintaan lokal terhadap produk yang sudah terlanjur jadi ikon lokal.
Sekalipun pada awalnya, pabrik adalah buah karya Belanda dan itu adalah kaum penjajah, tidak berarti pada semangat lokal yang menginginkan pemisahan (spin-off) PTSP dari PTSG harus diterjemahkan sebagai anti-asing.
Masalahnya, pada tataran kultur bahwa ada sesuatu yang direbut dengan penuh gegap gempita dan perlawanan gigih (yang dicatat dalam buku sejarah) tiba-tiba harus dilepas begitu saja. Itu saja.
Makanya, yang diinginkan para pejuang spin-off hanyalah agar kembali PTSP jadi BUMN murni. Pada saat mana ikon lokal yang sudah tercitrakan dengan baik tadi tidak tercerabut begitu saja.
Harap dicatat, saat ini tak ada ikon lain yang setara dengan semen padang yang dapat menimbulkan kebanggaan lokal. Segala sesuatu memang bisa berubah, tapi apakah rasa cinta yang mendalam harus juga berubah hanya karena negara butuh uang dan menggadaikan rasa cinta tadi?

Iklan

Juni 20, 2005 - Posted by | isu lokal

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: