Agustus
Agustus, senantiasa jadi bulan penuh makna. Ada kegegapgempitaan, heroisme, kematian, kesengsaraan, malapetaka dan pengkhianatat terhadap manusia dan kemanusiaan di dunia. Ada kemerdekaan sejumlah bangsa pada bulan ini tapi ada jutaan orang tersapu bom. Hirosima dan Nagasaki memuncaki petaka karena manusia mengdepankan egonya sendiri.
Dan dari waktu ke waktu sejarah manusia senantiasa tak bisa melapaskan dirinya dari saling tindas, saling bunuh, saling serang dan saling berpacu memupuk keserakahan. Diantara kelompok-kelompok bertikai ada yang patut dimaki-maki ada yang patut mendapat pujian untuk dikenang sepanjang zaman.
Jepang patut dimaki-makin oleh hampir sekerat bangsa Asia ketika mereka melakukan pendudukan. Tapi ketika 200an ribu jiwa tewas dan luka-luka seketika saat bulan Agustus yang hitam 1945 akibat ‘big boy’ jatuh di Hirosima dan Nagasaki, sejenak orang melupakan soal pendudukan Jepang. Yang ada rasa duka mendalam, betapa sia-sianya nyawa penduduk kedua kota itu.
Di Jerman dan seluruh daratan Eropa hingga jauh ke Afrika Utara, semua mengutuk Adolf Hitler. Tokoh yang sering disebut sebagai orang sakit jiwa itu menganggap jiwa manusia ibarat kontak lampu saja yang layak di on-off kan seenak perut the fuhrer. Buku edan ‘Mein Kampf’ dijadikan kitab suci untuk memberi pembenaran ia membunuhi orang. Lengkaplah kerusakan otak Hitler ketika orang menyebutnya “the most evil man in all of history”. Kejahatannya jangan dilupakan sekaligus jangan terulang. Yang dikenang orang belakangan tentang Hitler adalah teori jalan tol yang berkembang hingga kini di seluruh dunia. Ia juga mengembangkan Volkswagen yang terus maju setelah perang hingga kini.
Di Jepang lambang perlawanan atas penelantaran nyawa manusia dilambangkan oleh sosok Sadako Sasaki. Kisah bocah perempuan dari Hirosima senantiasa dikenang orang tiap-tiap Agustusan. Sadako satu dari sedikit orang yang tidak tewas saat bom jatuh. Tapi ia luluh lantak, ketika itu usianya 2 tahun. Selama sepuluh tahun ia dirawat di klinik radiasi. Bom membuatnya terkena leukemia tak tersembuhkan.
Perawat-perawat amat mengagumi betapa tingginya semangat hidup Sadako. Kepadanya didongengkan bahwa jika ia bisa membuat origami (seni lipat kertas) burung bangau hingga 1000 buah, ia akan sembuh. Sadako berusaha dengan tertatih-tatih membuat seribu buah. Kertas amat sulit didapat setelah Jepang kalah.
Usahanya pupus ketika sampai 644 origami, ajal menjemputnya dengan tangan masih memegang kertas. Ia pergi pada 25 Oktober 1955. Sejak itu sebuah monumen dibangun di Hirosima mengenang semangat hidupnya, tiap tahun kanak-kanak dari seluruh dunia yang bekunjung ke Hirosima senantiasa berusaha mencukupkan 1000 origami untuk Sadako.Agustus ini 62 tahun setelah malapetaka itu.
Sadako menulis di buku hariannya: “I shall write peace upon your wings, and you shall fly around the world so that children will no longer have to die this way.” ueko yanche edrie
Diplomasi Duren
Diplomasi duren! Itu dicatat benar oleh Marshal Green, Dubes AS di Indonesia yang menggantikan Dubes Howard Jones. Menurutnya duren sangat berbahaya. Dengan ektrem dia menulis dalam bukunya: inilah makan paling menakutkan bagi saya, ini makanan dunia ketiga.
Green tak seluwes Howard. Karena itu medio 1965 ia disambut kasar oleh publik Jakarta. Di tembok-tembok para grafiti menulis: Green, go Home! Tapi ada juga yang menulis ketika itu dengan lipstick berbunyi: Green Go Home and take me with you!
Kembali ke duuu…ren!
Sebuah perjamuan diplomat diselenggarakan. Bung Karno sepertinya mau ngerjain Marshall. BPI (intel negara waktu itu) rupanya mengendus info paten bahwa Marshal Green paling benci bau duren.
Setelah main toast-toast-an pakai cocktail segala, tiba-tiba pelayan masuk dengan sebaki buah duren. Bung Karno langsung mangalokakan durian ranum itu sembari menyodorkannya ke Marshal. Keruan saja sang dubes cemas. Peluh dinginnya keluar. Kalau ditolak, berarti menyalahi tatakrama diplomat. Kalau dimakan juga amat gawat bagi perut Green. Tapi demi the star spangled banner terpaksa disantung juga buah dunia ketiga yang mungkin saja oleh CIA dianggap kualifikasi bahayanya menyamai gas beracun SS nya Gestapo di Jerman. Beberapa jurus kemudian Green pamit ke belakang untuk muntah-muntah. Bung Karno tersenyum. Sebuah diplomasi cara Sang Fajar yang mengungguli sebuah superpower.
Duren bukan sembarang buah yang bisa dilecehkan begitu saja oleh seorang Marshal Green (kelak Green amat terkenang dengan itu, iapun sampai mengusulkan program Marshall Plan untuk pembangunan Indonesia di masa Soeharto)
Sampai hari ini pun duren tetap saja dianggap buah diplomasi. Sejak pertengahan 2006 rupanya desakan terhadap Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar sejumlah menteri diganti. Biasalah, rumusan klasiknya: tak becus. Karena itu diharapkan Presiden mengganti. Yang menteri ekonomi lah, yang menteri kesra lah, yang menteri polkam lah. Pokoknya ganti.
Baik Presiden maupun Wapres sama-sama menahan diri untuk berbicara soal reshuffle itu. Sehingga hanya orang-orang di sekeliling Istana saja yang omong bongkar pasang kabinet. Celakanya yang resah justru para menteri.
Inilah gaya konvensi SBY. Ahad 15 April ya atau tidaknya reshuffle itu dipublikasi. Tapi Presiden mendahuluinya dengan ‘ritual’ makan duren bersama wartawan. “Ya reshuffle awal Mei” itu saja yang dikatakan Presiden, lalu menikmati duren di kebun duren Warso Farm, Cihideung Bogor Jawa Barat. Para wartawan mangut-manggut. Enam bulan didesak-desak agar Presiden mau mengatakan ya atau tidak untuk reshuffle, eh di parak duren kiranya itu terlontar.
Tapi percayalah, bongkar pasang kabinet bukan sesederhana makan duren. Ini menyangkut kepentingan besar. Soal apa dan bagaimana Indonesia ke depan. Jadi tak bisa hanya diputus di kebun duren.
Duren boleh jadi buah diplomasi Presiden, tapi jangan sampai hasil rombak kabinet ini yang muncul adalah kabinet duren, enak di bau nya tapi melukai banyak orang kalau digelindingkan.(eko yanche edrie)
-
Arsip
- Juli 2009 (1)
- Oktober 2008 (14)
- Juni 2008 (2)
- Desember 2007 (3)
- Agustus 2007 (3)
- Juli 2007 (3)
- Juni 2007 (20)
- November 2006 (5)
- Oktober 2006 (5)
- Juli 2006 (6)
- Mei 2006 (10)
- Oktober 2005 (1)
-
Kategori
- Budaya
- Curriculum Vitae
- ekonomi
- esei hukum
- internasional
- isu lokal
- kamtibmas
- kelautan
- Kelistrikan
- kesehatan
- kontemplasi
- Lingkungan Hidup
- melawat ke maluku
- melayu
- minangkabau
- Obituari
- olahraga
- pemerintahan
- pencarian
- pendidkikan
- pers/media
- Pertanian
- politik
- sejarah
- SUMBAR HARI INI
- TI
- tokoh
- transportasi
- Uncategorized
- wisata
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
