CATATAN MASUK BANDAR KELUAR BANDAR (1)
Maka Taraniayalah Para Ahli Hisap
Empat hari awal bulan Desember, sejumlah wartawan Padang melawat ke Malaysia dan Thailand. Ceritanya masuk bandar keluar bandar (bandar = kota) dari Kuala Lumpur hingga Hatyai di Thailand. Eko Yanche Edrie dari Haluan mencatat hal-hal remeh temeh berbagai hal. Berikut catatannya:
Peperangan besar sesungguhnya sedang berlangsung di seluruh dunia. Di front sedang berlaga Indonesia atau Kuba dikeroyok oleh ratusan negara. Eh, sebelum saya teruskan Anda jangan ‘terburangsang’ dulu.
Ini bukan semacam battle of britania’ yang terkenal di Eropa pada PD I atau semacam pertempuran pasifik yang kesohor di sekitar Midway itu. Ini adalah perang antara (negara) industri rokok dengan negara dan kaum antirokok. Sudah berlangsung bertahun-tahun. Belum ada yang menang dan (tentu saja) belum ada yang kalah. Kaum perokok terus saja membangun pabrik dan memperluas ladang tembakau, kaum antirokok terusberkampanye dimana-mana. Di Malaysia dan Thailand tak terlihat billboard iklan rokok macam di jalanan Indonesia.
Sebagai negara penghasil tembakau nomor satu dan cerutu nomor satu di muka bumi, devisa Indonesia dan Kuba cukup terbantu oleh tembakau yang diindustrikan menjadi rokok dan cerutu. Bahkan di Indonesia industri rokok sangat signifikan menopang ekonomi nasional.
Tapi belakangan kesadaran dunia mucul, bahwa rokok tak pernah membawa manfaat untuk manusia. Ia adalah racun pembunuh nomor satu. Alkisah tersebutlah kawan-kawan wartawan yang melancong ke Malaysia dan Thailand ternyata sebagian besar adalah ‘ahli hisap’ alias perokok berat.
Sebagai mantan perokok yang kini jadi perokok pasif (kadang merokok kadang tidak) saya dapat merasakan betapa tersiksanya kawan-kawan selama melancong. Di Bandara KLIA rokok hanya ‘diduduik’ di tempat tertentu saja. Di terminal Pudu Raya Kuala Lumpur sebagai ahli hisap kita harus bertobat sebenarnya dari palutan ketergantungan pada candu nikotin. Maklum di sana para ahli hisap dihilangkan tuahnya oleh polisi pelancongan. Tak boleh merokok di setiap level (lantai) kecuali di basement tempat bus-bus diparkir. Kalau hanya parkir sih tak apalah. Semua bus dalam keadaan mesin hidup, asap knalpotnya ‘mangkapopoh’. Maka berkatalah polis pelancongan kepada ahli hisap:“Sila encik sekalian habiskan rokok di sini”. Maka tinggallah para ahli hisap bercampur baur dengan gas CO2 yang keluar dari knalpot. Saya tak tahu, apakah geretekan kretek Jie Sam Soe menjadi makin bikin fly para ahli hisap atau malah paru-paru harus menyisakan space buat asap baru selain asap tembakau.
Sudah saya sebut tadi bahwa space iklan media luar ruang yang mengiklankan rokok nyaris tak terlhat di Thailand dan Malaysia. Yang terlihat justru makin meluas tempat pelarangan merokok. Di Hatjay, kota pelancongan selatan Thailand mulai menolak rokok. Di hotel, merokok hanya dibolehkan di kamar. Di loby kalau mau kena ‘uangrokok’ alias denda 2000 bath (equivalen dengan 200 ringgit Malaysia) silahkan menyulut rokok.Kata Nawavira Khmueng seorang petugas hotel, kebijaksanaan ini diterapkan oleh pemerintah distrik Songkla yang membawahkan kota Hatjay sejak dua tahun ini.
Maka selama melancong, sebagian besar anggota rombongan yang ahli hisab tak menyia-nyiakan tempat-tempat bebas rokok. Di restoran, senantiasa dipilih yang tidak ber AC. Dalam perjalananan Kuala Lumpur via Lebuh Raya Utara Selatan, tiap kali ada ‘hentian sebelah’ alias rest area, maka bagian dekat-dekat tandas alias kakus sangat membesarkan hati ahli hisap. Di situ rokok kabarnya enak sekali. Dan waktu yang diberikan senantiasa molor lantaran ada yang ‘batambuah rokok’.
Saya terbelalak ketika dalam koper wartawan senior Fachrul Rasyid ada satu slof rokok. Saya bilang, untung kita tidak masuk lewat Singapura yang amat ketat terhadap masuknya rokok ke negerinya. Tapi mana pula ia mau mendengarkan cakap saya (alaaamak ketularan malay pula awak).
Maka ibarat di Padang Pasir, rokok satu slof itu benar-benar bagai oase. Fachrul lalu ‘menyedekahkan’ rokoknya kepada para ahli hisap yang sedang jadi ‘musafir’ itu.
Perang pada rokok makin menghebat di Thailand. Rokok merk mildseven dibuat oleh Jepang di Thailand, harganya RM7 atau sekitar Bt70. Khusus yang diedarkan di Thailand, diluar kemasan Mildseven bukan saja dicantumkan peringatan tertulis mengenai bahaya rokok dengan teks namun dimuat juga gambar jantung manusia dan bagian tubuh manusia yang dirusak oleh nikotin.
Tapi apa berhenti orang merokok? Wallahualam. Yang terang kepatuhan pada aturan di kawasan orang ramai makin dipatuhi. Rambu-rambu larangan merokok makin banyak di tempat awam. Beda tipis dengan kita, banyak tanda larangan, banyak yang melanggar.
Macam mana anak-anak akan dilarang merokok, kalau oleh para orang tua, rokok justru menjadi peradatan dan sekaligus peradaban.
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Desember 2009 (12)
- Juli 2009 (1)
- Oktober 2008 (14)
- Juni 2008 (2)
- Desember 2007 (3)
- Agustus 2007 (3)
- Juli 2007 (3)
- Juni 2007 (20)
- November 2006 (5)
- Oktober 2006 (5)
- Juli 2006 (6)
- Mei 2006 (10)
-
Kategori
- Budaya
- Curriculum Vitae
- ekonomi
- esei hukum
- internasional
- isu lokal
- kamtibmas
- kelautan
- Kelistrikan
- kesehatan
- kontemplasi
- Lingkungan Hidup
- melawat ke maluku
- melayu
- minangkabau
- Obituari
- olahraga
- pemerintahan
- pencarian
- pendidkikan
- pers/media
- Pertanian
- politik
- sejarah
- SUMBAR HARI INI
- TI
- tokoh
- transportasi
- Uncategorized
- wisata
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
