Tahun Babi Disambut Badai
Banyak kecemasan yang menghadang kita saat meninggalkan tahun 2006. Beberapa evaluasi ahli tentang tahun 2006 dan prediksi maupun asumsi mereka di tahun 2007 ini kadang menimbulkan kecemasan.
Baru saja tahun baru yang dalam penanggalan Cina disebut tahun babi ini, bencana langsung menghadang. Banjir, badai dan sejumlah kapal tenggelam. Korban berjatuhan. Sebelumnya menjelang tutup tahun di Sumatra Barat juga terjadi banjir, longsor yang menimbulkan korban nyawa di Kabupaten Solok. Di perbatasan Sumbar-Sumut, gempang mengguncang Muara Sipongi. Di Aceh, tsunami yang sangat traumatik itu belum hilang di ingatan tapi sudah datang pula banjir besar melanda kawasan Aceh Tamiang.
Tahun 2006 sesungguhnya tak sekedar bencana pisik yang kita derita. Tetapi ada bencana politik, bencana budaya, bencana moral hingga terkikisnya nilai-nilai.
Sekedar bencana alam, mungkin kita renungkanlah sebagai sebuah kemestian lantaran kitapun berbuat tak senonoh terhadap alam. Jika Allah murka dan menumpahkan lumpur Lapindo, itu adalah lantaran kesewenang-wenangan kita memperlakukan alam. Lompur, banjir dan galodo lantaran kita tak adil terhadap lingkungan. Kita tuai sekarang akibatnya. Kata para ahli, alam telah bertindak fair.
Tapi bencana budaya, politik hingga bencana moral juga sungguh memilukan kita. Ini adalah lantaran mulai tak berfungsinya indra batin membaca, melihat, merarasakan, mendengar suara rakyat atau persisnya penderitaan rakyat.
Para aktor politik sibuk dengan dunianya sendiri, birokrasi heboh dari waktu ke waktu mengurus dirinya atau komunitasnya.
Mereka kurang peka mendengarkan bahasa batin rakyat. Penderitaan rakyat hanya tamat sampai di kesimpulan seminar-seminar tanpa jelas harus bagaimana menyelesaikannya. Satu dua upaya pemberantasan kemiskinan nyaris tak terdengar dalam banyaknya persoalan-persoalan korupsi melanda birokrasi.
Inilah zaman ketidakpastian. Yang seharusnya mendapat cinta justru mendapat tuba. Yang seharusnya disanjung dengan segenap kehormatan, justru berbuat nista. Artis-artis dengan enak dan enjoy memamerkan kierusakan akhlaknya. Pamer video mesum dengan anggota DPR menjadi tontotan asyik.
Jika ini memang tahun babi, lalu disambut dengan badai dan bencana, maka saya kira sebagai bangsa yang besar kita tak boleh pesimis. Badai, galodo, gempa, kapal tenggelam, kerusakan moral, kahancuran akhlak adalah buah kerja buruk kita selama ini. Maksud saya kalau kita pesimis sambil mengatakan bahwa kita tidak akan pernah lepas dari kenegatifan itu, artinya kita sudah menyerah. Bangsa yang besar ini harus bisa berubah menjadi lebih baik, semuanya harus diawali dengan kebulatan tekad. Tekad untuk berubah menuju kesuksesan. Kalau hari esok sama saja bahkan lebih buruk dari hari kemarin, itu artinya kita sudah benar-benar tak memkiliki apa-apa alias kalah total. Allah sangat benci orang yang tidak mau berusaha mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.(asril kasoema, pemred Harian Haluan)
Pahlawanku Dora Emon
Sidi Tonek hampir saja naik darah tingginya ketika lagu yang sedang disetelnya di perangkat Hi-Fi nya ditukar oleh anaknya dengan lagu I Write Sins Not Tragedies dari kelompok Panic! At the Disco.Tadinya Sidi mendengar lagu Sapu Tangan dari Bandung Selatan yang digubah sang Maestro Ismail Marzuki. “Abak kuno bana mah, ko lagu alah dua pakan di puncak tangga amerika top forty,” kata anaknya sambil membongkar keping cakram padat dari CDROM.Tumbung! Benar-benar ndak ‘bataratik’ anak kini. Tapi percuma saja Tonek mencoba berargumen kepada anaknya bahwa lagu-lagu Ismail Marzuki bisa merasuki semangat nasionalisme kita. Mengusik alam bawah sadar kita untuk senantiasa mengenang para pahlawan, para pejuang yang sudah berdjoeang memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan tanah pertiwi ini.Apa boleh buat, Tonek mendapati realitas yang tak sama dengan realitas yang dialaminya ketika usianya masih seusia anaknya dulu. Dulu ia ingat ketika di sekolah tak bisa menghafalkan tahun Perjanjian Bongaya, Traktat London, tahun Perang Paderi maka hukumannya adalah disetraaf ‘tegak itik’ satu jam oleh engku guru. Kini kanak-kanak yang matanya masih lucu-lucu bak mata kelinci dan mata Habibie, jika ditanya siapa pahlawan idolamu? Maka jawabannya adalah Dora Emon! Setengahnya menjawab Power Ranger. Yang lain menjawab Sincan. Daya pikat heroisme Satria Baja Hitam telah mencederai pikiran kanak-kanak ketimbang mengidolakan Teuku Umar Djohan Pahlawan. Dora Emon jauh lebih hebat dari Walter Robert Monginsidi yang bersedia ditembak mati demi republik ini. Sponge-Bob animasi dari busa pencuci piring ternyata lebih membetot semangat kanak-kanak dan lantas mengidolakannya dibanding mau membaca agak separagraf sejarah PDRI yang dimaktubkan dalam kitab ‘Somewhere in the jungle’ oleh Mestika Zed.Kita khawatir, jangankan tahu nama besar Bung Hatta, Bung Karno. Dokter Douwes Dekker, H.Abdul Karim Amarullah, Sjech Mohammad Djamil Djambek, Inyiak Musa Parabek, Rahmah El Joenoesiah, mencoba untuk menghafal fragmen-fragmen perdjoeangan lokal Sumatra Barat pun kanak-kanak kita seperti tak ada minat. Ini sungguh satu kuplet irama pilu dalam keseharian kita untuk mewarisi nilai-nilai kepahlawanan. Heroisme, patriotisme, kesatriaan kelak hanya akan tertulis di relief-relief batu, bukan dalam jantung hati kanak-kanak kita. Merdeka!(eko yanche edrie)
OKB dan OBB
Soal menetapkan siapa yang miskin siapa yang tidak atau berapa yang miskin berapa yang tidaknya rakyat Indonesia, ternyata bukan perkara gampang. Setengah mampus orang Bappenas dengan BKKBN basiarak mempertahan argumentasinya masing-masing.
Perkara miskin atau tidak miskin juga bertambah ruwet ketika orang Jakarta punya cara pandang berbeda dengan orang daerah. Walhasil alih-alih memberantas kemiskinan, soal menentukan syarat dan rukunnya orang miskin saja kita terpaksa bikin heboh nasional dulu.
Sidi Tonek bertengkar dengan dengan saya soal itu. Kawan saya ini memilih sudut pandang linguistik (maksudnya kebahasaan, jadi agar terdengar hebat Sidi menggunakan istilah linguistik) Sidi Tonek mempertahankan argumentasinya bahwa antara miskin versi orang
Jakarta dengan miskin versi otonomi daerah memang harus berbeda.
Tonek mendalilkan, dalam logat lokal miskin disebut bansaik. Tapi rupanya orang
Jakarta salah dengar. Mereka kira bansaik harus diucapkan dengan bangsat. Diacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka bangsat artinya semacam kutu busuk. Di Jakarta, kata bangsat dijadikan umpatan.
Beberapa orang Jakarta yang salah terima dengan dalil Sidi Tonek akhirnya mencoba memperturutkan nafsunya membuat kalimat-kalimat spanduk. “Memberantas Bangsat” atau “Angka Kebangsatan Sumbar meningkat” atau “Jumlah Penerima Beras Bangsat Menurun”.
Eh, lama-lama istilah bangsat rupanya berubah fungsi. Orang malah tiba-tiba jadi suka dibilang bangsat. Kawan saya yang lain Bagindo Toron baru kali itu ke Jakarta. Ia dibekali ide oleh Sidi Tonek. Katanya kalau di Jakarta cukup belajar Elu atau Gue saja. Maka ketika Toron turun di pintu Busway sembarangan tempat, kondekturnya berseru: Eh, bangsat lu! Toron mengira ia sedang diuji bahasa Jakartenye, maka dengan arogansi pemegang otonomi daerah, Toron pun memburangsang. Ia berkacak pinggang sambil berteriak: “Hoi, gua juga bangsat, tau?
Ya ya. Kemiskinan adalah bagian dari kekufuran. Termasuk kemiskinan pada hati nurani. Banyak orang yang tadinya miskin kemudian mendapat rezeki nomplok lalu berubah status jadi OKB alias Orang Kaya Baru. Lagaknya juga baru, cara bicara, berpakaian sampai ke hobi. Bahkan kalau ia bercarut pun sekarang sudah modern dan lebih dahsyat. Tapi ini sudah biasa.
Beda dengan OBB alias Orang Bangsat Baru. Ini adalah spesis yang kehilangan malu. Mereka mau bergedincit berebut kartu tanda miskin. OBB gayanya langsung berubah. Bicaranya berhiba-hiba, carut marut sudah kurang, sekarang sudah sering tidak gosok gigi, baju sudah beberapa hari tidak diganti. Semuanya agar bisa mengesankan sebagai anggota Orang Bangsat Baru. Agar dapat BBM bersubsidi, agar anak-anak bisa sekolah gratis, agar berobat tanpa bayar. Soal orang yang sebenar-benar miskin jadi tersisihkan atau teralahkan, itu soal lain lagi. Yang penting orang
Jakarta bisa meangkreditasinya sebagai orang yang benar-benar bangsat! Bae…lah(ekoyanche edrie)
Di Laut, Nelayan Sumbar Bisa Bangkitkan Nasionalisme
Enam kapal belum apa-apa, kalau mau mengibarkan bendera merah putih di tengah samudera!Tapi bagi kelompok Johny Halim Ja’far dkk yang tergabung dalam wadah Koperasi Jaya Samudera Padang, soal jumlah tak jadi persoalan benar. Dalam enam kapal tonda yang dimodifikasi dengan sentuhan teknologi tengkap ikan modern, tersimpan elan atau semangat untuk meneguhkan pendirian bahwa lautan kita adalah kekayaan kita. Oleh karena itu sekali-kali tidak boleh dijarah oleh orang asing.Ini cerita sejak hampir dua tahun silam, ketika pemerintah raji sekali mengumumkan bahwa triliunan kerugian negara akibat illegal fishing. Johny Halim, Zukri Saad, Patrik, Moyardi Kasim, Yogan Askan, Gusmardi Amir, Joni Harsumen, Refriadi, Yusril dan Mardi Tanjung lalu bersepakat mencari cara untuk mengerem kerugian negara itu. Paling tidak nelayan
Indonesia harus lebih banyak menikmati lautnya sendiri daripada dijarah oleh nelayan asing.Nenek moyangku bangsa pelaut!Jalesveva jayamahe!Ini adalah semboyan-semboyan yang menjadi spirit bagi membangkitkan harkat dan martabat nelayan. Yang jadi masalah adalah bagaimana mau bertanding dengan nelayan asing penjarah kalau untuk bersanding saja dengan mereka kita belum sanggup.Kita kalah di teknologi, modal dan menajemen. Ketika ketiga-tiganya sama-sama lumpuh, maka kalau musim seperti empat bulan terakhir ini buruk, maka terpaksalah nelayan kita hanya mematut-matut kapal yang ditambatkan di dermaga. Modal tak ada, badai dan gelombang laut sangat buasnya.Di seluruh perairan Sumatra Barat menurut Johny Halim yang Ketua Kompartemen Kelautan Kadinda Sumbar itu, tak kurang dari seribu kapal tonda dengan beragam kondisi. Antara 300 sampai 400 unit berada di
Padang.“Sejak empat bulan ini laut tak bersahabat. Nelayan di tengah dilema. Melaut rugi, tak melaut bisa mati. Jauh di tengah samudera dengan kapal-kapal canggih, orang asing berlantas angan pula menangkapi tuna berharga mahal. Kita gigit jari,” kata Johny Halim.Ia dan koperasinya memang sudah menyiapkan enam kapal tonda yang dimodifikasi menjadi kapal mini long liner. Kapal-kapal tadi sudah selesai dan siap membuang jangkar untuk menangkap tuna. Sayangnya badai pun datang.Tapi lepas dari badai datang, upaya yang dirintis Johny dan kawan-kawan itu adalah bukti bahwa masih ada harapan besar di tengah laut.Dua tahun lalu ia dan kawan-kawannya bertemu dengan Gusmardi Amir, Refriadi, Joni Arsuman dan Mardi. Sepintas mereka adalah orang-orang biasa yang dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan.Tapi sesungguhnya mereka adalah mantan Anak Buah Kapal (ABK) berbagai kapal nelayan Jepang selama bertahun-tahun. Mereka sudah mengelilingi semua samudera di dunia. Menangkap tuna adalah spesialis mereka.“Kami pun pernah ambil tuna di perairan Indonesia tanpa orang
Indonesia tahu,” kata mereka bercerita kepada Johny Halim.Selama delapan hingga dua belas tahun melanglang buana ke seluruh dunia, mereka menyadari bahwa rasa kebangsaan nyaris terbuang.Dari kejauhan mereka mendengar juga banyak penderitaan anak negeri karena kesulitan ekonomi. Sedang mereka bersenang-senang dengan gaji dolar. Tiap bulan mereka merapat di berbagai
kota besar dunia. “Untuk berfoya-foya,” kisah mereka. Sesungguhnya yang mereka peroleh hanya secuil kecil dari apa yang diperoleh para taipan kapal itu.Kesadaran tentang martabat bangsa pun datang. Mereka memutuskan mudik ke
Padang. Hingga bersua dengan kelompok Johny dkk.Di perairan Sumatra Barat misalnya, kini terdapat ribuan kapal nelayan yang harus nongkrong di berbagai dermaga lantaran tidak bisa melaut. Mereka tak melaut karena ketiadaan modal untuk berlayar. Harga BBM yang dinaikkan memukul mereka, belum lagi kebutuhan selama operasi dan harga pasar yang tidak dikuasai oleh mereka melainkan oleh para tengkulak.Pengijonan menjadi-jadi. Seorang nelayan diberi pinjaman oleh seorang induk semang. Lalu ia melaut, saat pulang dan membawa ikan mereka harus segera mengganti pinjaman berikut bunganya. Walhasil, jangankan untuk bisa saving, untuk kebutuhan harian saja bagi keluarganya harus berutang lagi.
Ada analogi yang diceritakan oleh seorang nelayan di pantai Bungus. Dulu ketika masih belum tinggi persaingan dan tekanan kemiskinan, seorang istri nelayan bisa mengupahkan cucian pakaiannya kepada tukang cuci dan tukang cuci pun bisa mendapat makan. Sekarang, seorang istri nelayan harus menerima upah cucian agar bisa makan. Ini sungguh ironis.Kita ambil contoh seorang nelayan ‘kelas menengah ‘yang memiliki sebuah kapal tonda. Lalu ia mempekerjakan
lima nelayan tradisional. Menjelang berangkat pemilik kapal harus menyediakan biaya Rp7 juta. Dengan asumsi produksi normal, maka pulangnya mereka membawa lebih kurang 1,5 ton ikan. Ikan itu (dengan harga saat ini) dijual Rp8.000/kg, maka pendapatan kotor menjadi Rp12 juta. Dikurangi biaya retribusi, pendaratan dan sebagainya sekitar Rp2 juta maka tinggal Rp10 juta.
Lima nelayan tradisional yang sekaligus menjadi ABK Rp1.200.000. atau masing-masing Rp240 ribu. Dari data-data itu sepintas terlihat bahwa nelayan cukup layak hidupnya. Baik yang jadi ABK apalagi yang jadi pemilik kapal.Menurut Johny Halim tiada jalan lain kecuali melakukan revitalisasi perikanan untuk kesejahteraan nelayan. Membangkitkan gairah nelayan untuk melaut lagi. Maka gagasan utama koperasi ini adalah melakukan modifikasi kapal tonda menjadi mini long liner. Apa harapan yang tersirat di balik itu? Bahwa selama ini kapal tonda yang jumlahnya ribuan tak bisa melaut, penghasilannya hanya cukup untuk makan.Selama ini kapal tonda hanya berhasil menangkap ikan-ikan yang tak bernilai ekspor. Tuna misalnya, hanya terjaring satu dua saja. Dengan modifikasi menjadi long liner maka kapal itu mulai menebar ribuan mata pancing. Ingat, pasar ekspor tuna dunia tidak akan menerima tuna-tuna yang mati dalam jaring. Bahkan selembar sisiknya saja tanggal, maka tuna tersebut pastilah akan masuk ketegori reject alias tak bisa masuk pasar ekspor. Pengetahuan seperti itu juga akan ditularkan oleh para fishing master eks Jepang tadi. Jika selama ini nelayan hanya mampu menangkap uikan berkelas Rp8000/kg, dengan menangkap tuna mereka bisa menjual sampai Rp34 ribu/kg.Sayang selain badai, jumlah nelayan yang menyadari bahwa ‘di laut kita kaya’ masih belum banyak. Buktinya baru enam kapal saja yang sudah jadi. Tetapi pentolan LSM macam Zukri Saad sudah sangat bangga dengan ini. Menurut Zukri yang mantan Direktur Eksekutif Walhi itu, upaya ini bukan sekedar mengajak nelayan jadi berdaya. “Tetapi lebih dari itu adalah untuk membangkitkan kesadaran kembali kepada nelayan menjaga lautnya sendiri dari jarahan asing. Kini saatnya nelayan
Indonesia bangkit dari kemiskinan, keterpurukan dan ketertinggalan teknologi. Tak usah salahkan lagi pemerintah, semuanya kini di tangan nelayan,” kata Zukri.Layar sudah terkembang, saatnya menuju samudera luas.(eko yanche edrie)
Melokalkan LKBN Antara
Kemarin meskipun tidak persis di tanggal ulang tahunnya, Lembaga Kantor Berita Nasional Antara merayakan hari jadi ke-69 bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Wisma Antara
Jakarta.
Ada satu pernyataan yang sedang ditunggu-tunggu oleh segenap pewarta kantor berita pemerintah RI itu, yakni jadi tidaknya Antara berubah status dari Lembaga Pemerintah Nondepertemen (LPND) menjadi Perusahaan Umum (Perum)
Presiden kemarin rupanya sudah memberi ‘bocoran’ bahwa tahun depan, ia akan teken peraturan pemerintah pengalihan status LKBN Antara jadi Perum.
Itu artinya tahun depan, LKBN Antara mungkin tak akan menggunakan kata ‘LKBN’ lagi. Ia akan seperti Perum Pegadaian. Bagian utama dari konsekwensinya adalah bahwa Antara diharapkan menjadi mandiri. Ia akan disapih oleh Sekretariat Negara, tempat dimana ia diafiliasikan selama ini.
Menurut saya, ini bukan langkah baru bagi para pewarta Antara. Ketika didirikan tanggal 13 Desember 1937 oleh Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahoetar dan Pandoe Kartawagoena, kantor berita ini juga bukan milik siapa-siapa. Tapi semangat jurnalisme dan nasionalisme kemudian menghela para pendiri itu untuk mengklaim bahwa ini adalah kantor berita
Indonesia. Barulah tahun 1962, Antara dinyatakan sebagai LKBN yang berada di bawah Presiden.
Kini dalam usia yang sudah 69 tahun itu, tentulah tak terlalu berolok-olok benar kalau dikatakan Antara telah merekam seluruh perjalanan republik ini sejak disiarkannya naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. Sedih dan gembira, jatuh dan bangun, gelap dan terang, kalah dan menang dan semua warna-warni republik ini sudah direkam Antara. Saya boleh katakan, kantor berita ini sudah jadi buku harian bangsa ini.
Ia juga sudah ikut membesarkan ratusan suratkabar dan majalah yang terbit di negeri ini. Pasokan berita-beritanya tidak pernah kosong menghiasai halaman-halaman koran nasional. Begitu urusan telex Antara mengalami kerusakan, maka redaktur koran-koran di tahun 70an langsung berkelibut. Maklum waktu itu hampir setengah isi halaman koran di daerah dipasok Antara.
Kini dalam usia 69, berangsur-angsur hegemoni Antara di arena pemberitaan nasional mulai berkurang. Ini Sejalan dengan perkembangan media-media mainstream yang juga membangun jaringan berita sendiri. Kompas menggunakan Indopresda, Jawapos Grup dengan JPNN, Radio 68H dengan jaringan radio-radio yang berafiliasi dengannya, Radio Elshinta melakukan hal yang sama. Harian Haluan juga pernah sangat aktif menggalang sindikasi berita dengan sejumlah koran di Jawa, Bali dan
Sulawesi.
Ini mengharuskan Antara memahami juga posisinya. Paling tidak ia mesti melakukan repositioning dari pasokan seragam menjadi pasokan spesifik. Belum tentu satu berita dibutuhkan oleh semua media. Jika Antara ingin terus berkembang, di tahun-tahun mendatang mestinya mulai memikirkan pasokan menurut kebutuhan media langganannya. Mungkin akan ada hanya langganan berita lokal bagi pelanggan lokal. Sama seperti layanan berita TV yang kini mulai dikerjakan Antara.Jadi, Dirgayahu Antara! (eko yanche edrie)
Bersama Kita Kalah
Tanggal 1 Desember mendatang, helat multiiven para atlet se-benua
Asia segera dimulai. Asian Games. Selama dua pekan pesta yang pernah dituanrumahi Indonesia tahun 1962 itu diselenggarakan di Doha, Qatar. Sebanyak 45 negara sudah dipastikan berada dalam daftar entry by name milik DAGOC (Doha Asien Games Organizing Committe).
Qatar, negeri kaya minyak di Asia Barat itu merupakan Asia Barat kedua setelah
Iran (1974) yang jadi tuan rumah Asian Games. Kali ini terdapat 45 cabang dari 39 induk olahraga akan dipertandingkan merebut 423 set medali emas.
Antelop, hewan khas negeri itu akan menjadi maskot perhelatan. Orry, itu nama sang maskot. Lalu biasalah, tiap pesta olahraga seperti ini senantiasa ada slogannya. Biar lebih seru, kali ini slogannya adalah: The Games of Your Life.
Senantiasa ada harapan. Selalu alam bawa sadar bangsa ini diusik untuk berjaya di negeri orang. Jauh dari pecundang. Selalu kita berharap mengikuti slogan kuno dunia olahraga: citius, altius, fortius (lebih cepat, lebih jauh, lebih tinggi)
Sayangnya bangsa yang besar (suaranya) kala berdemo ini tiap kali kegiatan olahraga multiiven, tiap kali pula kita pulang dengan wajah kuyu. Kita jadi pecundang sejati. Bung Karno boleh bilang dalam pidato superheroiknya: “Beri aku seribu orang! dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia”. Kini ada jutaan pemuda. Kala mereka pidato di kumpulan demonstran bukan main rotoriknya. Seakan hendak dijinjingnya dunia ini.
Heranlah Bung Karno di alam baqa melihat kenyataan. Terdapat wajah garang kita bila bertengkar. Tenaga jadi berlipat-lipat. Fighting spirit membara. Semuanya ditumpahkan untuk apa yang disebut kerusuhan. Dengan garang kita lanyau lawan-lawan tanpa ampun. Kita habisi musuh-musuh politik dengan ganas. Dan menang!
Tapi Bung Karno harus menangis mana kala dilihatnya para kesatria, para wirayudhawan dan seterusnya harus berada di barisan pecundang saat menghadapi pertempuarn yang sportif: dunia olahraga. Dari Asian Games ke Asian Games, dari Sea Games ke Sea Games berikutnya, dari Olimpiade ke Olimpiade, kita belum juga sanggup menegakkan kepala.
Saya tak bermaksud meremehkan perolehan medali emas di Olimpiade yang silam maupun di Asian Games ke-14. Tapi semuanya tetap saja diraih oleh para etlet dari cabang olahraga perorangan.
Entah kenapa urusan beregu kita tetap saja kandas di hajar legiun asing. Sepakbola, bolavoli, bolabasket dan olahraga beregu lainnya. Entah kapan merah putih dapat kita kibarkan untuk cabang beregu di
medan laga serupa Asian Games itu. Agaknya inilah negeri para ‘mansur’ alias main surang. Kita sulit bersatu. Asal sudah berkumpul, kita bertengkar. Akhirnya terbawa sampai ke dunia olahraga. Slogan kita memang hebat: “Bersama kita Kita”. Entah kalau
Doha memang keramat, lain lagi ceritanya!(eko yanche edrie)
Bank Nagari Jadi Naga!
Bermula dari Rp5 juta, setelah lebih 40 tahun menggelembung menjadi Rp264 miliar. Begitu perjalanan modal Bank Nagari yang semula bernama BPD (Bank Pembangunan Daerah) Sumatra Barat itu.Jika itu disebut sebagai sebuah progres, maka di dalamnya terdapat sebuah fakta bahwa bank tersebut sudah membuktikan bidal lama sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.
Ada bukti sebuah perjuangan yang keras dan gigih dari para pengelola dan pemiliknya untuk membawa bank ini menjadi satu dari sedikit anggota barisan 20 bank daerah dengan kinerja baik. Dan perjuangan itu sudah belangsung bertahun-tahun.Maka harap dicatat pula bahwa Bank Nagari saat ini menjadi sepertiga bagian dari total aset perbankan Sumatra Barat (per tahun 2006 total aset perbankan Sumbar Rp15,46 triliun, versi BI)Ini menunjukkan kepada masyarakat Sumatra Barat bahwa tekad para pemrakarsa dan penidiri Bank Nagari (d/h BPD Sumbar) tahun 1962 itu untuk menjadi besar sedikit demi sedikit sudah dibuktikan.
Para bankir yang bermarkas di Jl Pemuda Padang itu sudah membawa Bank Nagari dari hanya sekedar nobody menjadi somebody. Bank Nagari kini menjadi perhitungan dunia perbankan.Maka timbul pertanyaan apakah Bank Nagari sudah memberikan kontribusi setara dengan kontribusi masyarakat? Jawabnya, lihat saja dari angka-angka total kredit perbankan Sumbar versi BI tahun 2006. Perbankan Sumbar menyalurkan kredit Rp10 triliun lebih. Hampir sepertiganya ternyata merupakan kredit yang disalurkan oleh Bank Nagari.Sebaliknya dilihat dari trust yang diberikan masyarakat kepada Bank Nagari untuk mempercayakan dana mereka ternyata tidaklah mengecewakan. Ada Rp10 trilunan lebih dana masyarakat disimpan di berbagai bank Sumatra Barat. Dari jumlah itu sekitar 42 persen dipercayakan masyarakat ke Bank Nagari. ***
Introduksi yang merupakan good news tersebut di atas kita dapat meraba bahwa kinerja sebuah bank yang didasarkan pada angka-angka (disamping ada lagi yang lain seperti rasio pinjaman terhadap aset, tingkat kredit macet dan sebagainya) yang dari tahun ke tahun terus meningkat.Dari waktu ke waktu, bankir Bank Nagari senantiasa mengekspose kepada publik bahwa bank ini sudah tumbuh sehat. Bahkan sejumlah award yang mengukuhkan prestasi-prestasi turut menguatkannya.Tahun ini, Bank Nagari mulai menalu genderang untuk berkompetisi lebih gigih lagi dengan seluruh bank yang ada di Sumatra Barat maupun di
Indonesia.
Para pemilik maupun para bankir memilih starting pointnya pada perubahan status. Dari sebuah Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas (PT).Dirut Bank Nagari Nazwar Nazir sudah beberapa kali membuat pernyataan akan menjadi bank pelat merah milik daerah ini menjadi bank naga (dalam huruf kecil). Itu juga diaminkan oleh Rusdi Lubis sebagai seorang Badan Pengawas.Kata ‘naga’ di sini tidak berarti nama, tetapi merupakan sebuah elan vital agar bank ini menggeliat makin dahsyat. Beda dong geliat belut apalagi cacing dibanding geliat naga. Sebagai sebuah jargon untuk menyentak semangat semua slagorde Bank Nagari, pernyataan Nazwar Nazir itu bolehlah.Memang semestinyalah Bank Nagari seperti itu. Apalagi sudah pula dimunculkan apa yang dimaktubkan dalam tema ulang tahunnya pada 2007 ini: Paradigma Baru Bank Nagari. Ini semakin mempertegas bahwa menjadi seekor naga adalah sebuah misi, sedang membangun pradigma baru adalah sebuah visi.Okelah. Dalam hal bakali-kali
Dana Pihak Ketiga (DPK) pun mengalami kenaikan yang sangat signifikan yaitu naik sebesar 75 persen menjadi Rp4,39 Trilliun, dibandingkan DPK tahun lalu yang hanya Rp2,49 Trilliun. Dari total DPK perbankan Sumbar yang berjumlah sekitar Rp10,52 Trilliun tersebut, share Bank Nagari telah mencapai hampir separohnya yakni 41,69 persen. Dan itu berarti, bahwa hampir separoh dari nasabah perbankan di Sumbar mempercayakan dananya pada Bank Nagari.
Hingga saat ini Bank Nagari telah memiliki jaringan kantor sebanyak 73 unit yakni 1 kantor pusat, 25 kantor cabang, 18 kantor cabang pembantu, 28 kantor kas yang tersebar di seluruh Sumbar, Jakarta dan Pekanbaru. Sebanyak 34 unit ATM dengan layanan 24 jam yang tersambung ke 10.000 terminal ATM Bersama di seluruh
Indonesia dengan 54 bank lainnya.
Serta telah tersambungnya semua kantor dengan sistem online sehingga transaksi antar cabang/kantor bank yang sahamnya sebanyak 41,83 persen adalah milik pemerintah provinsi Sumbar, 19,40 persen milik pemerintah kota, 36,90 persen milik pemerintah kabupaten, 0,45 persen milik pemerintah nagari dan 1,42 persen dimiliki koperasi karyawan Bank Nagari tersebut, dapat dilakukan dengan cepat.
-
Arsip
- Desember 2009 (12)
- Juli 2009 (1)
- Oktober 2008 (14)
- Juni 2008 (2)
- Desember 2007 (3)
- Agustus 2007 (3)
- Juli 2007 (3)
- Juni 2007 (20)
- November 2006 (5)
- Oktober 2006 (5)
- Juli 2006 (6)
- Mei 2006 (10)
-
Kategori
- Budaya
- Curriculum Vitae
- ekonomi
- esei hukum
- internasional
- isu lokal
- kamtibmas
- kelautan
- Kelistrikan
- kesehatan
- kontemplasi
- Lingkungan Hidup
- melawat ke maluku
- melayu
- minangkabau
- Obituari
- olahraga
- pemerintahan
- pencarian
- pendidkikan
- pers/media
- Pertanian
- politik
- sejarah
- SUMBAR HARI INI
- TI
- tokoh
- transportasi
- Uncategorized
- wisata
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
