PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI
Malaysia di Tangan Pak Lah
Selama dua dasawarsa Malaysia ditangan Mahathir, secara alamiah regenerasi kepemimpinan juga berlangsung. Timbalannya (wakil) memang acap berganti. Bahkan ketika santer terdengar ia menyiapkan Anwar Ibrahim sebagai pengganti, ternyata publik kecele. Mahathir memang pintar memainkan emosi publik. Sebaliknya, Datuk Anwar dikurung di bui Sungai Buloh selama enam tahun.
Tak banyak pemimpin Asia yang turun tahta dengan soft landing. Tapi Mahathir mampu membuatnya. Kelanjutan kepemimpinan di UMNO dan di kursi PM dengan mulus dilanjutkan kepada Abdullah Ahmad Badawi. Pak Lah, demikian PM penerus Mahathir ini disapa akrab.
Di Minangkabau ada ada adagium berbunyi: ‘bak mamulangi jando Angku Palo’ (bagai mengawini janda Engku Kepala) tidak gampang. Sang janda memang sudah dipelukan, tapi apakah bisa memberikan kebahagiaan sebagaimana pernah dirasakannya dari sang Engku Kepala?
PM Abdullah Ahmad Badawi tentu tak mau pula disebut sebagai orang yang berada di bawah bayang-bayang Mahathir. Satu generasi akan punya sejarahnya sendiri pula, Pak Lah pasti percaya itu. Di Malaysia sejak 2004 ada slogan: ‘Malaysia Boleh!’ yang berarti Malaysia Bisa! Kalau hanya krisis yang ditebar Soros dan para spekulan asing, Malaysia bisa mengatasinya! Kira-kira begitu sentimen yang akan ditimbulkan tatkala slogan itu digulir ke seluruh negeri.
Maka Pak Lah, juga percaya dengan slogan itu bahwa ia bisa. Apa-apa yang sudah dibuat oleh pendahulunya, tentu akan dipertahankan dan ia juga akan membuat sejarah pula kelak.
Yang jelas selama Mahathir muncul pergeseran paham seolah pemerintah sedang meminggirkan Islam. Isu ini terus dihembuskan kelompok oposisi. Tapi pada praktiknya, justru Malaysia atau Mahathir di forum dunia sangat kental proIslamdan terlinat sangat antibarat. Sampai ia lengser, isu itu terus pula mengendur.
Maka kini Abdullah Badawi akan punya satu harapan untuk membukukan sejarahnya sendiri. Detik terakhir menjelang Mahathir turun digulir isu Asia. Malaysia tetap Islami dan tetap moderat dan tetap menjaga jarak dengan barat, tapi tetap benar-benar Asia!
Tak jelas, apakah motto pariwisata Malaysia yang kini dipilih yakni ‘the Trully Asia’ memang dimaksud meneguhkan keyakinan negeri itu bahwa Malaysia ada Asia dan Asia adalah Malaysia dalam arti bersama-sama dengan negara-negara Asia lainnya meletakkan Asia pada kedudukan yang terhormat?
Belajar dari mengafirmasi kedudukan Melayu dalam kaukus Cina-India-Melayu jadi sejajar, bukan tak mungkin Malaysia juga mendorong kemajuan yang lebih nyata bagi bangsa-bangsa Asia.
Kini untuk pertama kali Abdullah Ahmad Badawi datang ke Ramah Minang yang diyakini menjadi negeri asal sebagian warga Melayu di Malaysia. Selama dua hari ini ia akan bertukar cakap dengan seorang Presiden negeri berpenduduk 200 juta lebih, Presiden yang pandai bernyanyi lagu Ebiet G Ade. Selamat datang Pak Lah, Selamat datang Pak SBY.(eko yanche edrie)
Belum ada komentar.
Tinggalkan sebuah tanggapan
-
Arsip
- Juli 2009 (1)
- Oktober 2008 (14)
- Juni 2008 (2)
- Desember 2007 (3)
- Agustus 2007 (3)
- Juli 2007 (3)
- Juni 2007 (20)
- November 2006 (5)
- Oktober 2006 (5)
- Juli 2006 (6)
- Mei 2006 (10)
- Oktober 2005 (1)
-
Kategori
- Budaya
- Curriculum Vitae
- ekonomi
- esei hukum
- internasional
- isu lokal
- kamtibmas
- kelautan
- Kelistrikan
- kesehatan
- kontemplasi
- Lingkungan Hidup
- melawat ke maluku
- melayu
- minangkabau
- Obituari
- olahraga
- pemerintahan
- pencarian
- pendidkikan
- pers/media
- Pertanian
- politik
- sejarah
- SUMBAR HARI INI
- TI
- tokoh
- transportasi
- Uncategorized
- wisata
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
